WIRO TAMAT

Wiro akhirnya menikah. Beruntung sekali, istrinya adalah seorang wanita cantik berwajah bulat. Lucu, manis, tembem, bikin sejuk Wiro setiap kali memandang. Subur sekali rahim istrinya. Sebelas tahun menikah, anak Wiro sudahenam. Dari seorang bujangan jomblo terakreditasi, kini Wiro telah jadi seorang bapak. Bapak yang penuh cinta, cinta anak-anak, cinta istri, dan cinta kepada rumahnya. Biarlah pagi istrinya sibuk di dapur dan mengurs anak.

Soal kebersihan rumah dan halaman hingga pinggiran jalan adalah urusan dia. Maka setiap pagi sebeleumn mandi, pekerjaan Wiro adalah, menyapu rumah, halaman, hingga pinggir jalan raya. Sambil menyapu, pikirannya riang. Tak lepas benaknya dari impian-impian bahagia di masa depan. Anak-anak yang cerdas, hidup mapan, dan bayangan dia bersama istri, duduk di kursi berdua, dengan kedua tangan keriput saling bertaut, dan saling mengusap rambut yang sudah beruban.

Sedang asyik melamun begitu, sebuah mobil berhenti. Seorang pria berjas, berdasi, bersepatu mengkilap turun.

Mendekati Wiro yang sedang menyapu, "Permisi!"

Wiro menghentikan aktifitasnya, berdiri tegak, "Iya Mas, ada yang bisa saya bantu?"

"Di sini tempat buang mayat sebelah mana ya?"

"Mm mmaksud Mas?" Wiro sesak.

"Saya mau buang mayat."

"Mmayat s siapa ya?"

"Mayat Bapak."

"Mayatku?"

Cresssssssss!!!

Related Posts:

DASAR KATRO MANEH MAH

"Dasar Katro" berasal dari dua kata, yaitu "Dasar" dan "Katro". Dasar berarti paling bawah, katro berarti bodoh dan kampungan. Jadi ketika digabungkan, dua kata itu menjadi sepuluh hurup dengan satus spasi.

Sudah. Tidak perlu kerut jidat. Nanti cepat tua. Itu cuma anabel: analisa gembel.

Tapi beneran, saya sedang jengkel dengan pemosting asbun. Dan ingin menyebutnya "Dasar katro!". Kalau ibaratnya kata "Dasar katro!: itu seperti sekepal tanah yang terus saya bulat-bulatkan, dari jam lima pagi sampai jam dua belas siang, dari yang asalnya lembek, sekarang sudah keras, dan tepat jam 13.00 tanah itu sudah sangat keras, lalu dengan sekuat tenaga, kepalan tanah itu saya lemparkan ke jidat orang yang TERIAK-TERIAK MARAH MENGUTUKI PENULIS BESAR sampai nongnong.

Orang ramai mengomentari postingan dia. Pun uing mah enggak mau. Malas. Kaciri tah jalma kitu mah boga hate hasud. Tidak suka melihat orang lain beruntung teh. Manehna tidak bisa sukses, hayoh ngojok-ngojok orang lain yang sudah sukses. Teu uyahan pisan.

Kalau memang tidak suka tulisan kamu dipakai penulis besar, ayo atuh terbitin sendiri kalau memang bisa mah. Sok pake uang kamu, pake nama kamu, terus jual. Kalau memang berhasil, ya teruskan sampai kamu bener-bener sukses, tidak perlu pusingkan yang sudah-sudah. Tapi ah, saya mah pesimis karya orang seperti kamu terjual laris, ari lain dijual ka tukang gorengan mah. Dari sikap saja, kamu sudah kaciri jalma malarat.

Yeuh dengekeun nya ku ceuli katel maneh. Kalau pun benar tulisan kamu dipakai penulis besar, kemudian diterbitkan atas namanya, harusnya kamu bangga dong. Berarti tulisan kamu bagus. Kalau tidak bagus, mana mau penulis besar mengaku.

Kamu juga harusnya merasa beruntung. Selama ini kamu menulis dan tulisan kamu kurang bermanfaat, dibaca oleh hanya segelintir orang. Setelah diatasnamakan penulis besar, tulisan kamu dibaca banyak orang. Beruntung atuh, ilmu kamu bermanfaat buat sebanyak mungkin orang. Bukankah kamu menulis itu tulus buat berbagi dengan sebanyak mungkin orang? Kalau kamu masih merasa rugi padahal tulisan kamu sudah dibaca banyak orang karena yang dicantumkan di sana nama penulis lain, berarti selain buat cari materi, kamu juga nulis cuma ingin terkenal, bukan tulus hanya ingin berbagi. Dan kalau niatnya tidak tulus ingin berbagi, wah cilaka dua belas, sudah kebaikan gak dapet, materi dan popularitas juga gak dapet. Cik atuh mikir saeutik. Boloho pisan maneh mah. Kampungan. Bau hitut. Kelek haseum. Dasar tara mandi sia mah!

Related Posts:

Ah Sudahlah...

Ini malam Minggu. Masuk ship malam, Wiro online di lantai tiga, dalam kamar, sendirian, memutar lagu. Dangdut ceria, lagu cinta.

Tapi mendengarnya aku sedih. Sedih tak tertahankan. Ingin rasanya menangis sesenggukan. Sungguh dada ini sesak dan paru-paru seperti tertekan dibuatnya. Butuh tisu empat dus buat mengeringkan air mata. Bukan hanya air mata lahir, tapi juga batin.

Bagaimana tidak. Di kamarnya, Wiro memutar lagu dangdut, "Wakuncar"

Bila malam, malam minggu tiba
Anak muda, mengatur rencana
Pacar yang mana
Yang mana mana giliran jumpa

Wakuncar, waktu kunjung pacar
Wakuncar, cari-cari pacar
Wakuncar, waktu kunjung pacar
Wakuncar, cari-cari pacar

Menyedihkan karena, tapi ah sudahlah...

Sekarang dia berada di kamar lantai 3 gedung penerbitan. Jendela di sampingnya mudah dibuka. Di bawah batako keras semua. Saya khawatir sebuah bisikan datang kepadanya untuk... ah sudahlah...


Related Posts:

MASIH SEPUTAR JOMBLO

"Dian, kamu ini aneh. Kelihatannya bahagia banget!" komentar Wiro. Mulut mulai ngunyah, sedang makan daging kurban.

Dian yang juga mulai buka nasi bungkus tertawa, "Ya ampun, mentang-mentang gue jomblo, sampai orang segitu herannya melihat gue bahagia. Justru yang aneh tuh Lo Wir."

Nah, nah, nah, percakapan langka nih. Perhatian saya langsung tersedot.

"Kenapa gak bahagia, apa sih yang mau Lo permasalahin." lanjut Dian, "Lo itu Wir, sebenernya tinggal ngomong. Banyak cewek komen di status Lo, tandanya mereka tuh perhatian sama Lo. Di antara mereka mungkin kamu kenal, atau pernah ketemu secara fisik, tinggal lo jujur sama mereka, tanya, lo mau nggak nikah ma gue. Gampang banget. Kamunya aja gengsian."

"Liat ni kerupuk, gue remes-remes! Dian, Jomblo dapat nasihat dari jomblo itu rasanya gak enak! Pedes. Ini makan gak pake cabe aja rasanya udah pedes."

"Gara-gara Lo nih, gue jadi nambah!" Wiro menuju ricecooker, menceduk nasi.

"Siapa tahu buku Lo nanti ada yang terbit secara mayor." kembali Dian tausiyah.

"Iya Wir,  Sakti Wibowo tuh penulis, buku-bukunya baru terbit setelah menikah." saya ikut nimbrung.

"Kok jadi teh botol gue yang gemetaran sih?"

Related Posts:

WIRO, SEMOGA KAMU BAIK-BAIK SAJA

Naik ke dak gedung buat ngangkat jemuran, tampak Wiro duduk bersandar, lunglai ke dinding tembok. Sedang senyum-senyum sendirian, bersama hapenya. Cukup mencemaskan.

Melihatnya begitu, saya hanya berharap, semoga dia masih sehat wal afiyat. 

Satu-persatu jepitan jemuran saya buka, dan saat membawanya ke dalam, Wiro sempat-sempatnya curhat, "Gue mau bikin tulisan, "Tuhan Beri Aku Cinta""

"Oh ya, itu kan judul lagu."

Pasti tulisnnya bagus, itu suara hati terdalamnya.

Saya tinggalkan dia sendirian, kembali masuk ruangan, buat kembali kerja. Tapi berapa langkah setelah masuk, terdengar dia memanggil, "Dana!"

Kembali ke luar, "Ya, ada apa?"

"Temani aku dong!" ucapnya genit.

"Najis lo!"

Related Posts:

PERMINTAAN ALISYA SOEBANDONO YANG TIDAK BISA SAYA KABULKAN

Harusnya cerita ini tidak saya bagikan, cukup jadi rahasia pribadi, tapi jari tak tahan, ingin mengetik buat pamer. Berkali-kali Alisya Soebandono menghubungi saya, supaya jadi pasangan mainnya dalam sinetron Sakinah Bersamu, tidak saya kabulkan. Saya tanya, apa alasannya, bukankah lebih cocok dengan Dude Harlino, dia suamimu yang sah, sama-sama bintang, sudah terampil akting, sama-sama orang terkenal, tentunya bakal lebih diminati pemirsa dari pada saya. Dia jawab, bosan, masalahnya tiap hari ketemu di rumah, masa main di sineron sama dia juga.

Saya jelaskan, ini demi memenuhi tuntutan syariah. Film ini harus jadi model persinetronan Indonesia dalam masalah taat syariat. Pemeran suami istri dalam film benar-benar pasangan sah, sehingga saat terjadi sentuhan tangan dan pelukan, para muslim tidak jengah, sebab tahu pasangan itu halal bersentuhan. Begitulah saya jelaskan dengan kata-kata bernada menggurui bahkan, secara retoris, saya bertanya langsung, apakah Alisya tidak pernah belajar agama? 

Sepertinya dia tersinggung berat, baper, kemudian membalas, "Jangan kira artis-artis itu orang bodoh! Mereka juga mengerti agama." Saya balas, "Ya kalau memang mengerti agama, pastinya kamu tahu, jika nanti dalam sinetron berpasangan dengan saya, segala adegan tidak halal, tahu hukumnya apa menurut syariah." Eh dia malah bertanya, "Kamu tidak mengerti profesional? Kalau memang adegannya menuntut demikian, kenapa tidak!" dan saya tetap minta maaf, dengan alasan apapun, saya tidak bisa memenuhi permintaannya.

Anda tahu kan semua cerita saya ini dusta. Jadi, tidak perlu teruskan. Hentikan. Bacaan berguna lain masih banyak. Saya tulis ini hanya menyalurkan kegilaan. Tapi, jika Anda sama gilanya dengan saya, ya silakan teruskan. Alisya kembali mengirimkan pesan yang buat saya heran, "Kamu tidak mau mendapatkan kebaikan dari dakwah? Sakinah Bersamamu dibuat berdasarkan buku bestseller Asma Nadia, isinya penuh pesan moral, kebaikan, yang pastinya akan sangat menginspirasi pasangan rumah tangga, dan jika pesan ini tersebar dengan audio visual, tentu lebih banyak lagi masyarakat mendapatkan pencerahan. Nah, jika kamu main bersama saya, tentu dari kebaikan itu terciprat?" 

"Tidak Alisya, tidak bisa. Ada seribu alasan. Antara lain, saya orangnya minderan, tidak bisa berakting di depan kamera, tidak punya pengalaman. Dua, secara wajah juga kalah dibandingkan suamimu, jauh puncak gunung dari dasar laut, jauh langit dari bumi. Jadi kalau pun saya beranikan diri main, akan sangat banyak penonton kecewa. Kalau banyak penonton kecewa, banyak protes datang, banyak orang menggugat, itu berarti, mana sukses pesan bagusnya tersebar luas. 

Jangan sampai itu terjadi. Itu bisa merugikan perusahaan. Selain itu ada keberatan lainnya. Kalau istri saya nonton bagaimana. Ya kalau film ini tayang hanya dalam lingkup Jakarta, tapi ini akan tayang di TV nasional, yang tentu akan sampai juga ke rumah saya. Istri menonton melihat adegan saya mesra, bagaimana nanti tanggapan dia. Rumah tangga saya bisa terguncang. Kamu mau bertanggung jawab?"

"Payah! Jadi suami kok kacangan. Masalah ya selesaikan. Masa hadapi istri saja tidak bisa. Recehan banget. Jadi suami itu berani, tenang, kuat mental, dan siap dengan berbagai masalah. Sifat sejati pemimpin harus punya. Aku juga siap jika nanti di rumahku terjadi masalah. Malu sedikitlah. Jangan sampai pria kalah dengan wanita."

Sampai sini saya heran, kenapa pandai sekali wanita pandai bicara. Dayanya berkata-kata, sepertinya ratusan kali lipat dari kemampuan pria. Ada-ada saja alasanya. Ada-ada saja argumennya. Argumen yang seringkali sukses memojokkan lawan bicara. Tapi yang lebih mengherankan itu, kenapa Alisya minta lawan mainnya saya. Alasan terkuatnya apa, dan saat pertanyaan itu saya kirimkan, ini jawaban SMS nya, "Kamu terbiasa menulis, terbiasa akrab dengan kalimat, pastinya menguasai banyak kemahiran berbahasa, aku pikir, nanti dalam banyak adegan, kamu bisa menciptakan inprovisasi tak terduga." Dan ini balasan terakhir saya, "Saya bukan penulis profesional, hanya sampah social media. Dugaanmusalah. Dan pula, inprovisasi apaan. Ini shooting sinetron Alisya, semua harus berdasar skenario. Bukan OVJ." dan SMS nya terus berhamburan.
Tidak saya jawab. Malas.

Related Posts:

Wiro Menjual Anjing

"Bapak gue nangkap anjing dalam tong sampah," kisah Wiro malam ini, "e e e e e au au au au au!!!!! anjingnya bersuara. Gue masih kecil, gue pegang anjingnya yang sudah di dalam karung. Ngamuk tendang sana-sini. Nyaris lepas. Dibawa ke kota ditawarkan ke orang-orang cina buat dijual."

"Itu waktu di Mana?"

"Waktu masih di Makassar. Ceritanya kan di sana ngontrak, trus diusir."

"Kenapa diusir?"

"Tidak bisa bayar kontrakan. Orang-orang pada nangis coy, meski keluarga gue keluarga malesin. Mungkin karena sudah lama tinggal di sana. Tapi gak tahu juga sih, itu mereka nangis sedih atau nangis bahagia."

"Gimana cerita berikutnya?"

"Cerita yang mana?" Wiro mendadak pikun.

"Tadi cerita anjing."

"Ya udah ceritanya gitu, laku, terus makan-makan." Jawab Wiro sambil sibuk pijit lap top, tapi ini sambil menghadap saya, "Itu kan gak boleh. Sudah menjual anjingnya gak boleh, trus anjingnya juga punya orang."

"Jadi?"

"Itu bukan anjing liar. Masih ada pemiliknya, meskipun berada di tempat sampah. Gak boleh kan menjual anjing punya orang."

"Oh iya ya, itu anjing kan punya orang, kenapa kalian ambil ya." renung saya.

"Pokoknya kalau sudah berada di tempat sampah, itu berarti sudah tidak ada pemiliknya." bantah Wiro. Tidak konsisten. Tadi dia mengatakan tidak boleh menjual anjing punya orang, tapi sekarang dia malah membela diri.

"Yaaah kamu, itu anjing di tempat sampah kan lagi cari makan."

Related Posts:

KOK MEREKA TEGA!

Dari kloset di kamar mandi, Bapak memasang piva menuju sebuah lubang cukup dalam di belakang rumah. Dari hari ke  hari Bapak, dan siapa saja di rumah masuk toilet, jongkok dan membuang kotoran yang setelah disiram, akan meluncur dalam piva dengan tujuan pasti menuju lubang tanah dan tertampung di sana.

Dan begitulah dari toilet setiap rumah. Rumah tetangga dekat, tetangga jauh, toilet mesjid, toilet sekolah, toilet terminal, toilet umum, toilet rumah orang kampung, toilet rumah orang kota, toilet kantor, plaza, departemen keuangan, departemen agama, departemen perindustrian dan perdagangan, istana negara, orang terus memberikan kotoran.

Itulah yang kita berikan kepada tanah. Tapi apa yang tanah berikan kepada kita?

Air segar, sayuran dan buah-buahan. Bayam, seladah, kuncay, bawang merah, tomat, buah-buahan, mangga, semangka, melon, apel, lengkeng, jeruk, yang sangat nikmat dan bermanfaat.

Allah telah menciptakan betapa baiknya tanah kepada kita, padahal yang kita berikan hanya kotoran. Karena itu, sebuah tindakan mulia saat kita, sebagai manusia berusaha berterima kasih kepada tanah, misalnya dengan banyak menanam tumbuhan.

Seperti yang sudah dilakukan orang-orang yang dengan sengaja melakukan pembakaran hutan. Betapa baiknya mereka. Saat orang seluruh dunia menjeritkan pentingnya penyelamatan bumi dengan melakukan penghijauan, orang-orang baik hati ini malah sebaliknya, merusak tanah, yang akibatnya, bukan hanya tanah itu yang merana, melainkan juga banyak manusia dengan asap.

Kok mereka tega sekali ya?

Related Posts:

SUMBER KATA MABUK KEPAYANG

Sebenarnya rupa buah kepayang itu seperti apa.

Dari dulu saya mendengar namanya, belum tahu sampai sekarang. Sudah lama saya mendengar kata mabuk kepayang. Saya kira kepayang itu hanya nama kepanjangan, seperti kata gulita yang merupakan kepanjangan dari kata gelap, atau kata benderang yang merupakan kepanjangan dari kata terang.

Baru sekarang tahu, ternyata kepayang itu nama sejenis buah. Buah kepayang. Sejenis buah memabukkan. Kalau di Sunda, namanya picung. Setelah dikubur lama dan menjadi hitam, bisa dibuat sambal. Setelah direndam lama, bisa ditumis.

Saya tahu ini setelah membuka-buka buku peribahasa digital. Menulis kata kunci ayam, terbuka sebuah peribahasa, “Umpama buah kepayang, dimakan mabuk dibuang sayang.” Yang intinya membicarakan seorang istri yang indah parasnya tapi buruk perangainya, dipertahankan menyusahkan, dilepas juga sayang.

Related Posts:

Kenapa Pak Isa Berhenti Makan Popcornnya?

Dapat undangan premier sebuah film, lumayan kami nonton bersama. Gratis. Bersama Pak Isa, dan beberapa kru ANPH.

Buat bekal di dalam, Pak Isa beli popcorn dan minuman. Kami duduk dalam satu barisan, bersama Pak Dedi Padiku, Wiro Toraja, dan Pak Aeron Tomino.

Popcorn dibuka, saya pegang dalam pangkuan saya. Karena belum cuci tangan, saya sobek kertas, melengkungkannya, saya gunakan buat sendok. Sementara Pak Isa mencomot dengan tangan, saya menceduk dengan kertas.

Melihat ini Pak Isa tertawa. Lebih tepatnya mentertawakan.

Dia bisik sana-sini, memberitahu orang. "Hei, Dana sendoknya pake sobekan kertas."

Setelah beberapa kali mencomot, Pak Isa berhenti. Saya suruh ngambil lagi, silakan Pak! Dia berisyarat dengan tangan. Sudah, katanya.

Tidak tahu kenapa dia sudah berhenti. Tidak mungkin karena kenyang. Popcorn makanan ringan.

Baru di kantor dia cerita,

"Gue mau buat cerita keanehan orang-orang kantor ANPH. Dana makan popcorn pake sobekan kertas, pas gue ngambil, eh ternyata ada basah-basah gitu, ya udah. Gue gak ngambil lagi."

Oh.

Related Posts:

Wiro dan Panci Butut

Cerita Wiro tiada habisnya. Ada-ada saja pengalaman Dia. Sebelum tidur, malam ini dia cerita.

Setting cerita di Kota Makassar. Salah satu kota besar di Sulawesi Selatan. Wiro dan Panci Butut, meski judul ini tak mewakili keseluruhan cerita, saya pakai juga biar Anda penasaran.

Semasa kuliah, supaya bebas dari biaya cost, Wiro tinggal di mesjid. Dan berkah, bukan cuma hemat yang dia dapat, bahkan mendapatkan penghasilan. Dari kerja hariannya membersihkan mesjid, menggulung dan menggelar sejadah, dia mendapatkan uang lumayan.

Tak cuma kebersihan, Wiro pun dapat tugas naik mimbar, jadi pembicara. Iya benar, Wiro bicara di depan orang, keren sekali dia, mengumumkan berapa jumlah kas mesjid sekarang, siapa khatib, siapa imam. Profesi ini tak pernah dia lupakan, terus dia ingat sampai sekarang, meskipun ya, naik mimbar sekedar buat pengumuman.

Sebagai orang kampung dengan keluarga pekerja, Wiro pun terdidik demikian. Terbiasa kerja kasar, maka tugas keberihan mesjid dia jalankan dengan tangan ringan. Gesit dan antusiasmenya ini menarik perhatian Ketua RW setempat. Maka Wiro selain mengurus mesjid, Wiro pun kemudian mendapat tawaran menjadi pemungut iuran sampah. Berjalan dari rumah ke rumah, mengetuk pintu rumah orang, menagih uang kebersihan. Lumayan, dari sekali tagihan, Wiro mendapat sepuluh persen. Jadi jika uang dapat sejuta, seratus ribu bersih masuk saku celana.

Sekali waktu Wiro laporan kepada Ustadz setempat. Dari tong sampah yang diurusnya, dia mengumpulkan banyak panci bekas. Lumayan, itu kalau dijual, bisa dapat uang banyak. Alumunium itu mahal. Pak Ustadz antusias, lalu dengan boncengan motornya, Pak Uztads mengajak Wiro mendatangi  pembeli rongsokan.

Menurut kabar, bos pembeli rongsokan ini tinggal di Jalan Setapak. Maka sepanjang jalan, Pak Ustadz beberapa kali menghentikan motor, turun, kemudian bertanya kepada orang-orang, di manakah jalan setapak itu?

Tentu saja orang-orang bingung. Jalan setapak itu banyak. Orang saling melirik, maksudnya jalan setapak yang mana? Pak Ustadz juga kebingungan. Dia tahunya jalan setapak, dan tak pernah dapat kabar, sebenarnya jalan setapak yang mana?

Merasa tak ada orang tahu, Pak Ustadz kembali menghidupkan motornya, dan kembali melesat di jalan raya, mencari jalan setapak, dan dia lupa kalau sebenarnya tadi motornya membonceng orang, yaitu Wiro yang sekarang ketinggalan. 

Wiro sebenarnya dari tadi teriak. Ketika Pak Ustadz melesatkan motor, Wiro memanggil-manggil, "Woi tunggu!!! Woiiiii........"

Pak Ustadz tak dengar. Wiro kesal, "Woiii, ini gue ketinggalan. Sundaaaal!!"

Barisan tukang becak ramai tertawa.

Baru setelah jauh Pak Uztadz sadar, jika di boncengannya Wiro sudah tak ada. Kaget luar biasa. Ini anak ke mana. Jangan-jangan jatuh di jalan. Kembali lagi dia menapak jalan asal, bertanya kepada orang-orang adakah anak jatuh, adakah ambulan lewat, dan jelas orang-orang geleng kepala.

Setelah kembali ke tempat tadi bertanya, akhirnya dia temukan. Wiro sedang terduduk lesu di trotoar. 

Perjalanan kembali dilanjutkan. Kembali lagi bertanya kepada orang-orang di manakah jalan setapak? Kembali pula orang-orang kebingungan dan balik bertanya, jalan setapak mana? Lagi pula ini kota. Jalan sepakat sangat jarang. 

"Mungkin maksudnya Jalan Sepakat... " celetuk seorang warga.

"Oh ya, Jalan Sepakat ada?" tanya Pak Ustadz.

"Ya, ada."

Orang-orang pun menunjukkan. Dan ketemu juga akhirnya. Pembeli rongsokan itu ada di Jalan Sepakat.

(Tidak persis sama dengan cerita sebenarnya. Tempat ditemukan dengan melihat papan nama di jalan)

Related Posts:

SEMUANYA KEBAHAGIAAN

Kenapa saya terus merasa cemas, padahal dalam kehidupan saya sehari-hari, apa sih yang bukan merupakan kebahagiaan? Semuanya kebahagiaan. Tidur kebahagiaan, bangun kebahagiaan, mencuci kebahagiaan, membereskan ruangan kebahagiaan, makan kebahagiaan, memasak sendiri merupakan kebahagiaan. Kerja kebahagiaan, istirahat kebahagiaan, berjalan kebahagiaan, duduk kebahagiaan, jadi sebenarnya sangat tidak layak jika saya merasakan kegelisahan.

Aduh, tapi sekarang mencuci bagi saya sedang bukan sebuah kebahagiaan. Air sedang langka, jadi sepertinya bakal kebingungan nih mencuci pakaian. Jika tidak di tempat saya tinggal, masa saya ikut mencuci di mesjid? Bagaimana jika ketahuan penjaga mesjid? Apa nanti kata orang? Terpaksa harus menunggu air mengalir dari PDAM. Tapi akankah hari ini mengalir? Sejak malam belum mengalir juga. Kemarau menjadikan air langka, sepertinya di pusat sedang kekeringan. Bagaimana jika keringnya sampai besok, sampai lusa, sampai minggu depan, apa yang bisa saya lakukan?

Cemas luar biasa! Tapi saya harus mengatasi ini.

Bagaimana caranya?

Dengan berpikir, jika semuanya lancar-lancar saja, air selalu ada dan tersedia, saya takkan pernah berpikir betapa beruntungnya air ini tersedia. Dengan langkanya air seperti sekarang, maka saya sadar saat air itu ada, itu merupakan sebuah karunia yang besar. Sebab memang sudah begitu biasanya, baru seseorang menyadari arti sesuatu setelah sesuatu itu hilang dari tangannya. Karena ketiadaan sesuatu adalah penyadaran paling mujarab, maka saya harus memandang kelangkaan air ini sebuah nikmat.

Meja berantakan?

Nikmat juga. Ini meja saya aduh berantakan sekali. Segala macam ada di sini. Botol minuman sampai dua, padahal keduanya sudah layak masuk tempat sampah. Caus sisa goreng ayam KFC, buku 101 Dosa Penulis Pemula, Novel Orizuka, Buku Catatan Hati Seorang Istri, lap top, berkas pesanan barang, Membereskannya adalah olah  raga, dan menyaksikan meja rapih setelah sebelumnya berantakatakan, ini juga sebuah kenikmatan.

Apa yang bukan merupakan kebahagiaan?

Jika benar saya orang beriman, tiada satu pun yang bukan merupakan kebahagiaan. Jika saya orang beriman, tiada sesuatu pun merupakan kebaikan.

Ketika orang beriman ditanya, apa yang sudah Allah turunkan kepadamu? Mereka menjawab, kebaikan.

Pokok terpenting yang Allah turunkan adalah agama, syariat Islam. Allah menurunkan Kitab dan Rasul-Nya, dengan segala perintah dan larangan yang ada di dalamnya, maka menyikapi itu semua, orang beriman akan memandang bahwa itu semua kebaikan. Agama yang Allah turunkan adalah kebaikan. Perintah-perintah-Nya membawa kebaikan, larangan-larangan-Nya mencegah keburukan. Karenanya seorang beriman akan cinta kepada syariat yang Allah perintahkan kepadanya.

Related Posts:

MUSIK HOROR dan KERUSUHAN TASIKMALAYA

Tengah malam begini, enaknya duduk sendirian, di ruangan kantor, dalam kesunyian, sambil menyetel musik horor. Cocok sekali dengan suasana hati yang sedang horor, supaya sesuai dengan buku yang sedang saya baca baca: 101 Dosa Penulis Pemula.

Cocok sekali bukan? Duduk tengah malam, sendirian, dengan musik horor sambil mambaca buku 101 Dosa Penulis Pemula.

Kenapa saya sampai membaca buku ini?

Jadi kurang lebih setengah jam sebelum ini, saya keluar, berjalan di atas mozaik batako di depan ruko, melewati samping Hotel Santika, berjalan ke pasar, menuju sebuah warung kecil di tikungan jalan, kemudian duduk di sana, sambil menikmati segigit demi segigit roti kacang. Ngobrol dengan pemilik warung yang ternyata dia sama orang Sunda. Nah, di sana kami bicara tentang Tasikmalaya dan kerusuhan yang pernah terjadi di sana, tahun 1996. Bermula dari seorang anak polisi yang suka mengaji di sebuah pesantren. Anak polisi ini mencuri uang milik santri mukim sebesar 130.000. Uang segitu tahun 1996 besar sekali, jadi sangat layak jika kemudian pesantren menghukum anak polisi ini dengan merendamnya di kolam. 

Pulang ke rumah, anak polisi ini melapor kepada bapaknya, maka si bapak marah, tidak terima anaknya dihukum, karena itu dia memanggil beberapa pengurus pesantren supaya datang ke kantornya. Ketika pengurus pesantren datang ke kantor, langsung disambut dengan jambakan dan siksaan, bahkan dimaki-maki dengan kata-kata yang sangat menyakitkan. Penyiksaan itu menyebabkan salah seorang pengurus bernama Ustadz Mahmud mengalami cidera dan dilarikan ke rumah sakit. Berita ini segera tersiar ke seluruh Tasikmalaya, dan malah ada yang menggosipkan Ustadz Mahmud meninggal dunia akibat siksaan di kepolisian. Tentu saja banyak pesantren merasa terpanggol rasa solidaritasnya, mendengar ada salah seorang saudara mereka disiksa kepolisian sampai meninggal. 

Ribuan Massa pun berkumpul di sekitar masjid agung Tasikmalaya, menggelar doa bersama, supaya masalah ini segera terselesaikan secara damai. Dalam acara ini dari pihak kepolisian tampil ke depan, menyampaikan permohonan maaf, dan supaya masalah ini diselesaikan secara baik-baik. Namun tanpa bisa ditahan, sebagian massa ada yang bergerake menuju kantor polisi dan teriak-teriak supaya pihak kepolisian meminta maaf secara terbuka, sementara ribuan massa lain bergerak menuju jalan KH. Zaenal Mustofa mengadakan perusakan dan pembakaran terhadap toko-toko China, Mall, dan gereja-gereja. Keruhan dan pengrusakan terus meluas hingga berpuluh kilometer dari Kota Tasikmalaya, hingga ke Ciawi, batas Tasikmalaya dengan Ciamis.

Baru kerusahan ini mulai bisa diredakan setelah Kiai pemilik pesantren mengumumkan lewat Radio bahwa Ustadz Mahmud belum meninggal, bahkan dia sangat sehat, dan segala berita yang beredar mengenail meninggalnya Ustadz Mahmud, itu hanyalah fitnah.

Begitulah garis besarnya cerita tentang kerusuhan di Tasikmalaya. Tapi, apa hubungan semua ini dengan buku 101 Dosa Penulis Pemula?

Hubungannya ada, yaitu, jika Anda merasa tidak nyaman membaca tulisan saya di atas, ini pasti melanggar satu, dua atau bahkan mungkin, puluhan dosa yang tertulis di buku tersebut.

Related Posts:

ANAK SAYA HILANG

Jika tiba-tiba anak Anda hilang dari rumah, pergi tak tahu ke mana, apa yang Anda rasakan? Apa yang Anda lakukan?

Satu hal saya rasakan: Cemas.

Pulang kampung kebagian mengasuh anak. Ibunya di warung, saya mengasuh di rumah.

Tiba waktu Ashar, saya shalat. Waktu mau shalat, Si Nai memanggil ibunya.

Saya Tanya, apakah mau ke ibu?

Dia jawab, tidak.

Saya pun mulai shalat. Saat mau sujud, karena shalat saya di ruang tamu, menghadap ke kaca ke halaman depan, tampak sekilas kelebatan anak kecil lewat di halaman, menuju ke jalan, dan terus menyusuri jalan raya entah mau ke mana.

Shalat pun jadi gelisah, sambil bertanya-tanya, itu anak mau ke mana. Masih kecil bepergian keluar jauh rumah, masih mengkhawatirkan.

Shalat pun dipercepat, namun tetap dengan memerhatikan bacaan. Dua rakaat, tahiyyat awal, tiga rakaat, empat rakaat, dan beres juga akhirnya. Tanpa Wirid, segera meninggalkan sejadah. Cepat menuju keluar, tampak pintu dari tengah rumah ke dapur terbuka, wah benar dia keluar nih...

Masuk dapur tampak lagi pintu dari dapur ke luar terbuka. Wah, dia benar-benar pergi. Ke mana lagi nih anak? Aduh.


Saya perhatikan sandalnya masih ada, tidak dibawa. Biasanya dia pergi pakai sandal, kenapa sekarang tidak. Padahal ibunya sudah membiasakan, tapi mungkin sekarang sedang malas.

Mau ke mana dia sebenarnya. Masih berbaju koko masih bersarung, saya berjalan tergesa-gesa ke jalan raya,



Mencari barangkali ada main di sana, tapi tak ada,



Terus berjalan, melihat orang di kanan kiri jalan barangkali ada yang bisa saya Tanya. Seorang tukang bakso di depan rumahnya saya sapa dan tanya, apakah melihat anak saya lewat? Dia jawab, tidak. Waduh, ini anak ke mana. Ah mungkin main di si reni teman seusianya, saya cek ke rumah Si Reni, ternyata tidak ada. Balik lagi ke jalan raya, mungkin turun menuju warung ibunya. Saya pun setengah berlari, menuruni jalan curam itu, dan tampak seorang anak sedang duduk, saya sapa, apakah ada Si Nai lewat sini. Anak itu menjawab, tidak ada.

Terus berjalan lagi sampai ke sebuah warung di mana banyak ojek dan para anak muda mangkal, saya Tanya seorang ibu, adakah si Nai lewat. Dia jawab tidak. Wah, ke mana ini anak perginya?

Ini perkampungan berlika-liku, malah ada sawah, pemakaman, kebun, dan hutan.
Sungguh saya cemas, kalau sampai hilang, ke mana saya harus mencari? Ini musibah besar, dan pasti saya yang akan disalah-salahkan. Kenapa dibiarkan pergi? Kenapa waktu shalat pintunya tidak dikunci? Mengurus anak sebentar saja tidak becus!

Waduh ke mana ini anak sebenarnya? Apa dia di rumah ya?

Kemudian saya teringat lagi sandalnya, masih ada di luar, di tepi teras, jangan-jangan ada di dalam.

Ya sepertinya dia di rumah. Dia sudah biasa ke luar pergi menggunakan sandal, jadi tak mungkin sandal dia tinggalkan. Saya pun kembali pulang, lewat samping rumah.
Pas masuk dapur, ke tengah rumah, melongok ke kamar, ternyata dia ada.


Berbaring menyamping. Sudah lelap.


Lega sekali rasanya.

Related Posts:

TENTU SAJA

Aku pergi meninggalkan rumah, ke kota untuk bekerja. Otomatis, istri mengurus anak sendirian di rumah. Sejak pagi membersihkan lantai, mencuci pakaian, memasak, menyiapkan makan, mengantarkannya sekolah, kemudian siangnya, di warung berjualan, mencukil sekeping demi sekeping uang, sambil mengasuh si anak. Adalah wajar jika dia lelah, dan kejengkelan membuatnya lupa, bahwa anak sangat membutuhkan kelapangan dada, kasih-sayang, kelemah-lembutan, dan saya tidak berani menyalahkan, saat tangannya tak tahan, melakukan hal tak diharapkan: menjewer telinganya hingga menangis keras.

Tak lama setelah itu, si anak sakit panas. Cemas luar biasa padahal menjelang malam. Mau ke bidan bingung tak ada ojek bisa mengantar. Semakin malam semakin demam, dan istri saya berharap, semoga malam berlalu cepat. Namun tidak, malam larut si anak tak juga lelap. Dan ketika akhirnya lelap, tengah malam istriku saya terjaga, dibangunkan suara si anak yang bergumam, membaca basmallah, kemudian membaca surat al-ikhlash.

Masih kecil, masih tiga tahun setengah, bangun tengah malam, dalam kesunyian, sedang badannya panas membaca surat Al-Ikhlash, sungguh membuat istriku cemas. Ini kenapa, ada apakah dengan anaknya. Apakah yang bakal terjadi dengannya. Seketika istriku menyesali apa yang sudah dia lakukan.

"Tidurlah Nak!"

"Aku tidak ngantuk."

Sunyi beberapa saat, istri saya biarkan anaknya buka mata.

"Apakah mamah menyayangiku?" tanya si anak tiba-tiba.

Sebuah pertanyaan biasa, namun bagi istri saya yang sedang menyesali apa yangtelah dilakukannya, nada pertanyaan itu seakan menggugat. Maka dia jawab dengan tenggorokan tercekat. "Tentu saja... " sambil memeluknya.

Related Posts:

ANTARA WIRO TORAJA DAN WIRO SABLENG

Dari seorang petani desa karir Wiro melesat ke kota menjadi owner Toko Online Asma Nadia. Lalu diam-diam, dia menyusun rencana menjadi seorang bintang. Sukses memang, beberapa kali wajahnya menjadi sorotan kamera, kamera hapenya sendiri. Berulang kali pula, wajahnya sukses tampil di layar kaca, yaitu layar kaca lap topnya sendiri.

Lain Wiro Toraja, lain pula Wiro Sableng yang diperankan oleh Ken Sukendro atau lebih dikenal dengan panggilan Ken Ken. Jika Wiro Toraja dari seorang petani menanjak jadi seorang bintang tenar--di facebook--Ken Wiro Sableng sebalinya, dari bintang tenar jadi seorang tukang macul. Sang Wiro Sableng kini berprofesi jadi petani.

Sinetron ini sempat populer tahun sembilan puluhan. Dengan setting apik, dan penokohan maksimal, laga lokal ini dengan cepat merebut hati pemirsa. Wajah Ken sebagai Wiro Sableng menjadi sangat familiar. Disukai semua usia. Orang tua sampai anak-anak. Jika minggu datang, acaranya ditunggu sejak pagi.

Setelah beberapa episode, kami dibuat kecewa. Tiba-tiba Ken sang pemeran utama menghilang. Diganti pemeran lain yang, kami rasa kurang pas. Kami tak rela. Kami sama berkomentar, pemeran baru kurang segar. Wajah Ken Ken sudah sangat lekat. Gerakan jurus, aksi kocak, kekar badannya, kami rasa sangat pas. Tak tergantikan.

Ke mana Si Ken ini perginya? Kenapa sutradara mengganti dia? Tega sekali!

Sekian belas tahun tidak tahu kabar beritanya. Kurang baca berita. Baru tahu hari ini, membaca sebuah blog, ternyata Sang Pendekar 212 kini telah berubah. Dari seorang bintang terkenal menjadi seorang tukang macul. Ken kini adalah seorang petani. Aura seorang artis sudah lama pudar, terganti wajah khas bapak-bapak. Rumah megah, mobil mewah, dan karirnya sebagai bintang terkenal lama dia tinggalkan.

Apa yang terjadi sampai semuanya berubah?

Diwawancarai di balai-balai rumahnya, Ken buka rahasia. Jadi ceritanya, setelah sukses dengan perannya sebagai Wiro Sableng, hidup Ken berlimpahan uang. Kekayaan melimpah diraupnya. Dia beli rumah megah dan mobil mewah. Sebagai orang kota, dia pun tak lepas dari gemerlap malam. Sering main ke kafe-kafe dan bar.

Saat di bar inilah, Ken luluh dengan tawaran temannya mencoba narkoba. Tak dinyana setelah itu ketagihan. Mahalnya obat-obatan membuat keuangan Ken boros. Dan saat kecanduannya ketahuan, produser tak mau lagi memakainya. Itulah awal karirnya meredut. Namun diungkapkannya, dengan kehidupan bertani seperti sekarang, dia merasa lebih tenteram.

Related Posts:

"MENGAPA SUKA NULIS TENTANG AKU, APA KELEBIHANKU?" TANYA WIRO

Terinspirasi kesuksesan MENGEJAR-NGEJAR MIMPI yang ditulis Dedi Padiku, seorang Sulawesi, saya ingin menulis tentang Orang Sulawesi.

Tapi siapa yang mau saya tulis?

Dulu ada film, "Di Sini Ada...."

Nah, sekarang pun saya berkata, "Di Sini Ada Wiro", tidak perlu jauh, saya tulis saja apapun dari Wiro.

Maka menjelang malam,

"Inspirasi  apa yang kamu dapat hari ini sehingga kamu mendapatkan pencerahan?" tanya saya kepada Wiro setelah orang-orang pulang. Setelah kantor sepi, kami bisa terlibat percakapan serius tentang renungan-renungan yang mencerahkan, baik itu yang didapat dari bacaan, atau dari pengalaman keseharian.

"Apa ya? semuanya." ucap Wiro tidak jelas.

"Bagus! Sip!"  Ya memang segala hal di sekeliling kita bisa menjadi bahan renungan buat pencerahan. Tapi di antara segala hal yang mengpirasi kamu, mungkin ada yang membuatmu sangat berkesan."

Sepertinya pertanyaan saya terlalu berat, sampai-sampai Wiro menyandarkan badannya ke kursi, matanya melihat ke atas, memikirkan sesuatu, mengingat-ingat, inspirasi apa yang sangat membuatnya terkesan, "Apa ya?", masih juga belum dia temukan, sampai akhirnya, "Belum bisa menjawab sekarang."

Dekat tengah malam perbincangan berlanjut.

"Kenapa sih Dan kamu suka nulis tentang gue? Apa sih kelebihan gue?" tanya Wiro BR, merasa dirinya hebat karena selalu saya tulis.

Kalian tidak perlu mengoreksi tulisan saya. Itu memang sengaja saya ditulis BR, karena Wiro seperti ayam BR, berkembang cepat membesar, begitu juga perasasaannya, membesar cepat, tapi saya tidak rela dia bahagia, maka jawab saya,

"Kelebihah kamu adalah tidak punya kelebihan!"

"Wdduss!!!" umpat Wiro,

Tapi dalam tulisan ini saya jujur, memang ada dua alasan kenapa saya suka menceritakan Wiro dalam tulisan saya. Pertama. sebab menulis tentangnya aman. Tidak merasa terancam. Buruknya, baiknya, menyenangkan, menyebalkan, dan segala perasaan saya tentang dia apakah baik atau buruk, saya mau nyebut dia keren atau bahkan menyebutnya bikin muntah, BEBAS.

Karena memang dengan cara itulah idealnya kisah orang ditulis. Harus lengkap, lebihnya, kurangnya, pasnya, harus ada. Karena seperti kopi, takkan gurih jika dia tanpa pahit. Takkan wangi jika rasa cuma manis. Jangan hanya plusnya, minusnya pun mesti ada. Dengan cara itu, maka seorang manusia tampak jelas seabagai manusia.

Jangan seperti sebagian orang. Ada yang, saat ditulis kisah hidupnya, dia ingin jadi malaikat, yang nihil alfa, yang kosong salah. Dia ingin mengangkat nama, maka dia mau, yang ditulis prestasinya saja, kehebatannya. Tidak bisa. Alberthiene Endah, penulis profesional, tidak mau menggarap biografi orang semacam itu. Menurutnya, tidak ada manusia sempurna. Justru ketidaksempurnaan seseorang itulah ciri sempurnanya sebuah cerita.

Itu alasan pertama. Alasan berikutnya, karena Wiro kaya. Dia banyak pengalaman. Hidup di Sulawesi, sebuah pulau yang lebih besar dari Jawa, namun tingkat kerusakan alam lebih kecil, maka Wiro adalah manusia produk alam. Dia menghirup nafas perawan Toraja, bergelut dengan tanah pertanian di Sinjai, dan pernah berjalan ratusan kilometer sampai berminggu-minggu demi supaya bisa meneruskan sekolah. Menurut saya, manusia dengan pengalaman semacam ini termasuk langka.

Andrea Hirata saja sampai membangga-banggakan Lintang di Laskar Pelanginya, padahal Lintang hanya berjalan 40 km. Ini Wiro sampai berjalan ratusan kilometer, dengan waktu berminggu-minggu, melewati hutan belantara, berkelok-kelok, berliku-liku, sekali luas sekali sempit, dan yang mengerikan, dia harus menyeberangi sungai luas tanpa jembatan, harus turun, maka sepanjang perjalanan menyeberang, dia tengadah ke atas, sebab tunduk melihat ke bawah, kepala rasanya berputar melihat arus air. Benar-benar pengalaman mengerikan. Maka kehidupan Wiro---menurut saya---lebih layak buat ditulis.

Related Posts:

Supaya Bahagia Harus Taat Pada Atasan

Supaya bahagia Anda harus menjadi orang yang taat. Siapa yang harus ditaati?
Dasarnya Al-Qur'an
Prioritas utama adalah Allah
Kemudian Rasul-Nya, kemudian Ulil Amri Minkum
Siapa Ulil Amri Minkum

Biasanya orang mengartikannya dengan pemimpin
Merujuk asal katanya, ulil berarti yang mempunyai, amri artinya urusan, minkum artinya dari kamu.

Jika diartikan secara bebas berarti yang memegang urusan kamu. Yang menjadi pemegang urusan kita. Kalau di kampung berarti kepala kampung, kalau di perusahaan berarti pemimpin perusahaan.

Jika kerja dalam sebuah perusahaan, maka prioritas terpenting adalah, taat kepada pemimpin perusahaan.

Saya ada kepentingan, pemimpin perusahaan ada kepentingan. Jika kedua kepentingan ini bentrok, siapa yang harus didahulukan?

Kepentingan pemimpin perusahaan.

Ini bukan berarti kita harus menyanjung-nyanjung atasan, menjadi atasan seolah segala-galanya!

Ini urusan perintah Allah, dan apa yang diperintahkan Allah dalam A-Qur'an itu jalan kebahagiaan.

Seperti saya sekarang, di sini, di tempat kerja saya. Saya punya kepentingan. yaitu menyusun tulisan, menyusun buku saya sendiri. Atasan saya juga punya kepentingan, menyusun tulisan dari twitternya. Mana yang harus saya pentingkan?

Jika ingin bahagia, saya harus mementingkan kepentingan atasan saya.

Nyaris dua bulan perintah itu dibebankan kepada saya, tapi belum saya selesaikan barang satu lembar pun. Dari hari ke hari rasanya gelisah, takut ditanya, mana hasilnya?

Dan ketika saya tidak bisa memperlihatkan kerja tidak memuaskan, pasti omelan akan datang kepada saya, maka saya tidak bahagia. Sebaliknya, jika tugasnya saya laksanakan, dengan fokus, dengan tekun, dengan cepat, hingga tugas itu selesai dalam waktu singkat, kemudian saya menyerahkan hasil kerja memuaskan, maka ketika dia puas dengan hasil pekerjaan saya, saya pun akan puas dengan kepuasannya, ketika dia mengembangkan senyuman, senyuman saya pun pasti akan mengembang, saya akan tetap tenteram kerja di sini, keuangan perbulan akan tetap lancar, dan tetap bisa menghidupi keluarga. Intinya, ketika saya taat kepada atasan, saya akan bahagia.

Related Posts:

MANUSIA MENIKAH DENGAN KANCIL MELAHIRKAN KEPITING

Waktu Wiro masih di Toraja, ketika jabatannya masih pengacara, alias pengangguran banyak acara, dan kerjanya kebanyaan facebookan meski dompetnya boke, tiba-tiba sebuha inspirasi judul cerita menggedor kepalanya.

"MANUSIA MENIKAH DENGAN KANCIL MELAHIRKAN KEPITING"  sebuah judul yang luar biasa. Benar-benar judul emas. Siapa pun mendengar pasti penasaran.

Dasar orang katro so selebritis, judul itu Wiro umumkan Komunitas Bisa Menulis, tapi ceritanya dia tahan. Dia umumkan, baru akan menggarap ceritanya setelah mendapatkan seratus like.

Selagi like berdatangan, hati Wiro meratap, haduuuh, semoga jangan sampai mendapatkan seratus like, sebab sebenarnya, dia belum tahu, dengan judul itu dia mau menceritakan apa. Dan menyenangkan, like-nya kurang seratus. Wiro senang, Wiro tenang, tak harus kerepotan menyusun cerita.

Berikutnya, dia kembali kepada kesibukan tidak jelasnya, jualan petasan, bolak-balik kebun buat nyiram timun, dan aktifitas terpentingnya adalah memakai sarung, telanjang dada, diam di kamar, pencet-pencet hape butut, posting tulisan di Komunitas Bisa Menulis. Dengan hape penuh keterbatasan itu berusaha menulis cerita, pendek-pendek saja. Apakah dia menulis cerita MANUSIA MENIKAH DENGAN KANCIL MELAHIRKAN KEPITING? Tidak, judul itu entah sudah ke mana, lenyap dari rencana.

Bosan di Toraja, Wiro pindah ke Sinjai,  tinggal di rumah kakaknya. Baru di sini dia kerja, miara ayam. Agar si ayam cepat bertelur, Wiro buat ayam itu kumpul kebo--meski sebenarnya ini aneh, kumpul ayam kok jadi kumpul kebo--dia kurung ayam betina dengan ayam jago, setelah dikira kawin, dia lepaskan lagi sambil terus menunggu ayam itu bertelur. Satu hari belum bertelur, dua hari belum, tiga hari belum juga. Wiro heran, jangan-jangan telurnya dibuang sembarangan. Dia cari ke kebun belakang, ke depan rumah, ke samping, ke kebun orang, ke mana-mana, telurnya tak ada. Ternyata memang ayam itu belum bertelur. Sabar dia terus menunggu ayamnya bertelur, sampai si ayam benar-benar bertelur,

Selain mengurus ayam, Wiro pun mengurus kebun, menanam cabe, menyemai timun. Enam bulan bertani, beberapa kali panen, terkumpul hasil enam ratus ribu rupiah. Dari rumah kakaknya, dia sering keluyuran, berhari-hari tinggal di rumah temannya, facebookan, posting-posting tulisan, menyusun cerita, dan apakah dia menulis cerita MANUSIA MENIKAH DENGAN KANCIL MELAHIRKAN KEPITING? Bukan, ide tulisan itu sudah dia lupakan.

Karena sering keluyuran, kakaknya tak suka, dan rasa tidak suka si kakak perlihatkan dalam sikap dan kata-kata. Wiro mengerti, maka dia pergi, ke Kota Makassar, menemui adiknya yang sedang kuliah sambil kerja, kemudian numpang tinggal di sana, sebagai pengangguran yang siang dan malamnya hanya habis buat main handphone, facebookan. Setiap adiknya pulang kerja, tangannnya menadah, "Dua ribu!" buat rokok.

Hingga suatu malam, tengah malam, pemilik sebuah penerbitan menanyakan kepadanya, apakah sedang membutuhkan kerja? Wiro menjawab, sedang butuh, tentu saja. Maka pemilik penerbitan itu memintanya datang ke Jakarta. Wiro pun terbang sampai di Jakarta dan betapa kesalnya dia karena ternyata Jakarta itu kota besar dengan tingkat kerumitan jalan luar biasa. Sampai tiga ratus ribu dia habiskan uang buat taksi untuk sampai di penerbitan buku, dan mulailah kerja.

Nama Perusahaan ini adalah PT. Asma Nadia yang dipimpin oleh Pak Isa, pemilik grup Komunitas Bisa Menulis yang selama ini jadi tempatnya berbagi cerita. Di sini, impian besarnya menjadi penulis dia wujudkan. Bersama teman facebooknya yang lain, dia susun kumpulan cerita koplak, masuk cetak, dan terbit. Dan sampai di sini, pastinya Anda bertanya, apakah bukunya yang terbit ini berjudul MANUSIA DAN KANCIL MELAHIRKAN KEPITING? Ternyata bukan, sepertinya judul itu sudah benar-benar dia lupakan. Benar-benar dia lupakan.

Terus bukunya yang terbit ini judulnya apa?

YAO-YAO-LALA, begitu nama judul bukunya yang terbit itu. Awal mula bukunya keluar, cukup menghebohkan juga. Banyak orang penasaran, kemudian membelinya. Endorsmen pun berdatangan, "Buku apaan yang kayak gini, kagak ada lucu-lucunya?" kata Pak Isa Alamsyah. "Wah bahaya nih, istri gue sedang hamil, jangan sampai dia liat buku ini, " kata Pak Aeron Tomino, adik Mbak Asma Nadia. "Entar gue beli buku kamu, setelah rupiah turun" kata Ardhan Kamal. "Saya mau difoto bersama buku kamu, asal wajah saya diburemin." ujar Dana.

Mendengar berbagai komentar itu, Wiro hanya mengurut dada. Dia berusaha sabar, dan impian besarnya ingin jadi penulis hebat tak pernah padam. Karena itu, buat mengasah keterampilannya menulis, dia membaca buku 101 dosa penulis pemula, karya Pak Isa Alamsyah. Kemudian, dalam buku itu dia membaca, dosa ke-43 seorang penulis pemula adalah, MEMAKSAKAN HAPPY ENDING, penulis pemula seringkali terjerat pemikiran bahwa semua cerita itu harus berakhir bahagia, padahal tidak seharusnya demikian. Tidak semua cerita harus berakhir bahagia. Cerita berakhir duka malah seringkali lebih mengesankan buat pembaca. Misalnya cerpen CINTA BEGITU SENJA karya ASMA NADIA, ketika editor berkebangsaan Amerika membaca, dia mengungkapkan, setelah membaca itu hatinya terasa suram. Sedih, oh betapa sedihnya.  Wiro sangat terkesan, kemudian menjadi penasaran kepada kisah CINTA BEGITU SENJA, dan menanyakan kepada temannya, di manakah cerita itu berada.

Temannya menjawab, "Di buku Emak Ingin Naik Haji,"

Beruntung sekali buku itu ada, Wiro membukanya, dan mulai membaca. Ternyata SENJA pada judul cerita itu merupakan nama tokohnya. Seketika itulah Wiro teringat kepada judul karya dia yang sudah tenggelam dimakan lupa:
MANUSIA MENIKAH DENGAN KANCIL MELAHIRKAN KEPITING.

Mendengar judul itu, si teman penasaran, "Hah? Itu bagaimana ceritanya?"

"Jadi, ada seorang pria bernama MANUSIA, menikah dengan wanita bernama KANCIL, nah anaknya diberi nama KEPITING."

Related Posts: