Ini, hanya gumaman tengah malam, tidak jelas judulnya, hanya menyalurkan gatal jari saya buat menulis, mengungkapkan apa saja yang ingin saya sampaikan. Jadi, jangan pernah buang waktu Anda membaca tulisan ini.
Hampir tengah malam, masih belum tidur, badan masih segar, karena, baru saja kami futsal, olah raga, yang sebelumnya, sudah saya katakan kepada Anda, olahraga membuat badan terasa segar dan sehat. Wiro mengajak saya shalat berjamaah, dan saya menolak dengan alasan, belum mandi. Wiro katakan, dia akan tunggu. Saya kalah, dan setelah mandi, berjamaah Shalat Isya dengannya.
Dan setelah Isya itulah, sesuatu yang mengharukan terdengar. Dari ruang kerja, tilawah Al-Qur'an mengalir dari pita suara Alie Isfah. Tengah malam begini, ada bacaan Al-Qur'an, langsung dari lisan, bukan dari rekaman, itu sangat mengesankan. Tak punya ungkapan selain itu: mengesankan. Yang dia baca adalah surat Al-Jumu'ah. Ketika sampai kepada ayat,
"Perumpamaan orang-orang yang membawa Kitab Taurat, kemudian tidak mengamalkannya adalah seperti himar yang memikul tumpukan kitab. Alangkah buruknya perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim."
Terutama ayat ini menyindir orang-orang berpengetahuan, akan tetapi pengetahuan itu tidak bermanfaat baginya karena tidak mengamalkannya, maka alangkah buruknya dia, sampai-sampai perumpamaannya pun tak tanggung-tanggung, laksana himar membawa kitab tebal. Sampai kapan pun itu dia memikul kitab, takkan pernah mengerti pada isi kitabnya.
Jadi sebenarnya buruk nian orang yang mendapatkan pengetahuan, akan tetapi tidak mempraktikkan pengetahuannya. Merenungkan kenyataan ini teringat kepada saya sendiri, saya sudah banyak membaca, banyak pengetahuan, tapi dalam masalah praktik, saya jarang mempraktikkannya. Banyak pengetahuan yang saya ketahui tapi tidak saya praktikkan.
Saya lebih banyak tahu daripada bisa, akhirnya karena banyak tidak bisa jadinya saya jadi banyak tidak tahu. Seperti tadi saja main bola, futsal, ini untuk kedua kalinya saya ketahuan tidak bisa. Saya jadi kiper, harusnya bola mau masuk gawang itu saya tangkap. Tapi masya Allah, saya biarkan saja. Orang menendang bola ke gol, saya malah menghindar karena takut. Ada bola menggelinding jawan bawah, malah saya persilahkan ke bawah selangkangan. Ada lagi yang lurus, menerobos ke bawah ketiak. Ya ampun kenapa saya bodoh sekali main bola.
Saya benar-benar tidak bisa, tapi tim saya menang. Mungkin karena melihat saya bodoh menjaga gawang, mereka merasa harus kerja keras melakukan penyerangan, dan mengejar ketinggalan. Terus terang saya khawatir, sebelumnya tim saya kalah. Beberapa kali masuk, dan skor ketinggalan. Tapi ternyata bisa menyusul, dan susulan gol sangat banyak setelah saya diistirahatkan dan diganti dengan Pak Nur. Di sisi lapang, kemudian saya mendapatkan tugas mengganti-ganti angka skor yang digantungkan di jaring, rasanya puas sekali terus-menerus menambahkan angka buat tim saya yang terus-menerus mencetak goal, sambil terus melihat jam, dan ingin permainan cepat selesai, supaya selesai dalam keadaan menang, tapi ternyata, setelah jam 08.00 permainan masih diteruskan, uuaahhh jengkel sekali rasanya, kenapa malah diperpanjang, nanti skornya kesusul. Ada-ada saja nih trik lawan. Dan saya tidak berdaya, tidak bisa protes, tidak bisa apa-apa. Hanya nonton saja sambil berharap, dengan perpanjangan ini, tim saya terus-menerus menambah angka. Dan ternyata lawan yalah menjebol gawang tim saya. Cemas luar biasa. Rasanya muka saya kehilangan darah.
Untungnya di sisi lapang, sudah banyak orang lain ngantri mau memakai lapang. Jadinya mau tak mau, keinginan tim lawan terus memperpanjang permainan dibuat tak berdaya, karena memang sewa lapang sudah habis waktunya. Dalam hati saya hanya bisa tertawa.
ADA SATU HAL YANG NORAK
Sebenarnya, ada satu hal yang norak dalam hati saya, yang saya perangi habis-habisan, yaitu perasaan, bahwa saya ini sebenarnya pembawa keberuntungan. Ya Allah, mana mungkin saya yang banyak dosa malah membawa keberuntungan. Perasaan ini adalah ujian, dan tugas saya adalah menghilangkannya.
Saya merasa saya membawa keberuntungan, karenan minggu sebelumnya main juga, dan dari segi kekuatan, tim saya bisa disebut lemah, antara lain ya pemainnya orang seperti saya, tidak bisa sepak bola, sedangkan tim lawan, mereka rata-rata pemain yang sudah biasa, bahkan di antranya ada yang profesional. Ini sangat mencemaskan akan tetapi akhirnya mendang dan mendapatkan bagian uang, lima puluh ribuan untuk setiap pemain yang satu tim dengan saya termasuk saya.
Dan begitu pula minggu sekarang, kembali mendapatkan kemenangan, sampai timbul dalam hati saya sebenarnya kehadiran saya pada tim inilah yang membawa keberuntungan. Minggu lalu Wiro satu tim dengan saya, dan dia menang dan mendapatkan uang bersama saya, sekarang dia menjati tim lawan, jadinya tidak mendapatkan apa-apa. Sebaliknya Alie, minggu lalu tidak mendapatkan uang karena dia masuk tim yang kalah, namun minggu ini, setelah pulang ke kantor dia, gembira, mendapatkan uang, karena masuk tim yang menang, satu tim dengan saya.
Saya merasa diri demikian? Saya merasakan kehadiran saya sebagai faktor keberuntungan?
Ya ampun, saya yakin ini ujian, dan semua yang saya pikirkan ini hanyalah dugaan dan khayalan, dan jika ini saya nyatakan kepada orang-orang, betapa akan sebalnya mereka. Tahu sendiri mereka tertawa-tawa tadi melihat kekonyolan saya, menjadi penyerang letoy, menjadi keeper jebol, tidak bisa diandalkan sama sekali, terus kemudian sekarang, setelah selesai permainan mengaku-ngaku sayalah pembawa keberuntungan, tentu mereka akan muntah-muntah.
Apalagi di hadapan Allah, masya Allah, Wallahu A'lam, tapi jelas Dia tidak suka kepada orang yang suka membangga-banggakan diri, terlebih ini bangga dengan sesuatu yang tidak jelas. Bangga dengan sesuatu yang bukan milik saya. Bangga dengan sesuatu yang hanya dugaan saja. Jika saya bisa terus saya bangga, itu pantas saja. Ini tidak bisa, terus saya bangga, ini sangat norak.
Dari sini saya kemudian kembali lagi kepada satu hal yang saya yakinkan. bahwa diri ini, jiwa ini harus saya kosongkan. Saya harus mengosongkannya dari saya punya, saya harus mengosongkannya dari rasa bisa, dari rasa tahu. Saya harus mengosongkan diri sekosong-kosongnya dan berusaha memandang diri tidak punya apa-apa, tidak bisa apa-apa, dan bukan siapa-siapa.
Saya tidak punya apa-apa, saya tidak bisa apa-apa, dan saya bukan siapa-siapa, jadi sangat tidak pantas membangga-banggakan diri. Ini perbuatan yang saya norak. Bagaimana saya bangga dengan
sesuatu yang bukan milik saya, dan bagaimana saya bisa membangga-banggakan diri, sedangkan saya bukan siapa-siapa. Saya hanyalah seorang yang dihidupkan oleh Allah, kemudian diberi rejeki, diperjalankan hidupnya, diberikan pengetahuan, bisa mengingat jika Dia mengingkatkan saya, dan seringkali lupa ketika Dia berkehendak sesuatu hilang dari ingatan saya. Saya kosong, bukan siapa-siapa.
"Tiada daya tiada kekuatan, selain dengan Allah yang Maha Tinggi Yang Maha Agung."
Related Posts: