KASIH ADALAH MELEPASKAN

"Kebanyakan pria meninggalkanku karena mereka merasa kulupakan. Menurutku cinta itu bebas, tidak selalu harus bersama, tidak selalu harus telefon, tidak selalu harus SMS. Yang penting hati terus menjaga, aku sayang kamu karena Allah."

--Rara Ayu di Curcol---

Pernyataan di atas adalah kejujuran sesungguhnya dari hati seorang wanita. Wanita mana pun saya kira. 

Memang benar, pria ngarep yang selalu butuh perhatian itu membosankan buat wanita. Menurut beberapa artikel yang pernah saya baca, kebutuhan berlebihan akan perhatian buat kenyamanan hubungan jadi berkurang. Kebutuhan berlebihan akan perhatian ini biasanya tidak ditunjukkan dengan meminta langsung perhatian, tapi justru dengan cara menunjukkan perhatian. Misalnya dengan melalui banyaknya mengirimkan pesan, dengan menanyakan hal-hal kurang penting semisal; sudah makan belum, sekarang lagi di mana, lagi ngapain, dan sebagainya. Nah, ketika ternyata orang yang dikirimkan sms tidak menjawab, karena bosan, maka si pengirim sms itu merasa kurang diperhatikan. Jika itu dilakukan seorang pria, maka efeknya, si wanita menjadi ilang filling, alias ilfil. Itu terjadi karena sejatinya wanita membutuhkan pria dewasa, stabil dan kuat dalam mengendalikan perasaan, maka saat dia dapati prianya ternyata seorang yang bermental kekanak-kanakkan, berjiwa rapuh, labil dan selalu butuh perhatian, jelas dengan sebab ini, respek si wanita jadi berkurang. Menjawab sms jadi malas, dan telfon sungkan diangkat.

Berbeda halnya jika si pria adalah seorang merdeka. Dia kaya secara mental dan secara social. Kaya secara mental, tidak miskin dan butuh perhatian. Dia pria beriman dan merasa cukup dirinya mendapatkan perhatian Allah, yang tak pernah lalai darinya setiap saat. Dia pria kaya secara social karena lingkungannya sendiri, keluarganya, teman-temannya, telah cukup membahagiakannya, yang karenanya saat wanita yang dia anggap "pacarnya" tidak menjawab sms atau telfon pun, tidak membuatnya kebakaran bulu ketiak, apalagi kebakaran jenggot, gelisah kehilangan ketenangan, seperti monyet kejepit buntut. 

Apa sebenarnya yang terjadi?

Berdasarkan buku Teh 7 Law Happiness,  karya Arvan Pradiansyah, saya kira ini terjadi karena ketidakpahaman mengenai apa makna kasih itu sebenarnya. Buku tentang kebahagiaan yang sangat saya sukai ini menulis tegas, bahwa KASIH ADALAH MELEPASKAN. Dia berkata, "Kesalahpahaman lain yang sering terjadi berkaitan dengan cinta adalah bahwa cinta itu berarti memiliki, dan memiliki itu berarti menguasi."

"Di sinilah makna cinta telah bergeser dari memberikan menjadi MENGINGINKAN. Memberikan berorientasi kepada orang lain, sementara menginginkan berorientasi kepada diri sendiri. Memberikan bersifat mementingkan orang lain, sedangkan menginginkan bersifat mementingkan diri sendiri," lanjutnya, diakhiri sebuah pertanyaan retoris, "lantas jikalau Anda mementingkan diri sendiri, layakkah itu disebut sebagai cinta dan kasih?"

Related Posts:

Membuat Paradoks dalam Cerita

Salah satu cara membuat cerita menarik adalah, membuat suasana paradoks, misalnya seorang yang marah-marah, dengan seorang yang lemah-lembut. Satu orang berbicara kasar, satu orang lain berbicara lemah-lembut.

Atau menceritakan seorang yang bicara kasar, teriak-teriak, namun keterangan di luar tanda kutipnya menunjukkan suasana keramahan, kelembutan, kebaikan, keindahan......

Saya mendapatkan inspirasi ini setelah melihat cerita wayang golek berjudul "Budak Buncir" saar Arjuna marah-marah kepada Gatotkaca, karena tidak mau dinikahkan, Semar datang ke hadapannya sampai menunduk memohon dengan kelembutan dan segala logika dan perasaan supaya Arjuna mengurungkan niatnya. Adegan itu sangat menyentuh....sementara Arjuna terus berbicara kasar, Semar berbicara lembut.

Saya juga terinspirasi dari adegan di film The Godfather II, saat Michael Corleone teriak-teriak, mata melotot, badan terhuyung ke belajang, sambil memegang dadanya yang sakit, mungkin serangan jantung, musik yang menjadi latar belakangnya lembut dan syahdu, memperlihatkan teriakannya hanya kemarahan sia-sia, sebab ternyata dirinya sudah lemah...

Paradoks itu indah, paradoks itu gaya, paradoks itu daya tarik...

Related Posts:

SAAT PAK ISA MELARANG MAKAN SIANG

Lewat Watshapp, Pak Isa memberitahukan karyawannya, besok jangan makan siang, sebab nasi, akan kirim dari rumah. Nasi kuning. Membaca itu saya gembira. Orang lain juga. Pak Ardian, senior teman Pak Isa yang kini menjadi rekan kerja saya, menjawab, "Alhamdulillah, makasih Pak."

Sedangkan Sudiyan, seorang editor yang juga merangkap jabatan sebagai anak lama, menyahut, "Pak Isa, terima kasih kabar gembiranya."

Saya?

Beberapa kali jari mengetik tulisan, tapi saya urungkan. Alasannya malu, kelihatan sekali gembiranya.

Dibanding teman-teman, rasanya saya paling jago makan. Saat orang lain kerja, saya makan. Nasi di mejikom, seringnya saya yang menghabiskan. Tak seorang pun dari teman kerja di sini saya lihat makan nasi kering seperti saya. Mereka lebih suka ke kantin daripada makan tidak enak. Tapi saya tidak, selama di kantor ada nasi, biarpun kering saya makan. Dimasak dulu dengan merebusnya sampai lunak, kemudian menggorengnya biar punya rasa. Bener-bener rakus. Juga jika di toko ada kue, dan Mas Lili sudah pulang, saya menutup rollingdoor toko, setelah itu duduk santai, sambil makan kue sisa.

Parahnya, kerakusan saya itu tidak berimbang dengan kegemukan badan. Normalnya, orang banyak makan itu gemuk. Saya tidak, kerempeng-kerempeng saja. Padahal kalau makan, saya bisa beberapa kali mengambil, sampai kekenyangan. Rakus luar biasa.

Saya khawatir kerakusan saya itu sudah terdeteksi oleh teman, dan diam-diam, di belakang saya mereka ramai-ramai membicarakan. Itulah sebabnya, saat di Watshapp ini ada berita gembira mau datang makanan dari Pak Isa, sebenarnya hati saya yang paling tinggi meloncat gembira. Ingin saya ekspresikan dengan menjawab, misalnya, terima kasih Pak, atau alhamdulillah seperti yang lainnya, tapi beberapa huruf saya ketik, backspace kembali saya tekan, buat menghapusnya.

Malu!

Hanya dalam hati saya berkata, terima kasih ya Allah, atas nikmat ini, telah diberi atasan yang baik, akrab, dan penuh penghargaan.

Related Posts:

WAHDANA DAN DANA........

"Aku sedang qasidahan di acara KKN anak UNPAD." SMS istriku.

Di kampung saya, jauh ratusan kilometer di pegunungan sana, sedang kedatangan mahasiswa KKN. Mungkin malam ini perpisahan, mereka mengadakan acara, dan istri saya, ikut memeriahkan dengan naik ke panggung, kasidahan.

Mendapat berita itu, saya malah teringat anak saya yang masih kecil. Kalau ibunya kasidahan, terus anak saya sama siapa?

"Bersama emak di warung, sudah tidur," jawabnya.

"Oh."

"Saya tadi nyanyi lagu Wahdana." Kebayang, suaranya melengking memecah alam pegunungan, WAHDANA DAN DANAAAAA... HAYYAAAAHHHH...

"Bagaimana kata orang-orang?"

"Duh, terus aja manggil-manggil nama suaminya. Begitu kata orang-orang"

Begitulah istri saya, beda dengan saya yang kurang pergaulan, dia aktif mengikuti kegiatan kampung. Acara voliball Agustusan suka ikutan, di pengajian suka puji-pujian, kemarin adiknya menikah dia nyanyi juga kasidahan, kemarin lagi acara lomba Agustusan ikutan juga lomba kasidahan. Ada-ada saja. Saya tidak tahu, harus bangga atau sedih punya istri seperti ini.

"Bagaimana menang?"

"Alhamdulillah juara ke-2."

"Apa hadiahnya?"

"Uang. A, suka tidur jam berapa?"

"Kadang jam 11, kadang tidak tidur sampai pagi."

"Cepetan tidur atuh, biar yang lain gantikan kerjamu. Aku juga mau tidur."

"Memang sekarang sudah di rumah?"

"Sudah. Seberes nyanyi, saya langsung pulang. Orang-orang masih di sana. A segera tidur ya!"

"Ya."

Related Posts:

KALAU HANYA MENGGANGGU! ABAIKAN SAJA!

Kalau cuma bikin bad bood, abaikan saja! 

Bisa nggak mengabaikan?
Bisa nggak "Mengatakan Tidak"?
Bisa nggak "No Comment!"?--terhadap hal-hal yang, hanya merusak kebahagiaan Anda. Bisa nggak no coment, terhadap perkara yang hanya akan menghambat tercapainya tujuan Anda?

Kalau saya naik motor, dari Bandung menuju Jakarta, dan setiap hal menarik yang saya lewati saya pedulikan, kapan sampainya? 

Ubi Cilembu di puncak, sepertinya enak tuh, singgah dulu ah, pesan, menunggu, makan. Jalan lagi, wah bakso urat tuh, besar-besar, sepertinya enak, singgah, pesan, nunggu, makan. Jalan lagi, wah bazar buku tuh, murah-murah, menarik, singgah, pilih-pilih. Kapan sampainya?

Jelas, jika ingin cepat sampai, banyak hal harus saya abaikan. Hal tidak sepenting jangan pedulikan. Lokus pada hal-hal penting saja, yaitu jalan dan rambu-rambu lalu lintas.

Kenapa saya bicarakan ini?

Buat motivasi diri. Keterampilan ini sedang sangat saya butuhkan: bisa mengabaikan. 

Seorang penulis terkenal minta saya mengedit novelnya. Dia minta saya mengedit cepat. Tak hanya cepat, juga harus cermat. Pra Order mulai berdatangan, judul sudah masuk produser, siap naik layar lebar. Kecepatan dan kecermatan sangat saya butuhkan. Dan supaya bisa kerja cepat dan cermat, saya harus bisa mengabaikan. Mengabaikan apa saja penghambat!

Selama kerja, koneksi internet terpasang dan facebook terbuka. Banyak pemberitahuan datang, banyak juga pesan. Sengaja saya buka, buat pereda jenuh, biar sesekali refresh menengok ke sana, sesekali menanggapi komentar, postingan orang, atau menjawab inboks yang datang. Tidak semua saya tanggapi, tidak semua saya jawab. Saya hanya menanggapi stat menyenangkan, itu pun sebagian, sebagian lain terabaikan, apalagi inboks dan postingan bermasalah. Memang saya baca, tapi malas komen, apalagi menjawab, sebab sekali menjawab, buntutnya bisa panjang, terlebih sudah jadi perdebatan, uh maaf tak punya waktu. Itu menguras pikiran dan makan waktu. Setelah komen yang enak-enak, lebih baik kembali kerja. Orang menyebut saya apa, whatever!

Terus terang, saya akui, saya sendiri belum sepenuhnya bisa fokus kerja. Belum sepenuhnya bisa mengabaikan. Dari kilasan cerita di atas Anda bisa menangkap bagaimana saya sebenarnya, saya masih bisa tergoda, masih peduli juga, masih membaca komentar, masih sempat-sempatnya facebookan, dan membaca posting kurang menyenangkan. Sebatas tidak menanggapi, baru itu yang bisa saya lakukan. Itu pun kadang-kadang, kalau sedang lupa, komentar dan postingan kurang menyenangkan itu saya tanggap. 

Seperti saat menulis ini, beberapa meter dari meja saya, mengalun lagu Gaza to Night, suaranya keras, lagunya enak, akan tetapi, karena di komuter samping saya pun mengalun lagu dari salon kecil, suaranya jadi gak karuan. Bayangkan, dua lagu mengalun bersamaan, bagaimana telinga bisa menangkap! Terlebih saya sedang menyusun tulisan. Jelas, menghadapi ini saya harus bisa mengabaikan, sebab, saya harus fokus kepada tulisan.

Bisakah? Ternyata susah. Solusinya, saya bawa masalah ini ke dalam tulisan, Merenungkannya, dan jadi ilustrasi tulisan ini, seperti barusan telah Anda baca di atas. Dengan cara itu saya bisa kembali fokus ke tulisan.

Bayangkan, jika setiap yang mengusik pikiran kita harus saya pedulikan, jika setiap komentar orang yang kurang menyenangkan harus saya jawab, jika setiap gangguan harus saya hiraukan, urusan saya sendiri kapan selesai?

Menjadi orang peduli tidak selalu baik. Sebagian sikap peduli justru mengganggu. Tugas bisa terbengkalai, target  lama tercapai. Hanya dengan menjadi anak panah, melesat dari busur, lurus ke depan, maka target bisa tercapai lebih cepat.

Related Posts:

JULIAN TONI, HB JASSIN ABAD 21

HB. Jassin abad dua satu, menurut saya Julian Toni layak mendapatkan sebutan itu. HB. Jassin adalah bapak dokumentasi sastra Indonesia. Sebutan itu menjadi layak disandangkan padanya karena ketekunanannya mendokumentasikan sastra karya anak tanah air. Tidak hanya mendokumentasikan, Pak Jassin pun sampai berani mempertaruhkan kehormatan dirinya di pengadilan untuk membela sebuah cerpen. "Langit Semakin Mendung", cerpen karya Ki Pandji Kusmin--nama samaran--Dianggap menghina agama. Karena Pak Jasin mengangkat cerpen itu di majalahnya, banyak agamawan mengecam. HB Jassin mau menghadapi gugatan mereka di pengadilan.

Apakah Julian Toni demikian juga, membela sebuah cerpen sampai berani masuk pengadilan?

Buat jawabannya, ikuti saja tulisan saya.

Jadi sekitar tahun 2014, terposting sebuah cerpen berjudul "Noda Darah di Ranjang Ayah". Ke postingan itu berdatangan komentar protes dan bantahan. Seagian menyebutnya cerpen murahan, sampah, bahkan ada yang terang-terangan menyebutnya cerpen durhaka. Jelas, sebab cerpen itu isinya seputar pelecehan kepada orang tua. Tentang seorang anak yang menyebut segala detail kejadian dan barang di kamar orang tuanya. Sangat tidak sesuai dengan adat ketimuran yang sangat mengedepankan sopan santun dan hormat kepada yang lebih tua. Seteah seratus enam puluh lima komentar, dan semuanya membantah, mencerca, dan menyuruh supaya dihapus, datanglah Julian Toni memberi komentar pembelaan. Julian mengajak orang menelaah dari segi bahasa. Openingnya menarik perhatian, dengan susunan bahasa tidak biasa. Dan dari segi isi, cerpen ini penuh makna. Julian mengajak orang supaya, jangan melihat sesuatu dari lahiriah, tapi masuklah ke wilayah makna, maka kalian akan mendapatkan mutiara.

Tapi orang tetap tak suka. Bahkan kini, ketidaksukaan mereka berpaling kepada Julian. Orang-orang menantang Julian buat menyelesaikan ini di pengadilan. Akhir Desember Julian sengaja datang, dari tanah Andalas, Sumatra Barat, ke Pulau Jawa. Ditemani seorang pengacara, di tengah pengadilan, dia berhadapan dengan sekitar seratus orang penggugat. Tujuh hari lamanya sidang, akhirnya palu hakim terketuk tiga memenangkan pembelaan Julian terhadap cerpen itu. Nah, saudara sekalian, kejadian yang barusan saya ceritakan hanyalah khayalan, tidak pernah terjadi pada Julian. Jadi kesamaan dia dengan HB Jasin bukan dari pembelaannya terhadap cerita pendek sampai berani sidang.

Lalu dari apa?

Dari kecintaannya mengoleksi karya sastra teman-temannya.

Seperti sering diakuinya, banyak karya temannya di facebook yang masuk dokumentasi dia. Tekun karya-karya itu dia kumpulkan, terutama tulisan-tulisan yang menurutnya menarik dan menginspirasi pembaca. Ini bukan pekerjaan sembarangan. Pekerjaan Julian ini tidak boleh diremehkan. Ketekunan mengumpulkan karya teman adalah bukti bahwa dia orang yang penuh penghargaan. Saat orang lain kepada karya temannya lebih banyak mengabaikan, Julian tida. Dia berusaha menyimpan dan mendokumentasikannya. Dari sebab inilah saya kira, Julian berhak mendapatkan sebutan HB Jasin Abad 21 versi saya.


Related Posts:

PETIKAN GITARMU AYAH RINDUKAN

Anakku, buah hatiku, jagoanku, nyanyian bundamu, buah kisahnya, puisi-puisinya, bara semangatnya,,,,

Ayah
Mencintaimu, juga bundamu

Kamu ingin menjadi pesepak bola kelas dunia?
Baiklah, ayah mengantarmu ke sana
Ke negeri kincir angin
Belanda
Kemudian biar buat belajar betah
Ayah menyertaimu, tapi tak lama, dua minggu saja
Ayah harus pulang...
Nak!
Yang baik-baik ya, berlatihlah tekun
Jangan abaikan kesehatanmu, ayah menunggu
Terus menunggu, akan terus menunggu, suatu saat, ketika menyaksikanmu,
Mencetak ratusan gool
Mengalahkan Argentina, Spanyol, Jerman, Belanda,
Kemudian,
Tanah air kita harum, setelah sekian tahun putus asa
Terasing, gagap
Dari pergaulan piala dunia

Ayah pulang ya Nak
Sungguh berat
Setelah pesawat lepas landas, meninggalkan bandara
Sesungguhnya....
Hati ayah kelu, menanggung rindu--rindu yang menyundul-nyundul
Ke jantung dan paru-paru
Beban kesedihan ini, begitu berat Nak, ayah tak tahan...
Di kursi pesawat
Sedih tak tertanggungkan, air mata berjatuhan
Ini kali berikutnya lagi ayah menangis untuk seorang putra
Setelah sekian lama tidak, semenjak genangan air mata pertama, pada hari itu, hari-hari penuh kecemasan saat dokter memvonis kesehatanmu bermasalah...

Kamu adalah anak laki-laki ayah
Satu-satunya
Yang nyaris tak sehari pun lewat
Melainkan ayah, melihat rambut lurusmu yang
Selurus semangatmu
Dan gairah menyala, untuk memenangkan pertarungan hidup
Di mana pun, seperti ayah selalu pompakan
Dengan kata dan kesiapan, mengantarmu, ke mana pun
Karena saking inginnya ayah
Menjadi ayah
Seperti yang ayah inginkan dalam imajinasi ayah
Ayah terbaik di dunia

Kamu tahu Nak, tanpa kamu, di tanah air rasanya sendiri
Sepi, sepi sekali
Di tangga rumah yang biasanya, ayah dengar langkah semangatmu saat naik
Kini sunyi
Petikan gitarmu ayah rindukan

Ayahlah yang meninggalkanmu di sana
Tapi rasanya, kamu yang meninggalkan ayah di sini,
Di depan layar laptop
Diam membeku,
Hanya ada kembang kempis dada, menarik menghembuskan nafas
Merindukan seorang anak

Hati ayah tertinggal di sana, bersamamu,
Masih mendampingimu
Berdiri
Di ambang jendela apartemen kita
Menikmati pemandangan luar, kanal-kanal yang mengalir tenang
Membelah kota

23 Agustus 2015

Related Posts:

KENAPA BANYAK ORANG KECANDUAN BUKU ASMA NADIA

Apa kelebihan seorang Asma Nadia? Kenapa tulisannya digemari? Kenapa sekali orang membaca novelnya, selanjutnya dia ketagihan? Kenapa toko onlinenya rame dan sering kebanjiran pemesan.

Setelah sekian bulan menjadi pelayan di toko onlinenya Grup Facebook "Toko Asma Nadia", ini hasil analisa kecil-kecilan saya:

Kelemahlembutan.

Sebagai penulis--maaf, sebagai pencinta nulis, saya biasa menganalisa seseorang, kenapa tulisannya disuka. Barusan saya menyebutkan jawabannya, Asma Nadia disuka karena bahasanya ringan, penuh kelemahlembutan.

Dan pertanyaan berikutnya adalah, kenapa dia sepandai itu? Benarkah bakat? Benarkah mukjizat, benarkah itu terjadi begitu saja secara otomatis langsung bisa tanpa ada usaha? Benarkah itu sebuah kejaiban mendadak?

Ternyata tidak.

Satu hal harus kita camkan, syarat penting kesuksesan, kesuksesan dalam bidang apapun adalah, memegang prinsip pertumbuhan. Begitulah Mbak Asma dengan karyanya hingga menjadi selaris sekarang. Dia sampai seperti ini karena ada usaha, kerja keras, terus berusaha menyempurnakan, dan terus berusaha menyempurnakan. Novel "Surga yang Tak Dirindukan" bukan hasil kerja sebulan. Maaf, enam tahun novel itu baru selesai digarap.

Mengejah dari alif, menghitung dari satu. Jika membangun rumah, mulailah dari pondasinya. Perjalanan seribu kilometer dimulai dengan satu langkah. Kalau jaman sekarang, perjalanan satu kilometer, dimulai dengan kecepatan 0,1 km perjam.

Segalanya membutuhkan langkah pertama. Segalanya membutuhkan usaha.

Sesungguhnya Allah maha kuasa menciptakan bumi dengan sekali kata. Kun, jadilah, maka langsung jadi. Bumi bulat langsung ada sebagaimana adanya sekarang. Tapi tidak, Allah menciptakan bumi dalam enam masa. Menciptakan langit juga dalam enam masa. Menciptakan manusia langsung jadi bayi apa susahnya bagi Dia? Tapi tidak, manusia tercipta dengan tahapan-tahapan. Kalau saja manusia mengerti dan mau mengambil pelajaran, itu pelajaran sangat berharga.

Harus ada usaha. Harus ada langkah-langkah. Harus ada tahap-tahap.

Einstein, terkenal jenius ke seluruh dunia, apakah kejeniusannya terjadi mendadak? Tidak. Dia jenius dalam fisika, karena sejak kecil memang itu yang dipelajarinya. Sampai dia sejenius yang dikenal sekarang, ada tangganya, ada tahapannya, terus-menerus belajar. Begitu juga Go Jek, hingga sekarang terkenal dan digandrungi orang, membernya sampai ribuan, dengan penghasilan menggiurkan, ternyata tidak besar mendadak. Go Jek telah disebut-sebut dalam buku THE EXPLORER, THE WARRIOR, AND THE SAINT, dan buku ini terbit tahun 2011. Berarti setidaknya, Go Jek sudah ada sejak sebelum 2011.

Sekarang sudah 2015, berarti setidaknya membutuhkan waktu lima tahun sampai menjadi perusahaan besar. Yang gampang itu merusak, yang mudah itu menebang. Membangun, menumbuhkan, membutuhkan waktu lama. Di balik setiap kesuksesan ada kerja keras dan masa yang panjang.

Tidak secara otomatis punya kemampuan demikian. Mbak Asma menjadi seperti itu membutuhkan usaha. Dia berusaha, dia bekerja, maka dia bisa.

Kembali ke benang merah, Asma Nadia punya kemampuan menulis dengan kelemahlembutan kata, memang dia mengusahakannya.

Diksi, itulah jurus yang dipakainya. Diksi adalah pilihan kata, dan Mbak Asma memilih kata-kata buat tulisannya. Tidak sembarangan kata-kata, tapi hanya kata yang pantas, layak, lembut, dan sopan.

Saya tahu ini dari Sosok Rania yang digambarkan dalam salah satu novelnya. Takkan saya beritahukan dulu judulnya apa, yang jelas novel ini akan segera terbit dan telah dibeli rumah produksi buat diangkat ke layar lebar. Bagi Anda cukup tahu dulu bahwa dalam novel itu ada sosok bernama Rania. Berdasarkan namanya, Rania ini dekat dengan nama beliau sendiri, Asmarani Rosalba. Sebagaimana beliau senang traveling keliling dunia, sosok Rania pun sama, senang berkunjung ke berbagai negara. Dari dua kesamaan itu saya simpulkan, karakter yang dia bangun dalam diri Rania adalah karakter yang sedikit banyak terdapat dalam dirinya. Dalam novel itu Rania digambarkan sebagai penulis bestseller--nah inipun kesamaan lain dengan Mbak Asma--yang dalam menulis sangat memperhatikan pemilihan kata, begitu juga dalam bicara.

Berusaha, itu yang orang-orang hebat punya. Tidak serta-merta menjadi hebat, mereka punya kerja. Mereka tidak mengandalkan bakat. Mereka paling mengerti, bakat hanya berperan 1 persen dari kesuksesan mereka. 99 persen sisanya adalah kerja keras. Ini fakta basi yang selalu diungkap.

Bukan hanya dalam teks, dalam kontekspun demikian. Lembutnya tulisan Asma Nadia bukan sekedar dalam tampilan luar teks, namun juga dalam konteks. Buku SURGA YANG TAK DIRINDUKAN misalnya--meski konfliknya dahsyat, pertengkaran rumah tanga akibat datangnya orang ketiga, Mbak Asma tidak menampilkan tokoh yang disalahkan. Di hadapan pembaca, Mbak Asma seakan pengacara yang berusaha memberi pemahaman kepada hakim supaya mengerti dan bersikap bijak menghadapi terdakwa, jangan mudah menghakimi, jangan mudah menyalahkan. Begitulah Mbak Asma dalam menampilkan tokoh-tokoh dalam cerita SURGA YANG TAK DIRINDUKAN, kepada pembaca dia berusaha memberikan pemahaman, bahwa si ini berbuat ini, inilah alasannya, dan si itu berbuat itu, begitulah alasannya. Arini begitu marah kepada siaminya, karena memang sepantasnya seorang istri demikian, dan Pras, sang suami, meski seakan antagonis menikah lagi buat kedua kalinya, namun untuk disebut antagonis yang sesungguhnya tidak bisa, karena dia menikah karena punya alasan, dan alasan itu kuat. Ini sisi kelemahlembutannya. Tidak ada tokoh yang dipojokkan.

Itu saya kira satu alasan yang membuat pembaca buku-bukunya cinta, dan kecanduan. Habis membaca satu buku, ketagihan lagi beli dan baca buku lainnya.

Related Posts:

Arvan Pradiansyah: Guru Kebahagiaan

Arvan Pradiansyah. Saya ingin menyebutnya guru. Saking sukanya pada tulisan dia. Di mana pun saya temukan bukunya tak pernah lewat. Langsung berminat. Dari perpustakaan kota berulang kali meminjam, padahal bukunya itu-itu juga: Cherys Every Moment. Ini buku ringan tapi luar biasa. Isinya meresap, karena judul buku ini sendiri berarti, hargailah setiap saat. Sebagai master of happynes, Mas Arvan  mengajarkan tips  mendapatkan kebahagiaan. Cara sederhana supaya jauh dari kesedihan.

Gaya bahasanya itulah. Tulus, sederhana, memikat, halus, dan yang paling membuat saya suka adalah keberpihakannya kepada kebaikan dan kebenaran. Tentu sebagian besar penulis berpihak pada kebenaran, tapi cara Mas Arvan berani dan terang-terangan. Misalnya, dia berani menyebut Tukul Arwana tidak sopan. Dalam acaranya bukan empat mata, kepada aktris cantik, Tukul memuji mereka habis-habisan, sedangkan apa yang dia lakukan kepada Omas?

"...satu kata-katanya yang membuat saya mengurut dada adalah: ia menyebut Omas sebagai turunan Iblis." tulisnya.

"Bagi saya perilaku Tukul ini keluar dari lingkaran kebaikan. Ia melakukan pelecehan terhadap kemanusiaan. Ia sudah mendegradasi keluhuran kemanusiaan walaupun mungkin saja ia tidak bermaksud sejauh itu. Tapi yang lebih menarik lagi adalah respons penonton yang berada di studio. Mereka semua tertawa terbahak-bahak...."

Tidak membosankan. Dia menulis dengan gaya bermacam. Kadang bercerita, kadang berbagi hikmah, kali lain bernada perintah. Tidak asal tempel, ceritanya efektif tersaji menjadi renungan mendalam. Dari kisah sederhana keseharian, kisah orang-orang bijak, berita-berita kekinian, dia sulam dalam tulisannya menjadi ilustrasi memikat.

Sewaktu kerja di sebuah cabang perguruan tinggi di Tasikmalaya, saya tinggal di sebuah rumah minimalis yang menurut saya sangat indah. Bahagia sekali bisa tinggal di sana. Saking bahagia, mengepelnya setiap pagi menjadi rutinitas. Dari dapur, tengah rumah, beranda, hingga teras depan, sambil mendengarkan sebuah siaran radio tentang betapa hidup ini indah. Asik mendengar, satu jam berlalu tak terasa, begitu setiap acara itu mengudara. Sudah lama rumah minimalis itu saya tinggalkan karena saya dipecat, tapi satu hal yang tersisa kesannya sampai sekarang bukan keindahan rumahnya, tapi acara di radio itu, yang pematerinya adalah Mas Arvan Pradiansyah.

Dari situlah sebenarnya cikal-bakal saya suka kepada Mas Arvan. Di mana pun ada tulisannya, saya baca. Maka sekarang, saat tempat kerja saya di kota, di mana toko buku bersebaran, di mana pun saya temukan bukunya, tak pernah lewat, saya beli dan baca. Bahkan buku Cheris Every Moment saya beli dua. Kalau-kalau ada teman suka, mau beli, dia bisa mudah pesan. Dan karena ini buku cuci gudang--bukan bajakan--saya bisa menjual padanya dengan harga murah. Maaf, cuma membari kabar.

Menemukan Apa Yang Penting, adalah ide menarik lain yang diajarkan Mas Arvan

Terdapat dalam bukunya Life Is Beautifull. Dia menyebutkan "menemukan hal terpenting" sebagai sebagai cara mudah mendapatkan kebahagiaan. Awalnya, saya kurang mengerti, apa hubungannya menemukan terpenting dengan kebahagiaan. Andaipun ada hubungan, pasti itu sangat jauh. Yang saya bayangkan, menemukan hal terpenting adalah berusaha mencari hal yang paling penting buat dikerjalan, dan karena yang dibicarakan adalah kerja, kesannya seperti membicarakan beban.

Akan tetapi setelah saya renungkan, dan mengalami banyak hal dalam keseharian, saya temukan, menemukan hal terpenting ini cara mudah menjadi bahagia.

Dengan mengetahui hal terpenting, hidup menjadi ringan. Banyak masalah datang, tapi semua masalah itu tidak perlu kita pusingkan. Ingat hanya yang terpenting, dan hal kurang penting tidak perlu kita cemaskan.

Hal terpenting bergaul dengan orang adalah akrab dan membangun kenyamanan dengan mereka. Maka perkataan kurang menyenangkan dari mereka, itu masalah sepele yang tidak perlu dipusingkan.

Tujuan  terpenting saya  facebookan adalah kerja pada perusahaan dan mendapatkan uang. Karenanya, umpatan orang, sindiran, bantahan dan berbagai kata kurang menyenangkan, tidak perlu saya pusingkan. YANG PENTING, PERBULAN SAYA MENDAPATKAN UANG. Memang materialis. Tapi saya rasa ini masih mending, daripada berpikir, YANG TERPENTING ADALAH MEMENANGKAN PERDEBATAN.

Menemukan hal terpenting membantu pikiran dan perasaan menjadi lebih ringan. Ini cara murah menjadi bahagia. Ide sederhana yang mencerahkan. Satu sisi yang saya suka dari buku-buku Mas Arvan Pradiansyah.

Related Posts:

Dia Harus Belajar

Para ayah tentunya pernah merasakan berat, saat harus meninggalkan anak, buat pergi kerja. Berat mendengar tangisannya.

*   *   *

Rencananya, saya mau berangkat pagi buta, selagi hari gelap. Jangan sampai Si Nai tahu. 

Jika tahu, nangisnya suka bikin tak tega. Tangis itu lama sekali reda. Kasihan ibunya.

Karena itu saya punya rencana, bangun jam empat, mandi dan makan, jadi pas adzan shubuh, saya langsung shalat, kemudian berangkat.

Ini tidak, saya kesiangan dan praktis, saat persiapan pakaian, Si Nai terusik, bangun, buka mata, dan turun dari ranjang.

Ibunya mengeluh, padahal dia berusaha bergerak pelan, supaya tidak mengusik tidurnya. Tapi bagaimana, ini memang jam bangun anak saya.

Dia turun dari ranjang, terus mengikuti, berjalan ke ruang mana saja saya berjalan.

Maka saya berpikir keras, memikirkan cara, bagaimana supaya dia lapang, tak menangis dengan kepergian saya.

"Bapak mau pergi kerja, cari uang, nanti pulang bawa uang buat jajan, membawa anggur, lengkeng, buat Enay!" rayu saya, mengingat dia suka sekali makan lengkeng.

"Ahhhh, mau ikut!"

Susah! Rengekannya tak bisa diredakan.

Selama liburan kemarin di rumah, dia seakan tak mau lepas. Ikut ke mana saja. Ke dapur, ke kamar, ke kamar mandi, ke warung, ke mana saja. Betapa kangennya pada saya, padahal, saya paling tak bisa mengasuh anak. Jika jengkel, masih belum bisa menahan marah. Orang tua bijak menghindari kata "jangan", saya malah mengatakannya. Jangan makan itu, jangan ke sana, jangan pegang itu, kerap kali terlontar. Tapi dia, murni dengan nalurinya tetap saja suka, mau bersama ke mana saja.

Tiada usaha yang bisa saya lakukan. Teringat nasihat seorang bijak, jika sudah kehilangan usaha yang musti dilakukan caranya adalah tidak usah berusaha. Dengan kata lain, terima saja kejadiannya sebagaimana adanya.

Karena itu, ya baiklah saya terima saja. Saya harus pergi dan anak melihat kepergian saya. Jika nanti dia menangis mau, menjerit mau ikut, sudah begitu seharusnya. Semoga itu menjadi pembelajaran baginya. Dia harus kuat, dia harus bisa melihat saya pergi meninggalkannya. 

Dia harus mengerti, saya pergi buat kebutuhannya.

Dia harus menerima kenyataan, bahwa ayahnya, bukan seorang yang selalu bisa menyertainya. Dalam sebulan, hanya dua hari saya bisa main di rumah. Hari sisanya habis di tempat kerja. Tak perlu saya berangkat sembunyi-sembunyi, tak usahlah saya berangkat diam-diam. Terang-terangan saja, biar dia melihat.

Kardus bekal itu saya pikul, keluar pintu diikuti oleh dia dalam gendongan ibunya. 

Pagi masih remang, ketika saya sodorkan pipi ke dekat wajahnya, "Ini cium dulu Bapak!"

Dia mau, bibirnya berkali-kali mengecup.

Sambil tetap menangis, merengek, dia merajuk-rajuk memanggil nama saya. Tidak mau ditinggalkan. 

Berat. Berat nian rasanya melangkah, entah kenapa padahal, ini hanya tangisan seorang anak. 

Setelah beberapa meter berjalan, rasanya ingin membalikkan badan, kembali menghampiri dia dan menggendongnya, mengurungkan berangkat.

Tapi saya tahan. Biarlah dia mengerti.

Terus berjalan di samping rumah, menembus kegelapan, kemudian menghilangkan diri di sebuah tikungan, dekat rumah seorang nenek yang dari tadi bengong menyaksikan, yang dari mulutnya keluar gumaman, "Emh kasihan...." 

Related Posts:

Tiga Madarat Banyak Makan

Bagaimana caranya supaya bisa mengurangi banyak makan?

Pertama-tama yang harus diingat adalah, tiada daya tiada kekuatan selain dengan pertolongan Allah. Jadi buat mengawali pengurangan makan, jika ingin sedikit makan, meminta pertolongan Allah supaya Dia menolong kita mengurangi nafsu makan.

Berikutnya, adalah dengan mengingat TIGA MADARAT banyak makan. Yaitu, banyak makan mengganggu kecerdasan. Banyak makan bikin mual, suasana badan tidak enak. Ketiga, banyak makan merusak ketampanan, bikin wajah dipenuhi jerawat. 

Pertama, banyak makan sangat mengganggu kecerdasan. Menulis, berpikir, menghitung, membaca, lebih lancar dalam keadaan lapar. Seperti pagi ini, terasa lincah jari menari di atas tuts keyboard, melahirkan apa saja yang ada dalam pikiran, karena saya belum sarapan. Dalam keadaan lapar saya bisa menulis lancar, bisa membaca lancar, bisa berpikir lancar. 

Sebaliknya, dalam keadaan kenyang--pernah waktu itu saat kerja malam, konsentrasi saya buyar, tidak bisa fokus kepada pekerjaan, dan waktu itu saya menyalahkan orang yang ramai di depan saya dan menganggapnya telah mengganggu kerja saya, padahal bukan, segala kegalauan dan rasa terganggunya pikiran ini disebabkan oleh makan kenyang. Setelah sepanjang siang menahan makan, maghrib datang, saya makan sepuasnya. Kerja terhambat, apalagi membaca, dua tiga paragraf suka langsung ngantuk, dan dibawa menulis, pikiran macet, ide jadi seret.

Kedua, banyak makan bikin mual, sakit, tidak enak badan. Maunya tiduran, dan itu tanda-tanda badan tidak sehat. Iya ngantuk itu pertanda badan tidak sehat. Ngantuk itu pertanda badan lelah. Jadi jika saya rasakan ngantuk, lemah, lesu setelah makan banyak, itu pertanda badan saya sakit dan butuh istirahat untuk melakukan pemulihan.

Ketiga, banyak makan merusak ketampanan, banyak makan buat wajah dipenuhi jerawat. Maaf sebelumnya, meskipun yakin Allah telah menciptakan saya dengan bentuk sebaik-baiknya, saya tidak berani mengaku tampan, karena tidak sesuai fakta, jika diukur dengan standar umumya syarat sebuah wajah tampan. Tapi saya cukup nyaman, jika saat bercermin melihat wajah tanpa jerawat, meski masih ada parut-parut bekas jerawat lama. Dan bagi Anda yang berwajah tampan, ketampanan itu akan bertambah manakala bebas dari jajahan kompeni jerawat. Sayangnya komplotan kompeni jerawat itu sangat mudah datang, saat kita kebanyakan makan.

Saya mah yakin sekali, yakin seyakin-yakinnya, yakin dua ribu persen, yakin ainal yakin, yakin haqqul yaqin, banyak jerawat itu akibat banyak makan, terutama makan gorengan. Yakin saya luar biasa karena keyakinan ini datang bukan dari hasil membaca, bukan kata orang, tapi saya sendiri yang mengalaminya. Sewaktu sekolah Madrasah Aliyah saya tinggal di asrama, dan jika pulang di rumah banyak gorengan. Ibu saya jualan keliling kampung, buat biaya sekolah saya. Rasanya enak, apalagi comronya, buatan Ibu saya tiada duanya, empuk dicampur parutan kelapa, dan isinya itu, sambal tempe dengan rasa yang khas. 

Bakwannya juga, mendoan tempenya juga, serba enak. Jadi satu kali makan, suka ketagihan mau terus-terusan. Saya pun jadi terus ngambil berulang-ulang. Tak terasa perut sudah kenyang. Kenyang dengan gorengan, tahu-tahu keesokan harinya wajah mulai gatal, memerah, mencenot, bernanah, jadilah jerawat di jidat, di pipi, di pelipis, dekat telinga, di dagu, muka hidung, samping hidung, banyak di mana-mana, jerawat itu, yang kecil, yang besar, yang sedang. Setelah makan gorengan berlebihan, jerawat ramai, semarak, ikut meramaikan kegiatan pengotoran wajah. Saya harus ingat itu, harus selalu ingat, supaya jangan sampai banyak makan.

Related Posts:

Mengapa Anda Dilarang Membaca Blog Saya?

Dilarang membaca blog saya, dengan dua alasan.

Pertama, sebab blog saya hanya akan mengajari Anda ajaran menyesatkan. Kedua, karena blog ini akan mengungkapkan rahasia-rahasia saya yang memalukan dan tidak pantas Anda baca. 

Akan saya bicarakan salah satunya: Kenapa Anda dilarang membaca blog ini? Sebab saya hanya akan mengajari Anda ajaran-ajaran menyesatkan. Ajaran-ajaran yang tidak sesuai dengan yang selama ini Anda terima. Ketika selama ini Anda mendapatkan pelajaran supaya berusaha menjadi orang pintar, maka blog ini akan mengajari Anda supaya menjadi orang bodoh. Ketika orang lain memotivasi Anda supaya menjadi orang kaya, saya ingin menyesatkan Anda supaya berusaha dengan semangat menjadi orang miskin. Ketika orang lain mengajarkan Anda supaya mempunyai harapan, impian, melalui blog ini saya ingin mengajari Anda supaya menjadi orang yang putus asa.

Jelas bukan, kenapa membaca blog ini Anda dilarang. Lebih baik pindah ke halaman lain, dan bacalah bacaan menarik dan berguna buat Anda. Tidak ada gunanya Anda terus bertahan di halaman ini membaca tulisan menyesatkan dari saya. 

Pertama, jadilah orang tolol, sebab hanya dengan menjadi orang tolol Anda akan dengan mudah menjadi orang bijak. Dengan menjadi orang tolol dan bahagia sebagai orang tolol, maka Anda tidak perlu marah kepada orang yang menyebut Anda tolol. Anda takkan marah kepada orang yang melecehkan intelektualitas Anda, Anda takkan marah kepada orang yang membeberkan kebodohan Anda, sebab Anda merasa mereka justru sedang membahagiakan Anda, mengatai Anda dengan kata-kata yang sangat Anda harapkan, Anda sedang membuat mereka jujur mengatakan yang sebenarnya.

Jadilah orang putus asa, sebab hanya dengan itu Anda akan meraih kesuksesan dan kebahagiaan!
Jadilah orang bodoh, sebab hanya dengan itu Anda akan menjadi orang berilmu tinggi.
Jadilah orang miskin sebab hanya dengan itu Anda akan meraih kekayaan yang banyak,

Berusaha menjadi miskin berarti berusaha mengurangi harga kekayaan sampai sesedikit-sedikitnya di tangan kita dengan menginfakkannya di jalan Allah, menyedekahkannya kepada orang-orang yang membutuhkan, memberikannya kepada orang tua, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan hanya itu yang akan membuat hidup Anda semakin kaya raya. Sedangkan berusaha menjadi kaya berarti Anda terus mengumpulkan harta yang akibatnya hanya akan memusingkan Anda, membuat Anda sakit, menderita, susah, cape, cemas, dan hidup dipenuhi ketakutan.

Related Posts:

Katanya

Aku,
Tidak melihat jalan hidupku, kecuali belitan akar,
Yang mencekik mati seekor srigala,
Sementara malam
Yang sunyi, kulalui selalu dengan hati hampa, bersama bayangan seekor semut pada ujung perahu nelayan, yang telah berlayar sejak tadi malam,

Entah bagaimana nasib dia berikutnya.

Aku tersesat mencari ujung dunia, terus berjalan ke barat tak pernah ketemu ujung, kembali ke timur tak bisa jumpai akhir.

Lelah,
Kini berdiri lunglai, di atas bongkahan batu karang,
Menangkap imajinasi kabur, berantakan, tak tentu arah, tak tentu bentuk, tak tentu ukuran, tak tentu warna, bercampur aduk antara sesuatu dengan yang bukan lawannya, berjodoh dengan sesuatu yang bukan pasangannya, berusaha mengerti tapi tak tergapai, berusaha memanjat tak pernah temukan puncak,

Teman, jika Anda tak pernah mengerti,
Maka demikianlah juga saya.
Tapi siapapun damai dengan serba ketidakmengertian
Katanya, orang itulah yang bisa bahagia

Related Posts:

Video: Ketika Wiro Menuturkan Puisi Rumi

Peci kuncung atas itu telah lama Wiro piara. Warnanya merah menyala. Wiro menyayangi peci itu, memakanya saat shalat, saat istirahat, bahkan saat kerja. Khidmat di kamar mandi mencucinya, dan terkadang topi itu dia geletakkan begitu saja di lantai. Tapi di atas segalanya, dia amatlah saya. Begitu sayangnya, sampai-sampai suatu ketika pernah jadi tempat dia curhat, mengungkapkan hasrat besar hatinya, ingin menikah.

Tak sekedar peci, sebenarnya itu perlambang dari jiwanya yang berusaha mencintai Pencipta. Dia ingin mencintai-Nya, meski cinta masih dalam tarap seperti dilukiskan lagu Raihan...

"Sebenarnya, hati ini cinta kepada-Mu. Sebenarnya hati ini, rindu kepadamu. Tapi aku, tidak mengerti kenapa cinta, masih tak hadir. Tapi aku, tidak mengerti, kenapa rindu. belum berbunga..."

"Kucoba mengulurkan, sebuah hadiah kepada-Mu. Tapi mungkin karena isinya, tidak sempurna tidak berseri. Kucoba menyiramnya agar tumbuh dan berbunga, tapi mungkin karena air tidak sesegar telaga kausar..."

Demikianlah lukisan kondisi wiro dalam ibadah, namun bagaimana pun kepada Allah, dia adalah orang yang ingin cinta. Sebagai pemuda yang masa kecilnya pernah mendapatkan asuhan seorang pendeta, Wiro mengerti, hakikat beragama adalah kasih dan cinta. Dan cinta tertinggi adalah cinta kepada Pencipta.



Maka inilah malam-malam, saat suasana telah sunyi, dan sebagian orang berangkat ke ranjang, Wiro masih duduk di meja kerja, beriring musik nan syahdu, penuh nuansa kesufian, penuh penghayatan, puisi Jalaluddin Rumi dia tuturkan.....putarlah jika penasaran, dan nikmatilah keindahannya.


Related Posts:

Wiro Nyaris Membakar Kampus

Hari sudah malam, saya sudah ngantuk, tapi Wiro terus berbusa-busa menceritakan pengalamannya. Setengah bosan setengah tertarik saya dengarkan. Tapi lama-lama, ceritanya menarik juga. Pernah bergabung dengan orang-orang Hizbut Tahrir, membuat Wiro tahu sedikit banyak tentang visi-misi golongan itu. Bukan organisasi yang dilarang pemerintah, sebab gerakannya tidak membahayakan. Ini hanyalah golongan yang menginginkan berdirinya syariat Islam. Tidak membuat huru-hara, karena itu gerakan ini hanya bergerak sekitar pemikiran. Mendengarkan Wiro berbicara serius, cukup luas juga wawasannya. Pengajian Hizbut Tahrir seperti yang pernah dijalaninya, tak sekedar diskusi-diskusi sistem pemerintahan, tapi juga sampai ke pendidikan dasar buat seseorang seperti membaca Al-Qur'an.

"Oh jadi kamu bisa mengaji di sana?"

"Iya, gue belajar dari Iqro satu, ditertawakan orang-orang."

"Memangnya waktu kecil tidak mengaji sama sekali."

"Pernah mengaji, tapi sejak kakak saya sakit, mengaji jadi malas."

"Kok bisa?"

"Waktu ngaji dipanggil pulang. Kakak kamu tuh tunggui, katanya. Ya sudah setelah itu, Gue gak mau lagi ngaji. Alasannya nungguin kakak. Biasa anak-anak, malas mengaji banyak alasan."

"Baru gue ngaji lagi semasa kuliah. Jadi orang Hizbut Tahrir mau, Islam itu syumuliah, menyeluruh mewarnai setiap aspek kehidupan. Bagi mereka, ideologi negara
haruslah Islam. Dikaji juga berbagai ideologi lain. Tiga ideologi yang ada di dunia menurut mereka, pada dasarnya adalah, komunisme, kapitalisme, dan Islam, dan ketiga ideologi ini menjadi beda dalam hal menjawab pertanyaan, dari mana, untuk apa, dan ke mana?"

Saya terpana mendengarkan penjelasannya. Tak nyana, wawasan Wiro boleh juga.

"Komunisme menjawab dari materi, untuk bebas, dan kembali ke materi."

"Kapitalisme?"

"Kapitalisme, dalam menjawab pertanyaan dari mana, untuk apa, dan ke mana adalah seperti seorang penjual jam. Setelah jam itu diproduksi, dijual kepada seseorang, maka terserah kepada pembeli jam itu mau digunakan buat apa. Pembeli mendapatkan kebebasan sebebas-bebasnya menggunakan barang itu, tanpa ada campur tangan si pembuat jam, dan tidak ada pertanggungjawaban."

Saya tak berkomentar. Masih memikirkan kata-katanya.

"Yang paling kompleks itu Islam, dari mana, untuk apa, dan ke mananya itu jelas. Ada asalnya, untuk apanya jelas, harus bagaimana, dan mau ke mana."

Pengetahuan tersebut Wiro dapatkan semasa kuliah. Semangatnya menyelesaikan pendidikan memang keras, tanpa biaya dari orang tua, dia meminjam kepada kakaknya, dan biaya berikutnya, dia dapatkan dari hasil kerja sebagai pengurus kebersihan kampus, dan pemungut infaq di mesjid.

"Gua harus mengepel setiap kelas, menyapu halamannya, rumputnya dibersihkan, dibakar-bakar, sampai-sampai gue hampir membakar kampus."

Wah hampir membakar kampus? Ada apa? Kenapa? Wiro Emosi ya gajinya telat dibayar?

"Kenapa?" ucap saya akhirnya.

"Gue kan bakar rumput, rumputnya kering, gak gue kira, ternyata di bawahnya banyak bambu kering, terbakar itu, api berkobar besar, nyaris membakar sekolah. Wah, gue habis diomeli orang."

Hahaha

Related Posts:

Asmaul Husna Ainun Bestari

Namanya bagus sekali, indah, mengingatkan saya pada mendiang istri Pak BJ. Habibie. Pertama kali bertemu dengannya di taman perpustakaan kota, sedang membaca, pada sebuah bangku panjang, yang dibuat dari lempengan rel kereta.

"Baca buku apa?"

"Buku "Priangan Si Jelita""

"Oh itu buku puisi."

"Iya."

"Karya Ramadhan KH."

"Benar, tahu banyak sastra?"

"Tidak juga. Hanya suka baca esai. Tapi dari buku itu, saya lebih tertarik priangannya daripada bukunya."

"Maksudnya?"

"Sebagai Orang Sunda, saya tertarik dengan sesuatu yang berhubungan dengan kesundaan. Saya tertarik dan cinta dengan budaya saya."

"Aku juga cinta dengan Budaya Jawa suku saya."

"Oh dari Jawa, ya tentu saja kita cinta dengan kultur asal kita, asal tak sampai membuat kita terjerat Primordialisme."

"Sepertinya pernah mendengar kata itu."

"Ya, itu sejenis gorengan tepung isi tempe."

"Oh iya." ucapnya tenang, pandangannya tetap lurus ke buku.

Saya cuek saja bercerita, "Saya suka dengan Wayang."

Dia tidak menyahut. Mungkin mulai bosan, dan merasa terganggu dengan kehadiran saya. Tapi, saya tak peduli, terus saja bercerita.

"Wayang itu puncak dari segala seni. Di sana, berbagai seni ada. Seni musik, seni rupa, seni ukir, seni sastra, seni tari, seni bela diri, digabungkan menjadi pertunjukkan yang indah."

Dia menutupkan buku, memandang lurus ke depan.

"Di antara semua tokoh wayang, saya suka dengan punakawan bernama Semar. Dalam kisah, dia tampil sebagai orang tua bijak. Sahabat para ksatria yang selalu menolong mereka saat terdesak. Yang membuat saya tertarik adalah asal-usul dia, berasal dari negeri Kahyangan, sebuah negeri entah di mana, di mana saat itu namanya bukan Semar, tapi Bambang Ismaya. Dia adalah seorang pemuda tampan. Tiada pemuda lain mengalahkan ketampanan dia kecuali saudaranya, Wiramantri. Saudaranya itu menjadi rival yang selalu mengajaknya berlomba. Suatu ketika mereka adu kekuatan. Bertarung habis-habisan, dan tak seorang pun dari keduanya kalah. Akhirnya mereka sepakat buat lomba menelan gunung." saya menarik nafas, mengingat kembali uraian ceritanya.

"Tejamantri meminta lebih dahulu mencoba. Dengan sebuah ajian, dia mengerahkan energi buat mengembangkan badan sampai sebesar-besarnya. Setelah besar, dia mencoba menelan gunung, tapi gagal, tinggal bibirnya yang membesar dower seperti jamur telinga. Kini giliran Ismaya, sama pemuda tampan inipun membesarkan dirinya, meraup gunung kemudian menelannya. Berhasil dia telan, tapi setelah di dalam, gunung itu susah dia keluarkan. Sekuat tenaga dia kerahkan, masih juga susah dia keluarkan. Karena menderita, wajahnya berubah buruk, gigi tinggal satu karena dipakai susah payah mengunyah, dan perut Ismaya sangat besar karena mengandung gunung, dengan bentuk pantat juga besar menungging."

Saya kira dia akan tertawa, ternyata tidak. Selepas saya cerita, dia seperti hendak berdiri. Sebelum pergi, buru-buru saya sapa,

"Nama kamu siapa?"

"Ainun."

"Lengkapnya?"

"Asmaul Husna Ainun Bestari."

Related Posts:

Menulis Dengan Sederhana

Menulis dengan sederhana berarti menulis dengan aturan. Misalnya menulis paragraf, maka menulis paragraf dengan sederhana berarti menulis paragraf dengan aturan. Aturan yang pernah kita pelajari di sekolah. Menggunakan pola deduktif misalnya. Kalimat pokok diikuti kalimat-kalimat penjelas. Atau induktif, kalimat penjelas dulu dipaparkan, kemudian diakhiri kalimat pokok. Atau campuran, diawali kalimat pokok, kemudian uraian kalimat penjelas, dan diakhiri kalimat pokok lagi sebagai penguat. 

Itu adalah aturan menulis paragraf yang diajarkan di sekolah. Dengan aturan itu maka cara menulis paragraf menjadi terasa mudah. Dengan mudahnya aturan maka ilmu cara menulis paragraf jadi terasa sederhana. Dengan kesederhanaan itu maka ilmu menulis paragraf mudah diajarkan. Dengan mudahnya menulis paragraf itu diajarkan, maka saat Anda harus menyampaikan teknik menulis paragraf kepada orang, Anda bisa dengan cepat memberikan pemahaman.

Begitu pula cara mengembangkan paragraf. Cara mengembangkan paragraf jadi terasa sederhana dengan adanya aturan. Buku Bahasa Indonesia mengajarkan berbagai cara mengembangkan paragraf. Antara lain dengan narasi atau penceritaan. Setelah kalimat pokoknya dituliskan pada bagian awal, kemudian diikuti kalimat-kalimat penjelas dalam bentuk penceritaan. Menceritakan sebuah kejadian dengan jelas dan runut kronologisnya, tokoh-tokohnya, latarnya, konfliknya, dan sebagainya. Cara lain mengembangkan paragraf adalah dengan membuat pola sebab akibat. Menjelaskan dulu bagaimana sebabnya, kemudian diikuti berbagai akibat yang ditimbulkannya. Cara lain mengembangkan paragraf juga bisa dengan pola akibat-sebab. Bisa juga dengan cara sebab-akibat-akibat-akibat-akibat. Paragraf juga bisa dikembangan dengan penganalogian, yaitu memperbandingkan sesuatu dengan hal berbeda untuk mencari kesamaannya. Bisa juga paragraf dikembangkan dengan pendeskripsian, yaitu penggambaran sesuatu sehingga pembaca bisa merasa seolah-olah melihat dengan sejelas-jelasnya, mendengar dengan sejelas-jelasnya, meraba dengan sejelas-jelasnya, mencium dengan sejelas-jelasnya.

Aturan-aturan cara mengembangkan paragraf itu menjadikan ilmu menulis terkesan sederhana. Sehingga ketika seorang penulis berhasil, dan suatu ketika dia harus mengajarkan kepada orang lain dengan sangat mudah, dan mudah pula orang memahaminya.

Related Posts:

Buku ini bukan buat Anda. Saya menulis buku buat saya, buat menasihati diri saya. Supaya hidup saya ringan dan bahagia, supaya saya menjadi orang kaya, supaya saya selamat dari kesedihan, kecemasan dan kegundahan.

Supaya saya lebih sibuk bekerja daripada berbangga-bangga. Supaya saya bisa meminimalisir sifat menyebalkan dalam pergaulan. Supaya saya bisa hidup lebih tenang.

Dan supaya saya menjadi orang kaya raya, sebab dengan mengosongkan diri saya akan merasa diri tidak punya apa-apa, yang karenanya saya takkan pelit menginfakkan uang,  yang mana dengannya. seperti pernah saya baca, sedekah akan membuat kekayaan kita berlipat ganda. 

SEBETULNYA, BUAT APA SAYA CEMAS!

Sebetulnya, buat apa saya cemas? Apa yang harus saya cemaskan? Saya tidak punya apa-apa. 

KEHORMATAN BUKAN PUNYA SAYA

Kehormatan bukan punya saya, jadi kenapa orang harus menghormati saya. Orang tidak menghormati saya, mengatakan kata-kata kasar kepada saya, bersikap tidak hormat kepada saya, biarkan saja. Kenapa saya harus mendapatkan penghormatan. Apa alasannya sampai orang harus menghormati saya. Kehormatan bukan punya saya. Kehormatan punya Allah.

Sebagai pekerja di penjualan online, seringkali melewatkan pesanan orang. Pemesan sudah transfer uang, sampai berhari-hari barang belum saya kirimkan. Saat misalnya dua minggu kemudian orang bertanya lagi lewat facebook, saya menjawab, baru akan dikirim sekarang. Tentu saja dia kecewa, dan menumpahkan kekecewaannya. "Kenapa, padahal sudah saya transfer! Tolong yang profesional!" 

Ada juga yang pesan buku, dan karena uang buat transfer dia minta dari ibunya, dan ternyata setelah transfer barang tak juga datang, ibunya memarahinya, dan sebagai imbasnya, anak itu pun marah kepada saya. 

Saya suka terpancing ingin marah juga, ingin balik mengucapkan kata-kata tidak pantas padanya, atau ya sekedar kembali menyalahkannya. Tapi saya tahan, sebab jika kata tidak pantas itu saya biarkan terlontar, maka bukan baik akibatnya, sebaliknya, dia akan kembali menyerang saya, dan jika itu terjadi, pasti efek serangannya membuat marah saya semakin besar, akan semakin banyak kalimat kurang pantas terlontar, 

Saya juga harus melayani pesanan lain yang datang. Jika saya malah berdebat dengan satu orang, saya akan terus memikirkan kata-kata buat mematahkan kata-kata lawan, waktu habis terbuang, dan pemesan lain terabaikan.

Kerugian lainnya, otak jadi panas, darah naik, amarah makin memuncak, saya menjadi tegang, dan saat itulah berbagai hormon berbahaya dalam tubuh akan keluar. Seperti hormon kortisol dan adrenalin yang katanya, sangat merusak tubuh dan kesehatan.

Related Posts:

Pil Pahit Buat Orang Shof Off

Show Off adalah memamerkan kelebihan diri.

Bagaimana biasanya pikiran kita saat berhadapan dengan orang yang senang memamerkan kehebatan dirinya. Kalau pun tidak melecehkan, setidanya Anda ingin mengingatkan, betapa apa yang dia lakukan sangat norak. Kita ingin dia tahu, yang dilakukannya itu menyebalkan.


Sebenarnya tak usah. Beberapa kisah jenaka yang Pak Isa kumpulkan dalam bukunya Humortivasi menunjukkan, para mulut ember yang senang berbangga-bangga, pada akhirnya selalu dipermalukan. Setelah berbangga-bangga, mereka dipaksa harus menelan pil pahit rasa malu.


"Kesombongan adalah kelemahan yang disamarkan dengan kekuatan."

Diceritakan--cerita rekaan tentu saja--seorang jepang naik taksi di Indonesia. Sebuah mobil honda Accord berjalan di samping taksi itu, dan sukses menyalipnya. "Lihatlah, itu mobil buatan jepang! Super super super cepat!" dengan sombongnya. Lewat lagi motor, sukses mendahului "Tuh lihat super super super cepat!!"

Sampai di tempat tujuan, supir taksi menyebutkan sebuah tarip, dan ternyata mahalnya sampai tiga kali lipat. "Ini kenapa jadi mahal?"

Jawab sopir, "Ini Kargometer buatan jepang Pak. Super super super cepat!"


Dengan cerita ini kemudian Pak Isa memberikan pelajaran, jika kesombongan pada akhirnya bisa mencelakakan.


Halaman lainnya menceritakan seorang profesor ahli kelautan, jalan-jalan ke pantai, kemudian ikut naik perahu bersama seorang nelayan. Tanpa di tanya, di tengah lautan, profesor ahli keluatan menceritakan segala istilah kelautan dan beberapa pengetahuan yang dikuasainya. Si Nelayan hanya diam, mendengarkan, karena memang, beberapa istilah yang diucapkan si Profesor tidak dia mengerti. Lama-lama Profesor heran, bertanya, "Anda belum pernah membaca buku kelautan?" 

Si nelayan geleng kepala. 

"Wah, Anda rugi besar Pak. Anda telah kehilangan separuh hidup Anda!" 

Tak lama setelah itu datang badai. Begitu dahsyatnya sampai perahu itu terbalik. Nelayan berenang berusaha membalikkan perahu dan berhasil, kemudian secepatnya menolong si profesor yang megap-megap nyaris tenggelam. Setelah tenang, Si Nelayan bertanya, "Apakah Bapak tidak pernah belajar berrenang?"

"Tidak."

"Wah Bapak bisa kehilangan seluruh hidup Bapak!"

Related Posts:

Depok Kota Mewah

Semewah apapun sebuah kota, bagi saya biasa-biasa saja tanpa perpustakaan. Ciamis, kota saya punya perpustakaan, bahkan terbaik se-Jawa Barat, maka kota mewah. Sekarang kerja di Depok, bagaimana dengan kota ini? Setengah tahun lamanya, saya tak tahu ini kota mewah.

Hari minggu, 2 Agustus 2015, saya punya janji kepada seorang pembeli, mengantarkan buku dan dia menunggu di komplek balai kota. Tiga buah buku masuk ke kantong keresek, dan bawa menyusuri trotoar. Saya pergi dengan sangat kampungan--jalan kaki.

Berdasarkan keterangan di facebooknya, pembeli ini anggota paskibraka. Dan benar, sampai di sana, tampak sekelompok anak sedang latihan...



Sebelum sampai di sana, mata jelalatan ke kiri. Sebuah gedung megah berdiri...


Halamannya indah tertata


Saya baca relief tulisan di atasnya, menggembirakan, ternyata PERPUSTAKAAN UMUM



Sayang ini Minggu. Saya tanya penjaga, ternyata Minggu tidak buka. Selasa saya sengaja ke sana

Wah fasilitasnya...kursinya saja putar seperti kursi para karyawan di kantor mewah,  empuk seperti punya direktur. 



Itu kursi buat pembaca, tersedia di belakang setiap meja. Empuk, bergoyang-goyang. Sungguh nyaman. Tak mengapa ada bolong pada dudukannya. Kebaikan kursi ini terlalu banyak, kekurangannnya yang sedikit ... saya anggap tak ada...


Pelayanan pengunjung tersedia di lantai dua, melihat ke belakang gedung, motor rapi terbaris...


Dilengkapi tabung oksigen, jadi kalau ada orang pingsan, bisa langsung diberi pertolongan.


"Eh bukan, itu buat kebakaran......apa namanya....." kata seseorang yang rajin sekali mengoreksi.

"Oh tabung gas? Masa sih, kalau kebakaran disemprot gas api malah jadi gede dong?"


"Bukan....itu kalau disemprotkan suka jadi busa. Trus apinya padam."

"Oh kayak pasta begitu?"

"Iya."

"Berarti bagus dong buat cukur kumis?"

Sebuah perbincangan tak jelas, tapi saya tahu ini tabung anti kebakaran.


Lampu atapnya selalu terang


Sayangnya beberapa rak masih kosong, ini perpustakaan masih pengantin...


Buku yang ada masih baru, rata-rata menarik, ini deretan fiksi dan sastra.


Saya tertarik dengan dunia pewayangan, mengambil buku "Atlas Tokoh-Tokoh wayang". Jangan dikira, meski judulnya terkesan formal, tapi isinya sangat memikat. Disebutkan berbagai tokoh wayang, kemudian kisahnya masing-masing. Membacanya seperti membaca dongeng saja.


Pengunjung masih jarang, buat saya sih enak, sunyi....yang datang hanya orang tua, tuh di sana sedang serius membaca...

Punya beranda buat santai, satu set kursi tersedia, ditemani pohon hias dari plastik.


Kebelet? tenang, tidak perlu cari WC Umum, ini ada toiletnya.


Tuh saya juga melakukan sesuatu di sana


Setelah itu, ada cermin, menyempatkan diri selfie


Dan ini pemandangan lorong sepulang dari kamar mandi..


Enak bukan? Dengan kata lain, bagi saya Depok kota mewah, Depok kota kaya. Sebuah kota kaya dengan restaurant, kaya dengan hotel berbintang, tapi itu hanya bisa dinikmati sebagian orang. Sebuah kota kaya dengan perpustakaan, maka orang berbaju lusuh dengan sandal jepit sekalipun bisa ikut menikmatinya.



Related Posts:

Tips Sehat: Jangan Asal

Tips sehat lainnya sangatlah mudah, yaitu jangan asal.

Jangan asal makan, tapi pilihlah yang Anda makan. Jangan asal minum, pilihlah yang Anda minum. Jangan asal dengar, pilihlah yang Anda dengar. Jangan asal lihat, pilihlah yang Anda lihat. Jangan asal bicara, pilihlah yang Anda bicarakan. Jangan asal menulis, pilihlah yang Anda tulis. Jangan asal baca, pilihlah yang Anda baca. Jangan asal pegang, pilihlah apa yang Anda pegang. Jangan asal beli, pilihlah yang Anda beli.

Saya ini manusia,
Diberi kemampuan membaca
Dan menangkap pengetahuan darinya.
Maka seharuanya saya mempraktikkan kebaikan apa saja yang saya baca
Saya telah membaca buku kesehatan, dan membaca di sana, supaya sehat, harus banyak makan buah dan sayuran, jangan memakan makanan olahan, maka laksanakanlah!

Kambing tidak bisa membaca, kucing tidak bisa membaca, mereka tidak bisa mendengarkan pelajaran, jadi mereka tak tahu mana makanan baik mana yang bukan.

Mereka tidak bisa memilih mana makanan yang layak mana yang tidak.

Related Posts:

Anak Saya Mulai Sekolah

Tiga tahun lebih, usia anak saya, berlalu tak terasa, sejak kelahirannya, sekarang sudah waktunya sekolah. Ibunya membawanya ke PAUD, jauh dari kampung saya di dataran tinggi menuruni kaki gunung, ke sebuah Taman Pendidikan Masyarakat.

"Hari ini Si Nai mulai sekolah, doakan supaya jangan bandel!" SMS istri dari kampung.

"Amiin, diantar motor siapa?"

"Motor Siti" Siti adalah bibinya, adik istri saya.

Itu siang, dan malamnya saya penasaran, apa saja yang terjadi tadi siang. Lewat SMS, saya tanyakan:

"Tadi siang bagaimana?"

"Si Nai kurang memperhatikan guru. Tapi pulang ke rumah, selagi saya menyetrika pakaian, sambil duduk di kursi, dia nyanyi tepuk nyamuk, bismillah, alhamdulillah. Aku tersenyum."

Begitulah di hari berikutnya, saat saya kangen ingin menanyakan kabarnya, "Bagaimana hari tadi?"

"Sekarang dia mulai bergaul dengan temannya. Ke depan menyanyi, menulis tidak malu-malu."

"Haha, memangnya anak lain bagaimana?"

"Ada yang harus terus bersama ibunya, ada yang main melulu. Dan Si Sansan bersama Si Alfian minggat. "Gue mau pulang, sini itu tas aku!" ucap Si Sansan."

"Oh Si Sansan satu kelas dengan Si Nai?" tanya saya heran, sebab Si Sansan usianya jauh di atas anak saya.

"Iya, harusnya dia masuk TK, tapi tidak mau."

Hari berikutnya, tanpa ditanya, istri memberi kabar.

"A, Si Nai mau apel merah milik anak lain."

Tidak saya jawab. Langsung panggil, saya kira sedang nangis, tapi tidak, adem-adem saja. "Bagaimana sekarang?"

"Sudah main lagi."

"Ya nanti saya pulang, insya Allah bawa." kasihan juga anak saya, jauh dari bapaknya, jauh dari pasar, kurang makan buah-buahan.

Hari berikutnya, saya yang bertanya, "Bagaimana hari tadi?" begitu tanya saya pada istri, setiap kali kangen ingin menanyakan kabar anak saya.

"Mulai belajar angka Nol, dan si Nai selalu harus nabung, jika tidak nabung dia ngambek, karena dipanggil seorang-seorang ke depan kelas, jika tidak menabung tidak terpanggil"

"Biasanya menabung berapa?"

"Sepuluh ribu, dengan jajan lima ribu, jadi lima belas ribu sehari."

"Belum lagi jajan di rumah ya?"

"Iya, tadi habis empat ribu jajan es krim."

"Jangan terlalu banyak makan es krim!"

"Iya, tapi ini anaknya suka menjerit jika tidak diberi."

Saya alihkan, "Sekarang sedang apa?"

"Si Nai tidur, saya sedang latihan kasidah buat lomba Agustusan."

"Saya pulang sabtu besok." kata saya tanpa ditanya.

"Ya. Si Nai kasihan sepatunya paling jelek. Dia mengeluh, kenapa sepatuku begini, orang lain sepatunya hitam?"

"Hahaha, maunya sepatu bagaimana?"

"Ya, nanti saja kalau Aa datang, kalau ada uang mah kita beli, sebab sekarang pengeluaran buat beli buku, ongkos, jajan, menabung, dan iuran."

Related Posts:

Supaya Blog Saya Ramai

Saya ingin blog saya ini ramai, dikunjungi banyak orang, membuat orang penasaran dan ingin selalu membuka dan membaca apa saja yang telah saya masukkan ke dalamnya.

Saya ingin orang merasa penasaran, jika sehari saja orang tidak datang ke blog saya, mereka akan merasa kurang, merasa ketinggalan informasi.

Bagaimana caranya?

Ini harus jadi tempat saya gila-gilaan saya menulis, sepanjang hari. Jadi jangan banyak bicara, banyak saja menulis. Apa yang ingin dibicarakan jangan bicarakan, tapi tulislah.

Bagikan apa saja yang menarik, Tulisan-tulisan, keseharian, tips rahasia, tips-tips mudah.

Update gambar dari apa yang saya alami dari keseharian. Dari apa yang saya temui dalam keseharian, kemudian ceritakanlah dengan bahasa yang mudah.

Tulisannya harus enak dibaca, mudah dicerna, jangan berbelit belit bikin perut orang sembelit, jangan rumit-rumit bikin pusing selangit. Menulislah dengan bahasa yang mudah, berceritalah dengan alur yang lancar, jangan loncat sana-sini.

Jika membaca buku, bagikanlah apa yang saya baca sejelas-jelasnya! Jika dalam buku itu ada kisah, berkisahlah karena orang suka dengan cerita! Makanya bagusnya lebih banyak membaca buku yang banyak mengandung cerita dan ibarat, supaya saat membacanya saya bisa menangkap dengan mudah, dan saat menceritakannya kembali dalam tulisan, saya bisa menuliskan ceritanya dengan mudah.




Related Posts:

Tips Sehat Termudah

Devinisi sehat bagi saya sangatlah mudah. Jika badan ini terasa segar, semangat, bertenaga, pikiran mudah konsentrasi, yakin artinya badan saya sehat. Jika sebaliknya, lesu, letih, susah konsentrasi, dibawa kerja rasanya lelah, artinya badan saya tidak sehat.

Tidak rumit, mudah, simpel.


Kapan saya rasakan badan ini sehat?

Setelah tiduran. Artinya jika ingin sehat, saya harus cukup tidur. Istirahat terbaik adalah tidur. Tidur adalah saat di mana badan melakukan perbaikan. Bagi anak dalam masa perkembangan, tidur adalah masa perkembangan badan mereka. Sasat-saat hormon HGH nya keluar, dan merangsang tubuhnya melakukan perkembangan, tumbuh membesar. Jadi, tidur itu sehat.


Berikutnya, saat sedikit makan. Makan secukupnya, dan berhenti sebelum kenyang, kemudian melaksanakan puasa, tidak makan kecuali minum air doang, di situ saya rasakan badan ini sehat dan semangat. Berbeda halnya dengan saat saya banyak makan, perut jadi mual, rasanya mau muntah.

Berikutnya, setelah berolahraga yang membuat saya berlelehan keringat. Sepulang lari, biasanya saya rasakan badan ini segar, semangat, bergairah. Artinya, jika ingin sehat, saya harus mau berolahraga hingga mengeluarkan keringat.

Jadi, cara sehat termudah menurut saya tiga saja. Pertama, cukup istirahat, kedua jangan makan terlalu banyak, berhenti sebelum kenyang. Ketiga, berolahraga hingga mengeluarkan keringat.


Related Posts:

Jika Ingin Barang Laris, Jual Yang Terbaik

"Saya ingin pesan lagi tas LARGE HITAM MERAH ATI" ujar seorang pelangan melalui inboks facebook saya. Entah ke berapa kalinya dia memesan barang, seolah
tak ada bosannya. Sepertinya, dia menawarkan tas jenis ini kepada temannya, kemudian temannya banyak yang berminat, dan memintanya memesan ke toko tempat saya kerja. Baru beberapa hari lalu dia pesan barang, sekarang dia sudah kembali pesan. Sayang, barang sudah tak ada. Kosong. Persediaan tas Large tinggal LARGE ABU TUA ORANYE.

Sejak awal kerja saya bertanya-tanya. Ini harga tas mahal amat, sampai dua ratus ribu lebih. Saya kalau beli tas, biasanya yang murah saja. Tak pernah lebih dari seratus ribu rupiah. Anehnya peminat tas di toko tempat saya kerja ini banyak. Setiap stock selalu habis dan habis. Kemarin mendekati Bulan Ramadhan, persiaan tas diperbanyak. Ruang kerja sampai berdesakan dengan tas. Sampai-sampai, aktivitas online saya harus terhenti, merapikan dulu tas di lemari dan mengelompokkannya. Kemudian masuk Ramadhan, berduyun-duyun pesanan, mendekati lebaran, pesanan makin banyak, stock makin berkurang, dan pasca lebaran, rak yang asalnya penuh tas Slim dan Large, kini mulai kosong, hanya tinggal beberapa warna. Tas Large malah tinggal satu warna. 

Kenapa?

Karena tas ini bukan tas asal. Kualitasnya bukan asal. Kainnya bukan biasa. Modelnya bukan biasa. Bahanya bukan biasa. Sletingnya bukan biasa. Bagian dalamnya tidak biasa. Juga sebenarnya, bukan buat barang-barang biasa, yang murahan. Tas ini dirancang, supaya orang nyaman membawa barang mahal kesayangannya, yaitu laptop. Ada ruangan khusus di dalamnya, berlapis busa, dengan warna cerah, sesuai warna seleting dari luar. Bentuknya juga dirancang gaya. Slim ramping cantik buat yang bawa. Large gemuk tak tidak mengurangi keindahannya. 

Intinya toko online tempat saya kerja memberi yang terbaik. Para pembeli luas, dengan barangnya.Gak tahu dengan pelayanannya, sebab terkadang, bahkan seringkali, saya merespon pembeli dengan lambat. Yang pasti dari segi barang, baik penjualan buku atau tas, kami berusaha memberikan yang terbaik kepada pelanggan. Maaf, kami berusha menjual yang terbaik kepada pelanggan.

Related Posts:

Mencuri Pakaian Itu Ringan dan Menyenangkan

Masalah malas mencuci, saya kira tak hanya dirasakan oleh mereka yang tuna mesin cuci, bahkan oleh pemilik mesin cuci pun, saya kira malas itu pasti ada. Sebagai perbandingan, saat saya punya mejikom tempat menanak nasi praktis dan saat tidak punya alat itu, menanak nasi sama malasnya.

Malas mencuci.

Padahal rasa malas itu hanya akan terasa sebelum melakukannya. Setelah deterjen dimasukkan ke ember lalu segayung demi segayung air dimasukkan ke sana, kemudian memasukkan pakaian, rasa malas itu seketika hilang. Berganti kesenangan, karena sambil mengucek pakaian, hidung saya menikmati bau wangi.

Entah kenapa, mencuci itu terasa sungkan, padahal ini pekerjaan ringan. Tugas saya hanya mencuci saja, dan mencuci itu olah raga. Air sudah ada dan tersedia, saya tinggal menggunakannya. Begitu pula selesai mencuci, setelah mendadarkan pakaian pada tali jemuran, sudah, mengeringkan bukan urusan kita, biarlah Allah mengeringkan dengan matahari-Nya.

Tak ada yang berat. Semua menyenangkan. Semua ringan. Semua mengasyikkan, sebetulnya manusia bisa memandang, bahkan kepada kematian sekalipun sebagi sesuatu yang indah dan menyenangkan. Pada tumpahnya darah, pada terpotongnya tangan, pada luka-luka, manusia bisa memandang indah, tapi itu hanya bisa dilakukan oleh orang dengan keimanan dahsyat, seperti dulu di jaman para shahabat, berpereng bagi mereka, menjadi sesuatu yang sangat dirindukan. Demikianlah mencuci pakaian, dari sudut pandang berbeda, itu bisa menjadi aktivitas ringan dan menyenangkan.

Setelah membaca tuntas, tentunya sekarang, Anda tahu maksud sebenarnya dari judul saya. Itu typo. Maksudnya, mencuci pakaian itu ringan dan menyenangkan.

Related Posts:

Cara Wiro Mengatasi Pedihnya Menjomblo

Berbagai cara orang mengatasi pedihnya menjomblo. Lama tak juga menemukan pasangan bukanlah penderitaan ringan. Itu saya rasakan dulu sewaktu bujangan. 

Tapi, tunggu sebentar. Jangan terlalu menghayati tulisan saya. Sebab inti tulisan ini adalah, apresiasi untuk orang yang menjomblo tapi hatinya tetap senang.

Demikianlah, bagi sebagian lain santai saja, menjalani dengan senang hati sambil menunggu yang terbaik. 

Ketika saya tanyakan di facebook, grup Kafe Curcol, bagaimana cara Anda mengatasi sedihnya kejombloan? Berbagai macam jawaban mereka.


Ngopi, aromanya itulah yang buat saya melupakan....
Godain monyet (Musafir Jiwa)
Gaul dengan teman sesama jones = jomblo ngenes (Adin Neferu)

Dulu sih waktu saya menjomblo menyenangkan pikiran dengan menulis dan membaca Al-Qur'an (Agung Pribadi, penulis buku Gara-Gara Indonesia)

Saling ledek antar sesama jomblo (Wawan Gustiawan)
Masturbasi (Wulan Ayuningtyas, dokter gigi)


Aku bikin video jomblo yang tak dirindukan (S. Prawiro)


Dari sekian banyak jawaban, saya tidak tahu mana yang serius mana yang tidak. Mana main-main, mana sungguhan. Wulan Ayuningtyas misalnya, saya belum pernah ketemu dia, wajahnya seperti apa, saya yakin jawabannya asal. Dia bersuami dan punya anak. Tidak tahu siapa yang benar-benar, tapi jawaban Prawiro, saya tahu dia menjawab sebenarnya. 

Akhir-akhir ini, jomblo asal sulawesi ini sangat gemar membuat video dengan hape canggihnya. Dan kebanyakan video itu, ungkapan hati jerit getir kejombloan dia. Jika ingin nonton, putar saja!


Dan video lainnya.


Prawiro juga rajin membuat shot video teman-temannya.


Mari kita analisa, sebenarnya penyakit apa yang menjangkiti orang-orang ini? Tahukah Anda? Maukah Anda mengadakan penelitian, adakah analisa dari para ahli jiwa?

Nah, jika pertanyaan demikian muncul dalam benak Anda, berhentilah, sebab pertanyaan itu tidak berguna. Ini memang kegilaan, tapi tak membutuhkan analisa ilmu jiwa. Yang dibutuhkan buat menganalisa ini hanyalah kecamata baru buat Anda, sudut pandang baru tentang sebuah fenomena, bahwa orang-orang ini, orang seperti prawiro ini, beginilah cara menghibur hatinya. Andaipun mau disebut gila, maka ini gila yang mengandung makna, gila di atas hebat.

Ya, gila itu di atas hebat!!

Nah, dalam mengatasi kesedihan menjomblo, Anda sendiri bagaimana?

Related Posts:

Gaya Ngeblog Saya

Sejak dulu, saya pusing menentukan identitas blog, mau buat tema apa sebenarnya saya. Sekali waktu mau blg agama, datang lagi selera beda, ingin menulis sastra. Sastra terlupakan, datang lagi hobi buku, pindah menulis tentang buku. Belum banyak menulis tentang buku, datang pikiran menulis tentang kesehatan. Bosan menulis kesehatan, pindah lagi ingin menulis berita terbaru. Mau apa sih sebenarnya saya?

Mau diisi apa sebenarnya blog saya? Sampai berkali-kali ganti blog, hapus lagi-hapus lagi, tulis lagi, tulis lagi, mengulang lagi, mengulang lagi, sampai sekarang, blog saya tidak pernah jelas.

Dan sekarang akhirnya, ah blog apa saja.
Tema apa saja akan saya masukkan. Sekarang mau menulis ini, tanpa ragu saya tulis. Besoknya beda lagi, ya saya tulis lagi. Besoknya lagi ada ide lain, tulis lagi, tulis lagi, tulis lagi. Suatu saat setelah banyak, tinggal kelompokkan. Mana yang setema, itulah yang jadi temannya. Jika banyak, ya bukukan. Mudahlah, tak perlu mikir susah-susah. Tak perlu memerasa pikiran terus menuliskan hal yang sama. Menulis saja sesukanya, selancarkan, sebab apa yang lancar saya tuliskan, akan lancar dibaca orang. Karena saat dengan senang saya tuliskan, akan menyenangkan dibaca orang. 

Dengan kata lain, saya kembali pada kebiasaan lama, pegangan lama, yaitu menulis seenaknya. Seingatnya, semaunya. 

Related Posts:

Mengatasi Godaan Makan

Diet terasa menyenangkan. Dengan mengurangi makan, badan terasa lebih bugar. Dengan mengurangi makan, wajah tak terlalu dirongrong jerawat. Ah, saya kira yang wajahnya mulus itu bukan penggemar makan. Setidaknya, makan dia tidak rakus seperti saya.

Dan, ini rencana saya mengatasi godaan makan.

Baru rencana.

Ingat, di sekeliling saya banyak sekali bacaan, tenggelamkan saja diri ke dalam bacaan, dan lupakan makan.

Suka menulis bukan? Nah menulislah, dan setiap kali ingat makan, tendang dengan menyadarkan diri bahwa makan, hanya mengganggu kelancaran menulis saja.

Ah bukannya kamu sedang banyak tugas. Selesaikan tugas dari atasan, yang menyuruh saya menyusun twitternya menjadi dulu. Laksanakan tugas itu dengan penuh cinta dan kesungguhan. Dengan menjalankan tugas itu, kamu membangun kepercayaan. Bahkan, ini bisa jadi barometer sekaligus perekat, apakah saya bisa menunjukkan, tinggal di sini ini benar-benar berguna atau tidak. Jika tidak memberi nilai lebih dengan menjalankan tugas secara cepat, artinya kehadiran saya hanya membebani perusahaan saja. Jalankan tugas dengan baik, dan lupakan makan!

Kenapa terus memikirkan makan. Kita ini manusia bukan binatang. Manusia hidup untuk makan, binatang makan untuk hidup.

Orang yang hidup hanya memikirkan apa yang masuk ke dalam perutnya, kualitasnya tidak jauh berbeda dengan apa yang keluar dari perutnya.

Orang yang di dunianya banyak makan nanti di akhirat gusinya akan membengkak sampai sebesar gunung uhud.

Ingatlah kata-kata mutiara tentang banyak makan, betapa jeleknya.

Dan ingatlah, tubuh kita hanya memerlukan makanan sedikit saja. Dalam salah satu acara yang dibawakannya, Deddy Corbuzier, mengatakan jika dalam sehari, kita hanya membutuhkan 2000 kalori, dan itu sudah cukup dipenuhi sepotong donat dua ribu rupia.

Related Posts: