Berlatar tanah Kuningan, novel "Sebuah Wilayah yang Tidak Ada di Google Earth" membuat saya penasaran. Tidak mungkin wilayah ini tidak ada di Google Earth. Ini kabupaten besar. Tidak mungkin kabupaten sebesar dan seterkenal Kuningan tidak terakses teknologi canggih peta ini. Jadi wilayah mana sebenarnya yang dimaksud?
Setelah tuntas baca buku itu akhirnya tahu, memang wilayah ini sampai kapan takkan pernah terjangkau Google Earth. Sebab memang yang menjadi latar, sesungguhnya adalah latar teramat halus, alam yang, jangankan terjangkau satelit, bola mata saja susah menjangkaunya. Berdasarkan kesimpulan mentah saya, latar sesungguhnya novel ini adalah, alam batin seorang pencinta--pencinta alam-- seorang yang sangat mencintai kampung halamannya, pohonnya, gunungnya, beserta segala keindahan tata seni cita rasa cipta Ilahi yang terhampar di sana.
Susah terjangkau mata. Hanya orang dengan kelembutan rasa sanggup menjangkaunya. Bagaimana jerit sunyi pohon kiara ketika tanpa perasaan manusia menebang, bagaimana perih dukanya mata air saat sumbernya, ribuah urat akar pepohonan dimatikan, bagaimana burung hutan menggelengkan kepala atas keserakahan manusia, bagaimana gelora harapan seekor srigala betina untuk mengembalikan jayanya pohon kiara yang pernah tegar tegak di hutan. Pergulatan batin rasa bersalah seorang penebang pohon, sesungguhnya itulah yang dikisahkan.
Itulah sebabnya, meskipun latar novel ini berpijak pada tempat yang ada: Linggarjati Kuningan, Pantai Pangandaran, Perumahan Pesona Alam, Gunung Ciremai, Ciamis. Buniseuri, namun sebagian besar tokohnya seperti berasal dari dunia dongeng. Gadis Ajag yang dalam Bahasa Indonesia berarti Gadis Srigala, ditokohkan begitu cantik menawan, sebagai binatang bisa berbicara dengan manusia. Tokoh anak bisu yang dipanggil Si Hitam yang cukup misterius juga. Jasu juga entah siapa dan dari alam mana, yang kehadirannya seringkali mendadak, entah datang dari mana dan siapa sebenarnya. Demikian juga Kiara, sekalipun diwujudkan sebagai tokoh wanita, dari golongan manusia biasa, namun alam pikiran dan pengalamannya berbicara dengan lukisan, cukup aneh seperti dalam legenda-legenda.
Bagi saya, novel ini, di sinilah kekuatannya, dengan mengisahkan dongeng setengah nyata, atau nyata setengah dongeng, Pandu Hamzah--sang penulis--seperti mendapatkan kemerdekaan mengeksplorasi keindahan bahasa dalam sulaman petatah-petitih filsafat, nasihat, analogi dan metafora dalam ramuan setiap langkah alurnya yang dia alirkan dari tuturan seekor srigala, pohon kiara, orang misterius, dan anak bisu.
"Seperti halnya benang sari seperseribu mili yang terbang ribuan mil untuk mencapai sel telur di tempat-tempat tak terbayangkan dan tumbuh menjadi kehidupan baru, sebagaimana ikan salmon yang berpetualang ribuan kilometer menuju muara sungai untuk juga melahirkan generasi berikutnya, demikian juga alur hidupku hingga kembali di sini. Di dekat mata air ini. Bila kau berada bersamaku mengalami setiap fase perjalanan hidupku, seragu apapun kita terhadap kreator semesta, namun hati ini tetap akan berdesir juga saat mengenang presisi sangat akurat dari kreasi yang agung."
(Aku adalah pohon kiara)
* * *
Oh ya saya lupa bercerita kepada Anda, jika akhirnya saya mendapatkan novel ini. Setelah sebelumnya saya mencari bolak-balik ke toko buku, jauh, sampai seminggu lebih, ternyata akhirnya bukunya yang datang ke tempat saya. Boleh percaya boleh tidak, tapi ini faktanya: novel ini datang sendiri ke tempat saya. Ehmmm,..sebenarnya saya beli online, kemudian penjual onlinenya bertanya alamat lengkap, kemudian saya sebutkan sebuah alamat kantor, dan dia datang mengantarkan bukunya, dan menjualnya kepada saya tanpa ongkos kirim.
Saat mulai membuka segel, kemudian sedikit mengintip isinya, sepertinya saya sedang membuka sesaset kopi mix, untuk kemudian saya bisa menuangkannya ke dalam cangkir, menyeduhnya dengan air dan menghirupnya sehirup demi sehirup. Wanginya itulah, yang membuat saya merasa sayang segera menghabiskannya. Sebagaimana novel ini, saya ingin menikmatinya lebih awet, lebih lama, dari kata ke kata, menelusuri dan menikmati setiap halamannya, sehingga tiupan wangi kisah di dalamnya, bisa saya hirup puas dan penuh.
Karena sayang, saya muliakan novel ini dengan sampul plastik, supaya jilidnya lebih bersinar. Kemudian dalam perjalanan pulan, saya menikmatinya tuturan lembutnya.
0 Response to "Setelah Novel ini Saya Dapatkan"
Post a Comment