Kamu Ini Manusia

Ketika bingung bagaimana cara membersihkan semua keburukan dalam diri, saya bertanya kepada seorang Kiai:

"Kamu harus menyadari Kamu ini manusia!" nasihatnya.

Saya terdiam, mencoba mencerna, tapi beberapa biji pengetahuan yang tersisa di otak, setelah terkikis terjangan-terjangan lupa, pengetahuan yang tersisa itu tak cukup buat menafsirkan perkataan Sang Kiai, apa sebenarnya yang dia maksudkan.

"Kenapa terdiam?"

"Saya mencoba memahami Pak Kiai!"

"Bagaimana, sudah faham?"

"Maaf Pak Kiai!"

"Belum?"

"Ya Pak Kiai."

"Baik. Kamu sadar kamu manusia?"

"Sadar Pak Kiai."

"Kalau kamu sadar, saya bertanya lagi, kamu punya apa?"

"Saya punya badan, punya nama, punya pakaian, punya buku, punya pengalaman, sedikit pengetahuan, punya....."

"Cukup! Berarti Kamu belum sadar, diri Kamu manusia."

"Maksudnya Pak?"

"Ya, kamu belum sadar."

"Mengapa Pak Kiai katakan saya belum sadar akan kemanusiaan saya?"

"Karena kamu masih merasa punya. Kamu katakan, kamu punya nama, punya badan, punya pakaian, punya pengalaman, punyan sedikit pengetahuan."

"Jadi Pak?"

"Jika Kamu sadar Kamu manusia, Kamu akan mengatakan, Kamu tidak punya apa-apa."

Saya terdiam. Pak Kiai menunduk, saya ikut menunduk. Dalam hati saya bergumam, mengulang perkataannya: Jika saya sadar saya manusia, saya akan mengatakan, saya tidak punya apa-apa. Lalu apa yang ada pada saya ini punya siapa? Ah, mengapa saya masih mempertanyakan ini? Bukankah saya sudah hafal ayat, "Milik Allah lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi."

Saya mengangkat wajah, tapi Pak Kiai masih menundukkan wajahnya. "Pak Kiai, semua yang ada saya bukan punya saya."

"Jika kesadaran itu sudah terpatri kuat, artinya Kamu benar, Kamu sadar, Kamu manusia. Kesadaran sejati kamu manusialah yang sangat kamu butuhkan supaya mudah membersihkan keburukanmu."

"Maukah Pak Kiai jelaskan lagi mengapa bisa begitu?"

"Pikirkan saja sendiri. Maaf, bukannya saya tidak menghormati tamu, tapi jam empat sore ini saya harus mengisi pengajian."

"Oh ya Pak. Terima kasih atas waktunya. Saya minta diri Pak" ucap saya sembil menyodorkan amplop. Bukan, bukan aplop upah bagai kepada psikolog, ini penghormatan saya, atas ilmunya, bukan membayar harga, sebab harga ilmunya, yakin tidak ternilai, meski, sepanjang perjalanan pulang, kepala saya masih dibantai pertanyaan.

Related Posts:

Kebodohan Asma Nadia

Kebodohan Asma Nadia, itulah yang akan saya tuliskan sekarang. Terserah Anda, suka atau tidak, setuju atau tidak, mendukung atau menghujat, atau diam-diam mengutuk di belakang, atau menentang dengan sindiran, terserah, itu hak Anda, itu kebebasan Anda, itu kemerdekaan Anda. Yang jelas sekarang, tak seorang pun bisa menghalang: saya ingin menuliskan kebodohan Asma Nadia. 

Asma Nadia jatuh nama baiknya, bukan urusan saya. Itu urusan dia. Soal nanti dia kehilangan penggemar, karyanya diabaikan orang, terserash. Bukan tanggung jawab saya! Saya jujur apa adanya, tidak dibuat-buat.

Saya hanya ingin jujur apa adanya, apakah itu salah? Bukankah jujur itu sangat dianjurkan? Karenanya saya sarankan, Anda tidak perlulah so peduli, so membela. Lagi pula, kalau membela apa untunya bagi Anda? Tidak ada kan? Jadi saya sarankan, lebih baik diam.

Kebodohan Asma Nadia yang ingin saya sampaikan adalah: Dia itu bodoh masak. Aneh kan? Ibu rumah tangga, rumah tangga lebih dari lima belas tahun lamanya, tapi masih juga bodoh masak. Ini keterlaluan. Harusnya ibu rumah tangga tuh cekatan, bisa mengurus rumah, pandai masak, pandai meracik bumbu enak, biar senang suami dan anak. Ini tidak. Parah!

Bukan kata saya, bukan juga kata orang. Asma sendiri yang berkata. Tertulis jelas dalam bukunya: Catatan Hati Ibunda. Bahkan di bab pertama, dia mengaku dirinya bukan ibu rumah tangga yang baik.

"...ibu rumah tangga yang baik itu pintar masak buat suami. Membuatkan kue ini itu... saya tidak. Jumlah masakan yang saya kuasai tidak sampai lima macam, itu pun dengan bantuan bumbu-bumbu instan. Sementara jenis kue yang bisa saya buat hanya agar-agar dan puding. Lagi-lagi dengan adonan dan fla yang serba instan. Tinggal mencampurnya dengan air, selesai. "

Dia pun mengaku tak pandai merapikan rumah.

"Ibu rumah tangga yang baik umumnya pintar mengurus rumah hingga selalu nyaman dan enak dilihat, terampil beberes. Sementara saya hanya bisa panik dan akhirnya lebih banyak bengong, melihat kondisi rumah yang seperti kapal pecah." (Catatan Hati Ibunda, hal. 3)

Mending jika baru satu dua bulan menikah. 
Lha Asma Nadia?
"...sudah lebih dari 15 tahun berkeluarga? Fhew, rasanya benar-benar keterlaluan."

Sekali lagi, ni fakta. Bukan fitnah. Jadi Anda pencinta karya Asma Nadia tak perlu marah! Dia sendiri yang beberkan dalam bukunya. Dan Anda harus percaya.

Kalau masih juga tidak percaya, buka sendiri bukunya! Baca!

Masih kurang kelihatan, pake kaca pembesar!

Masih belum kelihatan juga, wah itu sih mata Anda yang bermasalah. Kalau sudah begitu, ambil saja pisau! Cungkil! Maksud saya, cungkil saja kelapa, parut, ambil santnnya, terus buat masakan enak. Daripada baca buku tak ada gunanya, mendingan masak.

Ah ngelantur. Maaf!

Kembali ke benang merah. Begitulah faktanya, Asma Nadia tidak pintar masak. Dan jika seseorang dikatakan "tidak pintar", apalagi namanya kalau bukan...

Tapi, sebagai pengusung keadilan--meskipun sering juga saya dzalim--saya pun ingin mengakui kehebatannya. Mengakui dirinya bodoh, tidak pandai masak, bahkan terang-terangan, justru di sinilah kehebatan Asma Nadia. Jujur, begitulah prinsip menulis dia. Hanya sedikit orang sadar, Asma Nadia hebat justru karena apa adanya. Namanya naik tinggi, masuk jajaran wanita inspirastif tahun 2015, justru karena dia tak sungkan merendah, tidak munafik, tidak pura-pura kuat padahal lemah, mengaku bisa padahal bego. Tidak. Dia jujur, dan kejujurannya inilah, keterbukaannya, dan kesukaannya tanpa tedeng aling-aling, menjebol lebar-lebar kecamuk batinnya, kemudian membanjirkannya ke dalam tulisan , yang membuat karya dia senantiasa gurih, dinikmati banyak orang, dan bermanfaat.

Banyak orang berusaha menjadi hebat dengan menghebat-hebatkan dirinya. Menulis banyak hal tentang diri, dan yang dia ceritakan hanya kelebihan. Kekurangan dia sembunyikan, karena mengira dengan cara itu citra dirinya melesat terbang. Dia terus berbangga, terus menyebutkan kelebihan-kelebihannya dengan keyakinan, kebangaan itu bisa memotivasinya untuk mencipta karya terhebat. Namun nyatanya, yang dia dapatkan justru sebaliknya. Bukannya naik, malah semakin rendah, semakin tenggelam.

Kenapa? Sebab sebenarnya, kebanggaan itu batu. Semakin banyak seseorang berbangga, semakin banyak dia bebankan batu ke atas punggungnya. Jika dia berjalan, pasti jalannya semakin lambat. Jika dia naik perahu, lama-lama perahunya tenggelam.

Untuk menjadi hebat, Asma Nadia tak perlu mengaku hebat. Baca sendiri sebagian besar bukunya. Meski menyebutkan kelebihan, itu bukan kelebihan dirinya. Orang yang kenal sudah sudah tahu dia siapa. Orang yang baca karyanya tahu seperti apa kualitas karyanya.

Dengan terbuka menyebutkan kekurangan dirinya, Asma Nadia mengajak para istri berkaca, begitu banyak potensi yang bisa mereka tingkatkan. Dna dengan cerita ini pula, semestinya para suami bersyukur, istri yang mungkin selama ini dia sepelekan, sesungguhnya punya banyak kelebihan.

"Sungguh tulisan ini harus dibaca oleh setiap ibu rumah tangga. Sebab, akan membuat setiap ibu merasa lebih baik dan melihat potensinya lebih tinggi dari seharusnya. Sungguh tulisan ini pun wajib dibaca oleh setiap suami atau bapak rumah tangga. Sehingga karenanya bisa bersyukur dengan pasangan yang dimiliki." tulis Asma.

Benar memang terasa, setelah kisah ini saya baca, kangen kepada istri berpucuk ria. Saya jauh darinya, kerja di kota. Dari ke hari
dia sendirian, siangnya, malamnya, hanya ditemani anak yang kian hari kian nakal. Dia, bisa mengurus anak, mengurus rumah dan bisa masak. Segera saya buka facebook, melihat fotonya.

Related Posts:

Doa Hening Pagiku

Saya ingin menulis surat kepada seseorang:

"Bapak tidak pernah menyampaikan ini: "Saya menyayangi semua orang. Saya ingin menyayangi sebanyak mungkin orang."
Bapak tidak menyampaikan ini dengan ucapan Bapak
Setidaknya tidak pernah saya dengar
Tapi perbuatan Bapak, jauh lebih keras teriak di telinga saya
Bapak mengakuinya atau tidak, Bapak sebenarnya mengatakan itu dan terus mengatakan itu"


Dan ketika saya menulis ini, perasaan larut dengan apa yang saya tulis, kemudian
Wajah saya jatuh di meja, merasakan kewajiban saya berterima kasih kepada Allah

"Ya Allah, terima kasih ya Allah
Tapi saya tidak punya perkara berharga apapun untuk berterima kasih kepada-Mu
Tidak punya perkara berharga apapun
Saya tidak punya apapun

Tapi pori-pori tubuh saya ini terus menuntut,
Bahwa saya harus berterima kasih
Tapi dengan apa
Karena semua ini milik-Mu
Aku hanyalah bukan sesuatu pun di tengah keagungan-Mu

Di tengah kasih sayang-Mu yang telah memberikan untuk saya orang-orang baik

Ya Allah, dunia ini singkat dan saya pasti berpisah dengan orang-orang yang baik itu

Karena itu, mohon ilham-Mu ya Allah supaya saya terus ingat untuk memanfaatkan waktu mencintai mereka.
Bukan buat apapun, tapi untuk berterima kasih kepada-Mu juga...

Jadikan wajah ini untuk selalu tertunduk merendah
Menyayangi siapa pun

Menyayangi siapa pun ya Allah...
Menyayangi orang lebih rendah dan menghargai mereka
Menyayangi orang lebih tinggi dengan menghormati mereka


Ya Allah, sadarkanlah selalu bahwa saya bukan siapa pun dan tidak punya apapun
Supaya jangan sampai saya menjadi orang tidak tahu diri dan melakukan dan mengatakan perbuatan tak pantas."


Related Posts:

Dari Lembah Tersembunyi

Kemarin, saya diajak duduk berkumpul bersama, melingkung, ngobrol, antara saya, atasan saya, istri atasan saya, dan beberapa karyawan lainnya. Atasan saya berusaha menceritakan hal-hal, yang membuat kami semua tertawa, namun bukan candaan kosong, melainkan apa yang dia bicarakan itu adalah ide, bahan untuk pembuatan buku....waktu itu orang tertawa-tawa, saya juga, tapi sekarang, setelah sendiri, mengingat wajah atasan saya itu, dan juga istrinya, saya ingin menangis rasanya...ya dini hari ini saya mengingat mereka ngobrol ceria mengelilingi meja, bercanda-canda, lucu-lucuan, menceritakan segala hal yang seru dan membuat kami tertawa, namun sekarang, mengingat itu malah ingin menangis rasanya.

Mengapa saya ingin menangis? Cengeng sekali...

Tidak mengapa jika Anda ingin menyebut saya cengeng. Tapi beginilah nyatanya. Saat menulis ini mata saya berkaca-kaca, karena teringat, sesungguhnya mereka, atasan saya dan istrinya itu, sebenarnya, adalah orang-orang yang saya yakin, di rumahnya mereka pernah berbicara satu sama lain, sebuah tekad besar...KITA HARUS MEMBERIKAN KEBAIKAN KEPADA SEBANYAK MUNGKIN ORANG...KITA BERDUA HARUS MEMBERIKAN KEMANFAATAN KEPADA MASYARAKAT...KELUARKAN KITA HARUS MENJADI KELUARGA YANG BERMANFAAT...saya tidak pernah mendengar percakapan ini pernah ada, tapi saya yakin ini pernah ada, dan biar pun nyatanya tidak pernah terjadi, akan saya anggap ini pernah terjadi, karena saya cukup banyak melihat hasilnya dan bahkan khususnya saya sendiri, di sini, meski saya seorang karyawan baru, sudah banyak merasakannya.

Iya, saya sudah banyak merasakannya. Saya tinggal di sini, dan sudah merasakan kebaikan yang banyak. Di sini saya kerja, tapi apa yang saya dapatkan lebih banyak dari kerja yang saya lakukan buat perusahaan. Contohnya saja saya menginap siang malam di sini, dan dapurnya mereka sediakan segala peralatan memasak, yang membuat saya bebas memasak dengan kompor listrik, biar pun sering kegosongan, karena saya belum bisa menggunakan kompor listri, juga di sini, disediakan WC, sehingga kebutuhan buang air, mencuci dan mandi memudahkan saya, kapan saja ingin bersuci dan buang air, dekat dan tersedia. Itulah sebagian fasilitas.

Maaf, bukan itu sebenarnya yang sangat mengesankan, tapi tugas yang diberikan kepada saya, yaitu mengedit buku. Ini kalau saya pikir-pikir, saya ini beruntung sekali. Bagaimana tidak beruntung, saya ini diberi tugas mengedit buku untuk bekerja, yang nantinya akan diberi gaji perbulan, tapi sebenarnya, atasan saya memberi tugas mengedit buku ini, sebenarnya dia sedang mengajarkan  ilmunya, sedang memberikan ilmunya, supaya saya serap, saya pelajari. Bukunya adalah buku motivasi, maka sebenarnya dia sedang memberi motivasi. Misalnya sekarang, saya mendapatkan tugas mengedit buku "Dendam Positif", tampaknya ini sebuah pekerjaan, tapi sebenarnya, di mata saya, ini sebuah hadiah, keberuntungan...saya sedang diberi motivasi...

"Dana....Dana...."

"Ya Pak..."

"Dana...."

"Ya Pak...."

Tergopoh-gopoh dari lantai 3 saya lari ke lantai 2, menghampiri atasan saya, sambil jantung berdebar-debar, khawatir akan mendapatkan teguran, namun ternyata bukan, setelah sampai di belakangnya, dia menoleh dan bertanya, "Kamu sudah baca "Dendam Positif"?"

"Sudah Pak, tapi tidak selesai."

"Buku setipis itu tidak selesai?"

"Iya Pak,,,Emh..." bingung rasanya mengemukakan alasan mengapa saya tidak selesai membaca buku ini. Sebenarnya ingin membaca, tapi rasanya sibuk, ah tapi bukan sibuk, manajemen waktu sayalah yang buruk.

"Ini baca..."

Beliau memberikan dua bundel kertas, dan saya menerimanya. Dua bundel kertas itu adalah dua bab draft buku yang sedang dia susun, Dendam Positif, pengembangan dari buku tipis beliau sebelumnya dengan judul sama: "Dendam Positif." Saya terima bukunya itu dengan kedua belahan tangan, penuh hormat, dan beberapa lama berdiri terdiam di sana, dan tidak beranjak, sebelum mendapatkan ijin. Itu semua sebagai tanda hormat saya sebagai bawahan, yang tidak boleh pergi sebelum atasan selesai dengan apa yang ingin disampaikannya.

"Ok, gue jalan dulu." ungkapnya. Mungkin itu isyarat pada saya bahwa tugasnya sudah selesai, dan saya boleh pergi. Tapi, saya belum beranjak juga. Akhirnya Pak...memperjelas maksudnya, "Ya sudah gitu aja!"

"Hanya ini Pak?"

"Ya"

"Siap Pak"

Saya pun berlalu naik lagi ke lantai tiga...

Dua bundel itu saya pegang, dan saya ingin berkata kepada atasan saya, "Pak, ini tugas sangat menguntungkan saya. Bapak meminta saya kerja, tapi saya memandang ini hadiah yang sangat berharga. Bapak menulis motivasi, dan motivasi ini berupa kisah-kisah. Motivasi itu bacaan kesukaan saya, terlebih ketika disajikan dalam bentuk cerita, ini sangat saya suka. Dan sekarang Bapak memberikannya...kerja di sini benar-benar enak, ini bukan kerja namanya, tapi bersenang-senang Pak, terima kasih Pak...."

Related Posts:

Sesedikit Apapun, Ilmu Kita Harus Manfaat

Sesedikit apapun ilmu yang kita punya, harus manfaat. Sebab, ilmu ini tidak kita dapatkan secara gratis. Mungkin uang tidak keluar, tapi jangan sepelekan waktu, pikiran, dan tenaga. Waktu, pikiran, dan tenaga itu modal dari Allah, karena jika kita menyia-nyiakannya, berarti kita menyia-nyiakan modal dari Allah. Ilmu yang ada pada kita juga titipan dari Allah, yang artinya jika kita menyia-nyiakannya, berarti kita menyia-nyiakan titipan dari Allah. 


Apakah kita termasuk orang yang mengetahui keagungan Allah?
Apakah Anda termasuk orang yang menyaksikan keagungan Allah?
Apakah Anda termasuk orang yang takut kepada Allah?
Apakah Anda termasuk orang yang menghambakan diri kepada Allah?
Apakah Anda termasuk orang yang tunduk patuh kepada Allah?


Bukan buat Anda, tapi pertanyaan ini buat saya. Buat saya sendiri, dan ketika saya menanyakannya kepada diri sendiri, saya tidak sanggup membendung aliran air mata, teringat tingkat ketakutan saya kepada Allah masih sangat rendah, padahal Dia itu Maha Agung, dan setiap saat, memperhatikan gerak-gerik saya hingga ke bagian dalam batin saya. Sedang saya kepada-Nya, sungguh kadang sangat tidak hormat, tidak mengagungkan, seperti kepada pengetahuan yang Dia titipkan. Penghambaan saya kepada masih jauh jutaan tahun cahaya perbandingannya dari tingginya kasih sayang Dia kepada saya.

Malu rasanya saat mengingat ini, dan hati menjadi perih....perih teriris-iris rasa takut dan cemas dan penyesalan tiada tara akan waktu yang telah saya sia-siakan...

Ya, pengetahuan saya ini dari Allah. Biar sedikit, tapi dari Allah. Dan saya harus selalu mengingat ini, supaya berusaha keras menjadikan ilmu titipan Allah ini manfaat. Begitu pula saya ingin menyampaikan ini kepada Anda. Seperti ilmu menulis ini, mungkin sedikit, namun berusaha sekeras lahir batin supaya ilmu ini manfaat sangat penting buat kita. Bukankah alangkah bahagianya, seandainya setelah kematian kita nanti, kita punya pahala yang mengalir tiada hentinya, yaitu ilmu yang bermanfaat, dari tulisan kita yang dibaca orang dan memberi inspirasi kebaikan, dan membuat orang itu menjadi hamba Allah yang taat, yang taubat, yang bersujud, yang berdzikir, yang istighfar....bukankah alangkah bahagianya?

Related Posts:

Jika Ingin Batin Penuh Kedamaian

Orang lain sudah stabil hidupnya, menjalani kebenaran dengan lurus hingga mereka semua merasakan kebahagiaan dan ketenangan, sedangkan saya, masih saja menjalani perang antara hak dan batil, benar dan salah, kasar dan lembut, sombong dan rendah hati.

Dalam mengisi pikiran, seharusnya saya sudah bisa lurus, hanya memasukkan hal-hal baik saja ke dalam pikiran. Membaca buku-buku bagus, mendengar ceramah agama, pengetahuan berharga, film-film bergizi, dan terus memasukkan hal-hal baik saja, dan jangan memberi kesempatan sedikit pun memasukkan hal-hal tidak baik, yang bisa merusak pikiran. Namun saya, masih saja suka melayani nafsu buat memasukkan hal-hal tidak baik ke dalam pikiran dengan tontonan-tontonan tidak berguna.

Juga dalam memilih sikap. Harusnya saya sudah yakin dengan satu pilihan, yaitu kelembutan dan kesabaran, dan yakin sifat itu akan membawa kebaikan, kesenangan, dan kebahagiaan, meski mungkin ada  juga orang kurang berpengetahuan melecehkan. Namun nyatanya, masih juga saya bersikap kasar. Seperti semalam, ada pelanggan di toko online yang belanja dengan banyak bertanya, dan terus saja bertanya, membuat saya jenuh menjawabnya, saya mengeluh sendiri di depan meja. Euhhhhhhggggg.meski orang itu tidak mendengarnya, namun teman kerja saya mendengarnya. Kemarahan itu benar-benar menjatuhkan saya.

Padahal andai saja saya lurus, memilih satu sikap lembut saja sebagai pilihan, apapun yang terjadi, dan memilih memasukkan hal-hal baik saja ke dalam pikiran, dan hanya melakukan kebaikan-dan kebaikan, maka takkan terjadi pertentangan dalam pikiran, maka hasilnya sudah bisa diperkirakan, jika dalam batin sendiri sudah tak ada lagi pertentangan, maka bagai sebuah negara tanpa pertenangan, batin saya pun akan penuh dengan kedamaian.

Apakah saya mau punya batin penuh kedamaian?

Mengapa tidak....?

Jangan cuma mau, tapi harus. Sebab batin penuh kedamaian akan menimbulkan badan penuh kesehatan.

Related Posts:

Memelihara Pikiran Memelihara Kesehatan Badan

Salah satu cara menjaga kesehatan badan adalah dengan menjaga kesehatan pikiran. Dan salah satu cara menjaga kesehatan pikiran adalah, dengan membuatnya santai, jauh dari ketegangan. Kerja sih kerja, tapi jangan dibawa tegang, santai saja. Itulah sebabnya kalau bisa, kerja itu bukan yang membuat Anda mengerjakannya dengan terpaksa, melainkan, kerja yang dengan mengerjakannya, hati Anda menjadi senang, bahagia, dan Anda merasakan keringanan.


Saya tidak menjelek-jelekkan kerja kasar. Jika pekerjaan itu membuat Anda senang, justru itu bagus buat Anda. Seperti di sini, tidak jauh dari kantor tempat kerja saya, orang-orang bekerja membangun gedung bertingkat. Mereka turun naik gedung besar itu, menantang bahaya, dan sesekali, untuk merapikan pembangunan dindingnya, mereka memasang timbaan besar, kemudian mereka naik ke atas timbaan itu, lalu perlahan-lahan sambil merapikan dinding gedung, timbaan itu turun terus dan terus turun ke bawah. Kaki saya sampai nyorodcod alias gemetaran membayangkannya. Ngeri sekali. Tapi karena bagi mereka itu kesenangan, tantangan yang mungkin, membuat adrenalin mereka muncrat-muncrat, ya pekerjaan itu bagus buat mereka.



Saya sendiri lebih suka pekerjaan ringan. Seperti kerja di sini, jualan online via facebook, maka saya rasakan kenyamanan kerja dengan facebookan. Saya nikmati kerja menyenangkan ini, dan saya senangkan juga pikiran dengan hobi yang halal. Saya senang membaca, maka saya senangkan diri dengan banyak membaca. Alhamdulillah, di sini banyak buku-buku yang saya suka, yang selama ini sangat saya cari-cari. Saya senang membaca buku sastra, dan sangat ingin membaca buku-buku karya sastrawan terkenal, yang mendunia, dan menyelami isinya, budayanya, rasanya, budayanya, dan menikmatinya, dan secara kebetulan atasan pemimpin perusahaan tempat saya kerja di sini mencintai sastra. Rak buku di ruang kerjanya banyak menyimpan koleksi buku sastra, kumpulan cerpen Kompas seperti "Derabat" dan "Mata Yang Indah.

Selain itu ada juga karya Nobelis Dunia, Gabriel Gabriella Marquez, berjudul "Seratus Tahun Kesunyian", sudah lama ingin membaca buku itu, dan di sini saya bisa membacanya dengan murah. Bahkan yang lebih saya suka dari semua buku-buku sastra itu adalah, buku-buku yang membicarakan karya sastra itu sendiri. Misalnya karya Yus Badudu, judulnya sederhana sekali, BUKU DAN PENGARANG, tapi isinya, wuaaah luar biasa, sangat saya suka, menceritakan sinopsis-sinopsis buku-buku sastra khazanah nusantara, sekaligus menceritakan pengarang beserta riwayat hidupnya. Saya suka karena, dengan buku ini, saya tidak harus cape membaca buku-buku sastra itu, tapi cukup membaca ulasan singkatnya saja dalam buku ini.

Jarang buku yang benar-benar menyita perhatian saya, dan buku ini termasuk dari yang jarang itu. Tapi memang buku-buku semacam ini, yang membicarakan karya-karya sastra, sinopsis novel, dari dulu juga mudah mengundang perhatian saya. Pernah dari pasar Senen saya sampai memborong banyak buku jenis ini. Dan buku Yus Badudu ini tadi siang memanjakan saya dengan paparan memikat tentang buku "Salah Asuhan" karya Abdul Muis. Dulu, pernah saya membaca buku itu, tapi tidak selesai, sebab keburu ada gempa bumi, jadinya tak tahu isinya menceritakan apa. Dan sekarang, buku ini memberitahu, ini buku berkisah tentang seorang pemuda bernama Hanapi, yang disekolahkan di sekolah Belanda dengan harapan dia menjadi orang cerdas dan maju. Namun rupanya, sekolah itu malah membangunnya menjadi pribadi kebarat-baratan dan menjadi tak suka dengan budaya ketimuran. Akibatnya Hanapi merasa tak nyambung jika ngobrol dengan sesama orang Indonesia, dan baru obrolannya nyambung dengan Corie, seorang Indo yang memikat hatinya. Hanapi menyatakan cintanya kepada Corie, namun cintanya tertolak, dan dalam kekalutan, orang tuanya menjodohkan Hanapi dengan Rapiah, dan Hanapi menjalani rumah tangganya dengan setengah hati


Ada lagi buku lain yang membahas karya sastra, yaitu buku karya esais terkenal, Ignas Kleden. Memang bahasanya njelimet dengan kalimat panjang-panjang, namun karya bukunya ini membahas berbagai karya sastra, saya suka membacanya. Waktu sakit, saya bawa buku ini ke mana-mana, ke meja kerja, ke tempat tidur, tapi sayang, karena waktu itu pikiran susah fokus dan kepala rasanya pening, jadi kebanyakan cuma dibawa-bawa saja. Judul buku itu "Sastra Indonesia dalam Lima Pertanyaan". Judul yang sangat menantang. Jadi, apa sebenarnya yang ingin dipertanyakan?

Saya juga gak tahu, belum baca semuanya, hehe.

Kembali ke tema awal, ya beginilah saya, bersenang-senang dengan bacaan, begini cara saya menjaga pikiran, supaya dengan cara ini, saya pun bisa menjaga badan....

Related Posts:

Bersyukur

Ada masa sakit, ada masa sehat. Dan sekarang, masanya saya menikmati sehat. Alhamdulillah, enak sekali rasanya, makan nikmat, minum nikmat. Sebelumnya sewaktu sakit, minum rasanya pahit. Kata orang Sunda, CAI ASA TUAK BARI KEJO ASA CATANG BOBO....artinya, air serasa tuak basi, nasi rasa kayu busuk.....betul-betul tidak enak. Makan ke warung, padahal nasi diberi sedikit oleh tukang warung, padahal nasinya putih, pulen, dan wangi, harusnya kurang dan ingin nambah lagi, tapi sewaktu saya sakit, tak sanggup menghabiskan. Beberapa sendok, sudah mual, dan "Mbak, sisanya dibungkus saja mbak. Buat nanti lagi, minum obat."

Satu-satunya air yang nikmat saya minum adalah air hangat suam-suam kuku. Benar kata Bu Dian, dia sarankan supaya minum air hangat, memang iya nikmat. Hehe, sebenarnya dia gak mau disebut Bu Dian, tapi gak apa-apalah. Semoga dia tidak nyasar dan baca tulisan ini.

Sekarang sudah sehat. Baru saja saya nikmati semangkuk nasi. Bertemankan tempe kering. Cukup nikmat. Meski seleranya tak sebagus dulu.

Saya mengaku, dengan pengakuan penuh rasa malu, sakit yang kemarin saya derita, telah menjadi bukti nyata, saya bukan seorang penyabar. Sesungguhnya seorang penyabar itu, dia menahan diri dari mengerang dan mengeluh sedangkan saya, tidak kuat rasanya sakit sambil berdiam diri. Mulut ini, mengeluh nyaris tiada henti. Saat berbaring, saat makan, saat minum, keluhan keluar.....aduhhhh....aahhh ya Allah....aduh pahit...ya Allah sembuhkanlah saya. Padahal tak terhitung ribuan hari Allah berikan bersama kesehatan, namun seakan saya lupakan, diberi sakit beberapa hari saja, saya tak bisa menahan...saya bukan penyabar.

Ya, saya bukan seorang penyabar. Karenanya....karena saat sakit saya tidak bisa menjadi seorang penyabar, harusnya sekarang, saat sembuh, sehat, dan merasakan kesegaran badan, saya harusnya bisa menjadi orang yang bersyukur. Jika saat sakit saya tak bisa menjadi penyabar, harusnya sekarang setelah sehat, saya harus bisa menjadi orang bersyukur.

Ngobrol tentang syukur, saya masih percaya, syukur adalah cara terindah menikmati hidup. Dengan syukur, nikmat yang sebelumnya tersembunyi bisa terungkap.

Syukur adalah berterima kasih.
Syukur adalah menyebut-nyebut kebaikan Allah kepada kita
Orang yang tidak bersyukur kepada manusia tidak bersyukur kepada Allah
Orang yang tidak mensyukuri nikmat kecil takkan juga dia mensyukuri nikmat besar

Saya bersyukur bisa bekerja di sini, bisa menggunakan internet secara bebas, bisa menggunakan komputer secara bebas, bisa memegang handphone canggih. Canggih menurut saya tentu saja, hal yang sebelumnya, tidak bisa saya nikmati karena, jangankan uang buat beli handphone--buat dibawa pulang ke rumah saja kadang bingung...

Jadi, mengapa saya tidak bersyukur
Segala kenikmatan, kemudahan, kesenangan, kebaikan, dengan murah dan mudah di sini saya dapatkan.


Related Posts:

Bapak Sudah Gosok Gigi Belum?

Sudah empat kotak susu. Tidak saya minum. Sengaja saya kumpulkan buat anak saya. Di kampung. Pas pulang kemarin pun, saya bawa susu dua kotak, dibuka di rumah, langsung dia terima, dan tahu-tahu, sedotan sudah dia tusukkan, dan sedang dia minum. Kemarin waktu ibunya nelfon, dia teriak-teriak, menjerit-jerit.
"Itu kenapa si Enay?"

"Ingin ngobrol di hape"


"Oh, cepetan atuh berikan. Dan ibunya pun memberikan.

Pas handphone diberikan, dia masih menangis tersedu-sedu. Mungkin masih sakit hati, dari tadi handphone tidak juga diberikan padanya.


"Sudah, sudah nangisnya, ini kan sudah ngobrol sama bapak!"


Kubiarkan beberapa jenak. Dia masih terisak-isak. Mungkin dia pun sambil memikirkan kata apa yang ingin diucapkan.

"Bapa sudah gosok gigi belum?"

Mendengar itu, ibunya teriak meledek, "Kakek-kakek begitu ditanya sudah gosok gigi!"

Dan setelah itu, anak saya bicara lagi. Mungkin dibisiki ibunya, "Pak, susu ultra kumpulkan lagi."

Inilah mengapa susu ultra bagian saya, lebih suka saya kumpulkan daripada saya minum.

Saya tidak minum susu ini, juga karena sedang sakit. Diminum rasanya pahit. Eneg. Lebih baik saya kumpulkan kemudian bawa pulang. Setelah sembuh enak makan minum, masih juga saya kumpulkan. Alasan saya, jika susu ini saya minum, kebahagiaannya sekejap saja. Tapi jika saya bawa pulang, kemudian melihat anak saya meminumnya, bayangan bahagianya akan terus terbawa-bawa.
Ada rasa bahagia saat melihat anak saya meminumnya lahap.

Sengaja ini saya kumpulkan buat pegurang-ngurang jajan. Di kampung, susu ultra kotak begini sangat mahal. Kalau tidak salah, susu kotak besar harganya enam ribu rupiah. Alhamdulillah atasan saya Allah jadikan hatinya murah. Buat karyawan, ada jatah satu minuman perharinya. Dari lemari pendingin, bebas mengambil mana suka, dan saya mengambil susu kotak. Saya bawa ke lantai tiga, kemudian saya kumpulkan di meja. Sejak hari pertama kerja, satu, dua, tiga, empat, lima, satu minggu, dua minggu, tiga minggu, tak terasa, susu sudah berdesakan di meja. Sampai tiba saatnya pulang, susu saya masukkan ke dalam keresek, ke dalam tas dan berdesakan, membuatnya berat.

Saya peluk tas itu takut ketinggalan, takut hilang, dan sampai di rumah, saat saya tiba di halaman, sosok manusia kecil itu lari keluar menyambut saya, dan bertanya, "Bapa.....itu apa?"

"Susu" jawab saya.

"Asik..asik...asik..asik" sambil dia bawa ke tengah rumah, disimpan di atas meja, membuka, dan menjajarkannya.

Hanya bisa tersenyum bersama kebahagiaan tak terkata.

Related Posts: