Motor Alie Isfah II

Sore ini, seluruh staf online Toko Asma Nadia pergi kondangan, termasuk Alie Isfah. Kecuali saya, tetap asyik duduk menulis, dari sore hingga malam. Jam dua puluh satu, waktunya tutup toko, Alie Isfah belum juga datang, begitu juga yang lainnya. Karena sudah waktunya, toko saya tutup saja. Rangkaian teralis besi itu siap saya tarik, dan saat itulah, saya lihat motor Alie Isfah. Sendirian, menghadap kaca.

"Mau ditutup? TUTUP SAJA!! TAK USAH PEDULIKAN AKU!!!!" bentaknya.

Saya kaget. Baru saya buka mulut, dia kembali mendengus.

"Laki-laki semua sama saja. Sebelum jadi miliknya, dia terus berusaha. Siang malam terus diingat. Terus dia rindukan. Sekarang, setelah luluh kuserahka diriku padanya, dan jadi miliknya, aku disia-siakan!!"

Saya bingung harus mengatakan apa.

"Dan KAMU LAGI...." kini melotot ke arah saya.

Saya melongo. Kok, jadi marah sama saya.

"KAMU MAU TUTUP TOKO KAN? MEMBIARKANKU SENDIRIAN DI LUAR KAN? AYO TUTUP SAJA!! SUDAH, GAK USAH SOK SOK BAIK!! SOK PERHATIAN!! AKU TIDAK PERCAYA!!"

Mulut melongo saya tutup dulu. Kemudian, dengan jantung berdebar, kaki melangkah mendekatinya, mencoba menenangkan, meski belum tahu harus mengatakan apa.

"KATAKAN, KE MANA DIA??"

"Maaf, bisa tenang kan cara bicaranya? Jangan bentak-bentak begitu!."

"HALAH BANYAK BACOT! KATAKAN DULU, KE MANA DIA??"

"Pergi kondangan."

Mendengar saya mengatakan itu, Motor Alies Isfah terdiam. Hening, menanggungkan duka tertahan. Empat detik kemudian, tampak badannya terguncang-guncang. Penuh kasih, saya usap-usap kepalanya, memeluknya, dan merasakan pedih batinnya. Tanpa terasa, mata ini berkaca-kaca.

"Motor, saya paham. Alie Isfah pergi kondangan, sedang kamu dia tinggalkan, saya paham bagaimana perasaanmu saya faham."

Belum juga dia bicara. Guncangannya semakin kencang. Kini dia terisak, dan suara isak tangisnya, sungguh perih di hati saya.

"Tenanglah, tenang, ini ada saya. Alie Isfah nanti juga pulang!"

"Apa salahku sesungguhnya. Katakan!! Tak perlu ada rahasia!"

"Tidak, tidak ada apa-apa. Kamu sabar saja!"

"Kalau dia tidak suka sama aku, jujur saja!! Aku juga tidak keberatan. Aku cuma minta keputusan! Sudah seminggu lebih aku di sini, kerjaku dibiarkan teru saja begini-begini. Masuk, keluar, masuk, keluar."

"Iya, sabar motor, kamu harus sabar. Kita harus menerima nasib apapun yang terjadi pada kita. Tunggulah, pada setiap hal yang tidak kita suka, selalu ada keindahan di baliknya."

"Tapi..." dia menarik nafas, "...aku tetap tidak terima. Bayangkan saja, malam dia enak-enakan di atas, tidur pada sofa, hangat berselimut tebal, sedang aku, di toko, kedinginan, trus aku dia anggap apa coba?"

"Kan tidak mungkin kamu..."

"Oke, aku mengerti. Diajak tidur bersama memang aku tak mungkin, tapi coba pikir, siangnya aku dikeluarkan, lalu dibiarkan nongkrong di depan, tengah hari panas-panasan!! Kalau begini terus aku bisa cepat rusak!! Oh mungkin sengaja ya, biar cepat rusak. Biar dia punya alasan buat cari yang lain lagi!! DASAR LAKI-LAKIIIII!!! DASAR LAKI-LAKIIII!!!!!"

"Tenang Motor,...Tenang...malu sama orang tuh, mereka masih ramai di jalan!"

"Biar!! Biar semua tahu!!"

"Sekarang, lebih baik kita masuk."

"Tunggu, aku belum selesai ngomong."

"Kan masih bisa di dalam."

"Halah, sudah ke dalam, kemarin-kemarin juga kamu malah lari naik tangga ke lantai tiga."

"Ok!" saya mengalah.

"Jadi, sedang ke mana dia sekarang? Kondangan? Hmmhh...ya ya ya, semakin jelas saja, dia memang tak suka."

"Bukan! Bukan karena Alie tak...."

"Diam dulu!" potongnya, "Aku belum selesai ngomong!"

"Oke...oke..."

"Jelas-jelas, dia tidak bawa saya karena tak suka. Dia malu bawa saya ke depan banyak orang. Mungkin di matanya aku tak pantas. Ya, pasti itu karena di matanya aku tak pantas. Bagi dia, mungkin aku memalukan....huu....huu...huu...."

"Beattt....!!! Hai....kamu kan setiap hari bercermin, menghadap kaca, kamu lihat kan betapa kamu cantiknya."

"Heeemmhhhh..." dia mendengus kesal "...tapi belum tentu di mata Alie Isfah."

"Kalau memang kamu tidak indah, terus kenapa dia milih kamu? Coba pikirkan?"

"Kalau memang dia milih aku, dan dia benar-benar memilihku, trus kenapa sekarang aku dia tinggalkan? Seakan malu aku dibawa kondangan? Kamu yang harus mikir ASEP!! COBA MIKIR!!"

"Iya ini juga mikir," dibentak-bentak begitu, saya mulai sebal.

"Iya, kalau kamu mikir, coba bandingkan dengan perasaan istri yang malah ditinggalkan di rumah, tidak dibawa kondangan!! Kamu tidak tahu betapa tersinggungnya dia!! ASEP, KAMU PUNYA OTAK GAK SIH?"

Wah, makin parah. Sudah terlalu sensi nih motor.

"Sudahlah, sekarang kita masuk saja!"

"TIDAK!!!"

"Ayooooo!!!"

"TIDAK ASEP!! TIDAK!! BIAR AKU DI LUAR SAJA!! AKU MEMANG MOTOR TIDAK BERGUNA"

"Eh, jangan! Ayo masuk!!"

Saya memaksanya masuk, cepat memarkirnya dekat etalase, menutup pintu toko dan, langsung lari ke lantai tiga, kembali kerja.

Hhh.....ada-ada saja......

Related Posts:

0 Response to "Motor Alie Isfah II"

Post a Comment