Nasi goreng yang saya buat kali ini benar-benar special. Ya, benar-benas special. Anda keliling kota Bandung, menanyakan nasi goreng jenis yang saya buat ini, dari terminal ke terminal, susuri jalanan Kota Bandung semuanya, tanyakan kepada satu persatu tukang nasi gorengnya, adakah yang membuat nasi goreng seperti saya buat, yakin pasti tak ada. Ibu-ibu mana pun di wilayah nusantara ini, bahkan di seluruh dunia, saya kira takkan ada yang pernah membuatnya.
Ini special, belum pernah seorang pun buat nasi goreng semacam ini kecuali saya.
Karena begitulah saya. Sebagai manusia Indonesia yang hafal Pancasila, dari sila ke satu sampai sila ke lima, menjunjung tinggi martabat dan kehormatan bangsa dengan terus berkreasi dan berinovasi, saya senantiasa melakukan percobaan, untuk mencipta dan menemukan hal baru, yang belum pernah ditemukan sebelumnya. Itulah yang saya lakukan pada nasi goreng, mencoba menciptakan nasi goreng baru, supaya dunia kuliner lebih berwarna.
Jadi, apa yang saya lakukan kepada nasi goreng saya?
Jadi, setelah nasi itu saya masukkan ke panci, kemudian mengaduknya dengan tumisan bawang--bawang putih dan merah--saya kebingungan bagaimana memberi manisnya, sedang kecap kehabisan. Tidak mungkin saya bubuhkan gula pasir karena, pasti butirannya tak akan camur, buat ngeres-ngeres. Sedang bingung cari apa yang bisa saya bubuhkan biar nasi goreng ini enak, ada manis-manisnya, mata saya menangkap botol madu dekat wastafel.
Ah, ini dia...
Tutup botolnya saya buka, kemudian, currr currr....dua kali cucuran. Sepertinya kurang, currrrrrrrrrrr.....lagi, kali ini tetesaannya lebih banyak.
Ah tapi ini sungguh perbuatan tega. Madu yang begitu tinggi derajatnya, mahal harganya, minuman berkelas, jadi buruan banyak orang, ampuh buat penyembuhan--malah saya jatuhkan derajatnya jadi selevel kecap, cairan hitam yang terbuat dari godokan gula merah dan kacang. Nista nian perbuatan saya. Kasihan itu madu nasibnya.
Tapi ya beitulah, sudah saya katakan kepada Anda, saya ingin membuat nasi goreng special. Super special.
Menjelang matang, wangi tercium. dan wanginya..,
Tak butuh lama, saya angkat, dan sajikan ke meja dengan pancinya, kemudian mencicipinya sendiri.
Dan rasanya: Manis asin begitu, campur bau bawang putih, tidak enak, rasanya sangat tidak pantas. Eneg!!
Inilah ternyata, nasi goreng pake madu rasanya gak enak.
Sudah cocoknya dengan kecap, biar murah tapi enak. Karena sudah pasangannya. Diganti madu yang mahal, karena bukan pasangannya, hasilnya gak enak,
Menurut Anda, apa pesan moral dari cerita saya di atas?
Menurut saya, daripada cari pesan moral yang entah ada entah tidak, lebih baik pesan saja barang-barang kami di Toko Asma Nadia. Sebelum paket Mei Kehabisan, silakan segera pesan!
0 Response to "Menurut Anda, Apa Pesan Moralnya?"
Post a Comment