Beberapa bulan lalu beliau masih hidup. Shoting film, dan saya suka dengan aktinya. Cuek, cool, dan berwibawa. Setelah sekian banyak film sebelumnya, mulai dari Si Kabayan, kemudian berbagai peran dia dalam beberapa film layar lebar seperti Emak Ingin Naik Haji, Ketika Tuhan Jatuh Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, dan kemudian baru-baru ini, namanya yang besar semakin berkibar dengan peran sentralnya di film Preman Pensiun, sedang besar-besarnya nama dia, eh meninggal dunia.
Jum'at, 15 Mei 2015 sudah Allah pastikan sebagai jadwal Pak Didi Petet meninggal dunia. Jadwal, ah sudah sampai jadwalnya. Tak seorang pun punya daya, jika sudah sampai jadwalnya kematian, sama sekali tak bisa berusaha menyegerakannya, tak juga bisa menundanya. Dan kematian itu jadwal kita.
Setelah shalat, mengangkat tangan berdo'a, saya perhatikan, kuku sudah kembali panjang. Sudah waktunya motong lagi. Padahal rasanya, baru kemarin saya potong. Cepat sekali tumbuhnya.
Oh bukan, yang benar adalah, sebenarnya saya motong kuku sudah lama, sudah seminggu lebih yang lalu. Rasa betah tinggal di dunialah, yang membuat hari berlalu tak terasa, sehingga saya merasa kuku ini tumbuh begitu cepat.
Jum'at, 15 Mei 2015 sudah Allah pastikan sebagai jadwal Pak Didi Petet meninggal dunia. Jadwal, ah sudah sampai jadwalnya. Tak seorang pun punya daya, jika sudah sampai jadwalnya kematian, sama sekali tak bisa berusaha menyegerakannya, tak juga bisa menundanya. Dan kematian itu jadwal kita.
Setelah shalat, mengangkat tangan berdo'a, saya perhatikan, kuku sudah kembali panjang. Sudah waktunya motong lagi. Padahal rasanya, baru kemarin saya potong. Cepat sekali tumbuhnya.
Oh bukan, yang benar adalah, sebenarnya saya motong kuku sudah lama, sudah seminggu lebih yang lalu. Rasa betah tinggal di dunialah, yang membuat hari berlalu tak terasa, sehingga saya merasa kuku ini tumbuh begitu cepat.
Tiga puluh tahun, tidak terasa usia saya sudah dekat ke tua. Kalau hari ini mungkin sekitar jam dua, atau mungkin setengah tiga. Sudah dekat ke sore. Banyak orang tua di kampung saya sudah meninggal. Kakek saya meninggal tahun lalu. Orang-orang lainnya pasti akan menyusul setelah itu, mungkin tetangga saya, tapi satu hal yang sering saya lupakan, pada akhirnya, sayalah yang akan menunggu giliran.
Kitab para ulama mengatakan, betapa sakitnya kematian. Sakitnya kematian itu betapa. Betapa kematian itu sakit. Sakitnya kematian itu betapa. Nabi Idris katanya pernah dipenuhi keinginanya buat merasakan kematian, dan dia katakan, dikuliti dengan seribu pedang masih terlalu ringan dibanding sakitnya kematian.
Jadi...duh seperti apa kalau begitu kematian itu sakitnya.
Jadwal. Kematian itu jadwal kita. Di depan kantor pos, orang tua ngantri untuk mendapatkan kompensasi BBM, uang sumbangan dari pemerintah sebagai kompensasi naiknya harga BBM. Rata-rata yang mendapatkan panggilan itu orang tua. Dan setiap orang yang mendapatkan panggilan, dari wajahnya akan terpancar rona bahagia. Jadwal mendapatkan uang membuat semua orang sumringah. Tapi jadwal kematian sebaliknya, bisa membuat orang bermuram duka.
Siapakah yang menginginkan kematian. Orang berakal sehat takkan pernah menginginkannya. Nabi Muhammad sendiri melarang menginginkan kematian. Kalau pun menginginkan kematian, maka mintalah kepada Allah, supaya jika hidup, hidupkanlah dalam kehidupan yang baik, dan jika memang harus wafat, wafatkanlah dalam kematian yang baik. Nabi Muhammad sendiri--semoga Allah senantiasa melimpahkan shalawat kepadanya--menyebut kematian sebagai pemutus segala kelezatan.
Kematian itu menakutkan. Anda bisa saja koar-koar tidak takut mati, tapi saya yakin itu cuma mulut. Kalau saya bawa pedang kemudian saya suruh berlutut untuk saya penggal leher Anda, tak seorang pun dari Anda suka. Sebab, Anda takut kematian. Kita semua takut kematian. Sakit sedikit langsung berobat, sebab kita takut kematian. Kita menghindari kematian, kita lari dari kematian, bahkan kita ingin, kalau saja bisa, sudahlah kematian itu tak usah ada, langsung saja masuk akhirat.
Tidak bisa.
Kematian itu jadwal kita.
0 Response to "Kematian Adalah Jadwal Kita"
Post a Comment