Kemarin, saya diajak duduk berkumpul bersama, melingkung, ngobrol, antara saya, atasan saya, istri atasan saya, dan beberapa karyawan lainnya. Atasan saya berusaha menceritakan hal-hal, yang membuat kami semua tertawa, namun bukan candaan kosong, melainkan apa yang dia bicarakan itu adalah ide, bahan untuk pembuatan buku....waktu itu orang tertawa-tawa, saya juga, tapi sekarang, setelah sendiri, mengingat wajah atasan saya itu, dan juga istrinya, saya ingin menangis rasanya...ya dini hari ini saya mengingat mereka ngobrol ceria mengelilingi meja, bercanda-canda, lucu-lucuan, menceritakan segala hal yang seru dan membuat kami tertawa, namun sekarang, mengingat itu malah ingin menangis rasanya.
Mengapa saya ingin menangis? Cengeng sekali...

Tidak mengapa jika Anda ingin menyebut saya cengeng. Tapi beginilah nyatanya. Saat menulis ini mata saya berkaca-kaca, karena teringat, sesungguhnya mereka, atasan saya dan istrinya itu, sebenarnya, adalah orang-orang yang saya yakin, di rumahnya mereka pernah berbicara satu sama lain, sebuah tekad besar...KITA HARUS MEMBERIKAN KEBAIKAN KEPADA SEBANYAK MUNGKIN ORANG...KITA BERDUA HARUS MEMBERIKAN KEMANFAATAN KEPADA MASYARAKAT...KELUARKAN KITA HARUS MENJADI KELUARGA YANG BERMANFAAT...saya tidak pernah mendengar percakapan ini pernah ada, tapi saya yakin ini pernah ada, dan biar pun nyatanya tidak pernah terjadi, akan saya anggap ini pernah terjadi, karena saya cukup banyak melihat hasilnya dan bahkan khususnya saya sendiri, di sini, meski saya seorang karyawan baru, sudah banyak merasakannya.
Iya, saya sudah banyak merasakannya. Saya tinggal di sini, dan sudah merasakan kebaikan yang banyak. Di sini saya kerja, tapi apa yang saya dapatkan lebih banyak dari kerja yang saya lakukan buat perusahaan. Contohnya saja saya menginap siang malam di sini, dan dapurnya mereka sediakan segala peralatan memasak, yang membuat saya bebas memasak dengan kompor listrik, biar pun sering kegosongan, karena saya belum bisa menggunakan kompor listri, juga di sini, disediakan WC, sehingga kebutuhan buang air, mencuci dan mandi memudahkan saya, kapan saja ingin bersuci dan buang air, dekat dan tersedia. Itulah sebagian fasilitas.
Maaf, bukan itu sebenarnya yang sangat mengesankan, tapi tugas yang diberikan kepada saya, yaitu mengedit buku. Ini kalau saya pikir-pikir, saya ini beruntung sekali. Bagaimana tidak beruntung, saya ini diberi tugas mengedit buku untuk bekerja, yang nantinya akan diberi gaji perbulan, tapi sebenarnya, atasan saya memberi tugas mengedit buku ini, sebenarnya dia sedang mengajarkan ilmunya, sedang memberikan ilmunya, supaya saya serap, saya pelajari. Bukunya adalah buku motivasi, maka sebenarnya dia sedang memberi motivasi. Misalnya sekarang, saya mendapatkan tugas mengedit buku "Dendam Positif", tampaknya ini sebuah pekerjaan, tapi sebenarnya, di mata saya, ini sebuah hadiah, keberuntungan...saya sedang diberi motivasi...
"Dana....Dana...."
"Ya Pak..."
"Dana...."
"Ya Pak...."
Tergopoh-gopoh dari lantai 3 saya lari ke lantai 2, menghampiri atasan saya, sambil jantung berdebar-debar, khawatir akan mendapatkan teguran, namun ternyata bukan, setelah sampai di belakangnya, dia menoleh dan bertanya, "Kamu sudah baca "Dendam Positif"?"
"Sudah Pak, tapi tidak selesai."
"Buku setipis itu tidak selesai?"
"Iya Pak,,,Emh..." bingung rasanya mengemukakan alasan mengapa saya tidak selesai membaca buku ini. Sebenarnya ingin membaca, tapi rasanya sibuk, ah tapi bukan sibuk, manajemen waktu sayalah yang buruk.
"Ini baca..."
Beliau memberikan dua bundel kertas, dan saya menerimanya. Dua bundel kertas itu adalah dua bab draft buku yang sedang dia susun, Dendam Positif, pengembangan dari buku tipis beliau sebelumnya dengan judul sama: "Dendam Positif." Saya terima bukunya itu dengan kedua belahan tangan, penuh hormat, dan beberapa lama berdiri terdiam di sana, dan tidak beranjak, sebelum mendapatkan ijin. Itu semua sebagai tanda hormat saya sebagai bawahan, yang tidak boleh pergi sebelum atasan selesai dengan apa yang ingin disampaikannya.
"Ok, gue jalan dulu." ungkapnya. Mungkin itu isyarat pada saya bahwa tugasnya sudah selesai, dan saya boleh pergi. Tapi, saya belum beranjak juga. Akhirnya Pak...memperjelas maksudnya, "Ya sudah gitu aja!"
"Hanya ini Pak?"
"Ya"
"Siap Pak"
Saya pun berlalu naik lagi ke lantai tiga...
Dua bundel itu saya pegang, dan saya ingin berkata kepada atasan saya, "Pak, ini tugas sangat menguntungkan saya. Bapak meminta saya kerja, tapi saya memandang ini hadiah yang sangat berharga. Bapak menulis motivasi, dan motivasi ini berupa kisah-kisah. Motivasi itu bacaan kesukaan saya, terlebih ketika disajikan dalam bentuk cerita, ini sangat saya suka. Dan sekarang Bapak memberikannya...kerja di sini benar-benar enak, ini bukan kerja namanya, tapi bersenang-senang Pak, terima kasih Pak...."
Related Posts: