Saya menenemukan kekuatan pada kekosongan. Kekosongan adalah ketiadaan. Hanya dalam keadaan tiada, orang akan mengerti apa artinya ada. Saat tiadanya kesehatan orang mengerti apa artinya kesehatan. Saat tiadanya saudara orang mengerti apa artinya saudara. Hanya saat tiadanya uang seperakpun orang bakal mengerti artinya uang. Hanya dalam kematian orang bakal mengerti artinya hidup. Dalam kesempitan orang mengerti arti dari kelapangan. Dalam tiada kemudaanlah orang mengerti artinya kemudaan.
Perasaan tiada, atau perasaan segala milik kita akan tiada, perasaan segala sesuatunya sementara, itu bisa membangun kekuatan kita, untuk mengerti arti dari segala yang ada sebelum apa yang ada itu hilang dari diri kita. Perasaan suatu saat seorang teman akan berpisah membangu kekuatan batin untuk bertekad mencintai teman itu. Perasaan suatu saat uang akan habis membangun tekad memanfaatkan uang itu sebaik mungkin. Perasaan suatu saat kesehatan akan hilang berganti dengan sakit membangun kekuatan tekad memanfaatkan semaksimal mungkin kesehatan.
Tapi, haruskah menunggu sesuatu tidak ada supaya kita menghargai keberadaannya?
Tidak harus.
Rasakan saja ketiadaan, maka kita bisa lebih menghargai keberadaan. Orang yang merasakan sesutu akan tiada, akan lebih menghargai sesuatu itu selagi ada.
Supaya bisa lebih menghargai hidup, rasakanlah bagaimana nasib kita setelah mengalami kematian. Seorang ulama salaf, Hasan Basri kalau gak salah, sengaja menggali kubur di dalam rumahnya. Saat keimanan dirasakannya menurun, dia masuk ke dalam kuburannya, kemudian menyadarkan dirinya tentang nasib seperti apa yang bakal dia alami setelah kematian.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 Response to "Kekuatan Sebuah Kekosongan"
Post a Comment