Sudah empat kotak susu. Tidak saya minum. Sengaja saya kumpulkan buat anak saya. Di kampung. Pas pulang kemarin pun, saya bawa susu dua kotak, dibuka di rumah, langsung dia terima, dan tahu-tahu, sedotan sudah dia tusukkan, dan sedang dia minum. Kemarin waktu ibunya nelfon, dia teriak-teriak, menjerit-jerit.
"Itu kenapa si Enay?"
"Ingin ngobrol di hape"
"Oh, cepetan atuh berikan. Dan ibunya pun memberikan.
Pas handphone diberikan, dia masih menangis tersedu-sedu. Mungkin masih sakit hati, dari tadi handphone tidak juga diberikan padanya.
"Sudah, sudah nangisnya, ini kan sudah ngobrol sama bapak!"
Kubiarkan beberapa jenak. Dia masih terisak-isak. Mungkin dia pun sambil memikirkan kata apa yang ingin diucapkan.
"Bapa sudah gosok gigi belum?"
Mendengar itu, ibunya teriak meledek, "Kakek-kakek begitu ditanya sudah gosok gigi!"
Dan setelah itu, anak saya bicara lagi. Mungkin dibisiki ibunya, "Pak, susu ultra kumpulkan lagi."
Inilah mengapa susu ultra bagian saya, lebih suka saya kumpulkan daripada saya minum.
Saya tidak minum susu ini, juga karena sedang sakit. Diminum rasanya pahit. Eneg. Lebih baik saya kumpulkan kemudian bawa pulang. Setelah sembuh enak makan minum, masih juga saya kumpulkan. Alasan saya, jika susu ini saya minum, kebahagiaannya sekejap saja. Tapi jika saya bawa pulang, kemudian melihat anak saya meminumnya, bayangan bahagianya akan terus terbawa-bawa.
Ada rasa bahagia saat melihat anak saya meminumnya lahap.
Sengaja ini saya kumpulkan buat pegurang-ngurang jajan. Di kampung, susu ultra kotak begini sangat mahal. Kalau tidak salah, susu kotak besar harganya enam ribu rupiah. Alhamdulillah atasan saya Allah jadikan hatinya murah. Buat karyawan, ada jatah satu minuman perharinya. Dari lemari pendingin, bebas mengambil mana suka, dan saya mengambil susu kotak. Saya bawa ke lantai tiga, kemudian saya kumpulkan di meja. Sejak hari pertama kerja, satu, dua, tiga, empat, lima, satu minggu, dua minggu, tiga minggu, tak terasa, susu sudah berdesakan di meja. Sampai tiba saatnya pulang, susu saya masukkan ke dalam keresek, ke dalam tas dan berdesakan, membuatnya berat.
Saya peluk tas itu takut ketinggalan, takut hilang, dan sampai di rumah, saat saya tiba di halaman, sosok manusia kecil itu lari keluar menyambut saya, dan bertanya, "Bapa.....itu apa?"
"Susu" jawab saya.
"Asik..asik...asik..asik" sambil dia bawa ke tengah rumah, disimpan di atas meja, membuka, dan menjajarkannya.
Hanya bisa tersenyum bersama kebahagiaan tak terkata.
Ada rasa bahagia saat melihat anak saya meminumnya lahap.
Sengaja ini saya kumpulkan buat pegurang-ngurang jajan. Di kampung, susu ultra kotak begini sangat mahal. Kalau tidak salah, susu kotak besar harganya enam ribu rupiah. Alhamdulillah atasan saya Allah jadikan hatinya murah. Buat karyawan, ada jatah satu minuman perharinya. Dari lemari pendingin, bebas mengambil mana suka, dan saya mengambil susu kotak. Saya bawa ke lantai tiga, kemudian saya kumpulkan di meja. Sejak hari pertama kerja, satu, dua, tiga, empat, lima, satu minggu, dua minggu, tiga minggu, tak terasa, susu sudah berdesakan di meja. Sampai tiba saatnya pulang, susu saya masukkan ke dalam keresek, ke dalam tas dan berdesakan, membuatnya berat.
Saya peluk tas itu takut ketinggalan, takut hilang, dan sampai di rumah, saat saya tiba di halaman, sosok manusia kecil itu lari keluar menyambut saya, dan bertanya, "Bapa.....itu apa?"
"Susu" jawab saya.
"Asik..asik...asik..asik" sambil dia bawa ke tengah rumah, disimpan di atas meja, membuka, dan menjajarkannya.
Hanya bisa tersenyum bersama kebahagiaan tak terkata.

0 Response to "Bapak Sudah Gosok Gigi Belum?"
Post a Comment