Tidak terpikir sebelumnya saya akan menulis cerita sadis. Sebelum ini, beberapa kali saya membaca cerita Dede Yogi Darsita. Rata-rata temanya horor sadis.
Apakah saya terinspirasi olehnya?
Bisa jadi iya. Tapi sebenarnya bukan. Sebab bahkan, ide cerita yang saya tuliskan ini sebenarnya bukan ide saya. Ada seseorang. Ya, ada seseorang dibalik ide tertulisnya cerita-cerita saya.
Siapakah dia?
Ingin menyebutkan namanya untuk menghormati hak cipta, tapi khawatir beliau tak suka dan dianggap merusak nama baiknya. Baginya, ide cerita begini semacam hiburan, pereda tegang, selingan dari kesibukan hariannya yang menguras pikiran. Beliau seorang penulis.
Di atas segalanya, beliau ini luar biasa. Saya juga heran. Seperti kantong Doraemon yang tiada habisnya mengeluarkan benda-benda ajaib, dari kepala beliau ini juga tiada habisnya. Ada saja ide cerita gokil. Setiap ngobrol rame-rame, meeting, makan bersama, ada saja idenya membuat cerita spontan tentang seorang "Dana" sebagai pembunuh berdarah dingin.
Kenapa sampai begitu?
Begini sejarah singkatnya. Awal tahun 1945 Jepang masih menjajah Indonesia. Meski sudah menjanjikan mau memberi kemerdekaan, ternyata janji tinggal janji. Penjajahan masih dilangsungkan. Bahkan lebih jahat lagi perlakuannya kepada rakyat kita.
Oh maaf salah. Itu sejarah perjuangan Bangsa Indonesia. Kita lagi ngomongin kenapa beliau--si penelur ide cerita saya--ini menyebut saya pembunuh berdarah dingin.
Mulanya beliau mengenal tulisan saya sangar-sangar. Jika debat dengan orang bahasa saya kasar tanpa perasaan. Pas ketemu langsung eh tak tahunya orang sunda. Tahu sendirilah bagaimana gaya bicara sunda: menggunakan gaya ramah membungkuk-bungkuk sopan. Melihat ini beliau merasa aneh.
"Dana!" sapanya waktu beliau mau shooting buat acara TV.
"Iya Pak."
"Gue punya pekerjaan buat Lo." saya gembira. Berapa banyak orang di luaran sana mencari pekerjaan. Lamar sana-lamar sini susah diterima. Tapi saya, bukannya mencari, tapi mahal ditawari.
"Apa Pak?"
"Jadi pembunuh berdarah dingin."
"Haha... " sialan. Begitu rutuk hati saya.
"Jadi Lo nanti sambil pegang leher orangnya, tanya, 'maaf, ini pisaunya kurang tajam, jadi mungkin agak lama menggesek-geseknya. Sebelum Anda meninggal, maaf mungkin matanya saya cukil dulu."
Sejak itulah beliau bulli saya dengan sebutan pembunuh berdarah dingin. Nyaris tiap terlibat pembicaraan dengannya, ada-ada saja idenya untuk membuat cerita saya membunuh dengan cara halus dan sopan, namun dengan adegan-adegan mengerikan. Seperti cungkil mata pakai sendok, pake tali, pake parutan, pakai pisau dan sebagainya.
Sebagai penyuka tulisan, saya sih melihat ini ide. Dari pada susah cari ilham, mending pake saja yang ada. Maka setiap kali beliau cerita, tak pernah menunda. Langsung saya tulis.
Misal kemarin. Beliau ngajak makan sop kambing, rame-rame, malam-malam. Sop kambing. Kami sendiri yang pilih bahan-bahannya dari baskom. Ada lidah, paru, telinga, bibir, kulit, daging, otak. Maka saat makan, tak habis-habisnya beliau membulli.
"Jadi nanti Dana bertanya pada orang, 'Maaf Pak, di sini tempat buang mayat di mana ya?' 'Mayat siapa ya?' tanya orang itu. 'Mayat Bapak.' ciaat bresss!!'"
Sambil makan, kami tertawa-tawa. Malam itu juga, sepulang makan sop kambing, cerita itu saya tuliskan.
Itulah rahasia di balik ide cerita sadisku. Ada seseorang.
"Saya gak nanya kok," kata Anda.
Related Posts: