![]() |
| Foto by: Diyan S. |
Sedang menikmati makan siang, terdengar suara "Tuuut!!" dari samping saya.
"Maaf!" ucap Wiro pelan, datar, sambil meneruskan kerja, dan mata tarus terfokus ke monitor laptopnya.
Aneh, kenapa harus minta maaf. Kentut itu wajar, kesehatan. Sepuluh juta rupiah berani orang korbankan ketika angin busuk itu susah dia keluarkan. Jadi, bagi saya itu biasa saja. Kenapa harus minta maaf.
Saya juga tidak tertawa. Sebab, pernah baca dalam kitab kuning, mentertawakan kentut orang itu dosa.
Tapi ketika berikutnya Wiro jelaskan kenapa dia minta maaf, saya tak kuat menahan tawa.
"Kenapa gue minta maaf? Karena di sana, orang kentut dianggap bersalah."
"Maksudmu di Makasar?"
"Iya, di sana kentut dianggap bersalah. Sampai-sampai kalau lagi nonton, TV harus dimatikan, ditanya, "HAI SIAPA YANG KENTUT?" kalau gak ada yang ngaku, ditanya satu persatu, "Kamu ya yang kentut?"
"Wuakakakk, hanya karena kentut TV harus dimatikan?" tanya saya meyakinkan.
"Iya."
"Betapa seriusnya."
"Beneran!" Wiro meyakinkan.
"Buat sidang?"
"Iya...maka biar urusan cepet beres, langsung saja gue ngaku, meskipun bukan gue yang kentut. Gue gak mau waktu habis cuma buat cari siapa yang kentut doang."
* * *
Keesokan harinya Wiro heran, kenapa saya terus tertawa-tawa sendirian. Saya jawab, cerita kentutnya kemarin sangat berkesan. Lucu, itu lucu luar biasa. Saking lucunya sehingga sayasaya putuskan, cerita ini harus saya tuliskan.
"Tapi pastikan, cerita itu ada pelajarannya." Wiro mengingatkan sambil bersama kolornya bolak-balik ke kamar mandi, ke meja kerja, dan ke atas gedung untuk melakukan ritual rahasia yang tidak berani saya sebutkan.
"Ya tentu saja!" jawab saya.
Lalu apa pelajaran cerita Wiro kentut barusan?
Rela berkorban.
Dia punya kehebatan: Rela berkorban. Meski bukan dia yang kentut, supaya urusan cepat tuntas, dia rela berkorban.
Sebagian besar orang terlalu memelihara "ke-aku-an". Terlalu memuja harga dirinya, sampai-sampai, buat mengakui urusan remeh temeh seperti kentut saja susah. Akibatnya, masalah ringan jadi berkepanjangan. Dari pada jujur mereka lebih suka berdusta, mengira dengan cara itu harga dirinya lebih terjaga. Benar akan terjaga jika tidak ketahuan. Kalau ketahuan? Justru jatuhnya lebih berantakan.
Dari peristiwa kentut saya melihat, Wiro telah berhasil mengosongkan dirinya dari "Keakuan". Perilaku demikian pernah saya temukan dari seorang sufi legendaris dunia, yang menjadi guru inspiratif para pencinta: Jalaluddin Rumi sang mullah.
Suatu ketika, dia menyusuri jalanan, sampai ke sebuah tikungan, tampak olehnya dua orang sedang bertengkar. Mereka adu mulut, saling menghina, dan seakan hinaan itu tiada habisnya. Sang Mullah menghampiri mereka dan berkata, "Jika kalian ingin menghina, hina saja saya sampai puas!" beliau ucapkan itu tanpa dibuat-buat. Ucapannya itu datang dari ketulusan rasa, rasa cinta, dan rasa dirinya bukan siapa-siapa, karenanya bagi dia, tak masalah orang menyebut dia apa saja, dia takkan membalas, karena yang penting baginya, dia bisa mewujudkan kedamaian dan cinta.

0 Response to "Wiro dan Kentutnya"
Post a Comment