Wasi pakai sorban, pakai sarung, rajin bangun tengah malam, shalat, dan dengan motornya, menghadiri pengajian. Sebuah peningkatan spiritual yang mengagumkan, dan malam ini, malam Jum'at, saya dengar di lantai dua, dia sedang Yasinan.
Dia membaca Al-Qur'an, dan bacaannya itu dia perindah dengan dilagukan. Saya perhatikan, semakin lama, samar-samar tilawah itu berubah menjadi belajar makhorijul khuruf. Pembelajar yang luar biasa. Terdengar beberapa kalimat diulang-ulang, sambil menjelas-jelaskan suara huruf-huruf tertentu. Wah, benar itu suara orang belajar makhraj.
Ah tapi kenapa seperti bukan seorang, Wasi seperti sedang belajar makhorijul khuruf berdua. Tapi dengan siapa?
Mungkinkah Wasi mengundang seorang Ustadz? Kalau begitu, berarti luar biasa, dia memanggil ustadz khusus buat membimbingnya belajar bacaan Al-Qur'an. Penasaran, saya mendekati tangga turun.
Telinga saya rancungkan, berusaha menguping pengajian mereka. Dari mendengar, rasa penasaran ingin saya penuhi dengan melihat. Maka mulailah, selangkah demi selangkah menuruni tangga. Dari lantai tiga menuju lantai dua. Ingin melihat langsung bagaimana pengajian mereka, dan siapa sebenarnya Ustadz yang Wasi undang.
Dua tangga lagi sampai ke bawah, saya bungkukkan badan dan menengok ke ruangan lantai dua. Tidak ada siapa-siapa.
Ah itu Wiro sedang duduk di lantai. Sila, memegang Al-Qur'an. Dengan suaranya yang terhentak-hentak, dia terus mengulang bacaan. Sekali. dua kali, tiga kali, empat, lima, enam, dan saya tidak tahu dia mengulang sebuah kata entah sampai berapa kali, diselang-selingi suara Wasi yang membetulkannya. Sesekali terdengar Wiro dibentak, mungkin sudah beberapa kali dibetulkan, namun belum tepat juga.
Tidak ada ustadz, ternyata yang belajar itu mereka berdua, Wasi dan Wiro.
Bukan Wasi yang sedang belajar, dia justru sedang mengajar, dan objeknya Wiro.
Habis rasa penasaran, saya pun naik sambil tersenyum, "Luar biasa semangat agama mereka." gumam saya dalam hati.
Iya beneran, di dalam hati. Asal tahu saja, saya masih punya hati.
Nyaris dekat tengah malam, seperti biasa Wiro curhat, "Ternyata bacaan gue masih banyak yang salah. Sampai dibetulkan beberapa kali, gak bener juga. Kalau begitu, berarti dulu gue ngajarin yang salah ke anak-anak!"
"Emang pernah jadi guru ngaji?"
Wiro mengangguk.
"Hah, beneran?"
"Iya! Kan gue pernah tinggal di mesjid."
"Waktu kuliah?"
"Iya, tidak ada tempat menginap, biar gratis, ya di mesjid. Ceritanya sih jadi petugas kebersihan, tapi itu kan siang. Malamnya ada pengajian."
0 Response to "Wiro Pernah Jadi Ustadz"
Post a Comment