Kita Hanyalah Ketiadaan

Kita adalah ketiadaan, dan akan kembali kepada ketiadaan, dan tatkala sampai kepada kesadaran ini, maka, melihat segala yang ada ini akan sangat bersyukur. Kita hanyalah orang yang dicipta, kita hanyalah orang-orang yang dihadirkan dan diwujudkan, demikian pula sesuatu yang berada di sekeliling kita, karenanya ketika secara halal seorang suami memeluk istrinya, bersama kesadaran bahwa kita berasal dari ketiadaan, maka pelukan itu akan dia rasakan nikmat luar biasa, akan dia rasakan di sana syukur yang luar biasa, akan dia nikmati sepenuhnya, dan melihat keajaiban di sana, bagaimana dari ketiadaan, kemudian Allah menjadikan kita ada, kemudian memberikan sesuatu yang sangat indah, bisa memeluk seseorang.

Rasa syukur akan semakin berlimpahan dalam batin kita manakala saat memandang diri dan sekeliling berasal dari ketiadaan. Coba pegang hidung Anda, jangan bercermin melihat bentuknya, tapi rasakan fungsinya. Un
tuk bernafas, dan nafas dia tarik tanpa Anda sendiri usaha, masuk ke dalam paru-paru yang sudah tersedia. Allah telah mengadakannya di dalam dada kita. Dan lihatlah keseluruhan tubuh kita. Semuanya berasal dari ketiadaan dan semuanya menjadi ada. Lihat juga fasilitas di sekeliling kita, mungkin meja, kursi yang empuk, smartphone, komputer, dispenser, temat masak, lantai, rumah, semuanya berasal dari ketiadaan kemudian Allah adakan untuk kita. Menyadari semua itu, saya sendiri jadi ingin menangis dan berterima kasih kepadan-Nya.

Ya kesadaran berasal dari ketiadaan adalah pembangkir rasa syukur yang luar biasa.

"Bukankah telah datang kepada manusia suatu saat, di mana dia bukan sesuatu yang pantas disebut? Sesungguhnya manusia berasal dari air mani yang terpancar, kemudian mengujinya, maka kami menjadikan untuknya pendengaran dan penglihatan. Sesungguhnya kami memberinya petunjuk, apakah mereka akan bersyukur atau kufur?"


Related Posts:

0 Response to "Kita Hanyalah Ketiadaan"

Post a Comment