Alasan Saya Berani Menulis Tentang Kesehatan

Saya sempat ragu ketika ingin menulis tentang kesehatan.  Soalnya penampilan saya sendiri tidak menunjukkan orang sehat. Saya kurus, tinggi. Ketika coba berdiri di atas kiloan, berat dan tinggi badan tidak proporsional. Gaya saya juga terkesan loyo, letoy, jarang tampak semangat.

Jadi ketika saya bicara tentang kesehatan, mana mau orang lain mendengar, paling juga mereka mentertawakan.

Namun sekarang saya melihat, justru di sini tantangannya. Saya punya penampilan kurang sehat. Maka saya bisa berusaha  membuat penampilan tampak lebih sehat. Banyak pengetahuan, tontonan, bacaan, akses internet, buku-buku tentang kesehatan. Dan dalam pencarian dan usaha inilah saya bisa menuliskan catatan harian saya.

Baik, dalam tulisan ini saya akan langsung berbicara tentang kesehatan. Salah satu faktor penunjang kesehatan adalah olah raga. Ini inpirasi kesehatan pertama yang datang ke dalam pikirans aya. Dan salah satu olah raga yang sangat saya sarankan di sini adalah catur. 

Kenapa catur?

Dulu, saya sempat tidak mengerti, kenapa catur dimasukkan dalam olah raga dalam kejuaraan Pekan Olahraga Nasional. Saya protes, olah raga apanya? Cuma duduk saja, diam, memindah-mindahkan benda sebesar jari itu dari satu bidak ke bidak lain. Sekarang baru mengerti, sebenarnya catur itulah olah raga yang benar-benar olah raga. Tenaga yang dibutuhkan orang buat olah raga catur lebih besar dari yang dibutuh olah raga lainnya. Kenapa? Karena dalam catur, orang harus angkat beban. Bayangkan saja, seorang pecatur harus mengangkat anak, jangan malas mengangkat kuncung, dia harus bisa mengangkat perdanamenteri ke sana ke mari, mengangkat raja, mengangkat kuda, bahkan, dia harus bisa mengangkat benteng!

Benar-benar angkat beban yang luar biasa. Dan ini bagus. Seperti dikatakan Deddy Corbuzier dalam bukunya, OCD, untuk membangun tubuh, olah raga yang sangat disarankan adalah angkat beban. Semakin berat beban semakin bagus!

Maaf, ini candaan basi!

Tapi soal angkat beban, saya serius. Olah raga angkat beban itu bagus. Jadi, ketika ada pekerjaan berupa angkat beban, itu jangan pernah sungkan. Itu bagus buat membangun tubuh. Sebagaimana diketahui bersama, tumbuhnya otot itu jika digunakan. Ketika tidak digunakan dia akan mengecil. 

Related Posts:

Belajar Lagi dari Andrea Hirata

Tulisan ini ingin kembali mengajak Anda belajar, kepada Andrea Hirata.

Kita terbiasa mau enaknya. Jadi penulis, maunya langsung bisa. Dengan terus menulis, kemudian ingin jadi penulis hebat, dengan karya laris, MELEDUG di pasaran!!

Dan orang seperti itu, setahu saya ada tiga orang, yaitu: Saya, Saya, dan seorang lagi adalah Saya.

Dengan banyak menulis saya mengira, saya akan melahirkan karya hebat.

Produktif mungkin iya, bisa menghasilkan tulisan banyak, tapi tulisan banyak itu menumpuk, tidak berguna, jadi sampah!

Sebenarnya kurang tega menyebut sampah. Tapi begitu nyatanya, tulisan-tulisan tak berguna. Tumpukan tak berguna itu kan bahasa lain dari Sam....

Untuk menghasilkan karya hebat, berkualitas, manfaat, mengena, sampai ke hati pembaca, maaf-maaf saja, banyak nulis bukan caranya. 

Para penulis hebat yang sekarang karyanya dicinta, terus ditunggu pembaca, ternyata, mereka tidak hebat dengan banyak menulis. 

Mereka, menjadi hebat dengan banyak membaca. 

Itulah yang mereka nasihatkan. 

Dari seorang yang sedang trend saja, Andrea Hirata, saya mendapatkan pelajaran, harus banyak baca. Beberapa kali menyaksikan talkshownya, juga membaca artikel yang meliput kegiatannya, yang selalu dia tekankan, jika ingin jadi penulis, dalam arti sebenarnya penulis, seseorang harus banyak membaca. 

Pada tulisan sebelumnya--kalau Anda membaca--saya pernah cerita, Feris pemeran mahar pernah curhat kepada Andrea Hirata, ingin jadi penulis katana. Maka Andrea Hirata menanyakan kesanggupannya, bisakah dalam seminggu menghabiskan 3 novel? Fersi menjawab, jangankan 3 novel, 6 novel dia bisa. 

Saya kira itu percakapan selewat, namun rupanya tidak. Itu, ternyata rahasia sukses menulis Andrea Hirata. Di mana pun dia ditanya, selalu jawabannya begitu, BANYAK MEMBACA. 

"Saya berkomitmen menghabiskan tiga novel setiap minggu."

Riset, begitu dia menyebut. 

Dia menyebut membaca sebagai RISET.

"Banyak penulis muda menghabiskan demikian banyak waktu, 90% waktu untuk menulis, hanya 10% untuk riset. Coba itu dibalik. Sepuluh persen untuk menulis, sembilan puluh persen riset.  Karena saya menerapkan itu, saya menggunakan 10% waktu saya untuk menulis, dan 90% untuk riset. Jadi ketika duduk, saya sudah tahu apa yang harus saya lakukan. Saya tidak mereka-reka lagi karakter ini akan diapakan, gimana dia akan bagaimana ketika saya menulis, karena sudah selesai duluan." 

Related Posts:

Bagi Kami, Kost Sangat Menakutkan

Dari lantai tiga, turun ke lantai dua, ruangan Wasi, saya hidung "mancung" saya mencium bau minyak wangi non alkohol. Hari-hari ini Wasi menggunakannya. Hebat, saya salut padanya, memakai wangi-wangian memang bagian dari ajaran agama, dan sekarang Wasi jadi bau "Para Ulama".

Mungkin Wasi pakai misik, saya pernah mencium wangi seperti ini, dulu, waktu kecil dari Mang Haji setiap kali dia pake sarung dan baju koko mau ke mesjid.

Dini hari ini, saya rasakan badan saya meriang. Mau sakit, aduh bagaimana ini menghadapinya. Saya tidak mau lagi mengalami sakit. Payah, ini kampung orang. Tak orang mengurus, tidak juga menyediakan makan.

Buat penyembuhan, hari ini saya akan mencoba puasa tanpa sahur kecuali air dan kurma. Saya pernah baca sebuah saran dari ahli pengobatan, jika sakit jangan makan. Makan pada saat sakit sama saja dengan memberi makan penyakit. Saat sakit harusnya berpuasa. Kata-kata itu saya dapatkan dari Deddy Corbuzier dalam buku OCD-nya.

Kurma pun saya ambil dari lemari, kurma yang sudah lama. Supaya steril, saya rebus beberapa saat, kemudian angkat dan piringkan. Membawanya ke meja kerja, satu persatu saya makan. Namun, setelah beberapa butir saya kunyah, mata menangkap warna asing pada itu kurma, bercak putih seperti jamur. Waduh, kurma ini sudah jamuran. Berbahayakah atau tidak ya? Tadinya saya harap makan kurma ini menjadi semacam pengobatan, karena orang lain sampai ada yang membuat sari kurma dan menjualnya sebagai obat. Tapi ini, saya malah makan kurma jamuran, apakah bisa jadi obat juga atau sebaliknya. Karena sayang, kurma jamuran ini saya habiskan.

Sampai di sini saya kembali sadar, waduh, jika hanya makan kurma jamuran, mana mungkin saya kuat, jangan-jangan perut malah dapat masalah. Sepertinya harus makan nasi juga. Tetap harus membeli lontong ke pasar. Ah, kalau begitu, berarti rencana sahur tanpa makan makanan pokok batal. Saya tetap makan nasi karena cemas.

*   *   *

Pagi ditidurkan, siang bangun badan lumayan segar. Mandi kemudian beberapa menit kerja, ngantuk datang, kepala pening, badan meriang. Saya tinggalkan komputer masuk kamar, kemudian Wiro melihat. Dia pegang kening saya, oh begitu perhatiannya dia. Terima kasih Wiro, tapi ucapan dia setelahnya,

"Wah ini harus masuk kost!!!" teriaknya.

"Sialan Kamu Wir!" umpat saya.

Sakit, kost, dua kata itu, bagi kami sangat menakutkan. 

Bagi saya, begitu pula bagi Wiro.

Seperti dua malam kemarin Wiro yang terbaring lemah di kursi dekat dispenser, kemudian pindah ke kamar. Suaranya lesu, badannya lemah. Dia katakan, kepalanya sakit. Masuk jam kerja malam, Wiro masih terbaring lemah. Handphonenya bunyi, saya angkat. 

Pak Isa memanggil.

Saya sampaikan kepada Pak Isa Wiro sedang sakit.


Mendengar itu, buru-buru Wiro bangun dan mengirim SMS kepada Pak Isa, 


"Saya siap Pak!"

"Wiro," ucap saya, "Padahal gak papa Wir, kalau sakit ya terus terang saja. Biar nanti saya sampaikan kepada Pak Isa, supaya segera dicarikan kost!"

"TIDAAAAAKKKKKKKK!!!!" teriak Wiro yang masih tampak kusut, baru bangun tidur.

Eh sekarang malah saya yang meriang!

Wah tidak!

Sakit di tempat kerja seperti sini tak hanya sakit, tapi bisa sangat menyakitkan. Dan semakin kata itu menakutkan ketika disertai dengan kata "kost".

Nanti akan saya ceritakan, kenapa kata bagi kami Kost sangat menakutkan.

*   *   *

Bangun tidur badan segar. Sehat, meriang hilang, tidak lagi sakit kepala.

Bahagia.

Ya Allah, terima kasih ya Allah, terima kasih sudah mengasihani saya ya Allah. Terim kasih memberi kebahagiaan kepada saya Ya Allah.

Dan saya mendapatkan pelajaran.

Istirahat, itu sepertinya cara termudah penyembuhan badan. Begitu juga puasa yang saya jalankan, pasti ini mendukung pula proses penyembuhan. Maha Suci Allah. Maha Suci Allah.

Related Posts:

Buku Novel "Rindu Maryam"

Kota di waktu siang, panas. Orang-orang termasuk saya, lebih suka tinggal di dalam, kerja sepanjang siang, pagi hingga sore, dan baru keluar, malam hari, setelah jam sembilan. Kehidupan malam lebih dinikmati orang kota daripada siang, seperti di sini, lingkungan kerja saya, kehidupan malam lebih indah dari pada siang. Awal malam, yang semarak adalah pinggiran jalan, oleh pedagang kaki lima, dengan gerai-gerai dan jualannya, ayam goreng, pecel lele, cah kangkung, nasi goreng, atau mpek-mpek.

Tapi yang paling menarik hati saya, adalah pasar. Ke sanalah saya biasanya jika malam, bersantai di warung gorengan, jajan, sambil santai membaca. Bersama novel atau bacaan apa saja, bersama benda-benda itu bersantai saya rasakan lengkap. Di tengah keramaian pasar, dan mobil sayur yang mulai berdatangan, dan beberapa orang yang menurutnkan buah, juga umbi-umbian, juga suara dangdut dari sana-sini, saya rasakan kenyamanan membaca.

*   *   *

Tangan mungil itu menyerahkan buku, novel yang pernah saya pinta seminggu lewat, yang saat itu dia tahan, dengan alasan, saya harus menyelesaikan editan. Sekarang, dia tahu editan itu selesai, novel pun dia bawa dari rumahnya dan berikan, sore hari, beberapa menit menjelang berbuka puasa. 

Terima kasih, hanya itu ucapan saya, diakhiri suku kata, dari panggilan namanya.

Adzan berkumandang, waktunya berbuka. Sendok demi sendok sirup saya suapkan, dari mangkuk kecil, di atas meja kaca bening, di kursi samping dispenser, buku itu saya pegang, buat dibaca namun, terhenti saat melihat sampulnya. Sangat lunak. Saya periksa, ternyata lucu sekali. Ini bukan sampul biasa. Dibuat dari segelnya. Cukup merobek beberapa bagian pinggir, kemudian, melipatnya ke dalam cover, dan me-lem-nya dengan solasiban. 

Kreatif! Kreatif sekali! Kreatif luar biasa. Memanfaatkan yang ada.

Tapi lama-lama saya perhatikan, pikiran menyimpulkan lain. Ini trik seorang pemalas. Malas cari sampul bagus, pakai saja plastik segel, dan malasnya makin ketahuan, saat saya tengok bagian belakangnya, masih terdapat bandrol "Buku Murah....Rp. 20.000". Bagi si buku, sungguh ini menurunkan martabat. Buku begini bagusnya dihargai murah. Saya selami perasaanya, pasti sudah lama segel itu ingin dia lepas. Saat dulu pindah tangan, dari toko ke tangan orang ini, dia gembira, sebab berharap, label murah itu, yang menjatuhkan harga dirinya, akan segera dilepas. Namun harapannya hampa. Entah berapa lama, sejak buku ini dibeli sampai sekarang, masih juga bandrol itu tertempel, di belakangnya, tumpang tindih dengan bandrol harga aslinya yang cukup mahal.

Mencari suasana bagus, saya tidak membacanya di ruang kerja. Jam sembilan malam, ke luar menuju pasar. Kemarau nan indah, langit Depok hitam kelam, sambil berjalan menuju pasar, saya tengadah, di sebelah barat bulan sepasi terang, bertabur bintang, ada dua biji, hehe. 

Masuk pasar, menuju warung tikungan, yang di depannya sampah sering teronggok. Selalu ramai orang-orang. Setelah mengambil lontong, saya duduk kursi kursi kayu panjang yang sudah berkilauan karena sering dipegang dan kena pantat. Mulai membaca. 

Novel yang sangat indah ternyata! Kalimatnya tak biasa. Lembut mendayu-dayu, seperti lagu Malaysia atau, seperti tuturan seorang darwis. Nuansa sufistik nan religi saya rasakan di setiap halaman. Rindu Mariam, begitu bunyi judulnya, terpapar dalam untaian kata-kata penuh perasaan--perasaan cinta--dari seorang hamba kepada Rabb-nya. 

"Karena cahaya hanya akan dilihat jika saja dia berada di dalam gelap. Sementara, Tuhan teramat agung dengan seluruh rahasia-Nya. Dan biarkan hidupku berkelindan dalam rahasia-Nya..."

Penuh rindu dan cinta.

Dan, nuansa rindu itu, semakin menghanyutkan tatkala mengalun musik qasidah. Seakan menjadi backsound kisah sufistik ini. Qasidah gambus, dengan iringan sitar--alat musik gemuk nan lucu namun bersuara merdu itu, berdenting-denting membawa saya kepada suasana tengah malam, ke sebuah rumah di lembah, di antara bukit bebatuan di timur tengah. Indosiar sedang mengadakan lomba qasidah.

*   *   *

Pasar, malam, buku, kota, enam bulan ini menjadi hari-hari saya.

Related Posts:

Mulut Bocor

Frekwensi menulis saya sekarang tidak seproduktif dulu. Dulu sehari bisa sampai sepuluh tulisan. Meski manfaatnya tak ada, tapi, banyak menulis, terasa sebuah pencapaian juga. Sekarang tidak, buat setengah lembar pun rasanya lambat. Ini dia alasannya:

Banyak pertimbangan.

Banyak hal terpikirkan sebelum mulai menulis dan mempostingnya. Kadang saya menulis, tapi disimpan saja, tidak saya posting ke blog atau sosial media.

Banyak hal saya takutkan.

Sebelumnya, apapun keluhan, terang-terangan saya ungkapkan. Tidak pernah takut, terbuka, dan tidak pernah peduli apa pun komentar orang. Sebab saat itu, sebagian besar teman social media saya jauh.

Sekarang, nyaris semua teman sekeliling orang social media. Jadi apapun postingan saya akan mereka baca. Setelah saya dapat masalah, pasti mereka sedikit menyelidiki tindak-tanduk saya, adakah yang berubah, mereka dengarkan juga kata-kata saya, bagaimana nadanya, dan saya kira, melalui social media, mereka pun baca juga status terbaru saya, karena mereka penasaran, bagaimana tanggapan saya terhadap kejadian yang baru saja menimpa saya.

Benar, terhadap kejadian itu banyak hal yang ingin saya ungkapkan, namun, karena itu tadi, banyak pertimbangan, dan banyak hal saya takutkan, seringkali ungkapan itu saya tahan, dan, saya kira lebih baik saya tahan, karena jika tidak, saya yang sudah terlanjur parah banyak bicara, bisa lebih parah lagi jika masalah batin saya bicarakan juga.

Seperti kata Tasya dalam Sinetron Sakinah Bersamamu, tidak semua hal layak dibicarakan:

"...Denger ya Tia, gak semua orang bisa terima mulut bocor Lo!"

"Mulut bocor yang kayak gimana ya? Kayaknya gue ngomong apa adanya deh."

"Iya, apa adanya sampai gak ada isinya." tukas Aisyah sambil pergi.

Karenanya, lebih baik dipendam. Atau menuliskannya, cuma buat saya sembunyikan. Bukan, ini bukan menyimpan dendam. Katakanlah ini upaya mengubur bara, biar jadi arang.

Related Posts:

Katro Stadium 4, Akibat Malas Membaca

Katro, alias norak, alis udik, alias kampungan, alias blo-on, sebagian sebabnya karena malas membaca. 

Bukan orang lain, ini terjadi pada saya.

Katro stadium 4, kira-kira, itulah sebutan yang pantas buat saya. Berhari-hari cairan detol itu tersedia di kamar mandi, masih saja saya gunakan sabun yang tinggal sebesar lidah kucing. Susah payah sabun itu saya gosok-gosokkan dengan kedua tangan, demi mendapatkan busanya, kemudian, entah daya bersihnya masih ada atau tidak, sabun itu saya gosokkan ke badan. Habis mandi, beres. Punya nama baik: Sudah Mandi.

Iya, sudah mandi itu nama baik. Sebab jika sebaliknya, belum mandi, itu aib. 

"Mandi dulu Wir!!" 

Atau pernah, waktu Emak duduk dekat saya, dan saya mengeluh kepadanya mengedit rasanya lelah dan ngantuk luar biasa, dia sarankan supaya saya mandi.


Hina bener orang belum mandi. 

Maka biar asal-asalan, biar dengan sabun sebesar lidah kucing, bahkan seringkali dengan deterjen pencuci baju atau deterjen pencuci piring, saya selalu berusaha mandi. 


Kembali ke cairan detol yang ada di kamar mandi, baru pagi tadi saya baca keterangan pada botolnya, "Bodywash", setatahu saya, itu tanda ini pembersih badan, sebab kata itu sering saya baca pula, di kemasan sabun cair lifebuoy, atau biore. Botol ini atasan saya sediakan di kamar mandi, biar digunakan, sungguh menyenangkan, jadi tak perlu lagi mikir beli sabun, sudah ada sabun gratisan, hehe....

...dan yang lebih menyenangkan, ukuran botol ini besar, jadi rasanya tenang, karena pasti tahan lama. Saya ingin berterima kasih pada atasan saya, tapi jika ini saya sampaikan, khawatir salah, keinginan itu saya tahan. Biar di tulisan ini saja saya menyampaikannya, terima kasih Pak!

Dari kerjadian ini, saya coba mengambil pelajaran.

Kenapa saya sampai sekatro ini? Sekian lama sabun cair di kamar mandi, kenapa masih saja saya gunakan sabun murahan?

Malas membaca, itulah sebabnya.

Inilah bukti nyata malas membaca bisa jadi sebab serius ke-katro-an seseorang. Dan sekarang, nyata-nyata terjadi pada saya.

Sebelum membaca keterangan di botolnya, saya mengira itu cuma sabun cuci tangan. Sekian lama pun terbiarkan. Saya kira Wiro begitu juga, meski sabunnnya sendiri sudah sebesar sendok bubur ayam, meski botol ini dia lihat setiap mandi, pasti sama dengan saya, karena dia pun malas membaca, sabun itu dia biarkan.

Sekarang saya jadi curiga, jangan-jangan, malas baca pun merupakan penyebab katro-katron lainnya.

Related Posts:

Rahasia Lihai Menulis Andrea Hirata

Feris, pemeran Mahar di film Laskar Pelangi pernah bertanya kepada Andrea Hirata, "Pak Cik, saya ingin jadi penulis."

Andrea Hirata menjawab, "Kalau begitu, kamu harus bisa menyelesaikan tiga novel dalam seminggu."

Jawab Feris, "Jangankan tiga novel, enam novel saya sanggup selesaikan."

Banyak membaca, banyak membaca, banyak membaca, itu yang terpenting, dan hanya itu yang terpenting, jika ingin menghasilkan tulisan memikat berkualitas. Novel apa saja, buku apa saja, dengan banyak membaca, pikiran kita akan tercetak dengan penalaran cerita. Dengan banyak membaca, kita akan tahu cerita bagus itu seperti apa. Dengan banyak membaca, benak kita akan penuh dengan kosa-kata, yang karenanya, ketika ingin mengungkapkan sebuah cerita, maka takkan pernah kesulitan mencari kata-kata untuk mengungkapkannya. 

Itu saja jawaban Andrea Hirata kepada "Mahar" yang kini sudah tiada. Simple, tapi sebenarnya, itulah kunci rahasianya. Andrea Hirata, kenapa tulisan-tulisannya begitu berkulitas, indah, dan kaya, karena dia banyak membaca. Banyak membaca banyak membaca, banyak membaca, banyak membaca, dan hanyalah banyak membaca.

Barusan saya ke toko buku, sedang ada obralan buku, Banyak novel murah, tapi berkualitas. Saya beli saja. Kalau tidak beli, suka menyesal. Sudah beberapa hari obralan ini di Gramedia, mula-mula saya menemukannya, saya pegang saja tidak saya beli, eh ternyata sebagian teman social media ada yang menanyakannya, dan ketika saya kembali ke sana, ternyata sudah tidak ada, sudah ada orang yang membelinya, menyesal, menyesal, menyesal, kenapa kemarin kemarin tidak langsung membelinya, kenapa dah ahahahahhahahhhhh aaahhhhhh,.....

Itulah sebabnya tadi, ada novel dan buku bagus, saya langsung mengambilnya. 

Bagi Anda yang mau pesan, silakan....

Related Posts:

Bagaimana Mengasah Kemampuan Menulis?

Seperti pisau, jika ingin tajam harus diasah. Begitulah menulis, jika ingin tajam, harus diasah.

Kenapa  harus diasah?

Seperti pisau, semakin diasah, semakin tajam. Semakin tajam, semakin mudah digunakan, semakin lancar saat mengiris tomat, daging atau mengupas buah, dan bagus hasilnya, tidak tersendat, tidak robek-robek seperti jika dipotong dengan pisau kurang tajam.

Kemampuan menulis begitu juga, semakin diasah, semakin tajam, semakin lancar melahirkan isi pikiran. Seringnya menulis tersendat-sendat, seperti yang sering Anda alami, takkan lagi terjadi. Insya Allah.

Pertanyaannya sekarang, bagaimana mengasah kemampuan menulis?

Dengan banyak membaca.

Bagi Anda para penulis, membaca itu mengasah.
Semakin banyak Anda membaca, menulis Anda semakin lancar.
Takkan tersendat.
Kenapa?
Karena membaca, berarti memasukkan kata-kata ke dalam otak, semakin banyak kata masuk ke dalam otak, semakin  banyak otak itu memproses kata-kata. Semakin banyak memproses kata-kata, semakin otak itu punya banyak kosa kata. Semakin banyak otak punya kosa kata, semakin mudah saat ingin mengungkapkan sesuatu ke dalam tulisan, karena, kata-kata apapun, sudah tersedia di sana. Ibaratnya ibu yang mau masak, jika persediaan bahan makanan di dapurnya banyak dan lengkap, maka mau masak apa saja dia leluasa.

Saya kiran Anda pernah, punya ide, namun saat ingin Anda tuliskan, pikiran malah tersendat. Ide jadi terhambat. Sudah berada di depan kaca, tangan susah siap dia atas tuts lap top Anda, namun entah mengapa, malah jadi batu nisan. membeku tak bisa apa-apa.

Di situlah pentingnya membaca membaca. Yang rajin membaca, punya banyak kosa kata. Punya banyak kosa kata, takkan susah saat menulis cerita.

Karenanya, jika memang benar pandai menulis ini rencana masa depan Anda, ingin menjadi penulis profesional, atau ya sekedar pandai berkisah, dan mengeluarkan isi kepala ke dalam tulisan dengan mudah, maka membaca seharusnya menjadi agenda.

Karenanya, tidak perlu merasa rugi membeli bahan bacaan. Buku, majalah, itu bukan pemborosan.

Itu investasi buat Anda. 

Related Posts:

Beras Plastik Sebagai Solusi


Tentang beras plastik, bagaimana kabarnya sekarang?
Masih ramai?

Maaf, jika beritanya sudah basi

Menurut saya, 
Penemuan beras plastik ini ide bagus
Terobosan hebat buat mengatasi krisis pangan di tanah air
Ketika padi semakin diserang hama
Wereng, burung, dan tikus

Hingga produksi pada dari para petani semakin berkurang
Penemuan beras plastik ini sebuah solusi


Bahkan solusi untuk dua hal
Pertama, solusi buat mengatasi krisis pangan
Kedua, solusi buat mengatasi masalah sampah, 

Tentunya Anda masih ingat betapa masalah sampah pernah sampai menelan korban jiwa, ketika gunungannya longsor, menimbun dan menghancurkan rumah di Leuwi Gajah.

Pertama, ide beras plastik bagus buat mengatasi krisi pangan. 

Sebuah informasti yang tidak jelas dari mana sumbernya menyebutkan, kenapa kebutuhan beras Indonesia akhir-akhir ini keteteran? Ternyata jawabannya, karena sebagian besar orang Indonesia rakus. Makan nasi terlalu banyak. Akibatnya, kebutuhan beras meningkat, sedangkan produksi padi semakin berkurang. Saya perhatikan di kampung saya, dari musim ke musim, padi tak sepi hama, terutama hama burung menjelang panen. Nah, dengan adanya beras plastik, ini memungkinkan kita mendapatkan alternatif lain makanan pokok, sehingga nanti, sumber makanan pokok, bukan hanya didapat dari pertanian, tapi juga dari plastik, di mana benda ini, nyaris bertebaran dimana-mana, hingga di tempat-tempat sampah.


Ide beras pembuatan plastik ini hanya tahap awal. Mula-mula, kadar plastik yang dimasukkan sedikit saja. Sebagian besar ubi dan kentang, sedang plastiknya sedikit saja. Ini sebagai pembiasaan terhadap lidah masyarakat, supaya sedikit demi sedikit mengenal, bahwa ternyata plastik juga enak. Semakin lama, kadar plastiknya bisa diperbanyak, karena tentunya dengan pembiasaan, lidah masyarakat akan semakin terbiasa, hingga akhirnya, setelah masyarakat merasakan plastik itu enak, dan plastik telah menjadi makanan pokoknya, pembuatan beras bisa menggunakan 100% plastik sepenuhnya. Dan, nah, INILAH GOALNYA, bahkan produksi beras plastik ini bisa dihentikan, karena masyarakat, sekarang sudah beralih menjadi pemakan plastik. Sampai ke tahap ini, krisis pangan berakhir sudah. Tak perlu lagi negara berhutang buat impor beras, sebab kebutuhan makanan pokok, di negeri sendiri pun sudah melimpah. Tahu sendiri, plastik nyaris bertebaran di mana-mana, terlebih di tempat sampah. Gunungan plastik di tempat pembuangan akhir bisa didaur ulang, dikemas, dan disebarkan ke seluruh Indonesia. Sampah jadi manfaat, yang karenanya, ini menjadi solusi bagi masalah kita yang...

Kedua, yaitu beras plastik bisa menjadi solusi bagi masalah penanggulangan sampah.

Related Posts:

Beras Plastik

Bakda maghrib ke Pasar, masuk warung kelontongan, "Assalamualaikum"

"Waalaikum salam"

"Mas, beli beras asli!"

"Ok, ya ini juga asli, bukan plastik"

Haha, rupanya si Mas tukang warung ini juga tahu, beredar isu beras plastik.

"Berapa seliternya?"

"Delapan ribu, ada yang sembilan ribu."

"Yang delapan ribu aja deh Mas. Gak papa murah juga, yang penting asli."

"Ya iyalah, bukan plastik."

Saya beli dua belas kilo. Bayar, pulag, di jalan, ingat, ini uang perusahaan. Harus pake nota.

Kembali lagi ke toko, "Mas tolong pake nota!"

"Oh ya!

Dia pun membuat nota. Sepanjang menulis, saya perhatikan tangannya. Setelah menulis angka, dia hendak menulis nama barang, langsung saya serobot:"Oh ya Mas, tulis aja di sana, beras asli!"

"Enggak Ah"

Haha, dan dia hanya menulis beras.

Kembali ke toko, ada Mbak Dewi dan Mas Lili, penjaga toko ofline.

"Hai, saya baru beli beras asli."

Semua tertawa, karena tahu, sedang beredar isu beras plastik.

"Gimana sih cara membuktikan plastik apa bukannya?" tanya saya pada.

"Dibakar aja! Kalau meleleh berarti itu plastik."

"Oh ya Ok, nanti saya coba!"

"Ini ada koreknya!"

"Ah gak usah!"

Beras itu saya panggul ke lantai atas.  Karena penasaran, saya panaskan panci di atas kompor listrik. Panci itu berasap saking panasnya. Kemudian,saya ceduk beras yang barusan saya beli itu, dan membawanya ke panci panas.

"Tidak! Jangan! Tidak usah! Aku asli beras!"

"Aku ingin bukti."

"Jangan, tidak perlu. Aku beras. Aku asli beras!" teriaknya keras.

Tapi saya  masukkan juga. Saat beras itu jatuh dari sendok ke panci....


"Tidaaaaaaaaaaaaaaakkkkkkkkkkkkkkkkk!!!!!!!!!!!!!!!!!"

Saya perhatikan, benar saja tidak meleleh, tapi, mula-mula memutih,

"Aaaahhh...panaaasssssssssssss!"

Kemudian menghitam.

"Ampunn!!!! Panaassssssssssss!!!"

Hangus.

"Aaaaaaaaaaaaaaaahhhhh......"

Kasihan sudah hangus, saya angkat.

"Bagus, berarti kamu benar-benar beras."

"Haaaaaaaaaaaaahhhhhhh!!!"

Saya buang ke tempat sampah.

"Arrrghhhhh! Biadab! Tidak berprikemanusiaan. Bayangkan sodara-sodara! Setelah semua pengorbanan merasakan panas sampai hangus, kita dibuang ke tempat sampah!"

Related Posts:

Catatan Hati Ibunda

Sehari-semalam banyak saya habiskan di rumah toko, menjaga facebook, melayani pembelian online. Nyaman, hanya diam, main komputer, main facebook. Jelas membahagiakan, saat orang lain harus bayar supaya main facebookan, saya sebaliknya, malah dibayar. Dibanding kerja saya sebelumnya, mengajar di kelas atau bertani di sawah, sungguh kerja di sini adalah sorga.

Akan tetapi, terus-menerus duduk di depan komputer, jenuh juga. Ngantuk datang, dan kalau sudah begini, tidak bisa kerja. Saya buka tas, mengambil beberapa lembar uang dua ribuan, dan pergi ke pasar tradisional. Mau belanja bahan masakan sekalian penyegaran.

Tahu sendiri bagaimana suasana pasar tradisional, lumpur bercipratan terinjak kaki orang, dan saya yang memakai trening abu muda, harus berjalan berjingkat-jingkat.Bau juga berupa-rupa. Bau segala macam. Bau ikan, bau ayam, bau tahu, dan juga bau kencing tikus di bawah meja dan lubang-lubang, juga turut meramaikan hidung.

Tapi jangan memfokuskan ke sana, karena selain pemandangan lumpur menjijikkan, masih jauh lebih banyak pemandangan segar di mata. Ngantuk pun seratus persen hilang, ketika melihat hijau sayuran. Buncis, bayam, dan berbagai lalapan dedaunan, masih segar-segar tertata di meja terdepan. Ikan pun tak kalah indahnya. Berbaris rapi di atas meja, bandeng putih perak berkilauan, memantulkan sinar lampu di atasnya.

Bawang putih, bawang merah, bawang daun, kunir, ketumbar, muncang, pala, seledri, tomat, jeruk purut, jeruk nipis, nyaris semuanya tersedia di sini. Saya bersyukur sekali, dimudahkan dan didekatkan untuk mendapatkan apa saja sesuka saya. Mau makan apa, mau masak apa, di sini semuanya tersedia. Semuanya dimudahkan, semuanya didekatkan. Sungguh ini surga dunia. Sungguh saya tidak pernah merasakan kebahagiaan ini sebelumnya. Sungguh ya Allah, saya memohon kepada-Mu, jangan dulu Engkau buat saya seperti ayah saya, Pak Adam, yang karena dosanya, sampai harus turun dari sorga, satu tempat yang segalanya mudah dan tersedia, kepada kesulitan bumi yang sunyi, di mana nyaris segalanya membutuhkan kerja keras dan usaha. Dan bagi saya, di sini benar-benar suasana sorga. Apa yang saya butuhkan begitu dekat, sudah ada dan tersedia. 

Seperti bumbu masakan, selama ini saya masak tempe tahu cukup dengan gula, garam, goreng bawang, dan terkadang penyedap, tidak tahu lagi bumbu lainnya. Tidak tahu bumbu rendang itu apa saja, tidak tahu membuat gulai itu bagaimana, apalagi bumbu kari, tidak tahu sama sekali, jadilah masakan saya hanya begini dan begini, begitu dan begitu, tidak ada perubahan, tidak ada kemajuan, tempe sambal goreng, nasi goreng, sayur tumis--suda--tak tahu lagi apa-apa. 

Namun sekarang, setelah saya coba datangi tukang racik bumbu, ternyata nyaris segala resep bumbu masakan terkenal ada di sana. Jadi terserah saya mau masak apa, rendang tempe, rendang tahu, tahu bumbu kari, rendang daun singkong, gulai kambing, gulai tenggiri, gulai bandeng, buat masak apa saja tersedia, dan harganya.....harganya super murah. Hanya seribu rupiah. Bayangkan, satu kantong hanya seribu rupiah, dan bumbu segitu cukup buat satu panci masakan. Ini sangat murah dibandingkan jika belanja langsung ke warung makan. Sepuluh ribu rupiah hanya dapat apa? Tapi pagi ini, saya ke pasar, hanya dengan Rp. 4000,- (empat ribu rupiah), sudah dapat sekantong tahu lengkap dengan bumbunya. 

Kembali ke tempat kerja, masak sambil tetap melayani orang belanja di toko online. Sambil menunggu air masakan susut, saya terus bolak-balik, dari kompor ke komputer, dari komputer ke kompor--trauma kejadian sebelumnya, beberapa hari kemarin, saya masak sayur dengan hasil luar biasa: SAYUR RASA ARANG.


Segitu dulu, maaf judulnya gak nyambung.

Related Posts:

Yang Minta Pensiun

"Untuk sekali ini, mohon jangan tolak permintaanku. Aku ingin berhenti. Aku cape. Sudah bertahun-tahun aku menjadi partner bisnismu." ucap rekening.

"Apa salah saya?"

"Tidak ada yang salah, kamu kan tahu, segala sesuatu itu ada waktunya. Ada waktunya bertemu, ada waktunya bersama, dan ada waktunya berpisah. Biasa kan, lumrah, ini kerap terjadi pada kehidupan kita."

"Beri saya alasan masuk akal!"

"Buat apa masuk akal?"

"Biar saya mengerti."

"Kenapa harus mengerti?"

"Dengan mengerti, kita bisa menerima. Menerima keadaan dan menerima ketiadaan. Dan sekarang kamu, jika bisa memberi pengertian kenapa tidak mau lagi menyertai saya, saya bisa menerima ketiadaanmu." terang saya panjang lebar.

"Baiklah, supaya kamu mengerti, apa yang harus aku lakukan?" tanyanya.

"Tadi saya katakan, berikan saya alasan masuk akal."

"Seperti apa alasan masuk akal itu?"

"Bukti nyata. Alasan paling masuk akal adalah bukti yang nyata. Berikan saya bukti nyata sebagai alasan kamu tidak mau lagi menyertai saya."

"Baik. Pertama, lihat bentuk aku, sudah gak karuan.




Kedua, lihat lapisan plastik sampulku, sudah terkelupas.



Ketiga, buka halaman pertama, tertera di sana tanggal 13 Februari 2013 dan sekarang, 02 Juni 2015, silakan hitung sudah berapa lama kita bersama. Sudah sangat lama. Ketiga, dan ini alasan yang tak mungkin kamu tolak, karena transaksimu terlalu banyak, halamanku sudah habis. Kemarin kamu mau mengambil uang ke bank tidak bisa, karena teller tak bisa lagi mencetak."




"Tapi saya tidak bisa menerima alasan ketiga. Kamu katakan sudah cukup lama. Baru dua tahun saja. Dua tahun itu sebentar. Orang lain malah bisa sampai puluhan tahun bersama rekening yang sama."

"Ya, tapi kamu terlalu banyak melakukan transaksi di sana. Jadi halamanku cepat habis, dan ini alasan yang takn mungkin kamu tolak."

Related Posts:

Kangkung Beraroma Darah


Pasangan khas dari kangkung adalah terasi. Kangkung dan terasi memang the best couple. Pasangan serasi. Lebih serasi dari David Becham dan Victoria. Dari panci tumisan, aromanya harum bertiup ke mana-mana, menjadi kuliner kesayangan khas nusantara.

AKAN TETAPI

Hari ini, Senin, 1 Juni 2015, aroma kangkung nan aduhai itu berubah. Dari wangi menggoda selera menjadi bau amis darah. Hari ini, perbincangan kangkung mengandung darah. Seorang ibu tega menghabisi anaknya, yang baru 12 tahun, hanya karena tidak mau makan kangkung hasil masakannya. Anak itu pulang main, lapar, mau makan, ke dapur, di sana hanya ada nasi, goreng tahu dan tumis kangkung. Si anak bosan, mengeluh, minta lauk lain. Sang ibu marah, namun si anak tetap ingin dibuatkan lauk lainnya. Sang ibu mengambil sebilah parang, membacok anaknya. Mulai kepala, leher, sampai anaknya meninggal.

Berita ini datang dari Muara Enim, Sumatera Selatan.

Saat ditanya, kenapa begitu marah kepada anaknya. Jawaban si ibu, intinya masalah ekonomi juga. Pendapatan suaminya pas-pasana, hingga dia harus mengantur ketat kebutuhan sehari-hari di rumah. Belum lagi si anak yang baru lulus SD kelas 6 dan minta meneruan sekolah. Makin pusing saja dia memikirkannya. Maka, mendengar rengekan anaknya, titik kulminasi pusing itu mencapai puncak. Dan terjadilah apa yang kini sudah jadi fakta.

Nah, Bu, bagaimana, sekarang sudah lebih tenang kan?

Related Posts: