Alie Isfah beli motor baru. Siapapun melihat bodynya pasti mengaku, betapa cantiknya motor itu. Namun siapa kira, di balik kecantikannya yang menawan, tersimpan luka mendalam.
Waktu dia mulai datang, malam harinya dimasukkan ke dalam toko. Kemudian Alie Isfah menghidupkannya. Si Motor gembira, sebab setahunya, jika sudah dihidupkan, pasti seterusnya dibawa jalan-jalan, dan itu adalah hal yang sangat dirindukannya, melesat di jalan, membelah keramaian, meliuk-liuk ringan, menembus kemacetan, bertualang dari kota ke kota. Akan tetapi lama dia dihidupkan, Alie Isfah malah naik ke lantai dua, dan tak turun lagi.
Si Motor pun bertanya-tanya. "Aku dihidupkan, Derrreedededededededeeeedededee terus kenapa malah dibiarkan? Derrreedededededededeeeedededee Begini terus...Derrreedededededededeeeedededee....ded dee dededddddeededededed,,,,"
Semula suaranya biasa. Lama-lama berubah. Seperti menjadi sedih. Lama-lama makin menyedihkan. Dari lantai tiga, saya mendengarnya jadi tak tega. Maka, lap top saya tinggalkan. Bergegas turun menemuinya. Sampai di sana, sungguh kasihan, dia sedang terguncang-guncang sendirian. Sungguh tak tega, saya langsung mematikannya.
"Terima kasih. Kamu baik sekali." ucapnya.
"Sama-sama"
"Mau ke mana lagi?" tanyanya.
"Lantai tiga!"
"Boleh curhat sebentar?"
"Curhat apa?" tanya saya sambil berbalik.
"Kenapa ya, aku dihidupkan, tapi kok, tidak dibawa ke mana-mana. Kukira mau diajak jalan-jalan."
"Oh gak tahu! Tanya saja ke Alie Isfah.."
"Iya, harusnya tuh kalau mau dihidupkan, langsung bawa dong aku jalan-jalan."
"Saya tidak tahu! Sudahlah, yang penting sekarang mesinmu sudah saya matikan, jadi tidak menggerung-gerung sendirian lagi."
"Oh iya, terima kasih ya!"
"Sama-sama. Sekarang, istirahatlah!"
"Ok"
Saya kembali naik tangga.
Sampai di lantai dua, terdengar seseorang menyapa, "Kang Asep!"
Saya tengok: Alie Isfah.
Saya tengok: Alie Isfah.
"Ya?"
"Motor dimatikan?" tanya Alie.
"Iya!"
Oh, jadi sengaja dihidupkan? Wah saya salah. Cepat turun lagi.
Drrdddddeeeddededededddddedhdhdhdhdhhhhd.......Drrdddddeeeddededededddddedhdhdhdhdhhhhd.......Drrdddddeeeddededededddddedhdhdhdhdhhhhd.......Drrdddddeeeddededededddddedhdhdhdhdhhhhd.......
Terdengar lagi suaranya, dan kini jauh lebih memilukan dari sebelumnya. Si Motor muram, seperti memohon-mohon ingin kembali dimatikan. Seperti mau protes, namun tak bisa. Tapi tak sepatah pun dia sanggup diucapkannya. Dan, sebelum dia sempat bicara, lalu merajuk minta dimatikan lagi, secepatnya saya lari, naik ke lantai tiga.
Dari lantai tiga, gemuruhnya perlahan terdengar.`Beberapa kali saya tarik nafas panjang. Semoga dia bersabar.
Keesokan harinya, dia sudah di luar. Terparkir lurus menghadap kaca. Kaca toko memantulkan bayangannya.
Setelah membuka pintu toko, saya lewat di sana. Terdengar dia ngobrol kepada motor di sampingnya.
"Hai!" sapanya motor Alie Isfah lembut.
"Hai" sambut motor di sampingnya.
"Scoopy. Kamu?"
"Beat. Kamu dari mana?"
"Jakarta. Kamu dari mana?" tanya Scoopy balik
"Aku dari kemarin" jawab motor Alie asal,
"Dari kemarin? Asalmu dari mana?."
"Sedih kenapa?"
"Semalam."
"Kenapa semalam?"
"Dihidupkan, kukira mau dibawa jalan-jalan."
"Trus?"
"Eh malah dibiarkan menggerung-gerung sendirian. Aku kan malu. Di tempat baru, disuruh bunyi sendirian."
"Oh itu sedang dites. Nanti juga kamu seperti aku. Dibawa jalan-jalan, ke kota-kota kayak aku."
"Asyik nggak?"
"Ya asyiklah."
"Bagaimana sih Jakarta itu?"
"Wah ramai. Asyik pokoknya. Namanya juga ibu kota. Kita bisa melihat banyak hal."
"Kira-kiranya aku kapan ya?"
"Kira-kiranya aku kapan ya?"
"Mungkin besok?"
"Beneran?" motor Alie Sumringah.
"Ya iyalah. Namanya juga motor, masa dibeli buat dipajang. Ya buat dibawa ke jalan lah."
"Asyik!!!! Jadi gak tahan ingin cepet besok!"
Saya terus mendengar percakapan mereka. Sambil jongkok sembunyi di samping mobil parkir, saya hanya bisa mengelus dada. Kasihan dia. Betapa ngebetnya ingin jalan-jalan dan saya tahu, pasti besok pun tidak, dan entah kapan.
Malamnya, jam sembilan lebih, saya lihat dia sudah kembali ke dalam. Diam tanpa ekspresi. Melihat saya mendekat, lewat di sampingnya, dia menyapa, "Sep!"
"Ya,"
"Boleh curhat seben....?"
Saya segera lari. Naik ke lantai tiga. Saya tak tahan mendengar curhatnya. Sungguh tak tega. Kasihan."
Seminggu kemudian, seperti biasa siang saya keluar. Mau ke toko buku. Setelah membuka pintu toko, terlirik Motor Alie terparkir di depan kaca. Pura-pura tak melihatnya, saya terus berjalan ke samping mobil, dan sembunyi di sana, mencuri dengar.
Sepotong kepala saya longokkan ke arah Motor Alie Isfah. Diam tanpa kata. Diapit dua motor di sampingnya. Satu di samping kirinya, namanya Honda Spacy, satu lagi di sana, di depan toko yang tutup, yaitu si Scoopy dari Jakarta itu.
"Jam berapa dari Jakarta" tanya Spacy.
"Aku semalam dibawa jalan-jalan, ke Pengajian. Jalanan kota seperti dipenuhi bintang-bintang, berkelap-kelip, bergerak-gerak. Datang ke pengajian, ribuan orang menghampari jalanan, turun hujan, mereka tetap husyuk mengikuti pengajian." Spacy tak mau kalah.
"Asyik ya. Kamu..? tanya Scoopy ke motor Alie.
"Aku?" motor Alie kaget. Gak nyangka dirinya bakal ditanya. Dia bingung mau cerita apa.
"Kamu...iya kamuuu..." tegas Spacy dengan gaya Dodit..
"Emmh..eemmh..a....ak...aku gak ke mana-mana. Di sini aja. Pagi, dikeluarkan, trus diam di sini."
"Ya diam di sini sampai sore. Ngadep toko. Ngaca"
"Trus?"
"Malamnya, dimasukkan lagi ke toko."
"Besoknya ya dikeluarkan lagi. Begitu terus, aku juga bingung."
Dari persembunyian, saya keluar. Ragu mendekati motor Alie Isfah, mendekatkan wajah saya ke kepalanya, lalu berbisik, "Kamu belum punya nomor polisi."
Dari persembunyian, saya keluar. Ragu mendekati motor Alie Isfah, mendekatkan wajah saya ke kepalanya, lalu berbisik, "Kamu belum punya nomor polisi."
0 Response to "Motor Alie Isfah"
Post a Comment