Waktu kecil, waktu masih duduk di atas karpet bau nan berdebu, karpet hijau alas madrasah, senang sekali mendengarkan uraian guru ngaji. Tidak tahu kenapa waktu itu ngaji saya khusyuk sekali. Semangat, bahkan kalau bisa, semua kata guru ngaji mau saya catat. Kitab yang sangat saya suka adalah Ta'limul Muta'alim. Saya suka karena isinya sangat berguna, mengandung bimbingan bagi para pelajar yang menginginkan manfaat ilmunya.
Satu saran yang susah saya lupakan dari kitab itu adalah, jika ingin ilmu bermanfaat, maka pilihlah ilmul hal. Ilmul hal adalah ilmu yang dibutuhkan sekarang, ilmu petunjuk tentang segala perilaku yang banyak dilakukan sekarang. Seperti ilmu ibadah dan akhlaq. Mempelajari ilmu semacam ini cukup menyenangkan, karena yang kita pelajari dekat dengan keseharian. Karena ilmu yang kita pelajari adalah apa yang biasa kita lakukan. Terkadang saya berpikir buat menyusun buku-buku demikian. Buku yang membicarakan tentang keseharian, yang ringan-ringan, hal-hal yang biasa dilakukan kebanyakan orang--seperti mencuci, memasak, mengepel, menyapukan lantai, yang begitu-begitu, yang sederhana-sederhana saja. Juga tentang pergaulan, cara berbicara dengan orang, cara berpakaian. Dengan bahasa sederhana, uraian sederhana, contoh sederhana, pasti mudah diterima pembaca.
Akan tetapi sialan. Saya sudah keduluan orang. Sudah ada buku "Salon Kepribadian". Iya, ini buku isinya sangat keseharian. Ini saya buka sembarangan. Langsung membuka halaman 155. Membahas mulimah Big Boss. Muslimah tukang perintah. Apa-apa nyuruh. Apa-apa nyuruh. Padahal dirinya sendiri bisa, padahal, dia tahu orang lain sedang kerja, dan padahal, dia bukan seorang pemegang aturan. Nah, hal remeh semacam inilah yang dibahas. Tapi setelah baca buku ini, saya renungkan, ternyata tidak remeh juga. Muslimah tukang perintah memang menyebalkan.
Home » Archive for May 2015
Kisah Mengesankan: Kisah Tentang Kekosongan
Banyak kisah mengesankan saya baca, dan sebagian besar kisah yang mencuri hati saya, adalah tentang orang-orang yang mengosongkan dirinya. Kisah orang yang membuat pengakuan, bahwa dirinya tidak berdaya--pengakuan bahwa kekuatan, semua hanyalah milik Allah semata.
Seperti "Catatan Hati di Setiap Doaku" yang pagi ini saya baca. Langsung membuka halaman-halaman akhir, dan berhentilah mata pada sebuah kisah nyata. "Doa yang Dijawab dengan Syndroma Guillan Barre." Tertulis di bawah judul itu nama penulisnya: Agung Pribadi. Para pengunjung Toko Asma Nadia, tentu saja takkan asing lagi dengan ini nama. Senantiasa berinteraksi, berbicara, dan menjawab pesanan-pesanan barangnya.
Dalam bab ini Pak Agung menceritakan kekosongan dirinya di hadapan takdir Allah.
Waktu SMP--menurut ceritanya--dia sangat digandrungi wanita. Wajar saja karena waktu itu, selain termasuk siswa populer di sekolah, punya rangking bagus di kelas, Agung Pribadi remaja pun tergolong remaja berparas tampan. Akan tetapi kemudian, menjelang ujian akhir SMP, sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-16, sebuah cobaan berat datang, syndroma guillan barre menyerang, melumpuhkan kakinya. Agung tak bisa berjalan.
Sebagai anak yang semula sehat wal afiyat, tak kurang suatu apa, tentu saja kedatangan penyakit ini sangat mengagetkan. Sebulan lamanya dia total tidak bisa berjalan, hingga akhirnya, setelah bolak-balik berobat, segala puji bagi Allah, kakinya mengalami kesembuhan. Dia kembali bisa berjalan, meski harus menggunakan jangka. Namun tetap tidak sesehat sebelumnya. Menerima kenyataan ini, keping energi batin perlahan dia tata, membangun kesabaran, untuk menerima, karena, kalau keadaannya sudah begini, terus harus bagaimana?
Awalnya tak biasa, lama-lama akrab, dan bagaimana akhirnya?
JATUH CINTA.
Ya, akhirnya Pak Agung Remaja jatuh cinta kepada penyakitnya. Layaknya orang jatuh cinta yang selalu memandang baik apapun dari diri oran yang dicintainya, Agung remaja pun jatuh cinta dan berusaha memandang sisi indah dari penyakitnya. Penuh keyakinan dia katakan, sesungguhnya syndroma guillan barre yang dideritanya ini, yang membuatnya tak bisa berjalan senormal sebelumnya, justru adalah bentuk jawaban dari doa-doanya.
Selama ini kepada Allah beliau senantiasa meminta, supaya dirinya disucikan, dijaga dari dosa kemaluan. Mengingat dirinya dekat dengan banyak perempuan, sangat mungkin Agung remaja terjerumus pergaulan bebas yang ujung-ujugnya bisa saja terjerumus kepada perzinahan. Kita semua memohon perlindungan kepada Allah. Akan tetapi, kemudian Allah menjawab doanya dengan memberikan penyakit itu, yang tentu saja, itu membuatnya terbatasi dari pergaulan bebas.
Mengosongkan. Itulah yang Pak Agung lakukan dengan ceritanya. Dia mengosongkan dirinya, melihat dirinya makhluk tak berdaya, sama sekali tidak punya kekuatan menolak kepastian dari Allah, dan tiada jalan, selain berserah dan memandang, ketidakberdayaannya justru sebuah pintu kebaikan.
Saya bertanya, kenapa cerita semacam ini demikian memikat?
Saya sendiri yang jawab, karena, ketika orang mengakui kelemahannya, jujur akan kekosongan dirinya, tidak punya apa-apa, tidak bisa apa-apa, tidak berdaya apa-apa, kemudian memasrahkan diri sepenuhnya kepada Allah, justru dari sana akan terbangun kekuatan, kekuatan dahsyat, dan ketika itu dia sajikan dalam cerita, maka cerita yang tersusun demikian memikat. Dalam kesadaran manusia akan ketidak berdayaan dirinya, ada kekuatan tak terhingga.
Related Posts:
Kekuatan Sebuah Kekosongan
Saya menenemukan kekuatan pada kekosongan. Kekosongan adalah ketiadaan. Hanya dalam keadaan tiada, orang akan mengerti apa artinya ada. Saat tiadanya kesehatan orang mengerti apa artinya kesehatan. Saat tiadanya saudara orang mengerti apa artinya saudara. Hanya saat tiadanya uang seperakpun orang bakal mengerti artinya uang. Hanya dalam kematian orang bakal mengerti artinya hidup. Dalam kesempitan orang mengerti arti dari kelapangan. Dalam tiada kemudaanlah orang mengerti artinya kemudaan.
Perasaan tiada, atau perasaan segala milik kita akan tiada, perasaan segala sesuatunya sementara, itu bisa membangun kekuatan kita, untuk mengerti arti dari segala yang ada sebelum apa yang ada itu hilang dari diri kita. Perasaan suatu saat seorang teman akan berpisah membangu kekuatan batin untuk bertekad mencintai teman itu. Perasaan suatu saat uang akan habis membangun tekad memanfaatkan uang itu sebaik mungkin. Perasaan suatu saat kesehatan akan hilang berganti dengan sakit membangun kekuatan tekad memanfaatkan semaksimal mungkin kesehatan.
Tapi, haruskah menunggu sesuatu tidak ada supaya kita menghargai keberadaannya?
Tidak harus.
Rasakan saja ketiadaan, maka kita bisa lebih menghargai keberadaan. Orang yang merasakan sesutu akan tiada, akan lebih menghargai sesuatu itu selagi ada.
Supaya bisa lebih menghargai hidup, rasakanlah bagaimana nasib kita setelah mengalami kematian. Seorang ulama salaf, Hasan Basri kalau gak salah, sengaja menggali kubur di dalam rumahnya. Saat keimanan dirasakannya menurun, dia masuk ke dalam kuburannya, kemudian menyadarkan dirinya tentang nasib seperti apa yang bakal dia alami setelah kematian.
Perasaan tiada, atau perasaan segala milik kita akan tiada, perasaan segala sesuatunya sementara, itu bisa membangun kekuatan kita, untuk mengerti arti dari segala yang ada sebelum apa yang ada itu hilang dari diri kita. Perasaan suatu saat seorang teman akan berpisah membangu kekuatan batin untuk bertekad mencintai teman itu. Perasaan suatu saat uang akan habis membangun tekad memanfaatkan uang itu sebaik mungkin. Perasaan suatu saat kesehatan akan hilang berganti dengan sakit membangun kekuatan tekad memanfaatkan semaksimal mungkin kesehatan.
Tapi, haruskah menunggu sesuatu tidak ada supaya kita menghargai keberadaannya?
Tidak harus.
Rasakan saja ketiadaan, maka kita bisa lebih menghargai keberadaan. Orang yang merasakan sesutu akan tiada, akan lebih menghargai sesuatu itu selagi ada.
Supaya bisa lebih menghargai hidup, rasakanlah bagaimana nasib kita setelah mengalami kematian. Seorang ulama salaf, Hasan Basri kalau gak salah, sengaja menggali kubur di dalam rumahnya. Saat keimanan dirasakannya menurun, dia masuk ke dalam kuburannya, kemudian menyadarkan dirinya tentang nasib seperti apa yang bakal dia alami setelah kematian.
Related Posts:
Terry Putri Berhijab
Malu sebenarnya menulis tentang ini. Soalnya ini gorip, dan akibat menulis ini, nama saya bisa jelek. Penulis syair disebut penyair, penulis sastra disebut sastrawan, penulis warta disebut wartawan, bagus-bagus namanya--lha penulis gosip?
Apalagi kalau namanya bukan biang gosip.
Tapi gosip kali ini tak tahan mau saya tulis. Terry Putri, memutuskan berhijab semenjak 20 Mei 2015. Karena keputusan itu, beberapa kontrak kerjanya sebagai presenter dia batalkan. Kalau tidak sesuai dengan komitmentnya berhijab, dia tolak. Beberapa orang berkata kepadanya masalah jodoh. Saat buka-bukaan susah sekali dia dapat jodoh, bagaimana kalau berhijab.
Luar biasasanya Terry tetap percaya diri dengan keputusan ini. Justru dengan berhijab seperti ini, gangguan yang biasa dia terima saat berpakaian seksi takkan ada lagi. Dan masalah jodoh, dengan berhijab dengan sendirinya akan terseleksi.
Bagaimana dengan pakaian-pakaian seksinya yang sudah kadung banyak.
"Tengtop masih bisa dipake cardigan. Masih bisa dimitch and match. Gak ada masalah tuh sama baju seksi aku." katanya santai menjawab pertanyaan penyiar gosip di Rawamangun. Setelah berhijab, dia mulai mengumpulkan busana muslimah, meski menurut pengakuannya, cara memakai kerudung dia masih belajar."
Mengetahui keputusannya berhijab, pada pengguna social media banyak gembira. Sebagia mengaku sampai berair mata. Tidak tahu bagaimana reaksi mereka yang anti hijab. Ah pasti gini lagi, "Yang penting hatinya berhijab,"
Hoeeekkk, pengen munta lagi saya.!!
Apalagi kalau namanya bukan biang gosip.
Tapi gosip kali ini tak tahan mau saya tulis. Terry Putri, memutuskan berhijab semenjak 20 Mei 2015. Karena keputusan itu, beberapa kontrak kerjanya sebagai presenter dia batalkan. Kalau tidak sesuai dengan komitmentnya berhijab, dia tolak. Beberapa orang berkata kepadanya masalah jodoh. Saat buka-bukaan susah sekali dia dapat jodoh, bagaimana kalau berhijab.
Luar biasasanya Terry tetap percaya diri dengan keputusan ini. Justru dengan berhijab seperti ini, gangguan yang biasa dia terima saat berpakaian seksi takkan ada lagi. Dan masalah jodoh, dengan berhijab dengan sendirinya akan terseleksi.
Bagaimana dengan pakaian-pakaian seksinya yang sudah kadung banyak.
"Tengtop masih bisa dipake cardigan. Masih bisa dimitch and match. Gak ada masalah tuh sama baju seksi aku." katanya santai menjawab pertanyaan penyiar gosip di Rawamangun. Setelah berhijab, dia mulai mengumpulkan busana muslimah, meski menurut pengakuannya, cara memakai kerudung dia masih belajar."
Mengetahui keputusannya berhijab, pada pengguna social media banyak gembira. Sebagia mengaku sampai berair mata. Tidak tahu bagaimana reaksi mereka yang anti hijab. Ah pasti gini lagi, "Yang penting hatinya berhijab,"
Hoeeekkk, pengen munta lagi saya.!!
Related Posts:
Sebab Irwan Sumenep Tersenggol
Menurut analisa saya, sebab Irwan Sumenep tersenggol dari Dangdung Akademi Dua, adalah salah dia sendiri, melakukan pendekatan kepada Evi Masamba. Ya namanya melakukan pendekatan kepada sesama pedangdut, ya pasti sama-sama bergoyang. Saat bergorang itulah Irwan Sumenep tersenggol.
Begitulah kabar bohong yang ingin saya siarkan.
Lupakan kabar sinting di atas, tapi saya melihat tersenggolnya Irwan mengundang simpati banyak orang. Hingga tak biasanya media online meramaikan pemberitaannya. Saya cek hari ini saja, kata kunci yang memberitakan tersenggolnya Irwan sampai lima ribu lebih, menempati urutan kedua kata kunci terpopuler di google. Sepertinya para penggemar yang menjagokannya banyak yang kecewa denga tereliminasinya dia.
Termasuk Irwan Sendiri, pastinya sedih, setelah berusaha sekuat tenaga, ternyata akhirnya kalah.
Karena itu, untuk sedikit mengurangi kekecewaannya, saya mengajak dia minum teh botol. Semula Irwan menolak dengan alasan, dia hanya bisa minum teh dan tidak bisa minum botolnya. Tapi saya rayu lagi dengan menjelaskan, tidak harus minum botolnya, cukup makan saja dengan mejanya. Mendengar itu, Irwan kembali semangat. Mau saya ajak bersama-sama minum teh sambil menyantap meja.
Setelah habis seperempat meja, dan Irwan kekenyangan saya mencoba menanyaka Irwan bagaimana rasanya tereliminasi? Di katakan, dia kecewa juga.
Saya katakan, "Tak usah kecewa. Tak usah sedih. Bahagia saja! Sebab untuk menjadi orang bahagia itu mudah."
"Kenapa mudah?"
"Sebab bahagia hanyalah sebuah perbandingan. Kamu kurang bahagia ketika kamu bandingkan dirimu dengan orang yang tidak tereliminasi. Kamu sedih, kenapa mereka tetap bertahan sedangkan saya sudah tereliminasi?"
"Supaya tidak sedih?"
"Kamu harus membandingkan dirimu dengan para pahlawan narkoba."
"Siapa pahlawan narkoba? Aku baru denger."
"Ah kamu, itu Si Nine Bali, yang dihukum mati di Nusa Kambangan itu. Lihat tuh. Hah, masalah kamu mah gak ada apa-apanya. Kecil. Hanya tereliminasi dari panggung Dangdut Akademi. Tuh, orang lain mah dieliminasi dari muka bumi. Ditembak mati. Tapi dia santai-santai saja. Malah sehari sebelum diberondong---kayak jagung aja ya, diberondong--ya diberondong peluru, dia sempet-sempetnya nikah dulu. Silakan bandingkan...kamu lebih beruntung cuma dieliminasi dari Dangdut Akademi. Kebayang gak, jika nasibmu ternyata menjadi orang yang harus dieliminasi dari muka bumi."
"Iya juga ya! Wah aku beruntung! Aku beruntung! SEMANGAT!!! SEMANGAT!!!!" ucapnya sambil meloncat-loncat. Dia terus meloncat-loncat, sampai tak terasa, loncatannya sudah sampai di Sumenep.
Related Posts:
Tidak Terburu-Buru Membocorkan Isi Cerita
Sejak membaca awal cerita saya terus bertanya-tanya, ini wanita apa masalahnya. Cantik jelita,
"Kulitnya putih, wajahnya bersih seperti bayi. Kecantikannya lengkap."
Lalu apa kekurangannya.
Baris demi baris terus saya susuri.
Wanita ini bersuami, berumah tangga dan dia menjadi istri setia. Tak pernah ramai berita tak sedap dari rumah tangganya. Adem ayem tanpa pertengkaran.
Dia sangat taat pada suaminya, beranak dua dan telaten mengurus rumah tangga.
"....kemampuannya mengurus dirinya. Kecantikannya tidak berkurang. Malah semakin bercahaya seiring umur yang bertambah."
Rapat menutup aurat. "Dalam balutan kerudung dan ke mana-mana nyaris tanpa make-up, keindahannya semakin memesona."
Lalu apa masalahnya. Tidak mungkin ini cerita tanpa masalah. Sebuah cerita harus ada konfliknya. Dari baris ke baris terus saya baca. Dengan penasaran saya buka satu lagi lembarannya.
"Adakah kesombongan di wajah cantiknya?"
Juga tidak.
Saat suaminya sakit, dia tekun merawat.
"Sosok cantik itu tetap tekun tanpa banyak bicara. Merawat suami dan anak-anak seperti sebelumnya."
Sampai ketika mata saya menyusuri halaman buku itu semakin ke bawah, sebuah paragraf mengutip kata-kata dari salah seorang kerabat sang wanita muslimah.
"Kalau saja semua orang tahu, kasihan kakak itu. Suaminya seringkali main perempuan di belakang dia. Bahkan semenjak awal mereka menikah..."
(Cinta Perempuan Paling Cantik, Asma Nadia)
* * *
Kesabaran mengurai kisah, dan tak terburu-buru membocorkan konflik sebenarnya kepada pembaca, menggelitik hati mereka supaya terus bertanya dan bertanya, apa masalahnya, di mana masalahnya, apa kekurangannya, mana konfliknya, itu salah satu kepiawaian yang bisa membuat sebuah cerita.
Banyak penulis terburu-buru, ingin segera menyampaikan masalahnya. Sehingga semakin ke ujung, cerita semakin hambar. Seperti baso dingin, pasti sangat beda rasanya dibanding bakso yang masih panas. Mempertahankan rasa penasaran pembaca biar tetap "panas" memang membutuhkan latihan. Dengan membaca berbagai buku bagus yang sudah ada, mempelajari mengapa buku itu begitu seru, kemudian mencoba menerapkannya saat menulis cerita, adalah bagian dari latihan itu.
Saya lupa, membocorkan isi sejak awal cerita, itu termasuk dosa ke berapa ya? Lihat sendiri saja di buku "101 Dosa Penulis Pemula"
"Kulitnya putih, wajahnya bersih seperti bayi. Kecantikannya lengkap."
Lalu apa kekurangannya.
Baris demi baris terus saya susuri.
Wanita ini bersuami, berumah tangga dan dia menjadi istri setia. Tak pernah ramai berita tak sedap dari rumah tangganya. Adem ayem tanpa pertengkaran.
Dia sangat taat pada suaminya, beranak dua dan telaten mengurus rumah tangga.
"....kemampuannya mengurus dirinya. Kecantikannya tidak berkurang. Malah semakin bercahaya seiring umur yang bertambah."
Rapat menutup aurat. "Dalam balutan kerudung dan ke mana-mana nyaris tanpa make-up, keindahannya semakin memesona."
Lalu apa masalahnya. Tidak mungkin ini cerita tanpa masalah. Sebuah cerita harus ada konfliknya. Dari baris ke baris terus saya baca. Dengan penasaran saya buka satu lagi lembarannya.
"Adakah kesombongan di wajah cantiknya?"
Juga tidak.
Saat suaminya sakit, dia tekun merawat.
"Sosok cantik itu tetap tekun tanpa banyak bicara. Merawat suami dan anak-anak seperti sebelumnya."
Sampai ketika mata saya menyusuri halaman buku itu semakin ke bawah, sebuah paragraf mengutip kata-kata dari salah seorang kerabat sang wanita muslimah.
"Kalau saja semua orang tahu, kasihan kakak itu. Suaminya seringkali main perempuan di belakang dia. Bahkan semenjak awal mereka menikah..."
(Cinta Perempuan Paling Cantik, Asma Nadia)
* * *
Kesabaran mengurai kisah, dan tak terburu-buru membocorkan konflik sebenarnya kepada pembaca, menggelitik hati mereka supaya terus bertanya dan bertanya, apa masalahnya, di mana masalahnya, apa kekurangannya, mana konfliknya, itu salah satu kepiawaian yang bisa membuat sebuah cerita.
Banyak penulis terburu-buru, ingin segera menyampaikan masalahnya. Sehingga semakin ke ujung, cerita semakin hambar. Seperti baso dingin, pasti sangat beda rasanya dibanding bakso yang masih panas. Mempertahankan rasa penasaran pembaca biar tetap "panas" memang membutuhkan latihan. Dengan membaca berbagai buku bagus yang sudah ada, mempelajari mengapa buku itu begitu seru, kemudian mencoba menerapkannya saat menulis cerita, adalah bagian dari latihan itu.
Saya lupa, membocorkan isi sejak awal cerita, itu termasuk dosa ke berapa ya? Lihat sendiri saja di buku "101 Dosa Penulis Pemula"
Related Posts:
Mengapa Derajat Saya Susah Sekali Naik
Ya pantas saja kebaikan diri saya susah sekali tumbuh,
Berkembang dan berbuah
Karena
Setiap kali punya kelebihan, selalu tak tahan, langsung memamerkannya kepada orang lain
Padahal jika biji ingin tumbuh,
Dia harus ditanam di dalam tanah, seperti para ulama, yang tak suka menonjolkan kebaikannya
Kebaikan itu mereka sembunyikan, mereka kubur,
Dalam kerendahhatian sesungguhnya.
Maka
Kebaikan mereka tumbuh,
Pengetahuannya berkembang, berbuah, manfaat bagi banyak orang.
Sedang kelebihan saya,
Malah sengaja dipamerkan, digeletakkan di atas batu
Bahkan diangkat-angkat
Jelas semakin kering dijemur sinar matahari
Jangankan tumbuh, apalagi berbuah
Yang ada malah
Mati
Berkembang dan berbuah
Karena
Setiap kali punya kelebihan, selalu tak tahan, langsung memamerkannya kepada orang lain
Padahal jika biji ingin tumbuh,
Dia harus ditanam di dalam tanah, seperti para ulama, yang tak suka menonjolkan kebaikannya
Kebaikan itu mereka sembunyikan, mereka kubur,
Dalam kerendahhatian sesungguhnya.
Maka
Kebaikan mereka tumbuh,
Pengetahuannya berkembang, berbuah, manfaat bagi banyak orang.
Sedang kelebihan saya,
Malah sengaja dipamerkan, digeletakkan di atas batu
Bahkan diangkat-angkat
Jelas semakin kering dijemur sinar matahari
Jangankan tumbuh, apalagi berbuah
Yang ada malah
Mati
Related Posts:
Motor Alie Isfah II
Sore ini, seluruh staf online Toko Asma Nadia pergi kondangan, termasuk Alie Isfah. Kecuali saya, tetap asyik duduk menulis, dari sore hingga malam. Jam dua puluh satu, waktunya tutup toko, Alie Isfah belum juga datang, begitu juga yang lainnya. Karena sudah waktunya, toko saya tutup saja. Rangkaian teralis besi itu siap saya tarik, dan saat itulah, saya lihat motor Alie Isfah. Sendirian, menghadap kaca.
"Mau ditutup? TUTUP SAJA!! TAK USAH PEDULIKAN AKU!!!!" bentaknya.
Saya kaget. Baru saya buka mulut, dia kembali mendengus.
"Laki-laki semua sama saja. Sebelum jadi miliknya, dia terus berusaha. Siang malam terus diingat. Terus dia rindukan. Sekarang, setelah luluh kuserahka diriku padanya, dan jadi miliknya, aku disia-siakan!!"
Saya bingung harus mengatakan apa.
"Dan KAMU LAGI...." kini melotot ke arah saya.
Saya melongo. Kok, jadi marah sama saya.
"KAMU MAU TUTUP TOKO KAN? MEMBIARKANKU SENDIRIAN DI LUAR KAN? AYO TUTUP SAJA!! SUDAH, GAK USAH SOK SOK BAIK!! SOK PERHATIAN!! AKU TIDAK PERCAYA!!"
Mulut melongo saya tutup dulu. Kemudian, dengan jantung berdebar, kaki melangkah mendekatinya, mencoba menenangkan, meski belum tahu harus mengatakan apa.
"KATAKAN, KE MANA DIA??"
"Maaf, bisa tenang kan cara bicaranya? Jangan bentak-bentak begitu!."
"HALAH BANYAK BACOT! KATAKAN DULU, KE MANA DIA??"
"Pergi kondangan."
Mendengar saya mengatakan itu, Motor Alies Isfah terdiam. Hening, menanggungkan duka tertahan. Empat detik kemudian, tampak badannya terguncang-guncang. Penuh kasih, saya usap-usap kepalanya, memeluknya, dan merasakan pedih batinnya. Tanpa terasa, mata ini berkaca-kaca.
"Motor, saya paham. Alie Isfah pergi kondangan, sedang kamu dia tinggalkan, saya paham bagaimana perasaanmu saya faham."
Belum juga dia bicara. Guncangannya semakin kencang. Kini dia terisak, dan suara isak tangisnya, sungguh perih di hati saya.
"Tenanglah, tenang, ini ada saya. Alie Isfah nanti juga pulang!"
"Apa salahku sesungguhnya. Katakan!! Tak perlu ada rahasia!"
"Tidak, tidak ada apa-apa. Kamu sabar saja!"
"Kalau dia tidak suka sama aku, jujur saja!! Aku juga tidak keberatan. Aku cuma minta keputusan! Sudah seminggu lebih aku di sini, kerjaku dibiarkan teru saja begini-begini. Masuk, keluar, masuk, keluar."
"Iya, sabar motor, kamu harus sabar. Kita harus menerima nasib apapun yang terjadi pada kita. Tunggulah, pada setiap hal yang tidak kita suka, selalu ada keindahan di baliknya."
"Tapi..." dia menarik nafas, "...aku tetap tidak terima. Bayangkan saja, malam dia enak-enakan di atas, tidur pada sofa, hangat berselimut tebal, sedang aku, di toko, kedinginan, trus aku dia anggap apa coba?"
"Kan tidak mungkin kamu..."
"Oke, aku mengerti. Diajak tidur bersama memang aku tak mungkin, tapi coba pikir, siangnya aku dikeluarkan, lalu dibiarkan nongkrong di depan, tengah hari panas-panasan!! Kalau begini terus aku bisa cepat rusak!! Oh mungkin sengaja ya, biar cepat rusak. Biar dia punya alasan buat cari yang lain lagi!! DASAR LAKI-LAKIIIII!!! DASAR LAKI-LAKIIII!!!!!"
"Tenang Motor,...Tenang...malu sama orang tuh, mereka masih ramai di jalan!"
"Biar!! Biar semua tahu!!"
"Sekarang, lebih baik kita masuk."
"Tunggu, aku belum selesai ngomong."
"Kan masih bisa di dalam."
"Halah, sudah ke dalam, kemarin-kemarin juga kamu malah lari naik tangga ke lantai tiga."
"Ok!" saya mengalah.
"Jadi, sedang ke mana dia sekarang? Kondangan? Hmmhh...ya ya ya, semakin jelas saja, dia memang tak suka."
"Bukan! Bukan karena Alie tak...."
"Diam dulu!" potongnya, "Aku belum selesai ngomong!"
"Oke...oke..."
"Jelas-jelas, dia tidak bawa saya karena tak suka. Dia malu bawa saya ke depan banyak orang. Mungkin di matanya aku tak pantas. Ya, pasti itu karena di matanya aku tak pantas. Bagi dia, mungkin aku memalukan....huu....huu...huu...."
"Beattt....!!! Hai....kamu kan setiap hari bercermin, menghadap kaca, kamu lihat kan betapa kamu cantiknya."
"Heeemmhhhh..." dia mendengus kesal "...tapi belum tentu di mata Alie Isfah."
"Kalau memang kamu tidak indah, terus kenapa dia milih kamu? Coba pikirkan?"
"Kalau memang dia milih aku, dan dia benar-benar memilihku, trus kenapa sekarang aku dia tinggalkan? Seakan malu aku dibawa kondangan? Kamu yang harus mikir ASEP!! COBA MIKIR!!"
"Iya ini juga mikir," dibentak-bentak begitu, saya mulai sebal.
"Iya, kalau kamu mikir, coba bandingkan dengan perasaan istri yang malah ditinggalkan di rumah, tidak dibawa kondangan!! Kamu tidak tahu betapa tersinggungnya dia!! ASEP, KAMU PUNYA OTAK GAK SIH?"
Wah, makin parah. Sudah terlalu sensi nih motor.
"Sudahlah, sekarang kita masuk saja!"
"TIDAK!!!"
"Ayooooo!!!"
"TIDAK ASEP!! TIDAK!! BIAR AKU DI LUAR SAJA!! AKU MEMANG MOTOR TIDAK BERGUNA"
"Eh, jangan! Ayo masuk!!"
Saya memaksanya masuk, cepat memarkirnya dekat etalase, menutup pintu toko dan, langsung lari ke lantai tiga, kembali kerja.
Hhh.....ada-ada saja......
"Mau ditutup? TUTUP SAJA!! TAK USAH PEDULIKAN AKU!!!!" bentaknya.
Saya kaget. Baru saya buka mulut, dia kembali mendengus.
"Laki-laki semua sama saja. Sebelum jadi miliknya, dia terus berusaha. Siang malam terus diingat. Terus dia rindukan. Sekarang, setelah luluh kuserahka diriku padanya, dan jadi miliknya, aku disia-siakan!!"
Saya bingung harus mengatakan apa.
"Dan KAMU LAGI...." kini melotot ke arah saya.
Saya melongo. Kok, jadi marah sama saya.
"KAMU MAU TUTUP TOKO KAN? MEMBIARKANKU SENDIRIAN DI LUAR KAN? AYO TUTUP SAJA!! SUDAH, GAK USAH SOK SOK BAIK!! SOK PERHATIAN!! AKU TIDAK PERCAYA!!"
Mulut melongo saya tutup dulu. Kemudian, dengan jantung berdebar, kaki melangkah mendekatinya, mencoba menenangkan, meski belum tahu harus mengatakan apa.
"KATAKAN, KE MANA DIA??"
"Maaf, bisa tenang kan cara bicaranya? Jangan bentak-bentak begitu!."
"HALAH BANYAK BACOT! KATAKAN DULU, KE MANA DIA??"
"Pergi kondangan."
Mendengar saya mengatakan itu, Motor Alies Isfah terdiam. Hening, menanggungkan duka tertahan. Empat detik kemudian, tampak badannya terguncang-guncang. Penuh kasih, saya usap-usap kepalanya, memeluknya, dan merasakan pedih batinnya. Tanpa terasa, mata ini berkaca-kaca.
"Motor, saya paham. Alie Isfah pergi kondangan, sedang kamu dia tinggalkan, saya paham bagaimana perasaanmu saya faham."
Belum juga dia bicara. Guncangannya semakin kencang. Kini dia terisak, dan suara isak tangisnya, sungguh perih di hati saya.
"Tenanglah, tenang, ini ada saya. Alie Isfah nanti juga pulang!"
"Apa salahku sesungguhnya. Katakan!! Tak perlu ada rahasia!"
"Tidak, tidak ada apa-apa. Kamu sabar saja!"
"Kalau dia tidak suka sama aku, jujur saja!! Aku juga tidak keberatan. Aku cuma minta keputusan! Sudah seminggu lebih aku di sini, kerjaku dibiarkan teru saja begini-begini. Masuk, keluar, masuk, keluar."
"Iya, sabar motor, kamu harus sabar. Kita harus menerima nasib apapun yang terjadi pada kita. Tunggulah, pada setiap hal yang tidak kita suka, selalu ada keindahan di baliknya."
"Tapi..." dia menarik nafas, "...aku tetap tidak terima. Bayangkan saja, malam dia enak-enakan di atas, tidur pada sofa, hangat berselimut tebal, sedang aku, di toko, kedinginan, trus aku dia anggap apa coba?"
"Kan tidak mungkin kamu..."
"Oke, aku mengerti. Diajak tidur bersama memang aku tak mungkin, tapi coba pikir, siangnya aku dikeluarkan, lalu dibiarkan nongkrong di depan, tengah hari panas-panasan!! Kalau begini terus aku bisa cepat rusak!! Oh mungkin sengaja ya, biar cepat rusak. Biar dia punya alasan buat cari yang lain lagi!! DASAR LAKI-LAKIIIII!!! DASAR LAKI-LAKIIII!!!!!"
"Tenang Motor,...Tenang...malu sama orang tuh, mereka masih ramai di jalan!"
"Biar!! Biar semua tahu!!"
"Sekarang, lebih baik kita masuk."
"Tunggu, aku belum selesai ngomong."
"Kan masih bisa di dalam."
"Halah, sudah ke dalam, kemarin-kemarin juga kamu malah lari naik tangga ke lantai tiga."
"Ok!" saya mengalah.
"Jadi, sedang ke mana dia sekarang? Kondangan? Hmmhh...ya ya ya, semakin jelas saja, dia memang tak suka."
"Bukan! Bukan karena Alie tak...."
"Diam dulu!" potongnya, "Aku belum selesai ngomong!"
"Oke...oke..."
"Jelas-jelas, dia tidak bawa saya karena tak suka. Dia malu bawa saya ke depan banyak orang. Mungkin di matanya aku tak pantas. Ya, pasti itu karena di matanya aku tak pantas. Bagi dia, mungkin aku memalukan....huu....huu...huu...."
"Beattt....!!! Hai....kamu kan setiap hari bercermin, menghadap kaca, kamu lihat kan betapa kamu cantiknya."
"Heeemmhhhh..." dia mendengus kesal "...tapi belum tentu di mata Alie Isfah."
"Kalau memang kamu tidak indah, terus kenapa dia milih kamu? Coba pikirkan?"
"Kalau memang dia milih aku, dan dia benar-benar memilihku, trus kenapa sekarang aku dia tinggalkan? Seakan malu aku dibawa kondangan? Kamu yang harus mikir ASEP!! COBA MIKIR!!"
"Iya ini juga mikir," dibentak-bentak begitu, saya mulai sebal.
"Iya, kalau kamu mikir, coba bandingkan dengan perasaan istri yang malah ditinggalkan di rumah, tidak dibawa kondangan!! Kamu tidak tahu betapa tersinggungnya dia!! ASEP, KAMU PUNYA OTAK GAK SIH?"
Wah, makin parah. Sudah terlalu sensi nih motor.
"Sudahlah, sekarang kita masuk saja!"
"TIDAK!!!"
"Ayooooo!!!"
"TIDAK ASEP!! TIDAK!! BIAR AKU DI LUAR SAJA!! AKU MEMANG MOTOR TIDAK BERGUNA"
"Eh, jangan! Ayo masuk!!"
Saya memaksanya masuk, cepat memarkirnya dekat etalase, menutup pintu toko dan, langsung lari ke lantai tiga, kembali kerja.
Hhh.....ada-ada saja......
Related Posts:
Motor Alie Isfah
Alie Isfah beli motor baru. Siapapun melihat bodynya pasti mengaku, betapa cantiknya motor itu. Namun siapa kira, di balik kecantikannya yang menawan, tersimpan luka mendalam.
Waktu dia mulai datang, malam harinya dimasukkan ke dalam toko. Kemudian Alie Isfah menghidupkannya. Si Motor gembira, sebab setahunya, jika sudah dihidupkan, pasti seterusnya dibawa jalan-jalan, dan itu adalah hal yang sangat dirindukannya, melesat di jalan, membelah keramaian, meliuk-liuk ringan, menembus kemacetan, bertualang dari kota ke kota. Akan tetapi lama dia dihidupkan, Alie Isfah malah naik ke lantai dua, dan tak turun lagi.
Si Motor pun bertanya-tanya. "Aku dihidupkan, Derrreedededededededeeeedededee terus kenapa malah dibiarkan? Derrreedededededededeeeedededee Begini terus...Derrreedededededededeeeedededee....ded dee dededddddeededededed,,,,"
Semula suaranya biasa. Lama-lama berubah. Seperti menjadi sedih. Lama-lama makin menyedihkan. Dari lantai tiga, saya mendengarnya jadi tak tega. Maka, lap top saya tinggalkan. Bergegas turun menemuinya. Sampai di sana, sungguh kasihan, dia sedang terguncang-guncang sendirian. Sungguh tak tega, saya langsung mematikannya.
"Terima kasih. Kamu baik sekali." ucapnya.
"Sama-sama"
"Mau ke mana lagi?" tanyanya.
"Lantai tiga!"
"Boleh curhat sebentar?"
"Curhat apa?" tanya saya sambil berbalik.
"Kenapa ya, aku dihidupkan, tapi kok, tidak dibawa ke mana-mana. Kukira mau diajak jalan-jalan."
"Oh gak tahu! Tanya saja ke Alie Isfah.."
"Iya, harusnya tuh kalau mau dihidupkan, langsung bawa dong aku jalan-jalan."
"Saya tidak tahu! Sudahlah, yang penting sekarang mesinmu sudah saya matikan, jadi tidak menggerung-gerung sendirian lagi."
"Oh iya, terima kasih ya!"
"Sama-sama. Sekarang, istirahatlah!"
"Ok"
Saya kembali naik tangga.
Sampai di lantai dua, terdengar seseorang menyapa, "Kang Asep!"
Saya tengok: Alie Isfah.
Saya tengok: Alie Isfah.
"Ya?"
"Motor dimatikan?" tanya Alie.
"Iya!"
Oh, jadi sengaja dihidupkan? Wah saya salah. Cepat turun lagi.
Drrdddddeeeddededededddddedhdhdhdhdhhhhd.......Drrdddddeeeddededededddddedhdhdhdhdhhhhd.......Drrdddddeeeddededededddddedhdhdhdhdhhhhd.......Drrdddddeeeddededededddddedhdhdhdhdhhhhd.......
Terdengar lagi suaranya, dan kini jauh lebih memilukan dari sebelumnya. Si Motor muram, seperti memohon-mohon ingin kembali dimatikan. Seperti mau protes, namun tak bisa. Tapi tak sepatah pun dia sanggup diucapkannya. Dan, sebelum dia sempat bicara, lalu merajuk minta dimatikan lagi, secepatnya saya lari, naik ke lantai tiga.
Dari lantai tiga, gemuruhnya perlahan terdengar.`Beberapa kali saya tarik nafas panjang. Semoga dia bersabar.
Keesokan harinya, dia sudah di luar. Terparkir lurus menghadap kaca. Kaca toko memantulkan bayangannya.
Setelah membuka pintu toko, saya lewat di sana. Terdengar dia ngobrol kepada motor di sampingnya.
"Hai!" sapanya motor Alie Isfah lembut.
"Hai" sambut motor di sampingnya.
"Scoopy. Kamu?"
"Beat. Kamu dari mana?"
"Jakarta. Kamu dari mana?" tanya Scoopy balik
"Aku dari kemarin" jawab motor Alie asal,
"Dari kemarin? Asalmu dari mana?."
"Sedih kenapa?"
"Semalam."
"Kenapa semalam?"
"Dihidupkan, kukira mau dibawa jalan-jalan."
"Trus?"
"Eh malah dibiarkan menggerung-gerung sendirian. Aku kan malu. Di tempat baru, disuruh bunyi sendirian."
"Oh itu sedang dites. Nanti juga kamu seperti aku. Dibawa jalan-jalan, ke kota-kota kayak aku."
"Asyik nggak?"
"Ya asyiklah."
"Bagaimana sih Jakarta itu?"
"Wah ramai. Asyik pokoknya. Namanya juga ibu kota. Kita bisa melihat banyak hal."
"Kira-kiranya aku kapan ya?"
"Kira-kiranya aku kapan ya?"
"Mungkin besok?"
"Beneran?" motor Alie Sumringah.
"Ya iyalah. Namanya juga motor, masa dibeli buat dipajang. Ya buat dibawa ke jalan lah."
"Asyik!!!! Jadi gak tahan ingin cepet besok!"
Saya terus mendengar percakapan mereka. Sambil jongkok sembunyi di samping mobil parkir, saya hanya bisa mengelus dada. Kasihan dia. Betapa ngebetnya ingin jalan-jalan dan saya tahu, pasti besok pun tidak, dan entah kapan.
Malamnya, jam sembilan lebih, saya lihat dia sudah kembali ke dalam. Diam tanpa ekspresi. Melihat saya mendekat, lewat di sampingnya, dia menyapa, "Sep!"
"Ya,"
"Boleh curhat seben....?"
Saya segera lari. Naik ke lantai tiga. Saya tak tahan mendengar curhatnya. Sungguh tak tega. Kasihan."
Seminggu kemudian, seperti biasa siang saya keluar. Mau ke toko buku. Setelah membuka pintu toko, terlirik Motor Alie terparkir di depan kaca. Pura-pura tak melihatnya, saya terus berjalan ke samping mobil, dan sembunyi di sana, mencuri dengar.
Sepotong kepala saya longokkan ke arah Motor Alie Isfah. Diam tanpa kata. Diapit dua motor di sampingnya. Satu di samping kirinya, namanya Honda Spacy, satu lagi di sana, di depan toko yang tutup, yaitu si Scoopy dari Jakarta itu.
"Jam berapa dari Jakarta" tanya Spacy.
"Aku semalam dibawa jalan-jalan, ke Pengajian. Jalanan kota seperti dipenuhi bintang-bintang, berkelap-kelip, bergerak-gerak. Datang ke pengajian, ribuan orang menghampari jalanan, turun hujan, mereka tetap husyuk mengikuti pengajian." Spacy tak mau kalah.
"Asyik ya. Kamu..? tanya Scoopy ke motor Alie.
"Aku?" motor Alie kaget. Gak nyangka dirinya bakal ditanya. Dia bingung mau cerita apa.
"Kamu...iya kamuuu..." tegas Spacy dengan gaya Dodit..
"Emmh..eemmh..a....ak...aku gak ke mana-mana. Di sini aja. Pagi, dikeluarkan, trus diam di sini."
"Ya diam di sini sampai sore. Ngadep toko. Ngaca"
"Trus?"
"Malamnya, dimasukkan lagi ke toko."
"Besoknya ya dikeluarkan lagi. Begitu terus, aku juga bingung."
Dari persembunyian, saya keluar. Ragu mendekati motor Alie Isfah, mendekatkan wajah saya ke kepalanya, lalu berbisik, "Kamu belum punya nomor polisi."
Dari persembunyian, saya keluar. Ragu mendekati motor Alie Isfah, mendekatkan wajah saya ke kepalanya, lalu berbisik, "Kamu belum punya nomor polisi."
Related Posts:
Nasi Goreng Bau Racun
Masih berbicara tentang nasi goreng, kali ini perbincangan saya kaitkan dengan Pak Agung. Penulis buku sejarah paling seru, "Gara-Gara Indonesia"
Saya harap istri Pak Agung terus bertambah sayang kepadanya, dan saya yakin nyatanya juga demikian, sebab Mas Agung adalah seorang yang sangat pandai menghargai masakan. Saya masak sop, dia katakan enak, masak sayur tanpa bumbu pun masih juga dia katakan enak. Waktu itu saya hanya merebus kubis saja, tanpa garam, tanpa gula, tanpa bumbu apa-apa, namun memang setelahnya saya sertakan semangkok bumbu pecel, Pak Agung masih mau menghargainya. Kata dia, sayuran yang saya masak ini mengandung Vitamin C. Kali lainnya saya masak tumis tempe, dia pun katakan enak, bahkan pernah, waktu itu nasi goreng saya buat dari nasi basi sisa kemarin, sudah kering kemudian saya lunakkan dengan merebusnya, dan menggorengnya seenaknya, masih dia hargai dengan kata "Enak!", terima kasih Pak Agung.
Waktu itu saya membuat sambal terasi. Sebenarnya saya cemas sambal saya keasinan, atau rasanya menjadi beda, tidak seperti sambal terasi pada umumnya, misalnya rasanya masalh jadi seperti sambal rasa strowberry
Wah sudah beberapa status saya tentang masakan semua. Bisa-bisa yang membaca mengira saya wanita. Yakinlah, saya seorang pria. Lagi pula, apa salahnya sih seorang pria masak. Memang hak wanita saja? Di TV juga kan yang jadi juara masak salah satu stasiun televisi pernah ada pria. Rudi Choirudin pun seorang pria. Jadi please, yakinlah kalau saya seorang pria. Hanya itu yang saya pinta dari Anda. Yakinlah saya seoang pria, saya tidak minta yang lain, minta itu saja, sekali lagi, yakinlah jika saya seorang pria.
Jadi begitulah Saudaraku sekalian... di balik akun Asep Tokoasmanadia adalah seorang yang senang masak. Senang sekali rasanya saya kerja sambil juga disediakan fasitas masak, sedangkan bahan masakan, misa saya dapatkan dengan mudah, cukup jalan kaki ke pasar, sebab ke sana sangat dekat. Saya pilih bahan makanan apa saja, ikan segar, daging, sayuran, bumbu-bumbunya, nyaris semua terusedia, tinggal saya mau beli apa, dan mau masak apa.
Maaf, malah ngelantur.
Kembali ke perbincangan Pak Agung berkaitan dengan masakan saya. Penulis buku sejarah paling asik dibaca ini sangat pandai menghagai. Tapi sebenarnya saya tak urah heran, sebab dari bukunya "Gara-Gara Indonesia" saja sudah memberikan cerminan, jika dia seorang yang pandai mencari sisi-sisi berharga. Saat orang lain pesimis dan mencela-cela negeri kita, Pak Agung justru mengungkap sisi-sisi hebatnya. Dia katakan dalam bukunya, justru Indonesia ini hebat. Gara-gara Indonesia, perkembangan paham komunis di dunia terhambat. Gara-gara Indonesia, Napoleon kalah perang. Dan hanya Indonesia yang tidak mau takluk kepada tentara Mongol yang terkenal sangat kejam dan susah dikalahkan. Itulah yang Pak Agung ungkapkan di bukunya, kepada negeri tercinta kita Indonesia, dia pandai mengungkap sisi-sisi berharga, maka tidaklah heran, jika kepada masakan saya pun, yang dia lakukan hanya memberi harga.
Seperti tadi, kepada nasi goreng saya. Lagi-lagi saya gagal membuat nasi goreng inovasi baru, haha sebagai ganti tomat saya membubuhinya cuka, Orang di lemarinya cuma ada cuka. Sama-sama asam kok, saya masukkan saja. Namun saat cuka itu kena panas panci dan menguap, tercium bau kurang sedap, dan bau itu mengingatkan saya pada cairan Accu...tahu kan cairan Accu,..itu cairan berracun dan berbahaya yang biasa dimasukkan ke dalam batrei mobil atau motor. Iya, maunya sama seperti bau racun asam berbahaya itu. Waduh gagal lagi nih, namun saat nasi goreng matang, tak saya sampaikan kepada seorang pun teman jika saya telah mencampurnya dengan cuka, termasuk kepada Pak Agung.
Saya sajikan ke meja, kemudian Wiro pun ikut menikmatinya. Selama mereka makan, sekuat tenaga saya tahan mulut ini dari membuka rahasia bahwa nasi ini telah saya bubuhi cuka. Biar mereka anggap ini rasa khas saja, dan tak pernah tahu ini bau asam mirip bau cairan berracun.
"Pak" kata saya kepada Pak Agung, "Kalau tidak enak jangan dihabiskan Pak!" saya cicipi ini nasi tidak enak.
"Enggak kok enak! nih saya ngambil lagi!" Benar, bukan main-main. Pak Agung mengambil lagi. Antara bahagia dan susah, saya cemas Pak Agung akan sadar dengan rasa aneh pada nasi yang dimakannya. Akan tetapi sampai makan selesai, dia tak mengeluhkan apa-apa.
Syukurlah.
Pak Agung, terima kasih. Lidah saya sendiri mentertawakan rasa masakan saya, tapi Pak Agung, sejak mencicipi masakan pertama, yang Pak Agung ucapkan selalu yang enak-enak. Sekali lagi terima kasih ya Pak. Bapak baik sekali, mudah-mudahan harga bawang merah semakin turun. Eh apa hubungannya ya?
Related Posts:
Menurut Anda, Apa Pesan Moralnya?
Nasi goreng yang saya buat kali ini benar-benar special. Ya, benar-benas special. Anda keliling kota Bandung, menanyakan nasi goreng jenis yang saya buat ini, dari terminal ke terminal, susuri jalanan Kota Bandung semuanya, tanyakan kepada satu persatu tukang nasi gorengnya, adakah yang membuat nasi goreng seperti saya buat, yakin pasti tak ada. Ibu-ibu mana pun di wilayah nusantara ini, bahkan di seluruh dunia, saya kira takkan ada yang pernah membuatnya.
Ini special, belum pernah seorang pun buat nasi goreng semacam ini kecuali saya.
Karena begitulah saya. Sebagai manusia Indonesia yang hafal Pancasila, dari sila ke satu sampai sila ke lima, menjunjung tinggi martabat dan kehormatan bangsa dengan terus berkreasi dan berinovasi, saya senantiasa melakukan percobaan, untuk mencipta dan menemukan hal baru, yang belum pernah ditemukan sebelumnya. Itulah yang saya lakukan pada nasi goreng, mencoba menciptakan nasi goreng baru, supaya dunia kuliner lebih berwarna.
Jadi, apa yang saya lakukan kepada nasi goreng saya?
Jadi, setelah nasi itu saya masukkan ke panci, kemudian mengaduknya dengan tumisan bawang--bawang putih dan merah--saya kebingungan bagaimana memberi manisnya, sedang kecap kehabisan. Tidak mungkin saya bubuhkan gula pasir karena, pasti butirannya tak akan camur, buat ngeres-ngeres. Sedang bingung cari apa yang bisa saya bubuhkan biar nasi goreng ini enak, ada manis-manisnya, mata saya menangkap botol madu dekat wastafel.
Ah, ini dia...
Tutup botolnya saya buka, kemudian, currr currr....dua kali cucuran. Sepertinya kurang, currrrrrrrrrrr.....lagi, kali ini tetesaannya lebih banyak.
Ah tapi ini sungguh perbuatan tega. Madu yang begitu tinggi derajatnya, mahal harganya, minuman berkelas, jadi buruan banyak orang, ampuh buat penyembuhan--malah saya jatuhkan derajatnya jadi selevel kecap, cairan hitam yang terbuat dari godokan gula merah dan kacang. Nista nian perbuatan saya. Kasihan itu madu nasibnya.
Tapi ya beitulah, sudah saya katakan kepada Anda, saya ingin membuat nasi goreng special. Super special.
Menjelang matang, wangi tercium. dan wanginya..,
Tak butuh lama, saya angkat, dan sajikan ke meja dengan pancinya, kemudian mencicipinya sendiri.
Dan rasanya: Manis asin begitu, campur bau bawang putih, tidak enak, rasanya sangat tidak pantas. Eneg!!
Inilah ternyata, nasi goreng pake madu rasanya gak enak.
Sudah cocoknya dengan kecap, biar murah tapi enak. Karena sudah pasangannya. Diganti madu yang mahal, karena bukan pasangannya, hasilnya gak enak,
Menurut Anda, apa pesan moral dari cerita saya di atas?
Menurut saya, daripada cari pesan moral yang entah ada entah tidak, lebih baik pesan saja barang-barang kami di Toko Asma Nadia. Sebelum paket Mei Kehabisan, silakan segera pesan!
Related Posts:
Nasi Goreng Paling Bersejarah
Dalam sejarah saya, nasi goreng adalah solusi terakhir. Jika di rumah tak ada tahu, tak ada tempe, tak ada bayam, tidak ada kangkung, tidak ada asin, tidak ada lauk apa pun, maka nasi goreng adalah pilihan. Nasi garing itu dimasukkan ke dalam kuali, mengaduknya bersama goreng bawang. Wangi. Kemudian makan lahap. Begitulah budaya saya.
Tanpa sadari budaya ini terbawa ke tempat kerja. Tak ada lauk, maka nasi dalam mejikom itu saya bubuhkan ke dalam tumis bawang merah bawang putih, saya aduk rata, kemudian membubuhinya dengan garam. Sruuut...sruutt....biar asin.
Beres, langsung saya tawarkan kepada teman kerja, menyebut namanya satu persatu..Dian...Alie....sambil saya bawa piringnya menuju tempat kerja. Hanya tawar basa-basi tentu saja. Hanya satu piring, hanya cukup buat saya. Salah seorang teman kerja teriak, "Wah kita coba bareng-bareng yuk nasi gorengnya."
Eh tahu-tahu dari dalam, "Minta Dong Bunda!" Mbak Asma Nadia teriak.
"Tuh, haha, tanggung jawab, Kang Asep gak usah makan, itu harus diberikan ke Bunda," kata teman kerja yang tadi ngajak bareng-bareng menikmati nasi goreng saya sampai habis.
Gembira campur cemas, menuju kamar, piring masuk duluan.
"Ee Enggak, Bunda cuma minta dikit doang. Satu sendok. Dikit, dikit aja, pake wadah kecil. Nyoba doang!"
Masih dengan gembira campur cemas, nasi saya bawa kembai ke dapur. Gembira nasi goreng saya mau dicicipi seorang penulis terkenal, yang telah banyak prestasinya, dan memberi banyak kebaikan kepada sesama, tapi cemasnya, saya sendiri belum mencoba nasi goreng masakan saya. Tadi garam yang saya taburkan cukup banyak, sampai beberapa kali taburan, kalau keasinan bagaimana?
Pada sebuah pisin kecil nasi itu saya bubuhkan. Dua sendok saja. "Waduh, masa ini sedikit doang" gumam saya "kayak buat kucing saja," maka saya tambahkan, satu sendok lagi, kemudian menyuruh teman kerja saya, Dian, untuk memberikannya ke kamar Mbak Asma.
Bersamaan Dian mengelap pisinnya karena masih basah, baru dicuci, nasi saya coba. Ya, ampun ini keasinan.
Kemudian, dengan suara sedikit saya keraskan, "Aduh maaf, nasinya keasinan."
Tapi Diantetap mengantarkannya ke kamar. Berdebar-debar jantung saya. menunggu teriakan dari kamar. Saya persiapkan telinga ini buat mendengar teriakan "Wah Asep, keasinan!" Sungguh berat saya harus mendengarnya. Berat bukan karena tidak mau dicela--sudah jelas nasi itu keasinan--tapi berat tidak mau mendengar tuan saya, seorang yang banyak kebaikannya kepada saya dan kepada banyak orang--Mbak Asma Nadia, yang orang orang lain sangat menghargainya, menghormatinya, mencintai karya-karyanya---harus rusak rasa di lidahnya dengan nasi goreng keasinan buatan saya. Tidak! Jangan!
Terus saya menunggunya, menunggu detik-detik saraf lidah mbak asma menghakimi rasa nasi goreng saya, akan tetapi tertunda. Terdengar dia menolak karena nasi di pisin kebanyakan.
"Jangan banyak-banyak! Nanti kebuang! Ini kamu makan dulu sebagian!" Mbak Asma menyuruh Dian makan dulu sebagiannya.
Dian menolak.
"Ayo ini makan!"
"Tidak mau!"
"Tidak mau!"
"Ini nanti nasi kebuang! Bunda tak mau banyak-banyak!"
Banyak? Hanya tiga sendok saja kenapa disebut banyak. Saya dengar mereka terus saling memaksa. Bunda maksa Dian makan sebagiannya dulu. Dian menolak. "Kurang ajar kamu Dian, kamu gak mau makan nasi goreng buatan saya." tapi memang iya sih, ini nasi goreng keasinan. Mereka terus saling memaksa, padahal saya sejak tadi, terus menunggu bagaimana komentar Bunda Asma.
Ah kenapa terus tertunda. Ini saya terus menunggu apa komentar Bunda.
Dan akhirnya Dian keluar.
"Selamat Dan....kata Bunda, nasi gorengnya enak!"
"Ah."
Saya sendiri, nih lidah saya sendiri yang merasakan, nasi goreng saya keasinan. Mbak Asma mengatakan enak, saya yakin bukan karena nasi goreng itu enak. Melainkan karena, Mbak Asma mah emang begitu orangnya, tentang dirinya sendiri, dia tak segan mengungkapkan kekurangan, milsanya tentang perannya sebagai ibu rumah tangga di rumah, seperti di buku "Jangan Bercerai Bunda", beliau tak segan menceritakan kekurangannya tidak bisa masak, tidak bisa merapikan rumah dan lebih sering bengong melihat perabotan terserak-serak. Tidak segan mengatakan keburukan dirinya, namun untuk orang lain, dia pandai memilih kata. Untuk orang lain, dia pandai memilih kalimat menyenangkan.
Kepada muslimah berjilbab ketat misalnya. Saat orang lain mengatai itu jilbab telanjang, mencela-cela dengan sebutan jilboob, mbak Asma tidak, dia lebih suka menyebut mereka sebagai para muslimah yang sedang berjalan menuju cahaya. Mereka sedang berproses menemukan kebenaran. Kepada mereka Mbak Asma begitu bijaksana, maka begitulah pula kepada nasi goreng saya, dia lebih suka memilih kata-kata yang enak di telinga saya.
Meski dikatakn enak, saya tetap malu. Malu luar biasa.
Dan menyesal.
Menyesal, kenapa saya tadi tidak berusaha membuatnya enak. Kalau saja tahu Mbak Asma mau mencoba, mungkin akan saya paksakan diri berangkat ke pasar, membeli kecap, lada, telur, dan segala perlengkapan buat nasi goreng biar terasa enak. Akan saya siapkan bumbu dengan sebaik-baiknya, akan saya takar asin manisnya setepat-tepatnya, biar nasi goreng ini menjadi goreng terlezat yang pernah Mbak Asma temukan.
Nama Garam saya taburkan tanpa pertimbangan, asal ada rasanya, dan tadi saya tidak peduli akan seperti apa rasanya, sebab saya pikir, masakan ini hanya buat saya, jadi meskipun tidak enak, tak ada orang lain yang merasakan kekecewaan karena tidak enak itu kecuali saya. Jadi saya buat bumbu dan rasanya seenaknya saja.
Dari kejadian ini saya mendapatkan pelajaran, jika melakukan sesuatu, buat siapa saja, buat orang lain, atau buat diri sendiri, lakukanlah hal terbaik yang bisa kita lakukan. Jika memberi yang terbaik buat orang lain itu sebuah kebaikan, maka memberi yang terbaik buat diri pun sesungguhnya sama merupakan kebaikan. Jika Nabi menasihatkan supaya menyayangi orang lain seperti menyayangi diri sendiri, maka sesungguhnya menyayangi diri sendiri pun harus sama seperti menyayangi orang lain.
Jika ilmu bisnis mengharuskan kepada orang lain itu memberikan pelayanan terbaik, maka sesungguhnya demikian juga, kepada diri pun harus memberikan pelayanan terbaik. Karena seringkali, hal terbaik yang kita berikan kepada diri sendiri, pada akhirnya akan kita berikan juga kepada orang lain. Minyak wangi terbaik yang kita berikan kepada diri sendiri pada akhirnya wangi itu akan kita berikan juga kepada orang lain. Motor terbaik yang kita berikan kepada diri sendiri pada akhirnya akan kita berikan kebaikannya kepada orang lain. Jika motor yang kita pilih buat diri kita baik, maka kebaikan motor itu akan dirasakan juga oleh orang lain.
Demikianlah seharusnya nasi goreng tadi, meski saya niatkan nask goreng ini buat diri saya sendiri, seharusnya, saya buat ini menjadi nasi goreng terbaik, karena pada akhirnya nyata-nyata, nasi goreng ini diinginkan juga oleh orang lain.
Akhirnya, saya ingin minta maaf pada nasi goreng.
"Nasi goreng, maafkan saya. Iya memang kamu keasinan. Rasanya mungkin tidak menyenangkan. Tapi dari semua nasi goreng yang saya buat, kamu adalah nasi goreng paling bersejarah, baru kamu nasi goreng yang dicicipi penulis yang sangat dicintai masyarakat: Mbak Asma Nadia.
Kepada muslimah berjilbab ketat misalnya. Saat orang lain mengatai itu jilbab telanjang, mencela-cela dengan sebutan jilboob, mbak Asma tidak, dia lebih suka menyebut mereka sebagai para muslimah yang sedang berjalan menuju cahaya. Mereka sedang berproses menemukan kebenaran. Kepada mereka Mbak Asma begitu bijaksana, maka begitulah pula kepada nasi goreng saya, dia lebih suka memilih kata-kata yang enak di telinga saya.
Meski dikatakn enak, saya tetap malu. Malu luar biasa.
Dan menyesal.
Menyesal, kenapa saya tadi tidak berusaha membuatnya enak. Kalau saja tahu Mbak Asma mau mencoba, mungkin akan saya paksakan diri berangkat ke pasar, membeli kecap, lada, telur, dan segala perlengkapan buat nasi goreng biar terasa enak. Akan saya siapkan bumbu dengan sebaik-baiknya, akan saya takar asin manisnya setepat-tepatnya, biar nasi goreng ini menjadi goreng terlezat yang pernah Mbak Asma temukan.
Nama Garam saya taburkan tanpa pertimbangan, asal ada rasanya, dan tadi saya tidak peduli akan seperti apa rasanya, sebab saya pikir, masakan ini hanya buat saya, jadi meskipun tidak enak, tak ada orang lain yang merasakan kekecewaan karena tidak enak itu kecuali saya. Jadi saya buat bumbu dan rasanya seenaknya saja.
Dari kejadian ini saya mendapatkan pelajaran, jika melakukan sesuatu, buat siapa saja, buat orang lain, atau buat diri sendiri, lakukanlah hal terbaik yang bisa kita lakukan. Jika memberi yang terbaik buat orang lain itu sebuah kebaikan, maka memberi yang terbaik buat diri pun sesungguhnya sama merupakan kebaikan. Jika Nabi menasihatkan supaya menyayangi orang lain seperti menyayangi diri sendiri, maka sesungguhnya menyayangi diri sendiri pun harus sama seperti menyayangi orang lain.
Jika ilmu bisnis mengharuskan kepada orang lain itu memberikan pelayanan terbaik, maka sesungguhnya demikian juga, kepada diri pun harus memberikan pelayanan terbaik. Karena seringkali, hal terbaik yang kita berikan kepada diri sendiri, pada akhirnya akan kita berikan juga kepada orang lain. Minyak wangi terbaik yang kita berikan kepada diri sendiri pada akhirnya wangi itu akan kita berikan juga kepada orang lain. Motor terbaik yang kita berikan kepada diri sendiri pada akhirnya akan kita berikan kebaikannya kepada orang lain. Jika motor yang kita pilih buat diri kita baik, maka kebaikan motor itu akan dirasakan juga oleh orang lain.
Demikianlah seharusnya nasi goreng tadi, meski saya niatkan nask goreng ini buat diri saya sendiri, seharusnya, saya buat ini menjadi nasi goreng terbaik, karena pada akhirnya nyata-nyata, nasi goreng ini diinginkan juga oleh orang lain.
Akhirnya, saya ingin minta maaf pada nasi goreng.
"Nasi goreng, maafkan saya. Iya memang kamu keasinan. Rasanya mungkin tidak menyenangkan. Tapi dari semua nasi goreng yang saya buat, kamu adalah nasi goreng paling bersejarah, baru kamu nasi goreng yang dicicipi penulis yang sangat dicintai masyarakat: Mbak Asma Nadia.
Related Posts:
Setelah Novel ini Saya Dapatkan
Berlatar tanah Kuningan, novel "Sebuah Wilayah yang Tidak Ada di Google Earth" membuat saya penasaran. Tidak mungkin wilayah ini tidak ada di Google Earth. Ini kabupaten besar. Tidak mungkin kabupaten sebesar dan seterkenal Kuningan tidak terakses teknologi canggih peta ini. Jadi wilayah mana sebenarnya yang dimaksud?
Setelah tuntas baca buku itu akhirnya tahu, memang wilayah ini sampai kapan takkan pernah terjangkau Google Earth. Sebab memang yang menjadi latar, sesungguhnya adalah latar teramat halus, alam yang, jangankan terjangkau satelit, bola mata saja susah menjangkaunya. Berdasarkan kesimpulan mentah saya, latar sesungguhnya novel ini adalah, alam batin seorang pencinta--pencinta alam-- seorang yang sangat mencintai kampung halamannya, pohonnya, gunungnya, beserta segala keindahan tata seni cita rasa cipta Ilahi yang terhampar di sana.
Susah terjangkau mata. Hanya orang dengan kelembutan rasa sanggup menjangkaunya. Bagaimana jerit sunyi pohon kiara ketika tanpa perasaan manusia menebang, bagaimana perih dukanya mata air saat sumbernya, ribuah urat akar pepohonan dimatikan, bagaimana burung hutan menggelengkan kepala atas keserakahan manusia, bagaimana gelora harapan seekor srigala betina untuk mengembalikan jayanya pohon kiara yang pernah tegar tegak di hutan. Pergulatan batin rasa bersalah seorang penebang pohon, sesungguhnya itulah yang dikisahkan.
Itulah sebabnya, meskipun latar novel ini berpijak pada tempat yang ada: Linggarjati Kuningan, Pantai Pangandaran, Perumahan Pesona Alam, Gunung Ciremai, Ciamis. Buniseuri, namun sebagian besar tokohnya seperti berasal dari dunia dongeng. Gadis Ajag yang dalam Bahasa Indonesia berarti Gadis Srigala, ditokohkan begitu cantik menawan, sebagai binatang bisa berbicara dengan manusia. Tokoh anak bisu yang dipanggil Si Hitam yang cukup misterius juga. Jasu juga entah siapa dan dari alam mana, yang kehadirannya seringkali mendadak, entah datang dari mana dan siapa sebenarnya. Demikian juga Kiara, sekalipun diwujudkan sebagai tokoh wanita, dari golongan manusia biasa, namun alam pikiran dan pengalamannya berbicara dengan lukisan, cukup aneh seperti dalam legenda-legenda.
Bagi saya, novel ini, di sinilah kekuatannya, dengan mengisahkan dongeng setengah nyata, atau nyata setengah dongeng, Pandu Hamzah--sang penulis--seperti mendapatkan kemerdekaan mengeksplorasi keindahan bahasa dalam sulaman petatah-petitih filsafat, nasihat, analogi dan metafora dalam ramuan setiap langkah alurnya yang dia alirkan dari tuturan seekor srigala, pohon kiara, orang misterius, dan anak bisu.
"Seperti halnya benang sari seperseribu mili yang terbang ribuan mil untuk mencapai sel telur di tempat-tempat tak terbayangkan dan tumbuh menjadi kehidupan baru, sebagaimana ikan salmon yang berpetualang ribuan kilometer menuju muara sungai untuk juga melahirkan generasi berikutnya, demikian juga alur hidupku hingga kembali di sini. Di dekat mata air ini. Bila kau berada bersamaku mengalami setiap fase perjalanan hidupku, seragu apapun kita terhadap kreator semesta, namun hati ini tetap akan berdesir juga saat mengenang presisi sangat akurat dari kreasi yang agung."
(Aku adalah pohon kiara)
* * *
Oh ya saya lupa bercerita kepada Anda, jika akhirnya saya mendapatkan novel ini. Setelah sebelumnya saya mencari bolak-balik ke toko buku, jauh, sampai seminggu lebih, ternyata akhirnya bukunya yang datang ke tempat saya. Boleh percaya boleh tidak, tapi ini faktanya: novel ini datang sendiri ke tempat saya. Ehmmm,..sebenarnya saya beli online, kemudian penjual onlinenya bertanya alamat lengkap, kemudian saya sebutkan sebuah alamat kantor, dan dia datang mengantarkan bukunya, dan menjualnya kepada saya tanpa ongkos kirim.
Saat mulai membuka segel, kemudian sedikit mengintip isinya, sepertinya saya sedang membuka sesaset kopi mix, untuk kemudian saya bisa menuangkannya ke dalam cangkir, menyeduhnya dengan air dan menghirupnya sehirup demi sehirup. Wanginya itulah, yang membuat saya merasa sayang segera menghabiskannya. Sebagaimana novel ini, saya ingin menikmatinya lebih awet, lebih lama, dari kata ke kata, menelusuri dan menikmati setiap halamannya, sehingga tiupan wangi kisah di dalamnya, bisa saya hirup puas dan penuh.
Karena sayang, saya muliakan novel ini dengan sampul plastik, supaya jilidnya lebih bersinar. Kemudian dalam perjalanan pulan, saya menikmatinya tuturan lembutnya.
Related Posts:
Pertanyaan Saya Kepada Pohon Nangka
Tapi, saya tidak mau menuliskan dengan kata-kata sebenarnya. Saya hanya ingin bercerita tentang sebatang pohon nangka di pinggir jalan. Buahnya telah matang, seharusnya sudah dipetik orang. Tapi entah kenapa, pemiliknya entah di mana. Saya dengar malah, belum ada pemiliknya. Saya kira sedang dilelang, tapi belum tahu juga sudah atau belum ada yang pesan. Ah menyebutnya sedang dilelang rasanya tak sopan. Eh tapi kenapa harus merasa tak sopan. Kan ini pohon nangka.
Kadang saya ingin bertanya kepada pohon nangka, sudahkah ada pemiliknya. Tapi dari beberapa kali saya mencoba berbicara kepada pohon nangka itu, responnya selalu diam.
Jadi saya pikir, mungkin pohon nangka itu tidak mau akrab dengan saya. Padahal, setelah lelahnya kerja seharian mengayuh beca, terkadang saya ingin berteduh di bawah itu pohon nangka. Kalau saja dia mau, saya bisa menjadi keuntungan baginya, dia pun bisa menguntungkan saya. Oksigen dari daunnya bisa jadi nafas saya, dan CO2 dari paru saya bisa menjadi nafasnya.
Hanya satu pertanyaan saya, sebagai pohon rindang, tidakkah kamu begitu rindu memberika keteduhan?
Kadang saya ingin bertanya kepada pohon nangka, sudahkah ada pemiliknya. Tapi dari beberapa kali saya mencoba berbicara kepada pohon nangka itu, responnya selalu diam.
Jadi saya pikir, mungkin pohon nangka itu tidak mau akrab dengan saya. Padahal, setelah lelahnya kerja seharian mengayuh beca, terkadang saya ingin berteduh di bawah itu pohon nangka. Kalau saja dia mau, saya bisa menjadi keuntungan baginya, dia pun bisa menguntungkan saya. Oksigen dari daunnya bisa jadi nafas saya, dan CO2 dari paru saya bisa menjadi nafasnya.
Hanya satu pertanyaan saya, sebagai pohon rindang, tidakkah kamu begitu rindu memberika keteduhan?
Related Posts:
Wiro dan Kentutnya
![]() |
| Foto by: Diyan S. |
Sedang menikmati makan siang, terdengar suara "Tuuut!!" dari samping saya.
"Maaf!" ucap Wiro pelan, datar, sambil meneruskan kerja, dan mata tarus terfokus ke monitor laptopnya.
Aneh, kenapa harus minta maaf. Kentut itu wajar, kesehatan. Sepuluh juta rupiah berani orang korbankan ketika angin busuk itu susah dia keluarkan. Jadi, bagi saya itu biasa saja. Kenapa harus minta maaf.
Saya juga tidak tertawa. Sebab, pernah baca dalam kitab kuning, mentertawakan kentut orang itu dosa.
Tapi ketika berikutnya Wiro jelaskan kenapa dia minta maaf, saya tak kuat menahan tawa.
"Kenapa gue minta maaf? Karena di sana, orang kentut dianggap bersalah."
"Maksudmu di Makasar?"
"Iya, di sana kentut dianggap bersalah. Sampai-sampai kalau lagi nonton, TV harus dimatikan, ditanya, "HAI SIAPA YANG KENTUT?" kalau gak ada yang ngaku, ditanya satu persatu, "Kamu ya yang kentut?"
"Wuakakakk, hanya karena kentut TV harus dimatikan?" tanya saya meyakinkan.
"Iya."
"Betapa seriusnya."
"Beneran!" Wiro meyakinkan.
"Buat sidang?"
"Iya...maka biar urusan cepet beres, langsung saja gue ngaku, meskipun bukan gue yang kentut. Gue gak mau waktu habis cuma buat cari siapa yang kentut doang."
* * *
Keesokan harinya Wiro heran, kenapa saya terus tertawa-tawa sendirian. Saya jawab, cerita kentutnya kemarin sangat berkesan. Lucu, itu lucu luar biasa. Saking lucunya sehingga sayasaya putuskan, cerita ini harus saya tuliskan.
"Tapi pastikan, cerita itu ada pelajarannya." Wiro mengingatkan sambil bersama kolornya bolak-balik ke kamar mandi, ke meja kerja, dan ke atas gedung untuk melakukan ritual rahasia yang tidak berani saya sebutkan.
"Ya tentu saja!" jawab saya.
Lalu apa pelajaran cerita Wiro kentut barusan?
Rela berkorban.
Dia punya kehebatan: Rela berkorban. Meski bukan dia yang kentut, supaya urusan cepat tuntas, dia rela berkorban.
Sebagian besar orang terlalu memelihara "ke-aku-an". Terlalu memuja harga dirinya, sampai-sampai, buat mengakui urusan remeh temeh seperti kentut saja susah. Akibatnya, masalah ringan jadi berkepanjangan. Dari pada jujur mereka lebih suka berdusta, mengira dengan cara itu harga dirinya lebih terjaga. Benar akan terjaga jika tidak ketahuan. Kalau ketahuan? Justru jatuhnya lebih berantakan.
Dari peristiwa kentut saya melihat, Wiro telah berhasil mengosongkan dirinya dari "Keakuan". Perilaku demikian pernah saya temukan dari seorang sufi legendaris dunia, yang menjadi guru inspiratif para pencinta: Jalaluddin Rumi sang mullah.
Suatu ketika, dia menyusuri jalanan, sampai ke sebuah tikungan, tampak olehnya dua orang sedang bertengkar. Mereka adu mulut, saling menghina, dan seakan hinaan itu tiada habisnya. Sang Mullah menghampiri mereka dan berkata, "Jika kalian ingin menghina, hina saja saya sampai puas!" beliau ucapkan itu tanpa dibuat-buat. Ucapannya itu datang dari ketulusan rasa, rasa cinta, dan rasa dirinya bukan siapa-siapa, karenanya bagi dia, tak masalah orang menyebut dia apa saja, dia takkan membalas, karena yang penting baginya, dia bisa mewujudkan kedamaian dan cinta.
Related Posts:
Kematian Adalah Jadwal Kita
Beberapa bulan lalu beliau masih hidup. Shoting film, dan saya suka dengan aktinya. Cuek, cool, dan berwibawa. Setelah sekian banyak film sebelumnya, mulai dari Si Kabayan, kemudian berbagai peran dia dalam beberapa film layar lebar seperti Emak Ingin Naik Haji, Ketika Tuhan Jatuh Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, dan kemudian baru-baru ini, namanya yang besar semakin berkibar dengan peran sentralnya di film Preman Pensiun, sedang besar-besarnya nama dia, eh meninggal dunia.
Jum'at, 15 Mei 2015 sudah Allah pastikan sebagai jadwal Pak Didi Petet meninggal dunia. Jadwal, ah sudah sampai jadwalnya. Tak seorang pun punya daya, jika sudah sampai jadwalnya kematian, sama sekali tak bisa berusaha menyegerakannya, tak juga bisa menundanya. Dan kematian itu jadwal kita.
Setelah shalat, mengangkat tangan berdo'a, saya perhatikan, kuku sudah kembali panjang. Sudah waktunya motong lagi. Padahal rasanya, baru kemarin saya potong. Cepat sekali tumbuhnya.
Oh bukan, yang benar adalah, sebenarnya saya motong kuku sudah lama, sudah seminggu lebih yang lalu. Rasa betah tinggal di dunialah, yang membuat hari berlalu tak terasa, sehingga saya merasa kuku ini tumbuh begitu cepat.
Jum'at, 15 Mei 2015 sudah Allah pastikan sebagai jadwal Pak Didi Petet meninggal dunia. Jadwal, ah sudah sampai jadwalnya. Tak seorang pun punya daya, jika sudah sampai jadwalnya kematian, sama sekali tak bisa berusaha menyegerakannya, tak juga bisa menundanya. Dan kematian itu jadwal kita.
Setelah shalat, mengangkat tangan berdo'a, saya perhatikan, kuku sudah kembali panjang. Sudah waktunya motong lagi. Padahal rasanya, baru kemarin saya potong. Cepat sekali tumbuhnya.
Oh bukan, yang benar adalah, sebenarnya saya motong kuku sudah lama, sudah seminggu lebih yang lalu. Rasa betah tinggal di dunialah, yang membuat hari berlalu tak terasa, sehingga saya merasa kuku ini tumbuh begitu cepat.
Tiga puluh tahun, tidak terasa usia saya sudah dekat ke tua. Kalau hari ini mungkin sekitar jam dua, atau mungkin setengah tiga. Sudah dekat ke sore. Banyak orang tua di kampung saya sudah meninggal. Kakek saya meninggal tahun lalu. Orang-orang lainnya pasti akan menyusul setelah itu, mungkin tetangga saya, tapi satu hal yang sering saya lupakan, pada akhirnya, sayalah yang akan menunggu giliran.
Kitab para ulama mengatakan, betapa sakitnya kematian. Sakitnya kematian itu betapa. Betapa kematian itu sakit. Sakitnya kematian itu betapa. Nabi Idris katanya pernah dipenuhi keinginanya buat merasakan kematian, dan dia katakan, dikuliti dengan seribu pedang masih terlalu ringan dibanding sakitnya kematian.
Jadi...duh seperti apa kalau begitu kematian itu sakitnya.
Jadwal. Kematian itu jadwal kita. Di depan kantor pos, orang tua ngantri untuk mendapatkan kompensasi BBM, uang sumbangan dari pemerintah sebagai kompensasi naiknya harga BBM. Rata-rata yang mendapatkan panggilan itu orang tua. Dan setiap orang yang mendapatkan panggilan, dari wajahnya akan terpancar rona bahagia. Jadwal mendapatkan uang membuat semua orang sumringah. Tapi jadwal kematian sebaliknya, bisa membuat orang bermuram duka.
Siapakah yang menginginkan kematian. Orang berakal sehat takkan pernah menginginkannya. Nabi Muhammad sendiri melarang menginginkan kematian. Kalau pun menginginkan kematian, maka mintalah kepada Allah, supaya jika hidup, hidupkanlah dalam kehidupan yang baik, dan jika memang harus wafat, wafatkanlah dalam kematian yang baik. Nabi Muhammad sendiri--semoga Allah senantiasa melimpahkan shalawat kepadanya--menyebut kematian sebagai pemutus segala kelezatan.
Kematian itu menakutkan. Anda bisa saja koar-koar tidak takut mati, tapi saya yakin itu cuma mulut. Kalau saya bawa pedang kemudian saya suruh berlutut untuk saya penggal leher Anda, tak seorang pun dari Anda suka. Sebab, Anda takut kematian. Kita semua takut kematian. Sakit sedikit langsung berobat, sebab kita takut kematian. Kita menghindari kematian, kita lari dari kematian, bahkan kita ingin, kalau saja bisa, sudahlah kematian itu tak usah ada, langsung saja masuk akhirat.
Tidak bisa.
Kematian itu jadwal kita.
Related Posts:
Tulisan Terbaik Menurut Saya
Saya akan tetap dangan pegangan lama saya, menulis seenaknya, dan terus yakin, cara menulis terbaik adalah menulis dengan seenaknya. Dari cara menulis seenaknyalah akan lahir tulisan yang enak dibaca.
Saya tidak tahu tulisan terbaik orang lain dihasilkan dengan cara apa, tapi yang saya rasakan, tulisan-tulisan saya--yang menurut saya--enak dibaca, saya tulis dengan gaya seenaknya.
Tapi tidak tahu juga, bagaimana menurut orang lain tentang tulisan saya, enak dibaca atau tidak, karena sebenarnya saya tidak cukup punya rasa percaya diri yang besar buat mengakui itu. Namun satu hal yang saya yakini adalah, tulisan siapa saja yang enak dibaca, saya yakin, saat pertama kali menuliskannya, tulisan itu ditulis dengan cara seenaknya, sesuai dengan gelora yang sedang bergolak dalam jiwa orang yang menuliskannya.
Kenapa tulisan yang dihasilkan dengan cara menulis seenaknya itu enak dibaca?
Ya karena si penulisnya sendiri saat menuliskannya dia merasa enak.
Kenapa dia enak?
Karena apa yang dia tulis benar-benar apa yang ada pada dirinya, sesuatu yang menjadi semangat batinnya, gelora jiwa yang berletupan, bergolak, dan memaksa ingin dikeluarkan, seperti kotoran yang mendesak ingin keluar, maka setelah saatnya tiba, maka begitu enak mengeluarkannya.
Dia melahirkan tulisannya sepenuh hati, maka tulisannya pun menyentuh hati. Dia melahirkan tulisan dengan sepenuh nyawa, maka tulisan yang dihasilkannya pun sangat bernyawa, hidup, berenergi, dan energinya akan terasa sampai ke nyawa orang yang membacanya.
Saya tidak tahu tulisan terbaik orang lain dihasilkan dengan cara apa, tapi yang saya rasakan, tulisan-tulisan saya--yang menurut saya--enak dibaca, saya tulis dengan gaya seenaknya.
Tapi tidak tahu juga, bagaimana menurut orang lain tentang tulisan saya, enak dibaca atau tidak, karena sebenarnya saya tidak cukup punya rasa percaya diri yang besar buat mengakui itu. Namun satu hal yang saya yakini adalah, tulisan siapa saja yang enak dibaca, saya yakin, saat pertama kali menuliskannya, tulisan itu ditulis dengan cara seenaknya, sesuai dengan gelora yang sedang bergolak dalam jiwa orang yang menuliskannya.
Kenapa tulisan yang dihasilkan dengan cara menulis seenaknya itu enak dibaca?
Ya karena si penulisnya sendiri saat menuliskannya dia merasa enak.
Kenapa dia enak?
Karena apa yang dia tulis benar-benar apa yang ada pada dirinya, sesuatu yang menjadi semangat batinnya, gelora jiwa yang berletupan, bergolak, dan memaksa ingin dikeluarkan, seperti kotoran yang mendesak ingin keluar, maka setelah saatnya tiba, maka begitu enak mengeluarkannya.
Dia melahirkan tulisannya sepenuh hati, maka tulisannya pun menyentuh hati. Dia melahirkan tulisan dengan sepenuh nyawa, maka tulisan yang dihasilkannya pun sangat bernyawa, hidup, berenergi, dan energinya akan terasa sampai ke nyawa orang yang membacanya.
Related Posts:
Wiro Pernah Jadi Ustadz
Wasi pakai sorban, pakai sarung, rajin bangun tengah malam, shalat, dan dengan motornya, menghadiri pengajian. Sebuah peningkatan spiritual yang mengagumkan, dan malam ini, malam Jum'at, saya dengar di lantai dua, dia sedang Yasinan.
Dia membaca Al-Qur'an, dan bacaannya itu dia perindah dengan dilagukan. Saya perhatikan, semakin lama, samar-samar tilawah itu berubah menjadi belajar makhorijul khuruf. Pembelajar yang luar biasa. Terdengar beberapa kalimat diulang-ulang, sambil menjelas-jelaskan suara huruf-huruf tertentu. Wah, benar itu suara orang belajar makhraj.
Ah tapi kenapa seperti bukan seorang, Wasi seperti sedang belajar makhorijul khuruf berdua. Tapi dengan siapa?
Mungkinkah Wasi mengundang seorang Ustadz? Kalau begitu, berarti luar biasa, dia memanggil ustadz khusus buat membimbingnya belajar bacaan Al-Qur'an. Penasaran, saya mendekati tangga turun.
Telinga saya rancungkan, berusaha menguping pengajian mereka. Dari mendengar, rasa penasaran ingin saya penuhi dengan melihat. Maka mulailah, selangkah demi selangkah menuruni tangga. Dari lantai tiga menuju lantai dua. Ingin melihat langsung bagaimana pengajian mereka, dan siapa sebenarnya Ustadz yang Wasi undang.
Dua tangga lagi sampai ke bawah, saya bungkukkan badan dan menengok ke ruangan lantai dua. Tidak ada siapa-siapa.
Ah itu Wiro sedang duduk di lantai. Sila, memegang Al-Qur'an. Dengan suaranya yang terhentak-hentak, dia terus mengulang bacaan. Sekali. dua kali, tiga kali, empat, lima, enam, dan saya tidak tahu dia mengulang sebuah kata entah sampai berapa kali, diselang-selingi suara Wasi yang membetulkannya. Sesekali terdengar Wiro dibentak, mungkin sudah beberapa kali dibetulkan, namun belum tepat juga.
Tidak ada ustadz, ternyata yang belajar itu mereka berdua, Wasi dan Wiro.
Bukan Wasi yang sedang belajar, dia justru sedang mengajar, dan objeknya Wiro.
Habis rasa penasaran, saya pun naik sambil tersenyum, "Luar biasa semangat agama mereka." gumam saya dalam hati.
Iya beneran, di dalam hati. Asal tahu saja, saya masih punya hati.
Nyaris dekat tengah malam, seperti biasa Wiro curhat, "Ternyata bacaan gue masih banyak yang salah. Sampai dibetulkan beberapa kali, gak bener juga. Kalau begitu, berarti dulu gue ngajarin yang salah ke anak-anak!"
"Emang pernah jadi guru ngaji?"
Wiro mengangguk.
"Hah, beneran?"
"Iya! Kan gue pernah tinggal di mesjid."
"Waktu kuliah?"
"Iya, tidak ada tempat menginap, biar gratis, ya di mesjid. Ceritanya sih jadi petugas kebersihan, tapi itu kan siang. Malamnya ada pengajian."
Related Posts:
Menjadi Penulis Nakal
Terkadang sesuatu menjadi salah bukan karena sesuatu itu salah. Sesuatu menjadi salah, seringkali karena penempatannya salah. Nakal itu salah jika penempatannya salah, menjadi wanita nakal misalnya. Atau pria nakal, biar adil. Tapi nakal bisa jadi kehebatan, jika ditempatkan pada tempat yang benar.
Nakal dalam menulis cerita misalnya, itu bisa sangat menghibur pembaca. Menipu pembaca, mencandai mereka, meledek dalam batas-batas wajar, itu justu bagus, buat pembaca tetap nyaman, asyik, segar, tidak ngantuk, dan membaca tulisan Anda sampai tuntas.
Related Posts:
Curhat Seorang Kacung Untuk Rajanya
Pak, terima kasih sudah baik kepada saya
Pak, saya tidak mengira akan bertemu dengan orang sebaik Bapak
Pak, saya tidak tahu apakah saya bisa menemukan lagi orang sebaik Bapak
Pak, saya sangat bahagia dengan kebersamaan ini
Pak, shubuh ini saya duduk sendirian
Pak, air mata saya berlinangan
Pak, air mata saya bertetesan
Pak, saya teriasak-isak namun tertahan, malu oleh teman, takut kedengaran
Pak, dada saya sesak
Pak, saya rasakan kesedihan yang sangat
Pak, saya rasakan ketakutan yang sangat
Pak, saya rasakan kepedihan yang sangat
Pak, saya rasakan kekhawatiran yang sangat, dan saya rasakan kekhawatiran yang sangat karena adalah nyata setiap kebersamaan dunia akan dibinasakan dengan berpisah, dan saya takut perpisahan itu sudah dekat.
Pak, saya takut detik perpisahan itu sudah dekat
Pak, saya takut detik perpisahan itu sudah dekat
Pak, saya tidak mau jika saat perpisahan itu sudah dekat
Pak, saya tidak mau jika saat perpisahan itu sudah dekat
Pak, saya tidak mengira akan bertemu dengan orang sebaik Bapak
Pak, saya tidak tahu apakah saya bisa menemukan lagi orang sebaik Bapak
Pak, saya sangat bahagia dengan kebersamaan ini
Pak, saya ingin kebersamaan ini seribu tahun lagi
Pak, saya begitu ingin hidup ini abadi
Pak, shubuh ini saya duduk sendirian
Pak, air mata saya berlinangan
Pak, air mata saya bertetesan
Pak, saya teriasak-isak namun tertahan, malu oleh teman, takut kedengaran
Pak, dada saya sesak
Pak, saya rasakan kesedihan yang sangat
Pak, saya rasakan ketakutan yang sangat
Pak, saya rasakan kepedihan yang sangat
Pak, saya rasakan kekhawatiran yang sangat, dan saya rasakan kekhawatiran yang sangat karena adalah nyata setiap kebersamaan dunia akan dibinasakan dengan berpisah, dan saya takut perpisahan itu sudah dekat.
Pak, saya takut detik perpisahan itu sudah dekat
Pak, saya takut detik perpisahan itu sudah dekat
Pak, saya tidak mau jika saat perpisahan itu sudah dekat
Pak, saya tidak mau jika saat perpisahan itu sudah dekat
Related Posts:
Sillaturrahmi
"Kurasakan saat itu bahwa manusia memerlukan semacam ikatan kekerabatan untuk meyakini bahwa kehidupannya di muka bumi ini tidaklah sependek usianya semata, melainkan merupakan bagian dari rakaian perjalanan hidup maha panjang penerima tongkat estafet cita-cita perjuangan serta kehidupan dari leluhurnya dan lantas meneruskan tongkat itu pada anak serta cucu."
(SEBUAH WILAYAH YANG TIDAK ADA DI GOOGLE EARTH)
(SEBUAH WILAYAH YANG TIDAK ADA DI GOOGLE EARTH)
Related Posts:
Kegilaan Saya Pada Buku

Seperti apa kegilaan Anda terhadap buku? Saya punya banyak cerita. Ini diantaranya.
Seminggu lebih bolak-balik Gramedia, cari buku ini. Masih juga belum ada. Kabarnya sudah terbit. Sudah beredar. Tapi setiap kali mengayuh sepeda, kemudian naik ke lantai dua Gramedia, tak saya temukan juga.
Ada ribuan buku tertata, dengan cover menggoda, dengan judul memikat, karya dari para penulis beken namun, buku itu saja di ingatan saya. Novel tere-liye yang sederhana namun dalam, novel Raditya Dhika yang kocak, Stephen King dengan thrillernya, Kahlil Gibran dengan keindahan katanya, sama sekali, saat ini, tak menarik minat saya.
Hanya buku itu saja, selalu buku itu saja, dan hanya buku itu saja. Buku bercover biru putih dengan judul "Sebuah Wilayan yang Tidak Ada di Google Earth"
Tapi, di mana dia?
Tapi, di mana dia?
Komputer pencari, ke sanalah saya menuju kemudian mengetik judulnya.
Enter.
Tidak ada.
Ah mungkin dengan nama penulisnya. Saya coba ketik, dan...lagi-lagi tak ada.
Nah, itu pelayan toko. Saya hampiri dan tanyakan padanya. Dia jawab, "Belum ada"
Itu hari pertama.
Hari berikutnya mencoba, masih tak ada. Hari berikutnya lagi, tak ada juga. Sampai seminggu kemudian, saya coba lagi ke Gramedia. Masih juga tak ada.
Tidak rugi sebenarnya. Saya pergi ke Gramedia naik sepeda. Di antara kesibukan kerja, yang hanya duduk di depan komputer, maka perjalanan ke sana menjadi olah raga. Sedikit menggerakkan badan.
Tapi bagaimanapun, saya ingin segera mendapatkannya.
Penasaran, mengingat ini buku sastra.
Enter.
Tidak ada.
Ah mungkin dengan nama penulisnya. Saya coba ketik, dan...lagi-lagi tak ada.
Nah, itu pelayan toko. Saya hampiri dan tanyakan padanya. Dia jawab, "Belum ada"
Itu hari pertama.
Hari berikutnya mencoba, masih tak ada. Hari berikutnya lagi, tak ada juga. Sampai seminggu kemudian, saya coba lagi ke Gramedia. Masih juga tak ada.
Tidak rugi sebenarnya. Saya pergi ke Gramedia naik sepeda. Di antara kesibukan kerja, yang hanya duduk di depan komputer, maka perjalanan ke sana menjadi olah raga. Sedikit menggerakkan badan.
Tapi bagaimanapun, saya ingin segera mendapatkannya.
Penasaran, mengingat ini buku sastra.
Terdorong tulisan Ignas Kleden tentang sastra, di mana dia menceritakan dirinya, bahwa tiap kali dia lelah setelah rutinitas kerja, sastra dia jadikan pelarian, sebab di sana batinnya bisa terbarukan. Sastra membawanya kebali kepada kesadaran, bahwa materi, bukanlah segala-galanya.
Keter-pelet-an saya oleh sastra juga semakin bertambah, setelah membaca paparan Ignas tentang apa itu sastra, dan apa yang membedakan sastra dari tulisan lainnya. Dia tulis di bukunya, "Sasta Indonesia dalam Enam Pertanyaan", sastra adalah bacaan yang sengaja dibuat, untuk melahirkan multi makna, di lintas zaman, selalu memberi inpirasi. Karenanya, ketika tulisan ilmiah dibuat sebisa mungkin mengerucut pada sebuah kesimpulan, maka sastra, justru sebaliknya, sastra dibuat untuk melahirkan kesimpulan yang banyak. Dalam sastra, ambiguitas justru dihidupkan, sehingga, dari sebuah teks, pembaca bisa menginterpretasikannya secara kreatif dan bebas.
Dan buku yang saya cari ini, termasuk sastra. Sungguh, sangat penasaran. "Sebuah Wilayah yang Tidak Ada di Google Earth" begitu bunyi judulnya. Dari siaran radio, pernah dulu saya dengar suara penulisnya. Bahkan baru-baru ini, meski via handphone, bicara langsung dengannya. Tuturannya santun bernas, penuh pengetahuan. Pernah juga mendengar cuplikan dialog dari salah satu bukunya, "Tanah Biru", sebuah dialog sederhana antara seorang anak dan ibunya
Saat itu, si anak tengah bertanya kepada ibunya tentang akhirat. Mengapa harus ada akhirat? Mengapa setiap amalan manusia harus dibalas? dan pertanyaan sederhana lainnya dari kepolosan seorang anak, yang sebenarnya, jika direnungkan, di sana mengandung hikmah yang sangat dalam.
Dan buku yang saya cari ini, termasuk sastra. Sungguh, sangat penasaran. "Sebuah Wilayah yang Tidak Ada di Google Earth" begitu bunyi judulnya. Dari siaran radio, pernah dulu saya dengar suara penulisnya. Bahkan baru-baru ini, meski via handphone, bicara langsung dengannya. Tuturannya santun bernas, penuh pengetahuan. Pernah juga mendengar cuplikan dialog dari salah satu bukunya, "Tanah Biru", sebuah dialog sederhana antara seorang anak dan ibunya
Saat itu, si anak tengah bertanya kepada ibunya tentang akhirat. Mengapa harus ada akhirat? Mengapa setiap amalan manusia harus dibalas? dan pertanyaan sederhana lainnya dari kepolosan seorang anak, yang sebenarnya, jika direnungkan, di sana mengandung hikmah yang sangat dalam.
Buku "Tanah Biru" itu sempat saya pegang. Namun saat itu, sebab mengira akan terus beredar, saya tidak membelinya. Biarlah suatu saat. Ternyata sekarang buku itu sudah tak ada. Penulisnya menjawab, buku itu memang sudah tidak beredar. Akan dibarukan.
Dan ini novel barunya, "Sebuah Wilayah yang Tidak Ada di Google Earth" jangan sampai saya lewatkan. Membandingkan dari novel sebelumnya, yang mendapatkan penghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta, tentulah novel ini dari sisi kualitas tak bisa diremehkan. Ini novel tentang serpihan kisah, dari sekitar Gunung Ciremai, beserta beberapa keping legenda yang tersiar di kaki-kakinya, antara lain Kabupaten Kuningan.
Related Posts:
Seorang Ayah Seharusnya

Tulisan ini, saya susun di kota, di kantor tempat kerja, dini hari, sehari setelah berangkat, meninggalkan istri dan anak.
"Bapak pergi dulu ya!"
"Pergi ke mana?"
"Ke Depok."
"Jangan pergi! Bapak jangan pergi!" rajuknya.
"Buat cari uang lagi, biar Enay punya uang buat jajan." bujuk ibunya.
"Iya, ini uangnya noh jajan." rayu saya juga sambil memberinya selembar uang lima ribu rupiah.
Tapi susah, dia masih telentang sambil menangis.
Saya berdiri, dia bangun. Saya menuju kursi dia mengikuti, "Mau ikut, mau ikut sama Bapak!" sambil terus menangis.
Ibunya membujuk lagi, "Kan biar mengumpulkan susu lagi."
"Susu kan sudah banyak di rumah."
Saya tertawa geli. Pintar aja ngelesnya.
Tidak tega sebenarnya saya meninggalkannya. Di mata saya, mungkin karena saya bapaknya, sebagaimana semua orang tua memandang anaknya, saya perhatikan, anak saya itu lucu sekali. Baru tiga tahun, bicaranya sudah pandai. Sudah bisa berargumentasi, dan argumentasinya faktual, berdasarkan fakta, tidak seperti kebanyakan orang dewasa, yang jika berpendapat, pendapatnya itu hanya pepesan hampa. Iya, memang di rumah, susu kotak cukup banyak. Susu jatah saya di tempat kerja selama sebulan lebih saya kumpulkan dan bawa untuknya.
Selain itu, sekarang dia sudah bisa cebok sendiri. Seperti malam kemarin, saya mengantarnya buang hajat ke pemandian kolam, dan setelahnya saya siap mencebokinya, namun selesai buang hajat, dia menolak. Air keran itu dia buka, dan cebok sendiri.
Tapi ..."Eh jangan sambil berdiri! Jongkok!" Saya menekan badannya.
Dia jongkok. membersihkannya sendiri dengan tangan kecilnya dari arah depan.
Dia jongkok. membersihkannya sendiri dengan tangan kecilnya dari arah depan.
Tapi saya kurang yakin, coba cek dengan tangan saya. Iya, sudah kesat.
Setelah bagian belakang, kini dia berdiri lagi, membuka lebar kakinya, menghadap ke arah keran yang mengucur, dan membersihkan bagian depannya.
Setelah bagian belakang, kini dia berdiri lagi, membuka lebar kakinya, menghadap ke arah keran yang mengucur, dan membersihkan bagian depannya.
Pulang ke rumah, ibunya bertanya, "Dari mana?"
"Ee'ee.."
Saya tanyakan pada ibunya, apakah suka mengajarinya cebok?
"Tidak!"
"Tadi dia tidak mau saya cebokin. Dia cebok sendiri."
"Hah? Ayo cepat cebok lagi!" teriak ibunya.
"Tidak mau! Tidak mau! Sudah!" jerit Si Enay.
"Nanti malam bisa gatal!"
"Sudah bersih kok. Tadi saya sendiri cek, sudah kesat!" yakin saya.
Terkadang, dia juga mempermalukan saya. Ikut makan, kemudian memperhatikan saya, mengambil nasi, lauk dan langsung makan. Serius dia menyusuh, "Allahumma baaik lanaa....waqina adabannal dulu...!"
Menyuruh saya berdoa.
"Memalukan!" dengus ibunya dari tengah rumah.
"Oh anakku, sebentar nian kebersamaan kita di rumah. Baru juga dua hari, Bapak harus kembali berangkat. Sebagai Bapak, seharusnya saya mengasuhmu, bergantian bersama ibumu, menjaga dan mengawasi perkembanganmu. Tapi bagaimana lagi, bapak harus mencari uang. Kalau saja sumber keuangan Bapak dekat, tentulah tidak perlu sering pergi jauh. Sehari-hari bisa pulang mengasuhmu, bergantian dengan ibumu, supaya Bapak, juga bisa mengetahui perkembanganmu dari waktu ke waktu. Sejak kecil, sejak bayi, kamu sering Bapak tinggalkan padahal harusnya, baik Ibu atau pun Bapak, lengkap harus ada untuk perkembangan anak. Allah telah memberikan rasa kangen dan sayang di hati kedua orang tua kepada anak, sebenarnya itu supaya orang tua senantiasa membersamai anak dalam perkembangannya, supaya apa yang masuk ke telinga anak, masuk ke mata anak, dan terekam di pikiran anak, bisa terkontrol oleh orang tuanya. Sedangkan kamu tidak. Perkembanganmu luput dari pengawasan Bapak. Ibumu tentu begitu repot merawatmu, dan sering kehilangan kendali saat jengkel dan menjadi kasar. Sungguh bapak khawatir, itu akan melukai perasaanmu, kemudian luka itu membekas lama, dan menjadi bawah sadar. Tapi bapak maklum, ibumu sampai begitu karena memang lelah mengurusmu sendirian tanpa ada yang menggantikan. Siang malam, sehari dua puluh empat jam, seminggu tujuh hari, terus tiada putus-putusnya, bersamamu, menjagamu, mengurusmu, sangat wajar jika seringkali jengkel dan kehilangan kendali. Meski Bapak takut itu bisa membuat jiwa dan pikiranmu terluka, bapak tak bisa apa-apa. Harus bagaimana lagi, buat saat ini, Bapak akan bersyukur saja dengan kebahagiaan yang ada, bahwa ibumu, cukup pandai juga merawat dan melindungimu dari berbagai bahaya, sehingga sampai saat ini, setiap kali pulang, Bapak lihat kamu sehat-sehat saja, gemuk, dan selamat. Segala puji bagi Allah yang hanya kepadanya, Bapak bisa menitipkanmu."
Seorang ayah seharusnya, dekat dengan keluarga. Sayangnya tak selamanya, kondisi sesuai kehendak hati. Dalam keadaan ini, hanya Allah tempat kita menitipkan keluarga.
Related Posts:
Ta'aruf Itu Penting
Pembicaranya penulis buku, yang karyanya saya suka. Saya membaca bukunya sambil menunggu sawah. Waktu itu banyak burung, dan saya mengusirnya sambil membaca. Enak kata-katanya, terhimpun konteksnya, dan sesuai dengan nurani.
Buku karya dia antara lain, SANDIWARA LANGIT. Kisah mengharukan tentang seorang anak muda, bahkan sangat muda, masih remaja memutuskan diri buat menikah. Usianya masih 18, baru lulus SMA. Demi menjaga agamanya, dia memutuskan buat menikah.
Berani sekali dia, bahkan dengan rintangan, ayah istrinya menghalangi mengingat, anak muda ini belum punya penghasilan. Namun karena, niatnya menyempurnakan agama, dan yakin Allah menolong, anak muda ini nekad. Menikah, kemudian mengontrak rumah, usaha roti, membuka pabrik, dan sukses.
Nah, itu bukunya, tapi ini videonya. Tadi saya temukan, dan baru kali ini saya melihat wajah penulisnya. Abu Umar Basyir, saya kira masih muda, namun dari gambarnya, saya melihat sudah lumayan punya usia. Saya berminat mengupdatenya, karena, saya dengarkan, bahasanya jelas, bisa dipahami dengan mudah. Semoga bermanfaat buat Anda.
Related Posts:
Wiro dan Kekasihnya
Ini hari gajian.
Wiro ceria.
Di depan meja kerja, sambil duduk di kursi sandarannya sudah miring, karena bautnya sudah lepas, Wiro berkokok, "Oh ya gue mau mengirim Mamak..." sambil melihat ke arah saya.
Saya mengerti, itu isyaratnya minta bantuan transfer ke rekening Mamaknya, di sana, di kampungnya, di Toraja.
Klik! Klik! Klik! Terkirim...Sukses!
"Kamu tiap bulan mengirimi Mamak?" tanya saya.
"Iya"
"Itu murni kamu kasih buat dia gunakan?"
"Iya"
"Trus keuntungan kamu apa?"
"Bahagia Cuy, bisa memberi kepada orang tua."
"Hebat Kamu Wir!"
"Karena gue, dulu pernah kerja dan tak pernah ngasih ke orang tua."
"Waktu kerja di Toko Buku itu?"
"Iya"
"Memang berapa gaji di sana sebulan?"
"Satu juta tiga ratus. Habis buat ongkos, pulang pergi sehari enam ribu."
"Enam ribu, kali tiga puluh, ah cuma keambil seratus delapan puluh ribu sebulan." saya coba hitung.
"Makan?" tanya Wiro retoris.
"Oh ya makan, biasanya habis berapa?"
"Tiga puluh ribu sehari. Di sana banyak godaannya. Pengennya jajan terus. Melihat keluar itu makanan semua Wuaaahhhh. Sebulan sembilan ratus, belum lagi jajan, rokok. Habis! Makanya sekarang gue mau ngasih ke orang tua."
Teringat soundtrack Film Keluarga Cemara, "Harta yang paling berharga adalah keluarga. Puisi yang paling bermakna adalah keluarga." Seperti Wiro, di perantauannya ini, saya analisa, pusat kerinduan Wiro adalah keluarga.
Di lantai empat, sering saya melihatnya bahagia, tertawa-tawa, telfon-telfonan, bercanda-canda, entah dengan siapa. Sambil duduk dan sesekali mengisap rokok, dengan bahasa yang susah saya mengerti, dengan logat orang timur yang ngomongnya dihentak-hentakkan.
Saya tanya, "Ngobrol sama siapa?"
"Mamak!" jawabnya asal, kemudian kembali lagi asyik ngobrol. Saya dibiarkannya, dicuekkannya. Ya sudah, saya tinggalkan.
Di atas ibunya, ada lagi keluarga yang sangat dia cintai, yaitu neneknya.
Sesekali di sela kerja, teriakan"Tarzan"nya mengguncang ruangan. Sampai Dedi Padiku harus memasang headphone, buat meredam suara Wiro yang menurutnya sangat meneror telinga.
Bukan teriak-teriak, sebenarnya Wiro bersenandung, mengulang beberapa potongan lagu yang berhasil dia hafal, dan nyaris setiap lagu dia persembahkan buat neneknya.
Lagu Assalamualaikum Beijing, dia ganti jadi "Assalamualaikum Nenek". Tantri Kotak nyanyi, "Jika Aku Jadi Kamu" dia ganti dengan "Jika Aku Jadi Nenek".
Sambil mondar-mandir ke kamar mandi, ke meja kerja, menuruni tangga, naik lagi, ruangan dipenuhi suaranya, melengking-lengking merusak lagu Bunga Citra Lestari, "NENEK...KITA MELUKISKAN SEJARAH...."
Wiro benar-benar peliharaan lincah. Berkicau lebih ramai dari murai, tanpa butuh merah. Kata Diyan, temannya, Wiro itu bagai ember kecil, tapi punya kapasitas air bergalon-galon. Hidupnya penuh semangat.
Tadi malam--malam sebelum cerita ini saya tuliskan, Wiro bergadang. Saya tidur lebih awal, jam sembilan lebih, dan ketika dini hari bangun kembali, kamar masih ramai dengan lagu Iwan Fals, dan setelah saya keluar dari kamar mandi kemudian duduk mulai kerja--ship online dini hari--lagunya ganti jadi lagu Malaysia..."Saat kita berpisah...kau pegang erat tanganku....sepertinya tak merelakan kepegianku, tuk meninggalkanmu..."
Ini mahluk lagi ngapain, jam segini masih bangun. Sebenarnya penasaran, terbersit ingin menengoknya ke kamar. Tapi malas. Biar saja, khawatir mengganggunya, atau justru saya terganggu. Sebenarnya saya jengkel. Kenapa dia belum tidur juga. Lagunya itu sangat mengganggu. Padahal kerja dini hari begini, inginnya suasana tenang. Tapi apa daya, menegor pun rasanya kasihan. Sampai hampir dua jam, dari setengah tiga sampai jam empat, masih juga lagunya menyala, dan...
Kemudian terdengar pintu digeser. Tidak saya lirik. Biar saja.
"Kang...." terdengar dia memanggil nama saya.
"Ya"
Saya tengok, dia memperlihatkan sebuah gambar.
Saya tanya, ini lukisan apa?
"Nenek." jawabnya, sambil ngeloyor menuju tangga, ke lantai bawah. Jadi ternyata, sampai semalaman dia habiskan buat membuat lukisan "Nenek."
Semula saya mengira, dia banyak menyanyikan "nenek", itu hanya bercanda. Sekedar mengundang tawa. Namun ternyata tidak. Dia memang sangat mencintai neneknya. Pernah dia cerita, usia kecil dia habiskan di rumah nenek, sebab di rumahnya sendiri, karena, saking adik kakaknya banyak, dia sering tak ter-urus, sampai orang tuanya suka lupa memberinya pakan eh makanan. Neneknya kasihan dan merawatnya.
Itulah sebabnya sekarang dia sangat cinta. Serius, dia benar-benar mencintai neneknya. Lukisan dia tas, mungkin bisa menjadi fakta.
Jadi, jika banyak orang bertanya, siapa kekasih Wiro sekarang?
Terjawab sudah, orang yang paling dia kasihi di antara semuanya adalah, KELUARGANYA. Bagi saya, dia contoh sejati seorang pemuda yang cinta keluarga.
Related Posts:
Subscribe to:
Posts (Atom)

