Tidak Terburu-Buru Membocorkan Isi Cerita

Sejak membaca awal cerita saya terus bertanya-tanya, ini wanita apa masalahnya. Cantik jelita,

"Kulitnya putih, wajahnya bersih seperti bayi. Kecantikannya lengkap."

Lalu apa kekurangannya.

Baris demi baris terus saya susuri.

Wanita ini bersuami, berumah tangga dan dia menjadi istri setia.  Tak pernah ramai berita tak sedap dari rumah tangganya. Adem ayem tanpa pertengkaran.

Dia sangat taat pada suaminya, beranak dua dan telaten mengurus rumah tangga.

"....kemampuannya mengurus dirinya. Kecantikannya tidak berkurang. Malah semakin bercahaya seiring umur yang bertambah."


Rapat menutup aurat. "Dalam balutan kerudung dan ke mana-mana nyaris tanpa make-up, keindahannya semakin memesona."

Lalu apa masalahnya. Tidak mungkin ini cerita tanpa masalah. Sebuah cerita harus ada konfliknya. Dari baris ke baris terus saya baca. Dengan penasaran saya buka satu lagi lembarannya.

"Adakah kesombongan di wajah cantiknya?"

Juga tidak.

Saat suaminya sakit, dia tekun merawat.

"Sosok cantik itu tetap tekun tanpa banyak bicara. Merawat suami dan anak-anak seperti sebelumnya."


Sampai ketika mata saya menyusuri halaman buku itu semakin ke bawah, sebuah paragraf mengutip kata-kata dari salah seorang kerabat sang wanita muslimah.

"Kalau saja semua orang tahu, kasihan kakak itu. Suaminya seringkali main perempuan di belakang dia. Bahkan semenjak awal mereka menikah..."

(Cinta Perempuan Paling Cantik, Asma Nadia)

*  *  *

Kesabaran mengurai kisah, dan tak terburu-buru membocorkan konflik sebenarnya kepada pembaca, menggelitik hati mereka supaya terus bertanya dan bertanya, apa masalahnya, di mana masalahnya, apa kekurangannya, mana konfliknya, itu salah satu kepiawaian yang bisa membuat sebuah cerita.

Banyak penulis terburu-buru, ingin segera menyampaikan masalahnya. Sehingga semakin ke ujung, cerita semakin hambar. Seperti baso dingin, pasti sangat beda rasanya dibanding bakso yang masih panas. Mempertahankan rasa penasaran pembaca biar tetap "panas" memang membutuhkan latihan. Dengan membaca berbagai buku bagus yang sudah ada, mempelajari mengapa buku itu begitu seru, kemudian mencoba menerapkannya saat menulis cerita, adalah bagian dari latihan itu.

Saya lupa, membocorkan isi sejak awal cerita, itu termasuk dosa ke berapa ya? Lihat sendiri saja di buku "101 Dosa Penulis Pemula"

Related Posts:

0 Response to "Tidak Terburu-Buru Membocorkan Isi Cerita"

Post a Comment