Salah satu cara menjaga kesehatan badan adalah dengan menjaga kesehatan pikiran. Dan salah satu cara menjaga kesehatan pikiran adalah, dengan membuatnya santai, jauh dari ketegangan. Kerja sih kerja, tapi jangan dibawa tegang, santai saja. Itulah sebabnya kalau bisa, kerja itu bukan yang membuat Anda mengerjakannya dengan terpaksa, melainkan, kerja yang dengan mengerjakannya, hati Anda menjadi senang, bahagia, dan Anda merasakan keringanan.
Saya tidak menjelek-jelekkan kerja kasar. Jika pekerjaan itu membuat Anda senang, justru itu bagus buat Anda. Seperti di sini, tidak jauh dari kantor tempat kerja saya, orang-orang bekerja membangun gedung bertingkat. Mereka turun naik gedung besar itu, menantang bahaya, dan sesekali, untuk merapikan pembangunan dindingnya, mereka memasang timbaan besar, kemudian mereka naik ke atas timbaan itu, lalu perlahan-lahan sambil merapikan dinding gedung, timbaan itu turun terus dan terus turun ke bawah. Kaki saya sampai nyorodcod alias gemetaran membayangkannya. Ngeri sekali. Tapi karena bagi mereka itu kesenangan, tantangan yang mungkin, membuat adrenalin mereka muncrat-muncrat, ya pekerjaan itu bagus buat mereka.
Saya sendiri lebih suka pekerjaan ringan. Seperti kerja di sini, jualan online via facebook, maka saya rasakan kenyamanan kerja dengan facebookan. Saya nikmati kerja menyenangkan ini, dan saya senangkan juga pikiran dengan hobi yang halal. Saya senang membaca, maka saya senangkan diri dengan banyak membaca. Alhamdulillah, di sini banyak buku-buku yang saya suka, yang selama ini sangat saya cari-cari. Saya senang membaca buku sastra, dan sangat ingin membaca buku-buku karya sastrawan terkenal, yang mendunia, dan menyelami isinya, budayanya, rasanya, budayanya, dan menikmatinya, dan secara kebetulan atasan pemimpin perusahaan tempat saya kerja di sini mencintai sastra. Rak buku di ruang kerjanya banyak menyimpan koleksi buku sastra, kumpulan cerpen Kompas seperti "Derabat" dan "Mata Yang Indah.
Selain itu ada juga karya Nobelis Dunia, Gabriel Gabriella Marquez, berjudul "Seratus Tahun Kesunyian", sudah lama ingin membaca buku itu, dan di sini saya bisa membacanya dengan murah. Bahkan yang lebih saya suka dari semua buku-buku sastra itu adalah, buku-buku yang membicarakan karya sastra itu sendiri. Misalnya karya Yus Badudu, judulnya sederhana sekali, BUKU DAN PENGARANG, tapi isinya, wuaaah luar biasa, sangat saya suka, menceritakan sinopsis-sinopsis buku-buku sastra khazanah nusantara, sekaligus menceritakan pengarang beserta riwayat hidupnya. Saya suka karena, dengan buku ini, saya tidak harus cape membaca buku-buku sastra itu, tapi cukup membaca ulasan singkatnya saja dalam buku ini.
Jarang buku yang benar-benar menyita perhatian saya, dan buku ini termasuk dari yang jarang itu. Tapi memang buku-buku semacam ini, yang membicarakan karya-karya sastra, sinopsis novel, dari dulu juga mudah mengundang perhatian saya. Pernah dari pasar Senen saya sampai memborong banyak buku jenis ini. Dan buku Yus Badudu ini tadi siang memanjakan saya dengan paparan memikat tentang buku "Salah Asuhan" karya Abdul Muis. Dulu, pernah saya membaca buku itu, tapi tidak selesai, sebab keburu ada gempa bumi, jadinya tak tahu isinya menceritakan apa. Dan sekarang, buku ini memberitahu, ini buku berkisah tentang seorang pemuda bernama Hanapi, yang disekolahkan di sekolah Belanda dengan harapan dia menjadi orang cerdas dan maju. Namun rupanya, sekolah itu malah membangunnya menjadi pribadi kebarat-baratan dan menjadi tak suka dengan budaya ketimuran. Akibatnya Hanapi merasa tak nyambung jika ngobrol dengan sesama orang Indonesia, dan baru obrolannya nyambung dengan Corie, seorang Indo yang memikat hatinya. Hanapi menyatakan cintanya kepada Corie, namun cintanya tertolak, dan dalam kekalutan, orang tuanya menjodohkan Hanapi dengan Rapiah, dan Hanapi menjalani rumah tangganya dengan setengah hati
Jarang buku yang benar-benar menyita perhatian saya, dan buku ini termasuk dari yang jarang itu. Tapi memang buku-buku semacam ini, yang membicarakan karya-karya sastra, sinopsis novel, dari dulu juga mudah mengundang perhatian saya. Pernah dari pasar Senen saya sampai memborong banyak buku jenis ini. Dan buku Yus Badudu ini tadi siang memanjakan saya dengan paparan memikat tentang buku "Salah Asuhan" karya Abdul Muis. Dulu, pernah saya membaca buku itu, tapi tidak selesai, sebab keburu ada gempa bumi, jadinya tak tahu isinya menceritakan apa. Dan sekarang, buku ini memberitahu, ini buku berkisah tentang seorang pemuda bernama Hanapi, yang disekolahkan di sekolah Belanda dengan harapan dia menjadi orang cerdas dan maju. Namun rupanya, sekolah itu malah membangunnya menjadi pribadi kebarat-baratan dan menjadi tak suka dengan budaya ketimuran. Akibatnya Hanapi merasa tak nyambung jika ngobrol dengan sesama orang Indonesia, dan baru obrolannya nyambung dengan Corie, seorang Indo yang memikat hatinya. Hanapi menyatakan cintanya kepada Corie, namun cintanya tertolak, dan dalam kekalutan, orang tuanya menjodohkan Hanapi dengan Rapiah, dan Hanapi menjalani rumah tangganya dengan setengah hati
Ada lagi buku lain yang membahas karya sastra, yaitu buku karya esais terkenal, Ignas Kleden. Memang bahasanya njelimet dengan kalimat panjang-panjang, namun karya bukunya ini membahas berbagai karya sastra, saya suka membacanya. Waktu sakit, saya bawa buku ini ke mana-mana, ke meja kerja, ke tempat tidur, tapi sayang, karena waktu itu pikiran susah fokus dan kepala rasanya pening, jadi kebanyakan cuma dibawa-bawa saja. Judul buku itu "Sastra Indonesia dalam Lima Pertanyaan". Judul yang sangat menantang. Jadi, apa sebenarnya yang ingin dipertanyakan?
Saya juga gak tahu, belum baca semuanya, hehe.
Kembali ke tema awal, ya beginilah saya, bersenang-senang dengan bacaan, begini cara saya menjaga pikiran, supaya dengan cara ini, saya pun bisa menjaga badan....
Saya juga gak tahu, belum baca semuanya, hehe.
Kembali ke tema awal, ya beginilah saya, bersenang-senang dengan bacaan, begini cara saya menjaga pikiran, supaya dengan cara ini, saya pun bisa menjaga badan....
0 Response to "Memelihara Pikiran Memelihara Kesehatan Badan"
Post a Comment