CERITA SAAT KERJA DI DEPOK DAN MENDENGAR SI NAI MAU SEKOLAH

Bagaimana saya menanggapi rencana istri menyekolahkan Si Nai?

"Ya" itu saja. Tidak banyak. Urusan mengurus anak saya serahkan pada pasangan. Dia lebih banyak di rumah, tentunya lebih banyak tahu banyak dari pada saya. Maka dengan sebuah motor kreditan, paginya kami berangkat ke kota.

*   *   *

Istri di belakang, Si Nai di tengah. Aspal rusak berlobang-lobang, turun dan curam, pada jalan semacam itulah kami lewat. Banyak sudah orang celaka. Tak kurang terjerumus ke sawah, sebagian kecebur kolam, sebagian lagi menabrak pohon sampai tulang kering kakinya patah. Namun di atas segala peristiwa naas, kami tak pernah kalah. Tak pernah kami khawatir, lalu kapok tidak mau lagi naik motor. Keindahan jauh lebih banyak alam tawarkan daripada bahaya.

Kiri kanan lanskap jelita. Hijau segar dedaunan, penyejuk mata memandang. Bukan anggrek bukan mawar, hanya bunga semak belukar. Pada musimnya, bunga kopi pada tebing samping jalan akan bermekaran. Wangi semerbak terhirup nikmat.

Perumahan berundak-undak, mengikuti grafis tanah. Memikirkan ini saya larut dalam ketakjuban. Orang pegunungan itu hebat. Bisa tidur pulas dalam rumah di tanah curam. Sama sekali tidak khawatir jika datang hujan lebat, kemudian tanah lembek, menggelosor, rumah terjungkal, longkir besar, tahu-tahu sudah di kuburan.

Jalan gunung habis, tiba ke jalan besar. Jalan hotmik berpulas tengah. Pulas putih pemisah lajur kiri dan kanan. Pada jalan itu laju motor lebih nyaman. Meluncur mengikuti liak-liuk jalan di tengah bentagan hijau alam. Begitulah Panawangan, kampung saya. Ujung Ciamis utara. Sebuah kabupaten di Jawa Barat.

Berbingkai keindahan alam demikian, saya nikmati kebersamaan. Di antara semua hari dalam sebulan, dekat istri dan anak ini moment langka. Merasakan diri utuh, lengkap, berkeluarga. Sesekali, sebelah tangan saya lepas dari stang motor, mengulur ke belakang. Memegang tangan Si Nai. Tangan mungil seorang anak.

*    *    *

Sampai di kota, jeritan pertama Si Nai adalah permintaan ingin naik odong-odong.

"Nanti kita belanja peralatan sekolah dulu." cegah ibunya.

Sebuah toko mainan di ujung kota, ke sanalah kami datang. Toko ramai karena murah. Toko mainan berkombinasi peralatan belajar. Buku bacaan, terjemahan kitab, alat tulis seperti pensil biasa, pensil gambar, penggaris segitiga, penggaris busur, penggaris panjang, balpoint, penghapus, nyaris lengkap.

Turun dari motor, Si Nai berlari gembira. Masuk toko, menunjuk segala macam. Menunjuk gelang-gelang, jepitan, mobil-mobilan. Rencana penting mau beli peralatan belajar malah lihat mainan. Memang lama dia ingin mobil-mobilan. Mobil-mobilan besar yang punggungnya bisa ditunggang. Selama ini dia hanya bisa bengong melihat Anak tetangga, tanpa bisa meminjam. Setiap kali merengek minta mobil-mobilan, ibunya meredakan dengan berkata "Nanti kita beli kalau bapak pulang." dan sekaranglah saatnya.

Buku tulis, buku gambar, pensil biasa, pensil warna, yang murah-murah. Tiga buah kertas besar berisi gambar buah, huruf arab, dan huruf latin buat tempelan dinding biar mudah belajar. Sebuah meja kecil yang biasa dipakai sambil lesehan. Meja kecil dengan kaki besi kecil yang dipaku dengan baut ke bagian bawah. Murah, hanya tiga puluh lima ribu rupiah.

Pulang, tiba di rumah meja itu langsung digelar. Saya mau istirahat, tapi Si Nai mengajak belajar. Duduk dan tangannya bertumpu pada daun meja, menggambar, tapi semakin si meja tertekan semakin ke bawah. Dan akhirnya, kaki besi itu lepas. Saya periksa, ternyata bautnya tanggal. Baut itu mudah lepas karena meja dibuat bukan dari kayu betulan. Dari kayu tiruan, dari serbuk gergaji yang dipres jadi papan. Alhasil saat baut dipaku, tidak bisa menempel kuat. Tertarik sedikit langsung lepas. Huh! Dasar barang murah!

Saat dia mengajak belajar, saya mengira itu keasyikan sementara. Keasyikan seorang anak yang baru membeli perlengkapan belajar. Ternyata tidak, setelah berbulan-bulan kemudian, setelah enam hari seminggu pergi pulang sekolah bersama ibunya, saat saya pulang, buku "Bacalah Satu" lancar dia baca. Iqro sudah masuk kedua.

*   *   *

LANGIT DEPOK MEREDUP

Rutinitas buka facebook, banyak kisah terbagi ke wall. Diselang-selingi merapikan rambut yang kian panjang, saya tuliskan apa saja isi kepala. Termasuk cerita Si Nai sekolah.

Semula saya kira, menyekolahkan anak lebih dini itu hebat. Saat berkembangnya otak itu saat terbaik menyuruhnya belajar. Di luar dugaan, ternyata tidak. Sebagian besar teman facebook menyarankan sebaliknya. Pendapat mereka, tindakan itu kurang bijak. Usia tiga setengah terlalu muda. Itu saat-saat bermain anak. Dipaksa membaca dia bisa lelah. Nanti masuk sekolah dasar sudah bosan.

Entahlah. Siapa tahu anak saya beda. Istimewa. Hebat. Lebih awal bisa baca, setelah besar cemerlang.

Jam kerja siang, handphone berdendang. Nada khas blackberry. Tung ting tung tung tung tung ting.

Dari istri.

"Ya, kenapa?" sapa saya.

"A, Si Nai sakit panas."

"Tidak sekolah?"

"Tidak. Lagi pula, tadi hari hujan. Makanya tolong belikan jas hujan ya!"

"Ya"

"Ini Si Nai mau ngobrol, katanya."

"Ya"

Handphone diberikan ke Si Nai.

"Bapak?" suara anak-anak.

"Ya."

"Nanti kalau pulang bawa apel ya, bawa lengkeng."

"Baik. Nai sekarang sedang sakit?"

"Iya."

"Sudah minum obat?"

"Sudah, tadi, makan bubur dulu."

"Oh ya." dan saya penasaran tentang kabar belajarnya, "Nai sekarang sudah Iqra berapa?"

"Bapak nanti pulang bawa apel ya, bawa anggur, bawa lengkeng."

Lha kok jawabannya begitu, "Nai, halo. Bapak nanya kok gak dijawab?"

"Eh jangan bawa anggur ya Pa. Anggur itu asem."

"Nai, sudah Iqro berapa?"

"Bapak!"

"Ya. Nai sudah Iqro berapa?"

"Bapak sedang apa sekarang?"

Aneh, kenapa dia tidak menjawab?

Penasaran, setelah telfon dimatikan, saya SMS istri, "Kenapa Si Nai ditanya sudah Iqro berapa, kok tidak nyambung?"

"Sekarang dia susah belajar. Kalau diajak ngaji, iqro suka dilempar."

Waduh! Jangan-jangan, apa yang mereka sampaikan benar. Seketika khawatir datang. Memerah udang di penggorengan, semerah itulah perasaan. Memerah disebabkan marah, memikirkan ketidakberdayaan.

Serigkali datang kabar, Si Nai menangis tiba-tiba dan saat ditanya kenapa, ingin bertemu bapak. Bukannya tekanan belajar, sebenarnya dia butuh bermain banyak, butuh gembira banyak, dan saya, seharusnya banyak serta, bukannya mengambil jarak.

Awan berkumpul, biru tertutup. Langit Depok meredup. Mendung, angin gesit bertiup. Dari rintik, hujan berubah lebat. Rumput gembira, ikan ceria. Kecuali batin saya. Meringkuk, merasakan ketakutan, kecemasan. Nasib masa depan macam mana yang akan menimpa seorang bapak yang rindu anaknya sering terbiar.

"Oh ya jangan dipaksa. Mungkin lelah. Nanti juga setelah besar dia bakal bisa." pesan saya pada ibunya.

Related Posts:

0 Response to "CERITA SAAT KERJA DI DEPOK DAN MENDENGAR SI NAI MAU SEKOLAH"

Post a Comment