Bahan Buku Mengosongkan Diri


Ada yang menyebutkan hidup tanpa mikir itu seperti robot. Memang saya ingin menjadi seperti robot, seperti mesin-cukup satu kali diprogram, ke sananya, tinggal bekerja tinggal bertindak, tanpa harus lagi banyak mikir. Pemrograman terhadap diri sendiri, bisa dilakukan dengan membuat jadwal. Jadi jelas, jam segini mau apa, jam segini mau apa, jadi tidak harus mikir lagi. Mikirnya satu kali, saat menyusun jadwa, ke sananya, tinggal bersenang-senang dengan mengerjakan, tanpa keraguan, mengalir lancar, cepat, dan fokus ...


Apakah jika yang saya ingat hanya Allah saja, yang saya kerjakan hanya ibadah saja, dan yang saya baca hanya Al-Qur'an saja, akankah tercukupi segala kebutuhan dunia akhirat saya?

Tulisan ini saya buat untuk membuang banyak sifat menyebalkan dari diri saya. 
Banyak bicara,
Senang berbangga-bangga.
Mudah marah, mudah tersinggung jika merasa terhina.
Kurang bersyukur, kurang menghargai orang, kurang menghargai teman.


MEGOSONGKAN DIRI DARI TERLALU BANYAK MIKIR

Saya ingin kehidupan saya ini mengalir lancar, jika berbuat, berbuat tanpa keraguan, jika berniat, langsung mengerjakan, tanpa keraguan, tanpa bolak-balik, sebab itu sangat menghabiskan waktu. Saya ingin mengalir ketika mengerjakan sesuatu, tanpa ragu, dan mengerjakan apa yang seharusnya saya kerjakan, dan beres mengerjakan yang satu, kemudian saya dengan lancar mengerjakan hal berikutnya, tanpa didahului lamunan dan dan kecemasan, karena terus terang, lamunan itu sangat menghabiskan waktu. 

Saya sangat terinspirasi dengan buku Humortivasi karya Isa Alamsyah. Di sana ada gambar Agung Pribadi sedang menjewer Dedi Padiku, dua penulis yang bukunya diterbitkan Asma Nadia Publishing House. Pada gambar itu Agung berkata kepada Dedi, "Telinga itu ada dua, sedangkan mulut ada satu. Karenanya, kita harus lebih banyak mendengar daripada berbicara." Kemudian Dedi menanggapi, "Oh, jadi begitu ya Pak Agung? Jadi kita punya dua tangan dan dua kaki dan punya satu kepala, artinya kita harus lebih banyak berbuat daripada berpikir,"

Berpikir sebelum berbuat memang sangat diperlukan, tapi terlu banyak berpikir daripada berbuat, ini akan sangat menghambat. Mau nulis banyak mikir, mau nyusun buku banyak mikir, mikir kerangka, mikir bakalan laris tidaknya, mikir bagaimana nanti tanggapan pembaca, halaaaah, terlalu banyak mikir, buku gak jadi-jadi. Banyak mikir sangat menghambat produktifitas kerja.

Dan saya ingin melakukan percobaan kepada diri saya, bagaimana jika terlalu banyak mikir itu dihilangkan. Bagaimana jika segala pikiran itu saya kosongkan, dan saya hanya melakukan jadwal yang sudah saya tetapkan kepada diri saya. Jam segini mengerjakan ini, jam segitu mengerjakan itu, sepertinya kehidupan saya akan lebih lancar. 

Saya belum pernah mencobanya, dan harus mencobanya. Dan, supaya saya bisa mencobanya, jangan terlalu banyak memikirkannya, tapi langsung saja berbuat.

Banyak berbuat, banyak bertindak, dan selama bertindak itu asyik saja, menikmati kesekadarangan, menikmati kekinian, tanpa harus banyak yang dipikirkan, sepertinya hidup ini akan sangat lancar. 

Dalam menulis juga demikian, lebih banyak berpikir itu mengurangi tindakan. Jadinya, gak pernah juga mempunyai tulisan. Inginnya menulis buku tapi gak jadi-jadi. 

Saya terus memikirkan, harusnya lebih banyak mana antara membaca dan menulis. Harus lebih banyak membaca atau menulis? Jadinya ketika menulis, ingat membaca, menulis pun gak jadi. Ketika membaca, inget menulis, bacaan pun tidak selesai. Ini harusnya lebih banyak mana?

Berdasarkan teori mentah yang saya dapatkan, harus lebih banyak menulis daripada membaca. Saya kiaskan dari pelajaran tentang harus lebih banyak mendengar daripada berbicara. Karena kita punya dua telinga dan satu mulut, maka harus lebih banyak mendengar daripada berbicara, demikian pula, kita punya sepuluh jari dan dua mata, karenanya, harus lebih banyak menulis daripada membaca. 

Masa iya sih?

Ah, kok rasanya kurang sreg

Harus lebih banyak menulis daripada membaca. Trus jika tidak ada yang dibaca, apa yang mau dituliskan. 

Saya kira, aplikasinya bukan harus lebih banyak menulis daripada membaca deh. Mungkin apliksainya, jika internetan, lebih baik banyak menggunakan jari daripada mata. Harus banyak menggunakan jari buat mengetik daripada menggunakan mata buat melihat segala macam setelah membuka-buka segala macam.....ah ada-ada saja, ternyata mau berfilsafat itu susah....




Tulisan ini keluar dari rasa jengkel. 
Jengkel kepada orang paling menyebalkan di dunia. 
Saya sangat jengkel kepada seseorang, dan itulah sebabnya tulisan ini saya buat.
Orang itu bukan orang jauh, dia orang dekat,
Bahkan sangat dekat dengan saya, yaitu diri saya sendiri
Bagi saya, saya ini orang paling menjengkelkan di dunia. Bayangkan saja.

Saya senang sekali berbangga-bangga, padahal semua ini bukan punya saya.
Saya suka berbuat salah, eh parahnya, perbuatan salah saya ingin dibenarkan, bahkan terkadang membenar-benarkan diri. Padahal orang yang ingin membenarkan saya itu bermaksud baik ingin memperbaiki saya, tetapi kenapa saya tidak mau menjadi baik dengan membela dan membenar-benarkan diri. 

Saya juga sebal kepada diri saya sendiri karena terlalu banyak bicara, dan dari sebagian besar pembicaraan itu tidak berguna. Padahal saya tahu, pembicaraan yang berguna itu hanya tiga, memerintahkan kepada kebaikan, sedekah, atau mendamaikan di antara manusia. Tapi selalu saja saya terjebak dalam canda.

Sebagian kata-kata itu juga menyakiti orang, membuat orang lain marah, membuat mereka tidak suka, dan sebagian besar, menjatuhkan harga diri saya. 

Harga diri ini titipan Allah, saya harus menjaganya, karena menjaga harga diri merupakan bagian dari ibadah. 

ini adalah mendidik diri sendiri.
Karena setelah saya perhatikan, orang paling menjengkelkan di dunia menurut saya adalah diri saya sendiri.

Ketika berbuat salah, ingin dibenarkan. Ini sangat menyebalkan. Sudah jelas berbuat salah, tapi inginnya dibenarkan, bahkan berusaha membenar-benarkan diri. Ini kan konyol.
Kemudian, saya juga sering cemas dengan kehilangan. Cemas kehilangan pekerjaan, cemas kehilangan uang, cemas uang saya berkurang, ini sangat menyebalkan. 


INGATAN TERHADAP KESALAHAN ORANG LAIN? KOSONGKAN

Kesalahan orang lain kepada kita? Kosongkan. 
Lupakan
Kesalahan orang lain yang membuat kita susah?
Lupakanlah!
Tidak perlu ngomel-ngomel. Tidak ada gunanya. Lebih baik kerjakan terus dan selesaikan apa yang sudah menjadi tugas kita, dan memori terhadap kesalahan orang lain, lupakanlah. 

"Tapi kan, dia juga jika saya salah suka ngomel-ngomel sama saya?" kata sebuah suara.

Ya biar saja,
Dia ngomel-ngomel, itu masalah dia
Pasti dia juga akan merasakan ketidaknyamanan akibat omelan-omelannya

"Tapi kan dia harus mendapatkan pelajaran." bisik suara itu lagi.

Mendapatkan pelajaran apa?
Dia akan mendapatkan pelajaran lebih baik jika saya memaafkan dan bersikap lapang dada.

Sudahlah!
Lupakanlah. Kosongkan diri kita dari kesalahan orang.
Ngomel-ngomel itu menghabiskan energi, membuang-buang waktu, dan setelah ucapan keluar, pikiran harus terbebani lagi ucapan berikutnya. Ucapan yang keluar dari mulut saya buat mengomeli orang itu akan menjadi beban pikiran, akan terus saya pikirkan. Menghabiskan waktu. 

Sudah saja lupakan! Emangnya saya mau kesalahan saya diomeli orang.


Lupakan saja!
Apalagi dia seorang teman.
Jika kesalahan dia kita biarkan tetap ada dalam pikiran, suasan kebersamaan pasti kurang menyenangkan. Padahal bersama, dia bisa bersenang-senang.

Related Posts:

0 Response to "Bahan Buku Mengosongkan Diri"

Post a Comment