Tips Sehat: Suara dari Dari Dalam

Suara, tidak semuanya bisa didengar telinga. Sebagian lain suara, harus didengar dengan perasaaan. Sebagian lagi, harus didengar pengertian. Antara lain, suara-suara dari dalam. Dari dalam tubuh kita. Karena sebagaimana mulut ini yang tak pernah bosan bicara, tubuh pun sebenarnya bersuara. Bugar, segar, dan bergairah, sebenarnya itu suara tubuh bahwa dia sehat. Sedangkan sakit, sebaliknya, itu suara tubuh yang curhat bahwa dia menderita.

Pastinya masih ingat kenangan Ramadhan. Setelah seharian lapar, lemas, kurang gairah, apa yang Anda rasakan saat mendengar adzan? Secara aneh haus lapar hilang seketika, padahal belum minum. Tapi secara sembarangan saya ingin berkata, itu adalah suara tubuh yang gembira akan segera dapat asupan, makanan dan gizi yang dia butuhkan.

Menjelang makan tubuh merasakan gembira, sebab sebentar lagi dia akan menadapat apa yang dia butuhkan, dia akan menerimanya dengan senang, mencerna, mengolah dan membagi-bagikannya ke semua bagian. Dan setelah makanan itu masuk, dengan bahagia tubuh bekerja mencerna, menyaring, dan mendistribusikan gizi, membakar, dan memanfaatkannya secara maksimal.

Tubuh bisa maksimal kerja dan memanfaatkan makakan manakala diberi kesempatan. Puasa, sebenarnya itu cara jitu memberikan kesempatan.

Dengan berpuasa--tidak memberikan asupan--maka kita memberi kesempatan pencernaan bekerja, memberi berbagai kelenjar mengeluarkan hormon sesuai fungsinya. Misal kelenjar pankreas sebagai penghasil insulin, dia bisa tenang kerja menghasilkan insulin jika diberi kesempatan. Yaitu dengan cara, menghentikan asupan makan. Bahkan bagus, jika itu dihentikan sebelum kenyang.

Maha Suci Allah telah menjadikan Rasulullah Muhammad Sallallahu alaihi wasallam. Lisan beliaulah, setahu saya yang pernah memberi pelajaran tentang makan terbaik itu makan saat lapar dan beerhenti sebelum kenyang.

Setelah mulut berhenti makan, pankreas akan tenang memberikan insulin ke pembuluh darah, menetralisir gula supaya jangan kelebihan sehingga menyebabkan penyakit gula, juga membuka sel-sel tubuh supaya gula bisa masuk ke sana, diolah menjadi energi, sel baru, atau lemak

Demikian juga usus sebagai pencerna, dia akan meremah makanan dan menyerap gizinya dengan baik ketika diberi kesempatan, dengan cara berhenti makan sebelum kenyang dan berpuasa.

Sayangnya, seringkali bagian-bagian pencernaan itu menderita. Dia siap bekerja namun saat mulai kerja, kita berikan lagi tugas lainnya. Baru juga masuk sepiring nasi, sudan masuk masuk lagi makanan lain. Baru juga pagi sarapan bubur, jam sembilan sudah jajan, masuklah bakwan, pisang goreng, dan tahu keriting. Tak sampai tiga jam, datang lagi tugas, datanglah bakso dan mie ayam, siomay, cilok, ciki, permen, keripik, dan itu belum makan siang, sebab setengah jam kemudian, nasi gado-gado kembali masuk, jadi kapan dia kerja tenang jika sedang kerja harus ditambah lagi pekerjaan lainnya?

Jangan ngomong "ah itu mah kan sudah dirancangnya begitu, ya bisa lah, sudah compatible lah!!!" 

Compatible dari hongkong!

Coba berperasaan!

Bandingkan degan diri Anda. Bisa tenangkah Anda, jika sedang mengerjakan sebuah tugas, datang lagi tugas lainnya dan harus Anda kerjakan saat itu juga? Bayangkan seorang siswa, belajar matematika, guru menugaskannya mengukur kosen semua kelas, baru juga menyiapkan alat, guru sudah bertitah, siswa harus mengukur lapang. Ok, sebagai murid taat, para siswa pun melakukannya sampai tuntas, dan mulai menuju lapang, namun ketika itu, guru kembali berkata, siswa harus juga mengukur volume kelas. Kira-kira, perasaan siswa itu bagaimana?

Stress!

Tertekan, menderita, marah, malah bisa protes!

Nah, itu sebenarnya yang terjadi ketika tubuh terus dipasok makanan. Kegembiraan yang dia rasakan beberapa detik sebelum kemasukan makanan, kegembiraan saat mengunyah, dan kegembiraan dalam beberapa suapan, harus sirna berganti derita menerima tugas tambahan. Bagi pencernaan, itu sangat beban. Perut pasti tertekan, menderita, protes, yang ujungnya dia bisa demonstrasi.

Demonstrasi ringannya antara lain melakukan pemblokiran. Dia memblokir energi tubuh supaya hanya terkumpul di perut. Tangan, mata, kepala dan kaki, biarkan saja kekurangan tenaga. Akibatnya bagian tubuh lain lemas, kaki lemah, tangan lemah, kepala lunglai, mata tak sanggup lagi terbuka, mengatup, mengetik susah, menulis susah, membaca lelah, tak bisa bekerja, kepala jatuh ke meja, mata menutup, mulut terbuka. Banjir bandang!!!!

Lebih jauh lagi tubuh melakukan protes dengan sakit. Mulai sakit ringan, hingga sakit berat. Mulai sakit kelas bawah, kelas menengah, hingga kelas eksekutif. Itulah cara dia menyuarakan deritanya. Itu demontrasi dia supaya kita tahu sudah berasalah, supaya kita tahu kita sudah berbuat dengan semena-mena kepadanya. Pening, panas dalam, bibir pecah, sakit lidah, tenggorokan serak, misalnya.

Jika kita pandai mendengar, suara tubuh itu jelas. Kapan dia senang, kapan dia tertekan, kapan dia butuh, kapan dia puas, kapan dia kecewa, pasti kita mengerti dan tahu bagaimana harus bertindak. Dan berpuasa, menghentikan asupan supaya tubuh dengan baik bekerja, adalah satu cara kita pengertian kepadanya.

Related Posts:

0 Response to "Tips Sehat: Suara dari Dari Dalam"

Post a Comment