Wiro dan Kekasihnya

Ini hari gajian.
Wiro ceria.
Di depan meja kerja, sambil duduk di kursi sandarannya sudah miring, karena bautnya sudah lepas, Wiro berkokok, "Oh ya gue mau mengirim Mamak..." sambil melihat ke arah saya.

Saya mengerti, itu isyaratnya minta bantuan transfer ke rekening Mamaknya, di  sana, di kampungnya, di Toraja.

Klik! Klik! Klik! Terkirim...Sukses!

"Kamu tiap bulan mengirimi Mamak?" tanya saya.
"Iya"
"Itu murni kamu kasih buat dia gunakan?"
"Iya"
"Trus keuntungan kamu apa?"
"Bahagia Cuy, bisa memberi kepada orang tua."
"Hebat Kamu Wir!"
"Karena gue, dulu pernah kerja dan tak pernah ngasih ke orang tua."
"Waktu kerja di Toko Buku itu?"
"Iya"
"Memang berapa gaji di sana sebulan?"
"Satu juta tiga ratus. Habis buat ongkos, pulang pergi sehari enam ribu."
"Enam ribu, kali tiga puluh, ah cuma keambil seratus delapan puluh ribu sebulan." saya coba hitung.
"Makan?" tanya Wiro retoris.
"Oh ya makan, biasanya habis berapa?"
"Tiga puluh ribu sehari. Di sana banyak godaannya. Pengennya jajan terus. Melihat keluar itu makanan semua Wuaaahhhh. Sebulan sembilan ratus, belum lagi jajan, rokok. Habis! Makanya sekarang gue mau ngasih ke orang tua."

Teringat soundtrack Film Keluarga Cemara, "Harta yang paling berharga adalah keluarga. Puisi yang paling bermakna adalah keluarga." Seperti Wiro, di perantauannya ini, saya analisa, pusat kerinduan Wiro adalah keluarga.

Di lantai empat, sering saya melihatnya bahagia, tertawa-tawa, telfon-telfonan, bercanda-canda, entah dengan siapa. Sambil duduk dan sesekali mengisap rokok, dengan bahasa yang susah saya mengerti, dengan logat orang timur yang ngomongnya dihentak-hentakkan.

Saya tanya, "Ngobrol sama siapa?"

"Mamak!" jawabnya asal, kemudian kembali lagi asyik ngobrol. Saya dibiarkannya, dicuekkannya. Ya sudah, saya tinggalkan.

Di atas ibunya, ada lagi keluarga yang sangat dia cintai, yaitu neneknya.

Sesekali di sela kerja, teriakan"Tarzan"nya mengguncang ruangan. Sampai Dedi Padiku harus memasang headphone, buat meredam suara Wiro yang menurutnya sangat meneror telinga. 

Bukan teriak-teriak, sebenarnya Wiro bersenandung, mengulang beberapa potongan lagu yang berhasil dia hafal, dan nyaris setiap lagu dia persembahkan buat neneknya.

Lagu Assalamualaikum Beijing, dia ganti jadi "Assalamualaikum Nenek". Tantri Kotak nyanyi, "Jika Aku Jadi Kamu" dia ganti dengan "Jika Aku Jadi Nenek".

Sambil mondar-mandir ke kamar mandi, ke meja kerja, menuruni tangga, naik lagi, ruangan dipenuhi suaranya, melengking-lengking merusak lagu Bunga Citra Lestari, "NENEK...KITA MELUKISKAN SEJARAH...."

Wiro benar-benar peliharaan lincah. Berkicau lebih ramai dari murai, tanpa butuh merah. Kata Diyan, temannya, Wiro itu bagai ember kecil, tapi punya kapasitas air bergalon-galon. Hidupnya penuh semangat. 

Tadi malam--malam sebelum cerita ini saya tuliskan, Wiro bergadang. Saya tidur lebih awal, jam sembilan lebih, dan ketika dini hari bangun kembali, kamar masih ramai dengan lagu Iwan Fals, dan setelah saya keluar dari kamar mandi kemudian duduk mulai kerja--ship online dini hari--lagunya ganti jadi lagu Malaysia..."Saat kita berpisah...kau pegang erat tanganku....sepertinya tak merelakan kepegianku, tuk meninggalkanmu..."

Ini mahluk lagi ngapain, jam segini masih bangun. Sebenarnya penasaran, terbersit ingin menengoknya ke kamar. Tapi malas. Biar saja, khawatir mengganggunya, atau justru saya terganggu. Sebenarnya saya jengkel. Kenapa dia belum tidur juga. Lagunya itu sangat mengganggu. Padahal kerja dini hari begini, inginnya suasana tenang. Tapi apa daya, menegor pun rasanya kasihan.  Sampai hampir dua jam, dari setengah tiga sampai jam empat, masih juga lagunya menyala, dan...

Kemudian terdengar pintu digeser. Tidak saya lirik. Biar saja.

"Kang...." terdengar dia memanggil nama saya.

"Ya"

Saya tengok, dia memperlihatkan sebuah gambar.



Saya tanya, ini lukisan apa?
"Nenek." jawabnya, sambil ngeloyor menuju tangga, ke lantai bawah. Jadi ternyata, sampai semalaman dia habiskan buat membuat lukisan "Nenek."

Semula saya mengira, dia banyak menyanyikan "nenek", itu hanya bercanda. Sekedar mengundang tawa. Namun ternyata tidak. Dia memang sangat mencintai neneknya. Pernah dia cerita, usia kecil dia habiskan di rumah nenek, sebab di rumahnya sendiri, karena, saking adik kakaknya banyak, dia sering tak ter-urus, sampai orang tuanya suka lupa memberinya pakan eh makanan. Neneknya kasihan dan merawatnya.

Itulah sebabnya sekarang dia sangat cinta. Serius, dia benar-benar mencintai neneknya. Lukisan dia tas, mungkin bisa menjadi fakta.

Jadi, jika banyak orang bertanya, siapa kekasih Wiro sekarang?
Terjawab sudah, orang yang paling dia kasihi di antara semuanya adalah, KELUARGANYA. Bagi saya, dia contoh sejati seorang pemuda yang cinta keluarga.

Related Posts:

0 Response to "Wiro dan Kekasihnya"

Post a Comment