"Kebanyakan pria meninggalkanku karena mereka merasa kulupakan. Menurutku cinta itu bebas, tidak selalu harus bersama, tidak selalu harus telefon, tidak selalu harus SMS. Yang penting hati terus menjaga, aku sayang kamu karena Allah."
--Rara Ayu di Curcol---
Pernyataan di atas adalah kejujuran sesungguhnya dari hati seorang wanita. Wanita mana pun saya kira.
Memang benar, pria ngarep yang selalu butuh perhatian itu membosankan buat wanita. Menurut beberapa artikel yang pernah saya baca, kebutuhan berlebihan akan perhatian buat kenyamanan hubungan jadi berkurang. Kebutuhan berlebihan akan perhatian ini biasanya tidak ditunjukkan dengan meminta langsung perhatian, tapi justru dengan cara menunjukkan perhatian. Misalnya dengan melalui banyaknya mengirimkan pesan, dengan menanyakan hal-hal kurang penting semisal; sudah makan belum, sekarang lagi di mana, lagi ngapain, dan sebagainya. Nah, ketika ternyata orang yang dikirimkan sms tidak menjawab, karena bosan, maka si pengirim sms itu merasa kurang diperhatikan. Jika itu dilakukan seorang pria, maka efeknya, si wanita menjadi ilang filling, alias ilfil. Itu terjadi karena sejatinya wanita membutuhkan pria dewasa, stabil dan kuat dalam mengendalikan perasaan, maka saat dia dapati prianya ternyata seorang yang bermental kekanak-kanakkan, berjiwa rapuh, labil dan selalu butuh perhatian, jelas dengan sebab ini, respek si wanita jadi berkurang. Menjawab sms jadi malas, dan telfon sungkan diangkat.
Berbeda halnya jika si pria adalah seorang merdeka. Dia kaya secara mental dan secara social. Kaya secara mental, tidak miskin dan butuh perhatian. Dia pria beriman dan merasa cukup dirinya mendapatkan perhatian Allah, yang tak pernah lalai darinya setiap saat. Dia pria kaya secara social karena lingkungannya sendiri, keluarganya, teman-temannya, telah cukup membahagiakannya, yang karenanya saat wanita yang dia anggap "pacarnya" tidak menjawab sms atau telfon pun, tidak membuatnya kebakaran bulu ketiak, apalagi kebakaran jenggot, gelisah kehilangan ketenangan, seperti monyet kejepit buntut.
Apa sebenarnya yang terjadi?
Berdasarkan buku Teh 7 Law Happiness, karya Arvan Pradiansyah, saya kira ini terjadi karena ketidakpahaman mengenai apa makna kasih itu sebenarnya. Buku tentang kebahagiaan yang sangat saya sukai ini menulis tegas, bahwa KASIH ADALAH MELEPASKAN. Dia berkata, "Kesalahpahaman lain yang sering terjadi berkaitan dengan cinta adalah bahwa cinta itu berarti memiliki, dan memiliki itu berarti menguasi."
"Di sinilah makna cinta telah bergeser dari memberikan menjadi MENGINGINKAN. Memberikan berorientasi kepada orang lain, sementara menginginkan berorientasi kepada diri sendiri. Memberikan bersifat mementingkan orang lain, sedangkan menginginkan bersifat mementingkan diri sendiri," lanjutnya, diakhiri sebuah pertanyaan retoris, "lantas jikalau Anda mementingkan diri sendiri, layakkah itu disebut sebagai cinta dan kasih?"





















