Banyak kisah mengesankan saya baca, dan sebagian besar kisah yang mencuri hati saya, adalah tentang orang-orang yang mengosongkan dirinya. Kisah orang yang membuat pengakuan, bahwa dirinya tidak berdaya--pengakuan bahwa kekuatan, semua hanyalah milik Allah semata.
Seperti "Catatan Hati di Setiap Doaku" yang pagi ini saya baca. Langsung membuka halaman-halaman akhir, dan berhentilah mata pada sebuah kisah nyata. "Doa yang Dijawab dengan Syndroma Guillan Barre." Tertulis di bawah judul itu nama penulisnya: Agung Pribadi. Para pengunjung Toko Asma Nadia, tentu saja takkan asing lagi dengan ini nama. Senantiasa berinteraksi, berbicara, dan menjawab pesanan-pesanan barangnya.
Dalam bab ini Pak Agung menceritakan kekosongan dirinya di hadapan takdir Allah.
Waktu SMP--menurut ceritanya--dia sangat digandrungi wanita. Wajar saja karena waktu itu, selain termasuk siswa populer di sekolah, punya rangking bagus di kelas, Agung Pribadi remaja pun tergolong remaja berparas tampan. Akan tetapi kemudian, menjelang ujian akhir SMP, sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-16, sebuah cobaan berat datang, syndroma guillan barre menyerang, melumpuhkan kakinya. Agung tak bisa berjalan.
Sebagai anak yang semula sehat wal afiyat, tak kurang suatu apa, tentu saja kedatangan penyakit ini sangat mengagetkan. Sebulan lamanya dia total tidak bisa berjalan, hingga akhirnya, setelah bolak-balik berobat, segala puji bagi Allah, kakinya mengalami kesembuhan. Dia kembali bisa berjalan, meski harus menggunakan jangka. Namun tetap tidak sesehat sebelumnya. Menerima kenyataan ini, keping energi batin perlahan dia tata, membangun kesabaran, untuk menerima, karena, kalau keadaannya sudah begini, terus harus bagaimana?
Awalnya tak biasa, lama-lama akrab, dan bagaimana akhirnya?
JATUH CINTA.
Ya, akhirnya Pak Agung Remaja jatuh cinta kepada penyakitnya. Layaknya orang jatuh cinta yang selalu memandang baik apapun dari diri oran yang dicintainya, Agung remaja pun jatuh cinta dan berusaha memandang sisi indah dari penyakitnya. Penuh keyakinan dia katakan, sesungguhnya syndroma guillan barre yang dideritanya ini, yang membuatnya tak bisa berjalan senormal sebelumnya, justru adalah bentuk jawaban dari doa-doanya.
Selama ini kepada Allah beliau senantiasa meminta, supaya dirinya disucikan, dijaga dari dosa kemaluan. Mengingat dirinya dekat dengan banyak perempuan, sangat mungkin Agung remaja terjerumus pergaulan bebas yang ujung-ujugnya bisa saja terjerumus kepada perzinahan. Kita semua memohon perlindungan kepada Allah. Akan tetapi, kemudian Allah menjawab doanya dengan memberikan penyakit itu, yang tentu saja, itu membuatnya terbatasi dari pergaulan bebas.
Mengosongkan. Itulah yang Pak Agung lakukan dengan ceritanya. Dia mengosongkan dirinya, melihat dirinya makhluk tak berdaya, sama sekali tidak punya kekuatan menolak kepastian dari Allah, dan tiada jalan, selain berserah dan memandang, ketidakberdayaannya justru sebuah pintu kebaikan.
Saya bertanya, kenapa cerita semacam ini demikian memikat?
Saya sendiri yang jawab, karena, ketika orang mengakui kelemahannya, jujur akan kekosongan dirinya, tidak punya apa-apa, tidak bisa apa-apa, tidak berdaya apa-apa, kemudian memasrahkan diri sepenuhnya kepada Allah, justru dari sana akan terbangun kekuatan, kekuatan dahsyat, dan ketika itu dia sajikan dalam cerita, maka cerita yang tersusun demikian memikat. Dalam kesadaran manusia akan ketidak berdayaan dirinya, ada kekuatan tak terhingga.
0 Response to "Kisah Mengesankan: Kisah Tentang Kekosongan"
Post a Comment