Seorang Ayah Seharusnya


Tulisan ini, saya susun di kota, di kantor tempat kerja, dini hari, sehari setelah berangkat, meninggalkan istri dan anak.


"Bapak pergi dulu ya!"
"Pergi ke mana?"
"Ke Depok."
"Jangan pergi! Bapak jangan pergi!" rajuknya.
"Buat cari uang lagi, biar Enay punya uang buat jajan." bujuk ibunya.

"Iya, ini uangnya noh jajan." rayu saya juga sambil memberinya selembar uang lima ribu rupiah.
Tapi susah, dia masih telentang sambil menangis.
Saya berdiri, dia bangun. Saya menuju kursi dia mengikuti, "Mau ikut, mau ikut sama Bapak!" sambil terus menangis.
Ibunya membujuk lagi, "Kan biar mengumpulkan susu lagi."
"Susu kan sudah banyak di rumah."
Saya tertawa geli. Pintar aja ngelesnya. 

Tidak tega sebenarnya saya meninggalkannya. Di mata saya, mungkin karena saya bapaknya, sebagaimana semua orang tua memandang anaknya, saya perhatikan, anak saya itu lucu sekali. Baru tiga tahun, bicaranya sudah pandai. Sudah bisa berargumentasi, dan argumentasinya faktual, berdasarkan fakta, tidak seperti kebanyakan orang dewasa, yang jika berpendapat, pendapatnya itu hanya pepesan hampa. Iya, memang di rumah, susu kotak cukup banyak. Susu jatah saya di tempat kerja selama sebulan lebih saya kumpulkan dan bawa untuknya.

Selain itu, sekarang dia sudah bisa cebok sendiri. Seperti malam kemarin,  saya mengantarnya buang hajat ke pemandian kolam, dan setelahnya saya siap mencebokinya, namun selesai buang hajat, dia menolak. Air keran itu dia buka, dan cebok sendiri.

Tapi ..."Eh jangan sambil berdiri! Jongkok!" Saya menekan badannya.

Dia jongkok. membersihkannya sendiri dengan tangan kecilnya dari arah depan.
Tapi saya kurang yakin, coba cek dengan tangan saya. Iya, sudah kesat.

Setelah bagian belakang, kini dia berdiri lagi, membuka lebar kakinya, menghadap ke arah keran yang mengucur, dan membersihkan bagian depannya.

Pulang ke rumah, ibunya bertanya, "Dari mana?"
"Ee'ee.."
Saya tanyakan pada ibunya, apakah suka mengajarinya cebok?
"Tidak!"
"Tadi dia tidak mau saya cebokin. Dia cebok sendiri."
"Hah? Ayo cepat cebok lagi!" teriak ibunya.
"Tidak mau! Tidak mau! Sudah!" jerit Si Enay.
"Nanti malam bisa gatal!"
"Sudah bersih kok. Tadi saya sendiri cek, sudah kesat!" yakin saya.

Terkadang, dia juga mempermalukan saya. Ikut makan, kemudian memperhatikan saya, mengambil nasi, lauk dan langsung makan. Serius dia menyusuh, "Allahumma baaik lanaa....waqina adabannal dulu...!"

Menyuruh saya berdoa. 

"Memalukan!" dengus ibunya dari tengah rumah.

"Oh anakku, sebentar nian kebersamaan kita di rumah. Baru juga dua hari, Bapak harus kembali berangkat. Sebagai Bapak, seharusnya saya mengasuhmu, bergantian bersama ibumu, menjaga dan mengawasi perkembanganmu. Tapi bagaimana lagi, bapak harus mencari uang. Kalau saja sumber keuangan Bapak dekat, tentulah tidak perlu sering pergi jauh. Sehari-hari bisa pulang mengasuhmu, bergantian dengan ibumu, supaya Bapak, juga bisa mengetahui perkembanganmu dari waktu ke waktu. Sejak kecil, sejak bayi, kamu sering Bapak tinggalkan padahal harusnya, baik Ibu atau pun Bapak, lengkap harus ada untuk perkembangan anak. Allah telah memberikan rasa kangen dan sayang di hati kedua orang tua kepada anak, sebenarnya itu supaya orang tua senantiasa membersamai anak dalam perkembangannya, supaya apa yang masuk ke telinga anak, masuk ke mata anak, dan terekam di pikiran anak, bisa terkontrol oleh orang tuanya. Sedangkan kamu tidak. Perkembanganmu luput dari pengawasan Bapak. Ibumu tentu begitu repot merawatmu, dan sering kehilangan kendali saat jengkel dan menjadi kasar. Sungguh bapak khawatir, itu akan melukai perasaanmu, kemudian luka itu membekas lama, dan menjadi bawah sadar. Tapi bapak maklum, ibumu sampai begitu karena memang lelah mengurusmu sendirian tanpa ada yang menggantikan. Siang malam, sehari dua puluh empat jam, seminggu tujuh hari, terus tiada putus-putusnya, bersamamu, menjagamu, mengurusmu, sangat wajar jika seringkali jengkel dan kehilangan kendali. Meski Bapak takut itu bisa membuat jiwa dan pikiranmu terluka, bapak tak bisa apa-apa. Harus bagaimana lagi, buat saat ini, Bapak akan bersyukur saja dengan kebahagiaan yang ada, bahwa ibumu, cukup pandai juga merawat dan melindungimu dari berbagai bahaya, sehingga sampai saat ini, setiap kali pulang, Bapak lihat kamu sehat-sehat saja, gemuk, dan selamat. Segala puji bagi Allah yang hanya kepadanya, Bapak bisa menitipkanmu."

Seorang ayah seharusnya, dekat dengan keluarga. Sayangnya tak selamanya, kondisi sesuai kehendak hati. Dalam keadaan ini, hanya Allah tempat kita menitipkan keluarga.

Related Posts:

0 Response to "Seorang Ayah Seharusnya"

Post a Comment