Kegilaan Saya Pada Buku


Seperti apa kegilaan Anda terhadap buku? Saya punya banyak cerita. Ini diantaranya.

Seminggu lebih bolak-balik Gramedia, cari buku ini. Masih juga belum ada. Kabarnya sudah terbit. Sudah beredar. Tapi setiap kali mengayuh sepeda, kemudian naik ke lantai dua Gramedia, tak saya temukan juga.

Ada ribuan buku tertata, dengan cover menggoda, dengan judul memikat, karya dari para penulis beken namun, buku itu saja di ingatan saya. Novel tere-liye yang sederhana namun dalam, novel Raditya Dhika yang kocak, Stephen King dengan thrillernya, Kahlil Gibran dengan keindahan katanya, sama sekali, saat ini, tak menarik minat saya. 

Hanya buku itu saja, selalu buku itu saja, dan hanya buku itu saja. Buku bercover biru putih dengan judul "Sebuah Wilayan yang Tidak Ada di Google Earth"

Tapi, di mana dia?

Komputer pencari, ke sanalah saya menuju kemudian mengetik judulnya.

Enter.

Tidak ada.

Ah mungkin dengan nama penulisnya. Saya coba ketik, dan...lagi-lagi tak ada.

Nah, itu pelayan toko. Saya hampiri dan tanyakan padanya. Dia jawab, "Belum ada"

Itu hari pertama.

Hari berikutnya mencoba, masih tak ada. Hari berikutnya lagi, tak ada juga. Sampai seminggu kemudian, saya coba lagi ke Gramedia. Masih juga tak ada.

Tidak rugi sebenarnya. Saya pergi ke Gramedia naik sepeda. Di antara kesibukan kerja, yang hanya duduk di depan komputer, maka perjalanan ke sana menjadi olah raga. Sedikit menggerakkan badan.

Tapi bagaimanapun, saya ingin segera mendapatkannya.

Penasaran, mengingat ini buku sastra. 

Terdorong tulisan Ignas Kleden tentang sastra, di mana dia menceritakan dirinya, bahwa tiap kali dia lelah setelah rutinitas kerja, sastra dia jadikan pelarian, sebab di sana batinnya bisa terbarukan. Sastra membawanya kebali kepada kesadaran, bahwa materi, bukanlah segala-galanya.

Keter-pelet-an saya oleh sastra juga semakin bertambah, setelah membaca paparan Ignas tentang apa itu sastra, dan apa yang membedakan sastra dari tulisan lainnya. Dia tulis di bukunya, "Sasta Indonesia dalam Enam Pertanyaan", sastra adalah bacaan yang sengaja dibuat, untuk melahirkan multi makna, di lintas zaman, selalu memberi inpirasi. Karenanya, ketika tulisan ilmiah dibuat sebisa mungkin mengerucut pada sebuah kesimpulan, maka sastra, justru sebaliknya, sastra dibuat untuk melahirkan kesimpulan yang banyak. Dalam sastra, ambiguitas justru dihidupkan, sehingga, dari sebuah teks, pembaca bisa menginterpretasikannya secara kreatif dan bebas.

Dan buku yang saya cari ini, termasuk sastra. Sungguh, sangat penasaran. "Sebuah Wilayah yang Tidak Ada di Google Earth" begitu bunyi judulnya. Dari siaran radio, pernah dulu saya dengar suara penulisnya. Bahkan baru-baru ini, meski via handphone, bicara langsung dengannya. Tuturannya santun bernas, penuh pengetahuan. Pernah juga mendengar cuplikan dialog dari salah satu bukunya, "Tanah Biru", sebuah dialog sederhana antara seorang anak dan ibunya

Saat itu, si anak tengah bertanya kepada ibunya tentang akhirat. Mengapa harus ada akhirat? Mengapa setiap amalan manusia harus dibalas? dan pertanyaan sederhana lainnya dari kepolosan seorang anak, yang sebenarnya, jika direnungkan, di sana mengandung hikmah yang sangat dalam. 

Buku "Tanah Biru" itu sempat saya pegang. Namun saat itu, sebab mengira akan terus beredar, saya tidak membelinya. Biarlah suatu saat. Ternyata sekarang buku itu sudah tak ada. Penulisnya menjawab, buku itu memang sudah tidak beredar. Akan dibarukan.

Dan ini novel barunya, "Sebuah Wilayah yang Tidak Ada di Google Earth" jangan sampai saya lewatkan. Membandingkan dari novel sebelumnya, yang mendapatkan penghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta, tentulah novel ini dari sisi kualitas tak bisa diremehkan. Ini novel tentang serpihan kisah, dari sekitar Gunung Ciremai, beserta beberapa keping legenda yang tersiar di kaki-kakinya, antara lain Kabupaten Kuningan. 

Related Posts:

0 Response to "Kegilaan Saya Pada Buku"

Post a Comment