Pertanyaan Saya Kepada Pohon Nangka

Tapi, saya tidak mau menuliskan dengan kata-kata sebenarnya. Saya hanya ingin bercerita tentang sebatang pohon nangka di pinggir jalan. Buahnya telah matang, seharusnya sudah dipetik orang. Tapi entah kenapa, pemiliknya entah di mana. Saya dengar malah, belum ada pemiliknya. Saya kira sedang dilelang, tapi belum tahu juga sudah atau belum ada yang pesan. Ah menyebutnya sedang dilelang rasanya tak sopan. Eh tapi kenapa harus merasa tak sopan. Kan ini pohon nangka.

Kadang saya ingin bertanya kepada pohon nangka, sudahkah ada pemiliknya. Tapi dari beberapa kali saya mencoba berbicara kepada pohon nangka itu, responnya selalu diam.

Jadi saya pikir, mungkin pohon nangka itu tidak mau akrab dengan saya. Padahal, setelah lelahnya kerja seharian mengayuh beca, terkadang saya ingin berteduh di bawah itu pohon nangka. Kalau saja dia mau, saya bisa menjadi keuntungan baginya, dia pun bisa menguntungkan saya. Oksigen dari daunnya bisa jadi nafas saya, dan CO2 dari paru saya bisa menjadi nafasnya.

Hanya satu pertanyaan saya, sebagai pohon rindang, tidakkah kamu begitu rindu memberika keteduhan?

Related Posts:

0 Response to "Pertanyaan Saya Kepada Pohon Nangka"

Post a Comment