Dalam sejarah saya, nasi goreng adalah solusi terakhir. Jika di rumah tak ada tahu, tak ada tempe, tak ada bayam, tidak ada kangkung, tidak ada asin, tidak ada lauk apa pun, maka nasi goreng adalah pilihan. Nasi garing itu dimasukkan ke dalam kuali, mengaduknya bersama goreng bawang. Wangi. Kemudian makan lahap. Begitulah budaya saya.
Tanpa sadari budaya ini terbawa ke tempat kerja. Tak ada lauk, maka nasi dalam mejikom itu saya bubuhkan ke dalam tumis bawang merah bawang putih, saya aduk rata, kemudian membubuhinya dengan garam. Sruuut...sruutt....biar asin.
Beres, langsung saya tawarkan kepada teman kerja, menyebut namanya satu persatu..Dian...Alie....sambil saya bawa piringnya menuju tempat kerja. Hanya tawar basa-basi tentu saja. Hanya satu piring, hanya cukup buat saya. Salah seorang teman kerja teriak, "Wah kita coba bareng-bareng yuk nasi gorengnya."
Eh tahu-tahu dari dalam, "Minta Dong Bunda!" Mbak Asma Nadia teriak.
"Tuh, haha, tanggung jawab, Kang Asep gak usah makan, itu harus diberikan ke Bunda," kata teman kerja yang tadi ngajak bareng-bareng menikmati nasi goreng saya sampai habis.
Gembira campur cemas, menuju kamar, piring masuk duluan.
"Ee Enggak, Bunda cuma minta dikit doang. Satu sendok. Dikit, dikit aja, pake wadah kecil. Nyoba doang!"
Masih dengan gembira campur cemas, nasi saya bawa kembai ke dapur. Gembira nasi goreng saya mau dicicipi seorang penulis terkenal, yang telah banyak prestasinya, dan memberi banyak kebaikan kepada sesama, tapi cemasnya, saya sendiri belum mencoba nasi goreng masakan saya. Tadi garam yang saya taburkan cukup banyak, sampai beberapa kali taburan, kalau keasinan bagaimana?
Pada sebuah pisin kecil nasi itu saya bubuhkan. Dua sendok saja. "Waduh, masa ini sedikit doang" gumam saya "kayak buat kucing saja," maka saya tambahkan, satu sendok lagi, kemudian menyuruh teman kerja saya, Dian, untuk memberikannya ke kamar Mbak Asma.
Bersamaan Dian mengelap pisinnya karena masih basah, baru dicuci, nasi saya coba. Ya, ampun ini keasinan.
Kemudian, dengan suara sedikit saya keraskan, "Aduh maaf, nasinya keasinan."
Tapi Diantetap mengantarkannya ke kamar. Berdebar-debar jantung saya. menunggu teriakan dari kamar. Saya persiapkan telinga ini buat mendengar teriakan "Wah Asep, keasinan!" Sungguh berat saya harus mendengarnya. Berat bukan karena tidak mau dicela--sudah jelas nasi itu keasinan--tapi berat tidak mau mendengar tuan saya, seorang yang banyak kebaikannya kepada saya dan kepada banyak orang--Mbak Asma Nadia, yang orang orang lain sangat menghargainya, menghormatinya, mencintai karya-karyanya---harus rusak rasa di lidahnya dengan nasi goreng keasinan buatan saya. Tidak! Jangan!
Terus saya menunggunya, menunggu detik-detik saraf lidah mbak asma menghakimi rasa nasi goreng saya, akan tetapi tertunda. Terdengar dia menolak karena nasi di pisin kebanyakan.
"Jangan banyak-banyak! Nanti kebuang! Ini kamu makan dulu sebagian!" Mbak Asma menyuruh Dian makan dulu sebagiannya.
Dian menolak.
"Ayo ini makan!"
"Tidak mau!"
"Tidak mau!"
"Ini nanti nasi kebuang! Bunda tak mau banyak-banyak!"
Banyak? Hanya tiga sendok saja kenapa disebut banyak. Saya dengar mereka terus saling memaksa. Bunda maksa Dian makan sebagiannya dulu. Dian menolak. "Kurang ajar kamu Dian, kamu gak mau makan nasi goreng buatan saya." tapi memang iya sih, ini nasi goreng keasinan. Mereka terus saling memaksa, padahal saya sejak tadi, terus menunggu bagaimana komentar Bunda Asma.
Ah kenapa terus tertunda. Ini saya terus menunggu apa komentar Bunda.
Dan akhirnya Dian keluar.
"Selamat Dan....kata Bunda, nasi gorengnya enak!"
"Ah."
Saya sendiri, nih lidah saya sendiri yang merasakan, nasi goreng saya keasinan. Mbak Asma mengatakan enak, saya yakin bukan karena nasi goreng itu enak. Melainkan karena, Mbak Asma mah emang begitu orangnya, tentang dirinya sendiri, dia tak segan mengungkapkan kekurangan, milsanya tentang perannya sebagai ibu rumah tangga di rumah, seperti di buku "Jangan Bercerai Bunda", beliau tak segan menceritakan kekurangannya tidak bisa masak, tidak bisa merapikan rumah dan lebih sering bengong melihat perabotan terserak-serak. Tidak segan mengatakan keburukan dirinya, namun untuk orang lain, dia pandai memilih kata. Untuk orang lain, dia pandai memilih kalimat menyenangkan.
Kepada muslimah berjilbab ketat misalnya. Saat orang lain mengatai itu jilbab telanjang, mencela-cela dengan sebutan jilboob, mbak Asma tidak, dia lebih suka menyebut mereka sebagai para muslimah yang sedang berjalan menuju cahaya. Mereka sedang berproses menemukan kebenaran. Kepada mereka Mbak Asma begitu bijaksana, maka begitulah pula kepada nasi goreng saya, dia lebih suka memilih kata-kata yang enak di telinga saya.
Meski dikatakn enak, saya tetap malu. Malu luar biasa.
Dan menyesal.
Menyesal, kenapa saya tadi tidak berusaha membuatnya enak. Kalau saja tahu Mbak Asma mau mencoba, mungkin akan saya paksakan diri berangkat ke pasar, membeli kecap, lada, telur, dan segala perlengkapan buat nasi goreng biar terasa enak. Akan saya siapkan bumbu dengan sebaik-baiknya, akan saya takar asin manisnya setepat-tepatnya, biar nasi goreng ini menjadi goreng terlezat yang pernah Mbak Asma temukan.
Nama Garam saya taburkan tanpa pertimbangan, asal ada rasanya, dan tadi saya tidak peduli akan seperti apa rasanya, sebab saya pikir, masakan ini hanya buat saya, jadi meskipun tidak enak, tak ada orang lain yang merasakan kekecewaan karena tidak enak itu kecuali saya. Jadi saya buat bumbu dan rasanya seenaknya saja.
Dari kejadian ini saya mendapatkan pelajaran, jika melakukan sesuatu, buat siapa saja, buat orang lain, atau buat diri sendiri, lakukanlah hal terbaik yang bisa kita lakukan. Jika memberi yang terbaik buat orang lain itu sebuah kebaikan, maka memberi yang terbaik buat diri pun sesungguhnya sama merupakan kebaikan. Jika Nabi menasihatkan supaya menyayangi orang lain seperti menyayangi diri sendiri, maka sesungguhnya menyayangi diri sendiri pun harus sama seperti menyayangi orang lain.
Jika ilmu bisnis mengharuskan kepada orang lain itu memberikan pelayanan terbaik, maka sesungguhnya demikian juga, kepada diri pun harus memberikan pelayanan terbaik. Karena seringkali, hal terbaik yang kita berikan kepada diri sendiri, pada akhirnya akan kita berikan juga kepada orang lain. Minyak wangi terbaik yang kita berikan kepada diri sendiri pada akhirnya wangi itu akan kita berikan juga kepada orang lain. Motor terbaik yang kita berikan kepada diri sendiri pada akhirnya akan kita berikan kebaikannya kepada orang lain. Jika motor yang kita pilih buat diri kita baik, maka kebaikan motor itu akan dirasakan juga oleh orang lain.
Demikianlah seharusnya nasi goreng tadi, meski saya niatkan nask goreng ini buat diri saya sendiri, seharusnya, saya buat ini menjadi nasi goreng terbaik, karena pada akhirnya nyata-nyata, nasi goreng ini diinginkan juga oleh orang lain.
Akhirnya, saya ingin minta maaf pada nasi goreng.
"Nasi goreng, maafkan saya. Iya memang kamu keasinan. Rasanya mungkin tidak menyenangkan. Tapi dari semua nasi goreng yang saya buat, kamu adalah nasi goreng paling bersejarah, baru kamu nasi goreng yang dicicipi penulis yang sangat dicintai masyarakat: Mbak Asma Nadia.
Kepada muslimah berjilbab ketat misalnya. Saat orang lain mengatai itu jilbab telanjang, mencela-cela dengan sebutan jilboob, mbak Asma tidak, dia lebih suka menyebut mereka sebagai para muslimah yang sedang berjalan menuju cahaya. Mereka sedang berproses menemukan kebenaran. Kepada mereka Mbak Asma begitu bijaksana, maka begitulah pula kepada nasi goreng saya, dia lebih suka memilih kata-kata yang enak di telinga saya.
Meski dikatakn enak, saya tetap malu. Malu luar biasa.
Dan menyesal.
Menyesal, kenapa saya tadi tidak berusaha membuatnya enak. Kalau saja tahu Mbak Asma mau mencoba, mungkin akan saya paksakan diri berangkat ke pasar, membeli kecap, lada, telur, dan segala perlengkapan buat nasi goreng biar terasa enak. Akan saya siapkan bumbu dengan sebaik-baiknya, akan saya takar asin manisnya setepat-tepatnya, biar nasi goreng ini menjadi goreng terlezat yang pernah Mbak Asma temukan.
Nama Garam saya taburkan tanpa pertimbangan, asal ada rasanya, dan tadi saya tidak peduli akan seperti apa rasanya, sebab saya pikir, masakan ini hanya buat saya, jadi meskipun tidak enak, tak ada orang lain yang merasakan kekecewaan karena tidak enak itu kecuali saya. Jadi saya buat bumbu dan rasanya seenaknya saja.
Dari kejadian ini saya mendapatkan pelajaran, jika melakukan sesuatu, buat siapa saja, buat orang lain, atau buat diri sendiri, lakukanlah hal terbaik yang bisa kita lakukan. Jika memberi yang terbaik buat orang lain itu sebuah kebaikan, maka memberi yang terbaik buat diri pun sesungguhnya sama merupakan kebaikan. Jika Nabi menasihatkan supaya menyayangi orang lain seperti menyayangi diri sendiri, maka sesungguhnya menyayangi diri sendiri pun harus sama seperti menyayangi orang lain.
Jika ilmu bisnis mengharuskan kepada orang lain itu memberikan pelayanan terbaik, maka sesungguhnya demikian juga, kepada diri pun harus memberikan pelayanan terbaik. Karena seringkali, hal terbaik yang kita berikan kepada diri sendiri, pada akhirnya akan kita berikan juga kepada orang lain. Minyak wangi terbaik yang kita berikan kepada diri sendiri pada akhirnya wangi itu akan kita berikan juga kepada orang lain. Motor terbaik yang kita berikan kepada diri sendiri pada akhirnya akan kita berikan kebaikannya kepada orang lain. Jika motor yang kita pilih buat diri kita baik, maka kebaikan motor itu akan dirasakan juga oleh orang lain.
Demikianlah seharusnya nasi goreng tadi, meski saya niatkan nask goreng ini buat diri saya sendiri, seharusnya, saya buat ini menjadi nasi goreng terbaik, karena pada akhirnya nyata-nyata, nasi goreng ini diinginkan juga oleh orang lain.
Akhirnya, saya ingin minta maaf pada nasi goreng.
"Nasi goreng, maafkan saya. Iya memang kamu keasinan. Rasanya mungkin tidak menyenangkan. Tapi dari semua nasi goreng yang saya buat, kamu adalah nasi goreng paling bersejarah, baru kamu nasi goreng yang dicicipi penulis yang sangat dicintai masyarakat: Mbak Asma Nadia.
0 Response to "Nasi Goreng Paling Bersejarah"
Post a Comment