Kita Hanyalah Ketiadaan

Kita adalah ketiadaan, dan akan kembali kepada ketiadaan, dan tatkala sampai kepada kesadaran ini, maka, melihat segala yang ada ini akan sangat bersyukur. Kita hanyalah orang yang dicipta, kita hanyalah orang-orang yang dihadirkan dan diwujudkan, demikian pula sesuatu yang berada di sekeliling kita, karenanya ketika secara halal seorang suami memeluk istrinya, bersama kesadaran bahwa kita berasal dari ketiadaan, maka pelukan itu akan dia rasakan nikmat luar biasa, akan dia rasakan di sana syukur yang luar biasa, akan dia nikmati sepenuhnya, dan melihat keajaiban di sana, bagaimana dari ketiadaan, kemudian Allah menjadikan kita ada, kemudian memberikan sesuatu yang sangat indah, bisa memeluk seseorang.

Rasa syukur akan semakin berlimpahan dalam batin kita manakala saat memandang diri dan sekeliling berasal dari ketiadaan. Coba pegang hidung Anda, jangan bercermin melihat bentuknya, tapi rasakan fungsinya. Un
tuk bernafas, dan nafas dia tarik tanpa Anda sendiri usaha, masuk ke dalam paru-paru yang sudah tersedia. Allah telah mengadakannya di dalam dada kita. Dan lihatlah keseluruhan tubuh kita. Semuanya berasal dari ketiadaan dan semuanya menjadi ada. Lihat juga fasilitas di sekeliling kita, mungkin meja, kursi yang empuk, smartphone, komputer, dispenser, temat masak, lantai, rumah, semuanya berasal dari ketiadaan kemudian Allah adakan untuk kita. Menyadari semua itu, saya sendiri jadi ingin menangis dan berterima kasih kepadan-Nya.

Ya kesadaran berasal dari ketiadaan adalah pembangkir rasa syukur yang luar biasa.

"Bukankah telah datang kepada manusia suatu saat, di mana dia bukan sesuatu yang pantas disebut? Sesungguhnya manusia berasal dari air mani yang terpancar, kemudian mengujinya, maka kami menjadikan untuknya pendengaran dan penglihatan. Sesungguhnya kami memberinya petunjuk, apakah mereka akan bersyukur atau kufur?"


Related Posts:

Merasakan Suasana Sorga

Menjadi ahli sorga, tidakkah kita ingin menjadi ahli sorga?
Di sana, tiada dendam, tiada kedengkian, tiada kecemasan, tiada kebosanan.
Di sana, hanya ada kebahagiaan, dan setiap gerik hati pada sebuah keinginan, akan langsung terjawab dengan mudah tanpa usah
Demikian lukisan sorga yang pernah saya dengar dari beberapa orang kiai

Dan suasana sorga demikian,
Kemarin saya saksikan terjadi pada atasan saya
Hanya berkata, "Peyeknya enak nih, tapi waruh kasar di tenggorokan, gak ada minumannya."
Dan tak lama setelah itu, dua teh botol datang. 

Saya melihat ini fenomena sorga
Hanya dengan menginginkan, apa yang diinginkan itu datang
Tidak menyuruh, tidak meminta
Tapi karena buat atasan saya, suasana dibuat sorga, maka hati saya pun, saat itu, tergerak ingin membawakan minuman untuknya. Kami berada di lantai 3, sedang minuman di lantai 1, dan saya ingin mengambilnya ke bawah, tapi keduluan teman saya.

Yang menjadi pertanyaan, mengapa buat atasan saya suasana dijadikan Allah "bagaikan" di sorga?
Karena dia seorang yang penuh cinta.
Maaf ini cukup lebay dan terkesan romantis, dan pasti ditertawakan, apalagi jika saya sampaikan di depan umum kepadanya. Tapi, saya tidak punya bahasa lebih bagus dari itu untuk melukiskan kenyataan dia. Atasan saya seorang yang sangat peduli dan cinta kepada sesama. Setidaknya, itu yang banyak saya lihat darinya. Kami para karyawan diangkat bukan atas nama ijazah, bukan karena sarjana, bukan karena keahlian, tapi--ini yang saya rasakan--karena dia ingin memberikan pekerjaan dan supaya saya mendapatkan penghasilan.

Dan itu, 
Hasrat membantu orang
Menolong dan memudahkan mereka dalam usahanya
Sepertinya, sudah menjadi karakternya. Saya harap tulisan ini tak sampai kepadanya
Saya harap tulisan ini tidak sampai kepada atasan saya
Dan tak pernah dia baca, kecuali pada saat dia mengingat Allah
Sehingga segala kebaikan yang dia lakukan, dia kembalikan kepada Allah sebagai pemilik semuanya.

Iya, sudah mendarah daging
Seperti sebelum makan peyek tadi
Seorang anak datang membawa peyek dalam keranjang,
Dan mulailah salah seorang karyawan membeli, namun atasan saya,
Segera berkata, akan memborong semuanya
Dia borong peyek itu anak, sampai habis. Jadi anak itu tinggal pulang
Jualannya hari itu langsung habis, jadi hari itu, selesai sudah tugasnya, dan tinggal menerima laba
Apa yang dilakukan atasan saya, memborong dagangan si anak, itu karena dia punya kepedulian dan cinta.

Kepedulian dan cinta kepada sesama
Rasa ingin menolong, rasa ingin menguntungkan orang lain
Dan membahagiakan mereka, dan mempraktikkannya, adalah karakter-karakter
Yang bisa membuat seseorang--dengan izin Allah-merasakan suasana di sorga,

Related Posts:

Belajar Kepada Air

Air comberan, air jalanan, air keruh bercampur tanah, air dari pembuangan manusia, ari najis, air  mengandung najis, air dari tempat sampah, air selokan kota, karena air bersifat mencari tempat yang lebih rendah, maka air itu meresap ke dalam tanah, semakin ke bawah, semakin ke dalam tanah, semakin murni dan semakin suci dirinya, dan saat berada di kedalaman tanah itulah, air akan dicari orang. Para penggali sumur akan menggali hingga menemukannya, pekerja sumur bor, akan mengebor supaya air itu terpancar. Air yang semula najis penuh kotoran, setelah merendah terus ke dalam tanah, pada akhirnya menjadi air yang sangat dicari dan dibutuhkan orang.

Related Posts:

Bisikan Upil Boim

"Ya ampun, negeri ini makin hancur saja. Merayakan lulus ujian, siswa-siswi mau mengadakan bikini party. Mau jadi apa ke depannya? Parah" tulis Boim--tokoh fiktif di social media miliknya.

Usai menulis itu, Boim terus menelusuri berita yang berhubungan dengan Bikini Party, kemudian tahu, undangannya disebar via YouTube. Berita ini dia baca di warnet. Boim mengambil paket gadang. Penasaran seperti apa undangan pesta bikini itu, Boim membuka YouTube, kemudian pada pencarian, dia menulis bikini, memijit enter, dan terbukalah deratan video yang sangat menarik matanya. Sebagai pria normal, pemandangan berbagai list video itu menggoda tangannya buat klik. Ada yang lima menit, ada yang tujuh menit. Satu persatu dia buka, ludahnya berkali-kali merembes di bawah lidahnya, berkali-kali pula dia telan. Dada kembang kempis, nafasnya menjadi cepat, dan jantung berdebar kencang. 

Setelah 15 menit, Boim kembali teringat tujuannya semula. Membuka YouTube ini ingin mencari tahu seperti apa undangan Bikini Parti itu. Maka kalimat pencariannya dia tambah menjadi "Bikini Party", dan terbuka kembali berbagai video yang menayangkan seperti apa pesta bikini itu. Satu persatu video dihabiskannya sambil terus-menerus menelan ludah dengan nafas yang semakin cepat mengimbangi debaran-debaran jantungnya, hingga beberapa video dia tonton dan bosan. 

Siangnya Boim masuk kerja, jadi tukang jahit di sebuah konveksi. Tiba jam istirahat, Boim membuka handphonenya, buka facebook, kemudian menulis di sana, "Budaya menjijikkan! Generasi kita semakin parah! Pesta bikini terang-terangan dipromosikan! Parah!"

"Ah kamu juga parah!" bisik upil di dalam hidungnya.

Related Posts:

Wiro dan Segala Cobaan Hidupnya

Jaman sekarang, biaya menikah mahal. Tak cukup 25 juta. Bagi sebagian pemuda, ini membuatnya jadi sungkan. Pernikahan jadi seperti gunung terjal. Sedang batinnya, tak bisa tidak, terus dilanda kegalauan.

Seperti Wiro yang kini dia sedang galau. Usia menanjak tiga puluhan, belum juga bisa menikah. Satu alasannya tidak punya biaya. Ini membuatnya insomnia. Malam-malam jadi penuh gadang. Kepada saya dia curhat,

"Dulu sebenarnya gue pernah punya rencana buat menikah. Gue kumpulin uang, dapat 80.700 rupiah, eh habis lagi dibelanjakan."

"Dibelanjakan buat apa?" tanya saya.

"Buat rokok."

Busyet dah!!

Sampai bermenit-menit temannya ngakak. Demi sebatag rokok, impian menikah dia hancurkan.

Kemarin-kemarin, sebenarnya ada wanita yang bersedia menikah dengannya. Yang menawarkan  adalah teman kerjanya. Masalah keuangan, Wiro tak perlu cemas sebab, si wanita adalah seorang pe en es, terjamin keuangan di setiap bulannya. Wajahnya cantik, beneran. Saya lihat sendiri fotonya, montok manis berwajah chubby. Namanya juga orang kaya. Tapi Wiro menolak, setelah tahu ternyata usianya 7 tahun lebih tua darinya. Jelas teman kerjanya tak suka, langsung mendatangi Wiro dan mengomelinya, "Heh Wiro, emang kamu itu ganteng apa? Ada cewek kok ditolak-tolak. So ganteng Lo. Ganteng juga enggak!"

Wiro cuma diam. Meneruskan kerja. Begitulah, satu hal yang saya kagumi darinya adalah, dia orangnya lapang dada. Dibuli sedemikian rupa dia tetap santai. Ledekan teman sekantor sudah jadi menu harian, dan dia tetap tenang, berjalan sana-sini, ngambil kopi, naik ke lantai empat, buat merokok, kembali lagi kerja, dan kadang, jika lewat di belakang teman kerja, dia sempatkan dulu memijit bahunya sambil tengadah dan nyengir. Santai dan tetap ceria, begitu karakternya. Jadinya orang tak perlu khawatir, orang tetap aman tak takut Wiro marah. Menurut saya, ini karakternya luar biasa.

Tapi kalau dia sendiri sudah ngaku-ngaku penyabar, saya suka sebel juga.

"Sebenarnya saya pengen benci sama orang, tapi susah"

Mendengar itu, saya jadi pengen muntah.

"Jarang kan orang seperti saya?" tanyanya pede sekali.

"Iya jarang," ucap saya datar.

Mendengar itu, Wiro gembira. Tapi lanjut saya, "Iya, jarang orang seperti kamu. Teman saya yang lain normal semua."

"Weddusss!!!!"

Keunikan lainnya dari dia adalah, orangnya spontanitas. Omongannya unik. Kadang saya suka merasa sayang, saat ngobrol, lalu keluar ucapan uniknya tanpa saya tuliskan. Misalnya, saat ada orang lain menghina, biasanya orang teriak:

"Jaga mulut Kamu!!!"

Wiro tidak.

Dia biasa teriak, "Jaga telingaku!!!"

Celakanya, spontanitas dia kadang jari kurang ajar. Misalnya saja waktu kopdar, Wiro kedatangan Mas Ferry Hidayat. Tamunya ini mentraktirnya makan, kemudian pamit mau pulang.

Harunya, saat mau pisah itu Wiro berterima kasih, atau minta maaf tidak bisa memberikan sambutan menggembirakan, bahkan yang ada, malah merepotkan, malah Mas Ferry yang traktir makan. Harusnya berterima kasih--eh Wiro tidak. Kepada Mas Ferry Wiro malah berkata, "Pulangnya ke kuburan?"

Kurang ajar!

Atau kepada seorang menejer di perusahaannya, sering kata-katanya kurang sopan. Misalnya, saat si menejer minta dibuatkan kopi, Wiro bersedia, tapi  menyajikannya sambil berkata, "Abi, ini obatnya diminum Abi!" Orang sekantor langsung ngakak. Wiro menganggap menejer itu orang sakit. Dan ternyata belum puas, setelah itu Wiro pun berkata, "Abi,,,Ini kursi rodanya Abi!"

Untungnya Pak Ardian--menejer itu--tidak marah, hanya senyum-senyum saja. Dan lama-lama, kemiringan Wiro dimakluminya.

Itu sih kurang parah. Spontanitas Wiro pernah sampai mencelakai kakaknya. Maaf, mungkin ini sedikit fulgar. Tapi semoga, saya masih bisa menjaga kata-kata. Jadi ceritanya si kakak buang air kecil ke sungai. Begitu Wiro melihatnya, langsung menegur sambil menyentil alat vital kakaknya.

"Wah itu sampai sakit kakak saya, sampai bengkak-bengkak."

"Hah?" saya kaget.

"Beneran!"

"Sampai bengkak itunya?"

"Iya. DI SITU KADANG SAYA MERASA SAKTI."

Ampun dah.
Bukannya menyesal. Malah bangga.

Saat lainnya, waktu Wiro menjadi karyawan Toko Buku di Makasar, bersama temannya mendapatkan tugas memasang banner dekat jembatan. Dengan sebuah bambu basah, dia dan temannya berusaha mengangkat banner itu. Wiro mengangkatnya sambil teriak-teriak tahlil, seperti orang sedang mengangkat keranda. Kemudian Wiro kebagian tugas memanjat besi jembatan, untuk menyeimbangkan banner itu dari atas. Sedang teman lainnya, menahan dari bawah, sambil berdiri di atas plat besi berukuran luas. Tanpa Wiro sadari ujung bambu bagian atas mengenai kabel PLN. Kabel itu tak ada bungkusnya. Tentu saja listriknya merambat. Teman-temannya di bawah kesetrum sampai beterbangan.

"Kamu selamat?" tanya saya.

"Gue selamat. Tapi teman gue yang di bawah itu tidak. Dua orang meninggal dunia. Itu hari paling menyebalkan Coy. Setelahnya gue dibawa ke kantor polisi, ditanya sambil dibentak-bentak"

"Gimana?"

"Kata polisi, "Hai, kamu sengaja ya mengenakan bambu itu ke kabel listrik? Kamu punya dendam kan sama teman-teman kamu?" Wah bete banget hari itu!"

Begitulah Wiro dan segala cobaan hidupnya.

Related Posts:

Sandal Jepit Alie Isfah

Masih pagi, kantor masih sunyi, detak-detak itu terdengar dari arah tangga. Itu suara sandal Alie Isfah, sandal karet warna hijau tua dengan tali warna hitam--sandalnya yang senantiasa, jika masuk kamar mandi, harus rela tertinggal di luar, menunggu tuannya dengan setia, sabar, tak sedikit pun mengeluarkan keluhan, hingga sepasang kaki kembali memakainya, dan membawa melompat dari satu keping ubin ke ubin keping lain, terus dibawa melompat dan melompat hingga sampai ke tempat shalat. 

Ya bagi sandal, perpindahannya itu "melompat" meski bagi pemiliknya itu adalah "melangkah". Dan begitulah dia setia setiap hari, siang dan malam, menjadi alas kaki Alie Isfah ke mana-mana, ke mesjid, ke tempat Jum'atan, ke kantin, ke warung pecel lele, ke pasar, hingga tiba masanya, dia harus pensiun, setelah putus talinya, kemudian beristirahat di bawah bergelimpangannya barang-barang tak karuan di gudang lantai empat. 

Saat lewat ke sana, saya bertanya, "Sandal, apa kabar?"

"Beginilah."

"Kamu jangan sedih ya!"

"Tidak! Saya telah melakukan peran saya sebagai sandal, dengan baik, dan sekarang waktunya istirahat, ah biasa saja, tak masalah."

"Baguslah, sepertinya menjadi sandal lebih menyenangkan daripada menjadi manusia."

"Tentu saja, tapi jadi manusia pun sebenarnya tetap bisa menyenangkan, asalkan tahu ilmunya."

"Kamu tahu ilmunya?"

"Tahu."

"Apa?"

"Berserah dan ikhlash."

"Bisa kamu jelaskan?"

"Berserah itu ya berserah, tidak mengeluhkan apapun anugerah yang Allah berikan."

"Ikhlas?"

"Ikhlash itu ya berasal dari kata khalasha, artinya bersih, bersih dari segala hal selain ingat kepada-Nya."

"Apakah kamu senantiasa ingat kepada-Nya?"

"Tentu saja tidak. Aku hanya sandal yang tidak diberi otak. Tapi segala sistemku, keberadaanku, hadirku, merupakan perwujudan dari kekuasaan-Nya, dan sesungguhnya aku taat kepada-Nya, hadir sebagaimana seharusnya."

"Maaf Sandal,,,,saya kurang mengerti perkataan Anda."
"Terkadang tidak mengerti lebih baik daripada mengerti, lupakan saja. Sekarang giliran saya yang mau bertanya. Sebenarnya bagaimana sejarah saya dulunya?"

"Oh, jadi kamu ingin tahu?"

"Tentu saja."

"Saya tidak tahu sejarah sebenarnya, tapi mengingat sandal jepit biasa disebut juga Sandal Jepang, saya kira sendal jepit seperti kamu ini berasal dari Jepang."

"Kok pake saya kira, yang ilmiah dong!"

"Ini juga ilmiah, haha, saya mengambil ini dari Wikipedia."

"Ah Wikipedia..."

"Eh ini juga berdasarkan lagu."

"Bagaimana lagunya?"

"Sendal butut, sapatu butut buatan Jepang, aya warung sisi jalan rame pisan, meuli lotek diladangan ku parawan, etana endut endutan."

"Bahasa Indoensianya apa itu?"

"Sendal jelek sepatu jelek buatan Jepang, ada warung pinggir jalan ramai sekali, membeli lotek dilayani seorang perawan, ah sudahlah, ke sananya agak jorok..."

"Ah tetap tidak ilmiah."

"Dalam sejarah, Prajurit Amerika pulang ke negaranya dengan membawa oleh-oleh sandal dari Jepang. Dan semasa perang dunia kedua,"

"Trus di Amerika namanya jadi apa?"

"Tetap Sandal"

"Berarti sama dong di seluruh dunia?"

"Tidak juga...di Australia namanya Thongs, di Belanda namanya Teenslipers, di Polandia namanya Japonki, di Rumania namanya Slapi, di Venezuela namanya Cholas, sudah ah di negara lain namanya susah-susah, susah nyebutnya, susah juga nulisnya."

"Terus?"

"Terus apa lagi?"

"Apa lagi apa?"

"Apa lagi perbincangan tentang saya?"

"Sudah ah, saya mau kerja. Kamu kerjanya cari perhatian melulu..."

"Yee, siapa juga yang mulai!"

"Saya jalan dulu ya, selamat pensiun aja!"

Related Posts:

Trik Pemalas Menulis Buku


Ingin punya buku, tapi malas menulis buku?

Menulislah seenaknya. Tuliskan apa saja yang ada dalam kepala Anda, dengan cara Anda, dan tidak perlu terikat aturan, dan biarkan apa saja mengalir dari sana tanpa mempedulikan tata bahasa, pokoknya enak, enak dikeluarkan, enak dituliskan, dan saat Anda membaca ulang tulisan Anda, otak Anda enak mencernanya. Terus dan teruslah menulis yang banyak, hingga setelah berlembar-lembar, berikanlah kepada penerbit, atau Anda terbitkan sendiri jadi buku...maka dengan mudah Anda telah membuat buku.


Saya kira itu buku bagus dari buku manapun, orisinal, asli, tidak dibuat-buat karena keluar dari jiwa dan gelora nafsu Anda yang tentunya mempunyai keunikan.

Ingin menulis buku? Pakai saja cara Anda, dan lupakan segala trik cerewet, jika itu hanya menghambat kreatifvitas Anda.


Saya sendiri mempunyai cara, dan untuk sekarang, cara yang ingin saya jalankan adalah, PENYATUAN.



Saya ingin ada penyatuan, pengumpulan, dan tidak ingin terpecah-pecah. Saya sedang kerja di penerbitan, maka seharusnya, tulisan-tulisan saya ini memperkenalkan buku-buku yang ada di sini, di penerbitan ini. Jika saya ingin menambah pengetahuan, maka cukuplah dengan buku-buku yang ada di sini. Menelaahnya, mendalaminya, sehingga kemudian, ketika saya bersocial media, saya bisa ngobrol dengan orang lain, sambil mengutip dan memperkenalkan buku ini.



Bagaimana caranya?

Pertama dengan cara menikmati setiap buku, membacanya dengan tekun, menikmatinya, larut ke dalam ceritanya, merasakan ketegangan, merasakan kesedihan, dan kadang tertawa, supaya apa yang saya baca meresap, dan ketika melakukan percakapan saya bisa mengulangnya kembali.


Tulisan-tulisan hasil percakapan itu, bisa saya kumpulkan, kemudian menjadi esai

Ah iya ah, mau ah....


Bagaimana saya memulainya?

Memulainya adalah dengan cara membaca postingan di Komunitas Bisa Menulis, berusaha mengerti isinya dan mengapresiasinya dan menghargainya, kemudian melakukan pendalaman dan pembahasan, dan mennyambungkannya dengan salah satu buku yang ada di penerbitan tempat saya kerja.


Kemudian, hasil komentar itu akan saya kumpulkan ke program pengolah kata alias microsoft word, dan mengeditnya menjadi ESAI.....

Yes, saya ingin menjadi penulis esai. Esai dari berbagai buku sastra, buku non sastra, buku apa saja, nanti, jika aku menjadi profesional dan telah banyak menulis esai, dan kemudian esai itu dibukukan, saya bayangkan insya Allah, nanti akan banyak sekali orang membutuhkan jasa saya.


Sebab saat ini saya perhatikan banyak sekali orang yang berusaha menjadi penulis, dan beberapa telah menghasilkan karya. Tentunya, saat mereka lihat saya memberikan review dengan cara profesiona, mereka akan tertarik meminta saya mereview karyanya juga. Mungkin pada awalnya, saya akan diminta secara gratis, ya tidak mengapa, dengan senang hati saya akan melakukannya, namun ke sananya, tentunya akan ada orang meminta saya dengan mendesak sambil memberikan bayaran, nah saat sudah begini, saya tinggal mengucapkan selamat tinggal kepada yang mempekerjakan saya dengan gratis, dan beralih kepada orang yang mempekerjakan saya dengan bayaran. 

Hidup ini harus pake akal. Dan akal yang dipakai itu harus akal sehat. Jangan akal bodoh.

Related Posts:

The Man From Nowhere


Bagian paling saya suka dari film ini adalah tokoh anaknya. Masih kecil tapi aktingnya bagus. Cerdas dia, membawakan dialog, memperlihatan ekspresi kesal, kecewa, cemas, gembira, antusias. Bisa banget dia. Tapi juga saya suka, karena anaknya manis, Chubby...duh jadi inget sama seseorang yang sudah meninggal.

Iya, beneran, peran anak ini bagus sekali. Eh, bagusnya bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Dia bagus dalam beberapa adegan. Misalnya, saat si pria pemeran utama menghardiknya jangan sembunyi, anak ini keluar dari kegelapan tangga. Bajunya merah, rambutnya sebahu, mengembang, wajahnya bulat, putih, matanya sipit, kemudian membuka earphone yang menutup telinganya.



Sangat menyentuh saat tahu anak ini, seorang anak tanpa ayah, tidak dipedulikan ibunya, dan selalu diminta menjauh, dan menghabiskan waktunya dalam kesendirian. Ingin ada orang menemaninya, maka dia mengakrabkan diri kepada seorang pria pekerja pegadaian yang menginap di tempat kerjanya. Dan ini bagian paling menyentuhnya, ketika tahu ternyata pria yang dia panggil paman ini tidak mempedulikannya, dia berkata lemah, "Aku mengganggu ya?"

Bukan karena benci pria ini bersikap dingin kepada si anak, tapi masa lalunyalah yang membuatnya begitu. Di hari-hari kehamilan istrinya dan persiapannya menyambut kehadiran sang bayi, sekelompok pembunuh melindas mobilnya, istrinya meninggal, dan dia sendiri, tertembak. Dari sanalah, dia merasa hidupnya hampa, kehilangan harapan, banyak mengasingkan diri, memilih kerja di pegadaian. Dia kecewa tidak punya anak, maka anak-anak mungkin baginya, pemandangan mengecewakan.

Tadi saya sebutkan sepatu bayi. Itu salah satu adegan yang membuat saya terkesan. Sepatu bayi telah menjadi cerita sejak jaman satrawan Ernest Hemingway. "Dijual, sepatu bayi. Belum pernah dipakai", begitu dia menulis ceritanya. Sudah. Tamat. Hanya itu saja, dan cerita itu terkenal sampai sekarang, karena mengandung kedalaman, dan sepertinya, cerita singkat ini menjadi inspirasi bagi orang buat membangun kisah-kisah menyentuh tentang orang tua dan anak.


Indonesia pernah meluncurkan film "Test pack", salah satu adegannya adalah seorang istri yang berjalan perlahan memasuki toko peralatan bayi, kemudian matanya tertarik melihat sebuah kotak plastik kecil transparan tempat sepasang sepatu bayi nyaman duduk di dalam.


Dan kini, saya temukan lagi, cerita menharukan lain, "The Man From Nowhere". Tidak tahu apa arti sebenarnya. Ini perkiraan saja. Artinya adalah, "Seorang Pria Entah dari Mana."

Film Korea.

Bagaimana film ini saya temukan, awalnya ketika saya tertarik ingin nonton film korea. Namun dari koleksi film korea yang sangat banyak ditambah serial yang juga terdiri dari segmen-segmen yang banyak, jadinya bingung, waktu sempit saya rasanya tak mungkin buat nonton semuanya. Harus saya cari mana yang terbaik dari film itu, dan satu-satunya cara saya kira, langsung bertanya pada para pencintanya. 

Kebetulan, salah seorang teman kerja saya pencinta Film Korea. Takkan saya sebutkan namanya, khawatir melanggar hak cipta. Yang jelas, dia adalah seorang buronan. Saya tanyakan padanya, dari sekian banyak film korea yang sudah ditontonnnya, film apa yang paling dia suka.

"Emh apa ya" di mikir dulu. Tumben. Setelah dia menyebutkan beberapa film, akhirnya dia menyebutkan film tadi. Saking pentingnya film tadi, sampai-sampai dia menyebutkannya sambil berdiri, wajahnya mendongak ke atas, sinar lampur terpantul dari kecamatanya, "Ya ampun, itu film kece banget. Jalan ceritanya, menyentuh sekali. Pokoknya siapa pun nonton film ini pasti menangis. Gak tahu kalau Dana."

"Emh kalau saya sih....."

"Tapi nonton film itu" potongnya, "...harus kuat mental. Soalnya ada adegan kekerasan begitu, seperti mencungkil mata, darah muncrat begitu."

Mendengar itu, rasa tertarik saya jadi kurang. Terus terang, saya ngeri dengan yang begituan. Apa salahnya sih film kekerasan itu bagian kekerasannya tak usah ditampilkan. Itu cukup menteror mental. Tapi itu tidak saya ungkapkan. Takut ketahuan jika saya bermental bubur. Maka ini yang saya katakan, "Ah saya nonton Pinokio saja!"

"Enggak, Pinokio itu film seri. Panjang. Dana harus nonton film ini."

Penasaran juga.

Malamnya, setelah orang-orang pulang, saya tonton ini film dan ternyata menarik.


Related Posts:

Tiga Jenis Wanita Yang Anda Dekati

Hanya ada tiga jenis wanita yang Anda dekati. Pertama wanita yang memberikan tanda lampu merah, kedua lampu kuning, ketiga lampu hijau.

Pertama, wanita yang memberikan lampu merah. Berhenti, jangan teruskan, lupakan, tinggalkan saja, sebab dia sudah memberi lampu merah. Tak perlu mengejar, tidak perlu berkorban. Semua pengejaran dan pengorbanan akan sia-sia. Banyak pria bodoh berpikir, mungkin suatu saat dia bisa mendapatkannya. Maka dia kerja lebih keras, dan terus berusaha mendapatkannya. Padahal, sekali kerja keras, maka ke sananya akan terus bekerja keras.

Kedua, wanita yang memberikan lampu kuning. Wanita semacam ini biasanya lunak, tapi memberikan berbagai syarat. Biasanya, wanita lampu kuning berusaha memanfaatkan, penuh drama dan menjengkelkan. Wanita semacam ini pun lebih baik tinggalkan, kecuali Anda siap menderita migrain.

Ketiga, wanita yang memberikan lampu hijau. Nah, bagaimana cara menghadapi wanita semacam ini?. Nah, ini dia yang kita cari. Jika Anda ketemu wanita semacam ini--memberikan lampu hijau, segera beritahu saya. Kebetulan, lantai 4 gedung kantor saya gelap, tidak ada listriknya. Terima lampu hijaunya, trus berikan kepada saya. Beneran, saya sedang butuh lampu.

Related Posts:

Saya Bukan Siapa-Siapa

Ini, hanya gumaman tengah malam, tidak jelas judulnya, hanya menyalurkan gatal jari saya buat menulis, mengungkapkan apa saja yang ingin saya sampaikan. Jadi, jangan pernah buang waktu Anda membaca tulisan ini.

Hampir tengah malam, masih belum tidur, badan masih segar, karena, baru saja kami futsal, olah raga, yang sebelumnya, sudah saya katakan kepada Anda, olahraga membuat badan terasa segar dan sehat. Wiro mengajak saya shalat berjamaah, dan saya menolak dengan alasan, belum mandi. Wiro katakan, dia akan tunggu. Saya kalah, dan setelah mandi, berjamaah Shalat Isya dengannya. 

Dan setelah Isya itulah, sesuatu yang mengharukan terdengar. Dari ruang kerja, tilawah Al-Qur'an mengalir dari pita suara Alie Isfah. Tengah malam begini, ada bacaan Al-Qur'an, langsung dari lisan, bukan dari rekaman, itu sangat mengesankan. Tak punya ungkapan selain itu: mengesankan. Yang dia baca adalah surat Al-Jumu'ah. Ketika sampai kepada ayat,

"Perumpamaan orang-orang yang membawa Kitab Taurat, kemudian tidak mengamalkannya adalah seperti himar yang memikul tumpukan kitab. Alangkah buruknya perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim."

Terutama ayat ini menyindir orang-orang berpengetahuan, akan tetapi pengetahuan itu tidak bermanfaat baginya karena tidak mengamalkannya, maka alangkah buruknya dia, sampai-sampai perumpamaannya pun tak tanggung-tanggung, laksana himar membawa kitab tebal. Sampai kapan  pun itu dia memikul kitab, takkan pernah mengerti pada isi kitabnya.

Jadi sebenarnya buruk nian orang yang mendapatkan pengetahuan, akan tetapi tidak mempraktikkan pengetahuannya. Merenungkan kenyataan ini teringat kepada saya sendiri, saya sudah banyak membaca, banyak pengetahuan, tapi dalam masalah praktik, saya jarang mempraktikkannya. Banyak pengetahuan yang saya ketahui tapi tidak saya praktikkan. 

Saya lebih banyak tahu daripada bisa, akhirnya karena banyak tidak bisa jadinya saya jadi banyak tidak tahu. Seperti tadi saja main bola, futsal, ini untuk kedua kalinya saya ketahuan tidak bisa. Saya jadi kiper, harusnya bola mau masuk gawang itu saya tangkap. Tapi masya Allah, saya biarkan saja. Orang menendang bola ke gol, saya malah menghindar karena takut. Ada bola menggelinding jawan bawah, malah saya persilahkan ke bawah selangkangan. Ada lagi yang lurus, menerobos ke bawah ketiak. Ya ampun kenapa saya bodoh sekali main bola.

Saya benar-benar tidak bisa, tapi tim saya menang. Mungkin karena melihat saya bodoh menjaga gawang, mereka merasa harus kerja keras melakukan penyerangan, dan mengejar ketinggalan. Terus terang saya khawatir, sebelumnya tim saya kalah. Beberapa kali masuk, dan skor ketinggalan. Tapi ternyata bisa menyusul, dan susulan gol sangat banyak setelah saya diistirahatkan dan diganti dengan Pak Nur. Di sisi lapang, kemudian saya mendapatkan tugas mengganti-ganti angka skor yang digantungkan di jaring, rasanya puas sekali terus-menerus menambahkan angka buat tim saya yang terus-menerus mencetak goal, sambil terus melihat jam, dan ingin permainan cepat selesai, supaya selesai dalam keadaan menang, tapi ternyata, setelah jam 08.00 permainan masih diteruskan, uuaahhh jengkel sekali rasanya, kenapa malah diperpanjang, nanti skornya kesusul. Ada-ada saja nih trik lawan. Dan saya tidak berdaya, tidak bisa protes, tidak bisa apa-apa. Hanya nonton saja sambil berharap, dengan perpanjangan ini, tim saya terus-menerus menambah angka. Dan ternyata lawan yalah menjebol gawang tim saya. Cemas luar biasa. Rasanya muka saya kehilangan darah.

Untungnya di sisi lapang, sudah banyak orang lain ngantri mau memakai lapang. Jadinya mau tak mau, keinginan tim lawan terus memperpanjang permainan dibuat tak berdaya, karena memang sewa lapang sudah habis waktunya. Dalam hati saya hanya bisa tertawa.

ADA SATU HAL YANG NORAK

Sebenarnya, ada satu hal yang norak dalam hati saya, yang saya perangi habis-habisan, yaitu perasaan, bahwa saya ini sebenarnya pembawa keberuntungan. Ya Allah, mana mungkin saya yang banyak dosa malah membawa keberuntungan. Perasaan ini adalah ujian, dan tugas saya adalah menghilangkannya. 

Saya merasa saya membawa keberuntungan, karenan minggu sebelumnya main juga, dan dari segi kekuatan, tim saya bisa disebut lemah, antara lain ya pemainnya orang seperti saya, tidak bisa sepak bola, sedangkan tim lawan, mereka rata-rata pemain yang sudah biasa, bahkan di antranya ada yang profesional. Ini sangat mencemaskan akan tetapi akhirnya mendang dan mendapatkan bagian uang, lima puluh ribuan untuk setiap pemain yang satu tim dengan saya termasuk saya. 

Dan begitu pula minggu sekarang, kembali mendapatkan kemenangan, sampai timbul dalam hati saya sebenarnya kehadiran saya pada tim inilah yang membawa keberuntungan. Minggu lalu Wiro satu tim dengan saya, dan dia menang dan mendapatkan uang bersama saya, sekarang dia menjati tim lawan, jadinya tidak mendapatkan apa-apa. Sebaliknya Alie, minggu lalu tidak mendapatkan uang karena dia masuk tim yang kalah, namun minggu ini, setelah pulang ke kantor dia, gembira, mendapatkan uang, karena masuk tim yang menang, satu tim dengan saya.

Saya merasa diri demikian? Saya merasakan kehadiran saya sebagai faktor keberuntungan?

Ya ampun, saya yakin ini ujian, dan semua yang saya pikirkan ini hanyalah dugaan dan khayalan, dan jika ini saya nyatakan kepada orang-orang, betapa akan sebalnya mereka. Tahu sendiri mereka tertawa-tawa tadi melihat kekonyolan saya, menjadi penyerang letoy, menjadi keeper jebol, tidak bisa diandalkan sama sekali, terus kemudian sekarang, setelah selesai permainan mengaku-ngaku sayalah pembawa keberuntungan, tentu mereka akan muntah-muntah.

Apalagi di hadapan Allah, masya Allah, Wallahu A'lam, tapi jelas Dia tidak suka kepada orang yang suka membangga-banggakan diri, terlebih ini bangga dengan sesuatu yang tidak jelas. Bangga dengan sesuatu yang bukan milik saya. Bangga dengan sesuatu yang hanya dugaan saja. Jika saya bisa terus saya bangga, itu pantas saja. Ini tidak bisa, terus saya bangga, ini sangat norak.

Dari sini saya kemudian kembali lagi kepada satu hal yang saya yakinkan. bahwa diri ini, jiwa ini harus saya kosongkan. Saya harus mengosongkannya dari saya punya, saya harus mengosongkannya dari rasa bisa, dari rasa tahu. Saya harus mengosongkan diri sekosong-kosongnya dan berusaha memandang diri tidak punya apa-apa, tidak bisa apa-apa, dan bukan siapa-siapa.

Saya tidak punya apa-apa, saya tidak bisa apa-apa, dan saya bukan siapa-siapa, jadi sangat tidak pantas membangga-banggakan diri. Ini perbuatan yang saya norak. Bagaimana saya bangga dengan
 sesuatu yang bukan milik saya, dan bagaimana saya bisa membangga-banggakan diri, sedangkan saya bukan siapa-siapa. Saya hanyalah seorang yang dihidupkan oleh Allah, kemudian diberi rejeki, diperjalankan hidupnya, diberikan pengetahuan, bisa mengingat jika Dia mengingkatkan saya, dan seringkali lupa ketika Dia berkehendak sesuatu hilang dari ingatan saya. Saya kosong, bukan siapa-siapa.

"Tiada daya tiada kekuatan, selain dengan Allah yang Maha Tinggi Yang Maha Agung."

Related Posts:

Ada Yang Lebih Nyata Dari RA.Kartini

Kartini penggagas emansipasi?
Sebenarnya ada yang lebih nyata dari RA. Kartini
Lebih nyata tindakannya dari dia

Dalam mengangkat derajat wanita, hingga bisa berperan aktif dalam kerja dan pemerintahan sebagaimana pria
Misalnya,
Raden Dewi Sartika dari Jawa Barat,
Atau Cut Nyak Dien dari Aceh Darussalam

Cut Nyak Dien bahkan sangat nyata, dia menjadi panglima perang
Memimpin kaum pria, dan itu pertanda
Jika dia,
Bukan sekedar bicara, tapi bertindak dan menunjukkan jika wanita
Bisa berperan aktif di barisan terdepan
Menjadi pemimpin

Akan tetapi kenapa,
Yang terangkat namanya malah RA. Kartini?
Pertama, karena dia menulis, dan ini salah satu kehebatan penulis
Kedua, dan ini yang jarang orang tahu, RA. Kartini terangkat namanya sampai sekarang
Karena dia pro-Belanda, tidak melakukan pemberontakan, sebagaimana Cut Nyak Dien, maka waktu itu, surat kabar milik pemerintahan Belanda menokohkannya, karena dari segi pemikiran pun, RA Kartini lebih condong kepada pemikiran barat
Yaitu Theosofi,
Sebuah aliran KEBATINAN berupa doktrin filsafat agama dan mistisisme YANG MEMPUNYAI ANGGAPAN SEMUA AGAMA ITU BENAR

Pendirinya adalah Helena Pertovna,
Seorang wanita Rusia berdarah Yahudi, kepada faham itulah sebenarnya Kartini lebih cenderung

Sebagai buktinya, silakan baca sendiri buku "Habis Gelap Terbitlah Terang" karya RA Kartini sendiri.


"Kami bernama orang Islam karena kami keturunan orang-orang Islam, dan kami orang-orang Islam hanya kepada sebutan belaka, tidak lebih. Tuhan, Allah, bagi kami adalah seruan, adalah bunyi tanpa makna"  (Surat Kepada EC. Abendanon, 15 Agustus 1902).

"Agama yang sesungguhnya adalah kebatinan, dan agama itu bisa dipeluk baik sebagai Nasrani maupun Islam, dan lain-lain. (Surat 31 Januari 1903).

"

Related Posts:

Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Menangis

Salah satu keasyikan sastra adalah, dari sebuah teks, kita bisa mengambil dan mengartikan sesuka kita, terlepas dari arti yang dimaksudkan penulisnya. Bagai menggergaji sebilah papan, mengambil sepasi, dan terserah kita pasian itu mau dibuat apa. Korek kuping, sendok, sumpit, atau mungkin ulekan. Terserah. 

Jadi kita bisa membaca sedikit, mengambilnya sebagai bahan renungan, kemudian menjadi bahan bagi tulisan dan obrolan kita sendiri.

Salah satu penulis yang dari setiap potong kalimatnya asyik dijadikan bahan renungan adalah Paulo Coelho. Sebagian sebab karyanya tersebar ke seluruh dunia dan banyak memikat orang adalah, bukan karena plotnya mendebarkan, kisahnya penuh drama, dan endingnya heboh dengan ledakan, bukan. karya dia mendunia karena dia punya kelebihan, bisa menyusun kisah dengan, nyaris setiap kalimatnya mengandung kekayaan--menarik jadi bahan renungan. Jarang orang bisa menulis begitu.

Saya mau menulis seperti itu, tapi susah. Pernah suatu ketika, Pak Isa, guru saya admin Komunitas Bisa Menulis memotivasi saya supaya semangat menulis. Dia katakan, tulisan saya punya kedalaman. Waktu itu, saya hanya menyebut "ya terima kasih Pak". Sebenarnya saya kurang begitu paham, yang dia maksud kedalaman itu apa. Setelah mengikuti workshop kepenulisan, barulah untuk pertama kalinya saya faham. Yang dia maksud mempunyai kedalaman adalah, mengandung makna yang layak direnungkan. Ah, tapi saya baca lagi tulisan saya. Ternyata tidak juga. Biasa saja. Saya kira, itu hanya cara Pak Isa memotivasi saya. 

Saya sendiri yang tahu, tulisan tidak bagus. Mana buktinya kalau tulisan saya bagus. Kalau bagus, pasti sudah jadi buku dan laris. Seperti Paulo Coelho itu, karena tulisan-tulisannya berharga, penuh kedalaman, maka orang semangat menerbitkanya sebagai buku, dan orang terus menunggu karyanya, karena mereka tahu, tulisan Paulo Coelho menarik. Misalnya ini:

Buku dia yang kini ada di tangan saya adalah, DI TEPI SUNGAI PIEDRA AKU DUDUK DAN MENANGIS. Saya buka sembarangan, 

"Aku selalu memandang sumur di tengah alun-alun itu. Dulu tak seorang pun mengetahui ada air di sana, kemudian Saint Savin memutuskan menggali dan menemukan mata air. Kalau ia tidak melakukannya, desa ini tidak akan dibangun di sini, melainkan di bawah sana, di dekat sungai."

Apa yang bisa kita renungkan dari tulisan itu?

Hanya orang-orang yang berani membuat keputusan, kemudian tekun menjalani keputusannya sampai sukses-lah yang akhirnya akan memberi manfaat bagi banyak orang. Sumur hanyalah perlambang. Sumur-sumur dalam hal lain bisa jadi sebuah ide bisnis. Saat sebuah ide bisnis datang, maka hanya orang yang memutuskan mempraktikkannya, dan dia terus mengusahakannya hingga sukses, yang akan memberi kemanfaatan bagi sebanyak mungkin orang.

Asma Nadia misalnya, setelah dia memutuskan untuk hidup sebagai penulis, dia terus tekuni keputusannya. Seperti penggali sumur, dia terus menggali sumur kepenulisannya. Hingga sedalam-dalamnya, hingga dia temukan mata air dari sana, yang jernih, yang memancar. Maka bisa kita lihat hasilnya sekarang. sebab mengandung kebaikan, kejernihan, maka tulisannya jadi mata air pengetahuan. Orang-rang menimba mata air pengetahuan dari sana karena merasa, tulisannya gurih enak dibaca rata-rata menyentuh rasa. Buku-bukunya laris dan untuk memasarkanya dia membutuhkan karyawan, jadilah lapangan kerja. 

Sebenarnya, masih panjang renungan yang ingin saya dadarkan. Tapi, terlalu luas bisa jadi malah membosankan. Seperti telur dadar, jika masak terlalu banyak malah bisa terbuang. Cukup sebutir saja. Sisanya, biar Anda sendiri yang bertelur..,eh maaf ngaco. Biar Anda sendiri baca bukunya, dan ambil langsung manfaat darinya. Bagi yang minat buku-buku Om Paulo, bisa pesan sama saya. Haha.....ujung-ujungnya iklan.

Related Posts:

Kosongkan Diri Dari Tujuan Terlalu Banyak

Rasanya pening sekali, terlalu banyak urusan. Harus memikirkan ini, memikirkan itu. Akibatnya, seringkali, terjebak pada bengong, "Sekarang saya mau apa ya emh......aduh mau apa ya...apa lupa tadi"

Ya, saya sering seperti itu. Lupa dengan apa yang mau dilakukan. Akibatnya, waktu habis hanya buat bengong.

Terlalu banyak tujuan. Terlalu banyak urusan. Terlalu banyak keinginan.
Ini akan sangat mengacaukan kita.
Seperti komputer yang terlalu banyak program, segala program diinstalkan ke dalamnya. Segala data dimasukkan ke dalamnya. Ya hank.....macet! 

Supaya lebih ringan, saya harus mengosongkan diri.

Maka sekarang, mengosongkan diri adalah mengosongkan diri dari tujuan dan keinginan terlalu banyak. 
Sedikit saja.
Buat tujuan itu sedikit saja.
Biar kerja lebih terfokus.

Sekarang, tujuan saya adalah, menyusun buku MENGOSONGKAN DIRI

Maka tugas saya sekarang, harus fokus kepada itu dan, mengosongkan diri dari tujuan lain.

Maka, saya harus terus memikirkan tentang itu. Saya harus membaca buku yang mendukung tentang itu.

Dengan membaca, AL-QUR'AN dan TAFSIRNYA
Dengan membaca, SI CACING DAN KOTORAN KESAYANGANNYA
Dengan membaca, KITAB-KITAB TASHAWUF
Dengan membaca, REFERENSI dari INTERNET, baik berupa VIDEO maupun ARTIKEL yang menceritakan tentang zuhud dan kisah orang-orang shalih.

Itulah program yang saya haruskan kepada diri sendiri, mengingat sebelumnya, seringkali gagal, karena terlalu banyak tujuan, akibatnya tidak satu tujuan pun tercapai, karena waktu saya terbatas.

Mengosongkan diri dari tujuan tak penting, dan hanya menetapkan satu tujuan penting.

Para pendahulu kita tahu, akhir hidup mereka adalah mati. Maka mereka menetapkan tujuan buat dirinya sendiri mau mati dengan cara apa.

Meja kerja saya dipenuhi buku, dan semua itu bukan buku saya, tapi buku Pak Agung Pribadi, seorang sarjana sejarah yang menulis buku tentang sejarah dan banyak memotivasi dengan menggunakan fakta-fakta sejarah.

Related Posts:

Musuh Terbesar Kesehatan

Untuk sehat, saya memprogram diri buat: Banyak minum, makan sayur, dan olah raga. Sialnya ada saja rintangan, Terutama jika lari ke arah Citayam, di sana banyak anjing.

Tadi juga sedang santai-santainya lari...."GUKKKKK!!!!"

Kampret!!

Saya kaget tahu! Dasar anjing! Kerjanya cuma gonggong!
Ganggu orang aja!
Orang digonggongin, diri gak dipikirin! Tuh auratmu ke mana-mana! Gak pernah pake celana!

Sialan benar orang sini! Kayak gak ada peliharaan aja! Anjing dipiara.

Lalu saya lihat di depan ada anjing, sedang berjalan, terus ke sana. Mulanya saya merasa aman, Sebab anjing itu terus ke sana. Tapi saya lihat, kemudian anjing itu berhenti. Trus menengok ke arah saya. Diam, Dia menatap lama. 

Ditatap begitu, saya jadi salah tingkah.

Takut. Terpaksa belok masuk gang.
Tampak sebuah jembatan menyeberangi sungai kecil, memasuki perumahan, tapi, walahhh, jangan-jangan, justru di sana justru banyak anjing.

Celaka!!

Nanti masuk ke komplekm sebentar-sebentar "Guk!!!" sebentar-sebentar "Guk!!!"
Jantung saya bisa terfermentasi jadi tape.

Itulah halangan saya kenapa jadi sungkan lari pagi.
Banyak anjing.

Tapi.
Saya pikir lagi
Sebenarnya ini alasan terlalu dibuat-buat
Kalau memang mau, masih ada rute lain yang lebih aman.

MALAS,
Sebenarnya itulah rintangannya
Tidak di luar sana, tapi dalam diri saya.

Dan ini, tak hanya berlaku pada lari. Makan sayur pun, yang sudah saya program sebagai cara saya meningkatkan kesehatan, rintangan terbesarnya malas. Malas ke pasar, malas memasak. Padahal, kalau masak sudah dimulai, saya bisa flow, lupa waktu--menit berjalan seperti pesarat jet--saking asyiknya.

Sekali lagi: MALAS
Itu musuh terbesar kesehatan

Related Posts:

Bergeraklah

Mungkin saja secangkir kopi datang  ke meja Anda, tanpa usaha, tanpa Anda minta, melalui tangan seseorang. Tapi, jika setiap kali ingin kopi caranya begitu, Anda bermain dengan ketidakpastian. Jika ingin kopi, berdirilah, berjalan, dan seduhlah sendiri.

Hiduplah dengan akal sehat. Kita diberikan sendi yang banyak buat bergerak, jadi bergeraklah.

Related Posts:

Dari Ranjang Kematian

Anggaplah ini nasihat tua bangka, yang sedang merasakan ajalnya sudah dekat
Di ranjang kematiannya,
Perhatikanlah

"Tolong sampaikan, kepada para penulis cerdas
Yang siang malam otaknya dia peras sambil digedor-gedorkan ke besi jembatan
Demi mendapatkan inspirasi
Kemudian menulis sambil mengerutkan keningnya
Hingga
Mengkerut-kerut seperti kerupuk peot
Atau menulis puisi hingga paru-parunya push-up dan urat-uratnya putus
Sampaikanlah kepada mereka
Selamat menikmati aktifitasnya, teruskanlah!!!
Dan jangan pernah
Mengikuti cara saya dikarenakan
Cara menulis yang saya kembangkan adalah, aliran sesat dalam kepenulisan
Gaya seenaknya
Sebab menganggap menulis
Adalah aktifitas semudah menghembuskan nafas, berdasarkan pemikiran bahwa, tulisan terbaik itu adalah, tulisan yang datang dari inspirasi sekilas yang datang dengan tiba-tiba, dan harus segera menangkapnya sebelum dia jadi bangkai

Related Posts:

Tikus Dan Wanita Menggoda

Salah satu kebiasaan buruk saya adalah,
Membuang sampah sembarangan
Misalnya makan bakwan
Saat saya mengambil bakwan, saya mengambil dengan jepitan ibu jadi dan telunjuk
Kemudian memakannya, segigit demi segigit
Dan ketika
Gigitan sampai ke dekat jepitan jari
Saya hentikan, dan sisa bakwan
Saya buang
Sembarangan, ke sudut ruangan, atau ke kolong meja
Atau ke mana saja, asal tidak dilihat orang
Dan tentu saja
Ini perbuatan sangat tercela
Akan tetapi saat malam datang, dan saya masih di meja kerja,
Saya akan melihat tikus merangkak pelan-pelan, merayap-rayap ke kolong meja
Dan ketika dia temukan potongan sisa bakwan itu
Secepat kilat dia sambar
Kemudian bawa lari, lari dan terus lari, terus lari, naik tangga, terus taik tangga, menuju persembunyiannya
Ah tikus, kenapa kamu harus takut
Justru atas jasamu, efek buruk kelakukan saya--buang sampah sembarangan--jadi tak terlalu besar
Ruangan, jadi terbersihkan
Nah
Demikianlah Anda wahai para istri
Tak usah terlalu benci
Jika di luar sana,
Suami Anda dekat dengan para wanita menggoda
Sekali lagi "wanita menggoda", bukan "wanita penggoda"
Mungkin sementara waktu Anda menganggap mereka gangguan
Namun seperti tikus tadi, bisa jadi mereka dihadirkan buat membersihkan
Membersihkan suami Anda dari rumah Anda.
Hahaha
Jangan pikirkan ini
Sana pergi, urus kerjaan penting lain
Dasar orang gak punya kerjaan!!!!!!

Related Posts:

Kalau Shalat Jangan Terlalu Semangat

Kalau shalat jangan terlalu semangat
Sebab yang namanya terlalu
Dalam hal apapun
Akibatnya pasti buruk, seperti "terlalu" yang saya lakukan tadi
Terlalu semangat mengerjakan shalat
Dari kamar mandi, naik ke lantai empat, menggelar sejadah
Dan mulailah takbir
Fatihah semangat, meski sendiri, begitu juga membaca surat
Dikeraskan,
Terasa indah, meski suara biasa
Di bawah langit yang mulai kelam, di tengah oksigen alam
Energi seperti berlimpahan,
Menuju rukuk, saya mempercepat gerakan,
Demikian pula menuju sujud, gerakan saya bertenaga
Tanpa saya tahu,
Di bawah sejadah ada segeruntul batu

Related Posts:

Mendobrak Keterbatasan

Manusia itu maha terbatas
Allah tidak terbatas
Tapi keterbatasan manusia diberikan kesanggupan
Untuk
Menembus ketidakterbatasan
Dengan doa-doa--
Catatan Hati di Setiap Doaku
Adalah catatan menyentuh dari kisah manusia yang menyadari keterbatasannnya
Kemudian
Memohon pertolongan
Kepada Yang Maha tidak Terbatas

Related Posts:

Dihabisi Guru Matematika

"Ini uangnya, ambillah, itu uang halal, aku tidak berniat melakukan apapun."
"Lalu tujuanmu?"
"Aku datang cuma mau minta kamu tobat!"
"Gue tidak butuh ustadz."
"Aku juga bukan ustadz"
"Sudahlah tidak usah munafik! Lo udah cape cari duit, mendingan tu duit lo pake bersenang-senang! Gak usah sok sok alim begitu! Lo pikir gue bakal tersentuh apa? " ucapnya sambil mendekat, mengambil tanganku dan menempelkan ke dadanya.

Tidak saya tarik, saya biarkan, dan perasaan ini susah terhindarkan, terus terang, dalam urat-urat ini, mengalir deras getaran, getaran nafsu, getaran syetan, getaran purba yang telah mengajak semua binatang menyalurkan hasratnya tanpa kaidah agama. Wajahnya yang secantik boneka, memang jauh panggang dari api, jauh sekali dari ibu keempat anakku, yang usianya dua puluh tahun di atasku, yang kini punggungnya mulai membungkuk.

"Tobat buat apa? Umurku masih muda...." kini dia merangkul, kubiarkan, kepala dia sandarkan ke bahu, wangi rambutnya tercium.

"Oh masih lama ya?

"Itu perhitungan gue,."

"Perhitunganmu bisa salah!" kuurai pelukannya,"Permisi!" kutinggalkan.

Seminggu kemudian, ternyata perhitungannya melenceng, guru matematika menghabisinya hingga nol.





Related Posts:

LO PIKIR LO LUCU !!

"Hai semuanya ada salam dari Mbak Dian...." ucap Alie dengan logat jawanya.

"Waalaikum salam" jawab Pa Ardian.

"Haha, emang siapa Dia, sok sok dikangenin gitu, eehhhhh.....pake ngirim salam segala, buat apa?" ledek Om Dedi Padiku.

"Hahaha," tawa saya "saya tulis Ah."

"Silakan, biar dia tahu, emangnya dia itu sipa, pake so so dikangenin lagi, " ulag Om Dedi.

Menurut saya lucu.

Langsung saya tulis, tapi kurang tahu, si pengirim salam reaksinya apa jika dia tahu.

Ah, sudah bisa dipastikan, Pasti ini reaksinya,

"LO PIKIR LO LUCU!!!"

Nah, akhirnya Anda tahu siapa sebenarnya pemilik jargon ini, setelah sebelumnya selalu saya sembunyikan, karena takut terjerat undang-undang anti pornografi dan penganiayaan.

Kasihan juga kalau dia tahu tanggapanannya begini, pasti langsung lari ke wc dan menangis di sana sejadi-jadinya, sambil memeluk tepian bak mandi.

Maaf Mbak Dian ini cuma bercanda.
Maafkan saya jika candaan ini kurang menyakitkan.


Related Posts:

Orang Tidak Tahu Diri Adalah

Orang tak tahu diri itu contohnya seperti saya
Berangkat ke Ramayana
Mendengar pengumuman diskon
Tertarik, mendekat, dan memilih-milih--wow ini diskon besar-besaran
Sampai 70%
Mengambil satu celana jeans
Tanpa mengukur, saya ambil dan bayar

Sudah!
Beberapa saat kemudian
Terdengar lagi teriakan-teriakan
Pengumuman, dan kali ini obral kemeja,
Seratus ribu dua
Wow gila
Ini murah bangetsszzzz
Padahal saya lihat bandrolnya, perbaju dua ratus ribu perak lebih

Tertarik harganya
Tertarik warnanya, kotak-kotak cerah
Saya ambil,
Kemudian saya bawa pulang dengan sumringah
Puanya baju baru euy!
Dan ketika dipakai, celana itu sangat ketat sampai-sampai menarik sleting pun susah
Dan kemeja
Bukannya ketat keren
Tapi ketat menyedihkan, sangat tidak pantas
Maka orang tidak tahu diri beginilah, bersama kerugian yang harus ditanggungnya

Related Posts:

Ujian Prinsip "Persetan"!!

Sudah saya tetapkan pada diri sendiri, untuk hidup dengan prinsip "Persetan!"
Persetan orang lain ngomong apa
Persetan orang lain menganggap saya apa
Saya mau sehat,
Biar pakaian tidak pantas: kaos, trening dan sandal jepit
Biar orang melihat norak
"Persetan!"
Saya tak peduli apa kata orang
Akan tetap lari
Dan terus lari hingga keringat berlelehan
Efek bagusnya jelas, setelah keringat keluar, badan terasa segar
Kerja lebih semangat, otak sedikit cerah
Dibawa menulis, inspirasi bergelontoran, dan jari dengan lincahnya, menari di atas keyboar mengikuti irama kata

Akan tetapi, ada saatnya prinsip "Persetan" ini harus diuji. 
Ternyata
Saya tidak bisa persetan dengan anjing.


Inilah cerita lengkapnya:

Masih pagi saya lari meninggalkan kantor--tempat di mana saya biasa menginap
Menyusuri jalanan gang,
Menyeberangi sungai kecil, masuk keramaian pasar.
Menyeberangi rel, belok, masuk jalan bagus, hotmik, rata, dan tidak becek, sangat menyenangkan. Panjang jalan itu saya susuri
Dan terus saya susuri, belok kanan, belok kanan lagi, dan waduh, kenapa malah balik lagi?

Pasrah,
Kembali ke jalan kereta,
Saya temukan jalan lain, terus hingga bawah jalan layang, masuk pasar kaget.
Berdesakan di sana para pedagang berbagai makanan,
Gorengan, sayur dan pisang.
Dari sana
Masuk jalan stasiun, dan saya jadi bingung.
Ternyata stasiun, tidak menyediakan jalan tembus dari barat ke timur
Maka, saya kehilangan celah buat kembali ke jalan kota.
Tembok menjaga ketat,
"Persetan!"
Lari saya teruskan,

Tampak benteng panjang membentang, jauh dan dan semakin jauh
"Persetan!"
Justru ini keuntungan
Semakin jauh tersesat semakin saya sehat,Lari makin semangat, dan setelah jauh, akhirnya menemukan lubang
Lobang pada benteng, bekas dijebol orang,
Salah dia sendiri
Habisnya menghalangi jalan
Maka, bagai tikus yang sedang lari ketakutan,
Menemukan lubang, saya langsung masuk, menyeberangi rel kereta, kemudian masuk gang, berharap bisa kembali ke Jalan kota, yang dari sana saya bisa belok kembali ke penginapan
Namun buntu,
Terpaksa mundur lagi, cari gang lain lagi, ada lagi, masuk lagi, menemukan benteng lagi, untungnya benteng itu berpintu, dan pintunya terbuka, maka saya bisa masuk, namun terbaca lagi pada daun pintunya: JALAN BUNTU

Penasaran,
Saya longokkan kepala ke dalam,
Benar saja tak ada lagi jalan, sekeliling benteng itu tertutup
Saya tidak melihat pintu lagi,
Dan ya ampun, di sana ada anjing
Segera mundur, tapi melihat saya, anjing itu menyalak
"Auuuu...Auuuuu" pasti dia curiga
Melihat gelagat saya seperti gelagat maling, ketakutan

Nah, di sinilah
Prinsip "Persetan" ini mendapatkan ujian
Ternyata, saya tidak "Persetan" dengan anjing

Saya bisa persetan dengan apa saja tanggapan orang
Akan tetap lari apapun komentar mereka
Tapi sama anjing,
Saya tidak bisa "Persetan."
Jika saya lari, dia pasti mengejar, dan pasti terkejar
Lalu saya digigit anjing
Duh tragedi macam apa jika ini harus saya jalani?
Terpaksa bejalan biasa, berhenti, kemudian menoleh, menatapnya
Anjing itu mendekat
Tapi, melihat saya berani--lebih tepatnya memberani-beranikan diri--anjing itu minder dan mundur, dan pergi..

Related Posts:

Dana Main Futsal

Seminggu sekali, perusahaan mengadakan futsal, olah raga buat karyawan.
Pak Titik-Titik, atasan saya yang menanggung biaya sewa lapang dan beli minuman.

"Dan, kamu mau ikut main Furtsal?" kata Pak Titik-Titik.
"Mau Pak"

Lalu membuntut.
Baju sih jersey, tapi celana trening panjang.
Percaya diri saja ikut.
Orang lain pakai sepatu, saya pakai sandal.
Supaya di sana, punya alasan menolak ikut main.
Malu, saya bodoh main bola
Namun tiba di tempat, ternyata sepatu ada.
Sepatu hijau,  saya pake, jari tengah kaki terlipat, kuku rasanya sakit.
Permainan dimulai, untung saya jadi cadangan
Jadi hanya mondar-mandiri di sisi lapang
Sampai juga waktunya masuk
Dan benar saja
Jadi bahan tertawaan orang
Hanya lari-lari saja tidak kebagian bola
Dan sekali kebagian bola, kekonyolan saya langsung tampak
Bola datang bukannya digiring tapi ditendang lagi
"Buset deh!" begitu kata Adam berkali-kali.
Dia ngoper ke saya, saya malah tendang lagi ke dia...
Kaku
Terdengar orang ngakak
Tersinggung
Padahal tidak tahu dia ngetawain apa


Belum sepuluh menit main sudah diminta berhenti
Duduk di sisi lapang

"Dana sekarang kamu masuk lagi ya!"
"Tidak Pak!"
"Harrrruuuuss!!!"
"Tidak Pak..Tidak, nanti saya jadi biang kerok."
"Ayo biar tim lawan lebih semangat buat ngalahin tim Lo"



Istirahat setengah main, saya tiduran
Berbaring di sisi lapang, di atas tumpukan bubuk karet
Tak terasa waktu berlalu, tiba saatnya masuk lagi
Entah siapa orang teriak membangunkan saya
Langsung bangun masuk lapang
Orang tertawa-tawa lagi
Saya tengok kanan kiri, kenapa mereka?
Ternyata saya gak berhak masuk,
Pemain sudah lengkap
Lima

Kembali mundur ke sisi, bersama malu
"Hahaha..lumayan nih ada Dana buat hiburan" kata Pak Titik-Titik,


Permainan berakhir, tim saya menang
Dapat uang
Alhamdulillah, buat jajan anak.
Ah klise, jujur saja buat jajan bapaknya!

Related Posts:

Bule dan Kantor Google

Menyenangkan sekali kerja di sini, seharian hanya facebookan, dan malam, sebelum tidur, saya pergi dulu ke pasar, buat nyantai, ke sebuah warung tikungan, membeli roti kacang bulat, dua ribu rupiah, duduk pada bangku, membuka plastiknya, dan menikmatinya sambil membaca baca buku. 

Buku "Bochan" karya Natsume Soseki.

Tak lama kemudian, seorang pria badan montok, minta saya bergeser, lalu duduk di samping. Segelas kopi tukang warung sodorkan ke depannya. Melihat saya bawa buku, dia bartanya, "Ini buku apa?" terdengar logatnya mirip bule.

"Buku karya orang Jepang"

"Owh, saya jarang lihat Orang Indonesia baca buku seperti ini." 

Memang benar bule tua ini. Orang Indonesia jarang yang cinta baca. Lihat saja di kereta, turis biasanya menghabiskan perjalanannya dengan membaca, dan dalam tasnya, berjejalan buku, buat cadangan kalau-kalau nanti kehabisan bacaan. Lha orang Indonesia, sepanjang jalan mulutnya tak penah berhenti makan, dan apa yang ada dalam kantongnya? sama makanan.

Tapi saya tidak bangga. Cinta baca saya bukan sebenarnya. Kelihatannya saja saya cinta baca. Sering memang buku saya bawa, tapi ini cangkang. Yang sebenarnya jarang saya baca.

"Memang bapak orang mana?"

"Amerika."


"Ameria bagian mana?"

"California....San Fansisco"

"Wow, dekat Lembah Silicon"

"Ya?" keningnya berkerut, mungkin kurang mengerti.

"Silicon Valey!" ucap saya pakai Bahasa Inggris.

"Owh.....Silicon Valey, anak saya kerja di sana, di Google. Tahu kan Google?"

"Woww...tahu, itu kan perusahaan raksasa!"

"Yes, that is the giant..."

"Giant corporate!" saya menambahkan.

"Yes"

"Wah, bagaimana bisa anak Bapak kerja di sana?"

"Saya tidak tahu, tapi anak saya memang sebelumnya kuliah di kampus bergengsi, kalau di sini seperti UI, kemudian dia orangnya, ceria, humoris, dan pandai bicara, jadi mungkin dia lancar dalam wawancara."

"Oh ya ya!"

Kami ngobrol sambil dia sedikit demi sedikit menghirup kopinya hingga tandas. Dan bagian paling menarik dari perbincangan itu adalah Google. Anak bapak ini kerja di Google. Soal kisah dia tiga puluh tahun pernah rumah tangga dengan orang Indonesia, atau dua anaknya yang entah mirip siapa, kurang begitu penting bagi saya. Bagian perbincangan paling menarik itu googlenya. Wow bisa kerja di kantor Google bagi saya impian. Beruntung sekali anak bule ini. Saya pernah baca, kantor google dicanca buat kenyamanan karyawan. Sebagaimana logo googlenya, interior dibuat sangat kreatif dan kaya warna. Kursi unik, meja unik, bahkan tersedia kasur jika sekali-sekali karyawan ngantuk bisa langsung istirahat/tidur. Senang sekali bisa kerja di sana. Sekarang Google telah membuka cabang Indonesia. Menurut berita, jumlah karyawan masih belum banyak, artinya masih terbuka peluang buat karyawan baru. 

"Kami merekrut orang-orang dengan bebagai latar belakang yang unik" ungkap Rudy Ramawy, Country Head of Google Indonesia.


Menarik tuh! Rasanya ingin melamar ke sana. Sayangnya berita ini terbit tahun 2013. Sekarang 2015, lewat dua tahun, tentu ceritanya sudah beda. Karyawan pasti sudah banyak. Lagi pula sekarang, saya sudah kerja di tempat ternyaman di dunia. Kurang nyaman apanya tempat kerja saya? Sebuah kantor penerbitan dengan jam kerja longgar. Kerja ringan hanya facebookan dan suasana ruangan, tak kalah nyaman dari kantor google. Meja mengkilat, ada kasurnya, banyak bacaan, dan bisa memasak. Dekat ke pasar baik tradisional atau swalayan, dan saya bisa dengan bebas beli apa saja, dan memilih makanana apa saja. Lalu kesejukan ruangan, jangan ceritakan lagi: full AC!!! Siang malam  tanpa henti, sebab susah dimatikan.

Related Posts:

Ayam Garam Versus Bayam

Rusak akibat salah gaul saya kira hanya berlaku buat manusia, ternyata ayam pun bisa, salah gaul bisa membuatnya rusak. Jangankan ayamnya, nama "ayam" saja, jika salah gaul bisa rusak. Misalnya kata "Ayam" gaul dengan kata "Kampus" jadi "Ayam Kampus" hasilnya ungkapan buruk. Mungkin karena tidak sepantasnya ayam masuk kampus, maka rusaklah kata "ayam" itu saat bersatu dengan kata "kampus".

Ayam itu makanan dan makanan lebih dekat ke bumbu. Barulah dia punya nama berkelas jika disatukan dengan bumbu. Disatukan dengan kata garam misalnya, jadilah menu favorit di Kota Batam: Ayam Garam. Sekarang orang-orang sana mulai mengenal menu lezat ini. Tepatnya di Restoran Zhen Bao. Kuliner ini berbahan ayam kampung dipadu rempah khusus, sehingga menghasilkan rasa special. Penyajiannya yang istimewa, daging ayam utuh dipotong-potong panjang, berwarna kekuningan karena taburan rempah, dengan hiasan sayur lalapan di sampingnya.

Luar biasanya ayam ini dimasak tanpa minyak, tapi menggunakan cara steam. Kurang tahu juga steam itu cara masak seperti apa. Istilah ini sering saya dengar di dunia cuci motor dan mobil: Steam Salju. Tapi saya tidak percaya masak ayam disamakan dengan cuci motor? Yang pasti dimasak sempurna sehingga menghasilkan daging empuk, yang lembut di lidah dan lunak dikunyah.

Waduh...merembes nih air liur membayangkannya. Sudah, nikmatmua saya sebatas ini saja. Sebatas membayangkan dan menuliskan, kemudian menyusahkan Anda para pembaca sehingga menderita, merasakan godaan selera, sedang menikmatinya langsung entah kapan. Entah akan atau takkan. Jauh sekali soalnya, harus ke Batam. Sebatas membayangkannya, sebatas itu pula saya harus merasa puas, sedang kepuasan yang nyata sekarang bagi saya adalah....

Cukup sayur bayam! Itu saja yang tersedia di dapur dan siap saya masak buat sarapan.

Tuh bayamnya numpuk di samping wastafel, sudah layu, aneh, padahal saya merendam akarnyadalam toples. Kenapa masih juga dia layu. 

Kelihatannya kurang enak. Tapi setelah dimasak, tersaji di meja, dengan bumbu racikan saya, lain lagi ceritanya. Saya bisa nambah dan terus nambah sampai kenyang. Sayuran memang punya aroma khas meski tanpa pelezat. Aromanya menggugah selera secara sudah begitu dia tercipta. Bawaan aroma alam penarik minat lidah buat mencecap dan gigi buat mengunyah, dan perut pun senang menyambutnya gembira.
Lebaikah? Terserah tanggapan Anda.
Tapi ini beneran!
Serius!
Perut butuh serat, buat pembersih usus, dan supaya pencernaan lancar dan pembuangannya pun lancar. Sebagian besar serat bisa kita dapatkan dari sayuran. Maaf jangan salah tangkap hinga Anda mengunpulkan benang kusut dari tukang jahit lalu Anda makan.

"LO PIKIR LO LUCUUUU!!!!??????"  umpat seorang yang senang sekali mementahkan humor orang lain, namun tak mau saya sebutkan namanya, takut melanggar hak cipta dan takut terjerat RUU Anti Pornografi dan pencemaran nama baik.

Jadi bukan cuma pikiran, perut pun butuh kebahagiaan. Dengan memberinya sayuran. Tidak mahal kok. Dibanding daging dan ikan, sayuran itu makanan termurah. Untuk seikat bayam cukup seribu rupiah. Lima ribu dapat sekeresek besar, cukup buat berkali-kali makan. 

Tadi pagi saya rasakan, setelah semalam konsumsi bayam, pengeluaran lancar nian. Anda terserah, mau setuju kata saya atau tidak. Jika tidak, saya hanya bisa mengucapkan selamat nyengir dan meringis-ringis merasakan kerasnya derita melahirkan si dia.

"Hekkkkkhhhhhhh aahhhh emmhhhhhhhh......!!!!!" dan yang jatuh......"Pluk!!" bulat sebesar bola pingpong....atau bentuknya bergerinjul-gerinjul seperti bengbeng. Ah, tragedi paling menyakitkan.

Mau?


Nah, jadi....

Daripada ayam tiada, bahagia yang ada saja: bayam.

Related Posts:

Tengah Malam Mengiris Bawang

Tengah malam mengiris bawang, buat apa?
Ya buat masaklah!
Kenapa harus mencari jawaban susah. Ini kenyataan saya, tengah malam ini baru mengiris bawang, memotong bayam, dan memasaknya.
Bersamaan masak bayam, saya menanak nasi.
Nasi habis.
Sisa kemarin sudah kering dan basi.
Bayam matang, nasih masih mentah, maka buat habiskan waktu menunggu, saya buka-buka youtube
On The Spot
7 Aksi Jomblo sia-sia
Nonton ini, kasihan juga para jomblo
Susah payah mereka berkorban demi nyatakan cinta,
Ada yang sampai membeli iPhone mahal sampai sembilan puluh
Kemudian dibuat melingkar membentuk hati, dan menggiring wanita yang ingin dia nyatai cinta ke sana, namun saat dia nyatakan, cintanya tertolak!
Padahal uang belanjakan ke handphone itu hasil dia menabung susah payah
Dan tidak mau saya ceritakan lagi kisah lainnya
Kasihan.
Lebih baik saya ambil saja pelajaran
Kebodohan adalah ketika, seorang pria mengharapkan cinta wanita sampai berkorban-korban
Kemudian saya buka pula video lainnya
Kali ini menayangkan klub tak lazim di dunia
Antara lain ada klub bunuh diri, saya tak percaya, tapi ini ada
Bahkan anggotanya, para anak muda Jepang tapi memang
Jepang sudah terkenal sebagai negara, dengan angka bunuh diri tertinggi di dunia
Sebenarnya banyak dari teman saya juga yang menyatakan ingin bunuh diri
Bunuh diri di pohon toge.

"LO PIKIR LO LUCUUUUU??????!!!!!" kata seorang yang tak mau saya sebutkan namanya, karena takut melanggar hak cipta, RUU Anti Pornografi dan Pasal Penganiyaan.

Saya nonton di lantai satu, di toko tempat di mana tas, pakaian dan buku-buku dipajang
Dan tak terasa waktu berlalu.
Naik lagi ke lantai tiga, nasih sudah matang
Makan-makan....sendirian tengah malam makan, saya di sini memang anti social
Orang lain makan di luar saya di sini, masak sendiri
Tumis bayam pakai lada, kecap, dan bumbu penyedap, rasanya ah....
Warteg lewat, soto ayam lewat, bakso lewat.......
Iya semua jualan itu saya lewati karena saya gak suka jajan di sana
Boros uang!

Related Posts:

Ternyata Ada Beras Khusus Nasi Goreng

Sudah berapa tahun Anda makan beras? Maksud saya, sudah berapa tahun Anda makan nasi?
Sudah lama bukan?
Tapi seberapa pengetahuan Anda tentang nasi yang selalu Anda makan? Saya sendiri ternyata masih kurang.

Tadi waktu belanja, saya melihat beras dengan warna bagus, bersih, cling, dan yakin harganya mahal. Penasaran harganya berapa, saya tanya, tukang warung malah menjawab,

"Itu beras buat nasi goreng."

Ternyata ada beras khusus buat nasi goreng

"Oh jadi bisa digoreng langsung?" tanya saya katro.
"Bukan, ini lebih keras."

"Keras bagaimana?" tanya saya bersama senyuman, supaya dia dengan senang hati memberi tahu.

"Kalau digoreng lebih encer...." 

Eh maaf pembaca, saya lupa tadi tukang warung bukan nyebut "encer", nyebut apa ya, saya lupa lagi. Pokoknya gitu deh, beras ini jika digoreng tidak lengket seperti beras biasa.

Ternyata saya ketinggalan jaman.

Anda pasti sudah lama tahu. Saya cari infonya, ternyata para petani sudah lama mengembangkan beras jenis ini. Sudah sejak tahun 2003.

12 tahun lebih.

Kenapa saya baru tahu sekarang ya?

Yang pertama kali mengembangkan adalah petani Mlatiharjo Kabupaten Demak. Hebat benar petani di sana. Bahkan selain beras khusus buat nasi goreng, mereka pun mengembangkan beras khusus untuk restaurant jepang. Sebaliknya dari beras buat nasi goreng, beras buat restaurant Jepang lebih lengket seperti ketan. Oh ya kan untuk membuat Susi Similikiti, hehe.

Luar biasa mereka, tekun sekali. Baru-baru ini mereka pun sukses mengembangkan beras berwangi pandan, dan ke depannya, ada rencana mengembangkan beras wangi melati, dan mungkin ke depannya lagi, akan mengembangkan beras wangi kesturi, casablanca, spalding, atau Axe...

Wah, hebat mereka!

Related Posts:

Seorang Pewawancara Hebat Itu

Buat kelengkapan tulisan, seorang penulis butuh narasumber. Saya sendiri, biasanya muncul ide tulisan setelah bercakap-cakap dengan seseorang. Lewat chatting atau pembicaraan langsung. Kadang ngobol, hingga tengah malam, kemudian mendapatkan banyak pengetahuan tentang suasana penjara dan saya tulis. Pernah juga chatting dengan seorang ibu rumah tangga beranak dua, hidupnya sejahtera, dan setelah itu jadi tahu masa lalunya, dan menjadi cerita. Tapi narasumber sepandai apapun takkan berguna jika cara mewawancarainya salah.

Untuk wawancara, Anda harus tahu ilmunya. Dan satu-satunya ilmu terbaik yang saya tahu adalah: mengosongkan diri.

Ya, sekali lagi saya katakan, jika ingin menjadi seorang pewawancara hebat, Anda harus mengosongkan diri. Buat diri Anda tidak ada. Yang ada hanyalah orang yang Anda wawancara. Dengan begitu, Anda lebih banyak mendengar daripada berbicara.

Meminjam istilah Johnson Panjaitan--telinga harus lebih lebar dari mulut, dan mulut harus lebih kecil dari telinga. 

"Kita harus melupakan diri kita sendiri. Diri kita tidak penting, yang penting adalah orang yang kita wawancara." ujar Desi Anwar dalam acara Saran Sechan di Net TV. Saya nonton videonya di YouTube.

Dan sangat "gimana gitu" ketika mulut seorang pewawancara lebih lebar dari telinganya--lebih banyak bicara daripada mendengar.


Video Desi Anwar  tadi saya temukan, kemudian tertarik membukanya karena judul Video ini, Tips Hidup Sederhana bersama Desi Anwar.  Sudah lama Desi Anwar memikat saya dengan bukunya: "Hidup Sederhana". Saya buka-buka, bahasanya segar, lancar, dan enak dibaca. Sekarang menemukan videonya langsung penasaran, ingin mendengar langsung semenarik apa kupasan dia tentang hidup sederhana.

Namun kecewa, Sarah Sechan mengajukan pengantar sangat panjang, dibumbui canda, curhat, dan jelas, itu menjengkelkan saya. Saya penasaran pada Desi Anwarnya, bukan dia, tapi Sarah Sechan terus saja bicara, bercanda, menarik perhartian, dan anehnya, penonton tertawa-tawa, membuat saya curiga, jangan-jangan tertawa mereka ini pesanan. 

Saya akui, candaan Sarah Sechan sebagian menarik. Misal waktu Desi cerita pengalamannya keliling Indonesia, 

"...saya pergi ke Alas Purwo. Itu salah satu taman nasional di Banyuwangi. Sudah pernah dengar belum Alas Purwo? Alas Purwo itu adalah hutan tertua di Jawa. Angker!! (sambil menabirkan tangan ke mulut, berbisik) Ada guanya."

Komentar Sarah Sechan, "Hiiih hih hih  ...." meniru suara kunti. Tertawa juga saya mendengarnya. Memang banyak celetukannya yang lucu, tapi ketika kelucuan itu dia lontarkan bukan pada tempatnya, saat saya begitu penasaran kepada narasumber,  candaan itu malah menjengkelkan.

Mengosongkan diri. Kemampuan ini sangat penting dikuasai.

Rasa diri bodoh membuat kita diam dan lebih banyak mendengarkan. Membuat kita memandang orang lain lebih berpengetahuan dan layak didengarkan. Kita akan memandang orang di depan kita sebagai orang penting yang harus kita hargai, dan sebagai hasilnya, kita bisa menjadi orang yang menyenangkan dalam obrolan. Jika lawan bicara itu seorang yang sangat kita butuhkan informasinya, maka dia akan sangat senang membagikan apapun yang diketahuinya kepada kita.

Saya pernah membaca sebuah buku, kecil buku itu, judulnya, "Cara Mempengaruhi Orang Lain", karya Bamar Eska. Mengesankan sekali buku itu, sampai bertahun-tahun saya masih ingat dengan judul buku dan penulisnya. Bamar menulis, tapi saya lupa persis bunyi tulisannya seperti apa, tapi kurang lebih begini dia berkata: "Sekarang ini banyak sekali monyet pintar, sudah bisa memegang senjata, banyak sekali monyet yang bisa berbuat seperti manusia. Tapi anehnya, ternyata banyak juga manusia yang berubah menjadi monyet. Saat orang lain berbicara, dia malah ikut berbicara, tidak mau mendengar."

Ingin jadi pewawancara hebat?
Kosongkan diri Anda!

Related Posts:

Two Stroke Performance: Buku Otomotif

Di sela kesibukan berjualan, saya sempatkan diri juga ingin berbagi buku gratis kepada Anda dalam bentuk PDF. Ini saya lakukan supaya Anda dengan jelas merasakan keberungan bertemu dengan saya, sebagaimana saya sendiri merasa beruntung bertemu dengan Anda.

Ini buku otomotif, ditulis oleh seorang yang sangat ahli di bidang ini. Bukan hanya satu buku dia tulis, tapi sudah menulis beberapa buku special tentang masalah racing motor dan mobil.

Para pencinta otomotif dan berbagai mesin pasti sagat mencari buku ini. Sayangnya saya hanya bisa membagikan buku PDF nya saja, dan ini pun dalam bahasa Inggris.

Jika Anda membutuhkannya, Anda bisa langsung mendownloadnya dengan gratis DI SINI

Related Posts: