Nasi Goreng Bau Racun

Masih berbicara tentang nasi goreng, kali ini perbincangan saya kaitkan dengan Pak Agung. Penulis buku sejarah paling seru, "Gara-Gara Indonesia"

Saya harap istri Pak Agung terus bertambah sayang kepadanya, dan saya yakin nyatanya juga demikian, sebab Mas Agung adalah seorang yang sangat pandai menghargai masakan. Saya masak sop, dia katakan enak, masak sayur tanpa bumbu pun masih juga dia katakan enak. Waktu itu saya hanya merebus kubis saja, tanpa garam, tanpa gula, tanpa bumbu apa-apa, namun memang setelahnya saya sertakan semangkok bumbu pecel, Pak Agung masih mau menghargainya. Kata dia, sayuran yang saya masak ini mengandung Vitamin C. Kali lainnya saya masak tumis tempe, dia pun katakan enak, bahkan pernah, waktu itu nasi goreng saya buat dari nasi basi sisa kemarin, sudah kering kemudian saya lunakkan dengan merebusnya, dan menggorengnya seenaknya, masih dia hargai dengan kata "Enak!", terima kasih Pak Agung.

Waktu itu saya membuat sambal terasi. Sebenarnya saya cemas sambal saya keasinan, atau rasanya menjadi beda, tidak seperti sambal terasi pada umumnya, misalnya rasanya masalh jadi seperti sambal rasa strowberry

Wah sudah beberapa status saya tentang masakan semua. Bisa-bisa yang membaca mengira saya wanita. Yakinlah, saya seorang pria. Lagi pula, apa salahnya sih seorang pria masak. Memang hak wanita saja? Di TV juga kan yang jadi juara masak salah satu stasiun televisi pernah ada pria. Rudi Choirudin pun seorang pria. Jadi please, yakinlah kalau saya seorang pria. Hanya itu yang saya pinta dari Anda. Yakinlah saya seoang pria, saya tidak minta yang lain, minta itu saja, sekali lagi, yakinlah jika saya seorang pria.

Jadi begitulah Saudaraku sekalian... di balik akun Asep Tokoasmanadia adalah seorang yang senang masak. Senang sekali rasanya saya kerja sambil juga disediakan fasitas masak, sedangkan bahan masakan, misa saya dapatkan dengan mudah, cukup jalan kaki ke pasar, sebab ke sana sangat dekat. Saya pilih bahan makanan apa saja, ikan segar, daging, sayuran, bumbu-bumbunya, nyaris semua terusedia, tinggal saya mau beli apa, dan mau masak apa.

Maaf, malah ngelantur.


Kembali ke perbincangan Pak Agung berkaitan dengan masakan saya. Penulis buku sejarah paling asik dibaca ini sangat pandai menghagai. Tapi sebenarnya saya tak urah heran, sebab dari bukunya "Gara-Gara Indonesia" saja sudah memberikan cerminan, jika dia seorang yang pandai mencari sisi-sisi berharga. Saat orang lain pesimis dan mencela-cela negeri kita, Pak Agung justru mengungkap sisi-sisi hebatnya. Dia katakan dalam bukunya, justru Indonesia ini hebat. Gara-gara Indonesia, perkembangan paham komunis di dunia terhambat. Gara-gara Indonesia, Napoleon kalah perang. Dan hanya Indonesia yang tidak mau takluk kepada tentara Mongol yang terkenal sangat kejam dan susah dikalahkan. Itulah yang Pak Agung ungkapkan di bukunya, kepada negeri tercinta kita Indonesia, dia pandai mengungkap sisi-sisi berharga, maka tidaklah heran, jika kepada masakan saya pun, yang dia lakukan hanya memberi harga.

Seperti tadi, kepada nasi goreng saya. Lagi-lagi saya gagal membuat nasi goreng inovasi baru, haha sebagai ganti tomat saya membubuhinya cuka, Orang di lemarinya cuma ada cuka. Sama-sama asam kok, saya masukkan saja. Namun saat cuka itu kena panas panci dan menguap, tercium bau kurang sedap, dan bau itu mengingatkan saya pada cairan Accu...tahu kan cairan Accu,..itu cairan berracun dan berbahaya yang biasa dimasukkan ke dalam batrei mobil atau motor. Iya, maunya sama seperti bau racun asam berbahaya itu. Waduh gagal lagi nih, namun saat nasi goreng matang, tak saya sampaikan kepada seorang pun teman jika saya telah mencampurnya dengan cuka, termasuk kepada Pak Agung. 

Saya sajikan ke meja, kemudian Wiro pun ikut menikmatinya. Selama mereka makan, sekuat tenaga saya tahan mulut ini dari membuka rahasia bahwa nasi ini telah saya bubuhi cuka. Biar mereka anggap ini rasa khas saja, dan tak pernah tahu ini bau asam mirip bau cairan berracun. 

"Pak" kata saya kepada Pak Agung, "Kalau tidak enak jangan dihabiskan Pak!" saya cicipi ini nasi tidak enak.

"Enggak kok enak! nih saya ngambil lagi!" Benar, bukan main-main. Pak Agung mengambil lagi. Antara bahagia dan susah, saya cemas Pak Agung akan sadar dengan rasa aneh pada nasi yang dimakannya. Akan tetapi sampai makan selesai, dia tak mengeluhkan apa-apa. 

Syukurlah.


Pak Agung, terima kasih. Lidah saya sendiri mentertawakan rasa masakan saya, tapi Pak Agung, sejak mencicipi masakan pertama, yang Pak Agung ucapkan selalu yang enak-enak. Sekali lagi terima kasih ya Pak. Bapak baik sekali, mudah-mudahan harga bawang merah semakin turun. Eh apa hubungannya ya?

Related Posts:

0 Response to "Nasi Goreng Bau Racun"

Post a Comment