Wiro Nyaris Membakar Kampus

Hari sudah malam, saya sudah ngantuk, tapi Wiro terus berbusa-busa menceritakan pengalamannya. Setengah bosan setengah tertarik saya dengarkan. Tapi lama-lama, ceritanya menarik juga. Pernah bergabung dengan orang-orang Hizbut Tahrir, membuat Wiro tahu sedikit banyak tentang visi-misi golongan itu. Bukan organisasi yang dilarang pemerintah, sebab gerakannya tidak membahayakan. Ini hanyalah golongan yang menginginkan berdirinya syariat Islam. Tidak membuat huru-hara, karena itu gerakan ini hanya bergerak sekitar pemikiran. Mendengarkan Wiro berbicara serius, cukup luas juga wawasannya. Pengajian Hizbut Tahrir seperti yang pernah dijalaninya, tak sekedar diskusi-diskusi sistem pemerintahan, tapi juga sampai ke pendidikan dasar buat seseorang seperti membaca Al-Qur'an.

"Oh jadi kamu bisa mengaji di sana?"

"Iya, gue belajar dari Iqro satu, ditertawakan orang-orang."

"Memangnya waktu kecil tidak mengaji sama sekali."

"Pernah mengaji, tapi sejak kakak saya sakit, mengaji jadi malas."

"Kok bisa?"

"Waktu ngaji dipanggil pulang. Kakak kamu tuh tunggui, katanya. Ya sudah setelah itu, Gue gak mau lagi ngaji. Alasannya nungguin kakak. Biasa anak-anak, malas mengaji banyak alasan."

"Baru gue ngaji lagi semasa kuliah. Jadi orang Hizbut Tahrir mau, Islam itu syumuliah, menyeluruh mewarnai setiap aspek kehidupan. Bagi mereka, ideologi negara
haruslah Islam. Dikaji juga berbagai ideologi lain. Tiga ideologi yang ada di dunia menurut mereka, pada dasarnya adalah, komunisme, kapitalisme, dan Islam, dan ketiga ideologi ini menjadi beda dalam hal menjawab pertanyaan, dari mana, untuk apa, dan ke mana?"

Saya terpana mendengarkan penjelasannya. Tak nyana, wawasan Wiro boleh juga.

"Komunisme menjawab dari materi, untuk bebas, dan kembali ke materi."

"Kapitalisme?"

"Kapitalisme, dalam menjawab pertanyaan dari mana, untuk apa, dan ke mana adalah seperti seorang penjual jam. Setelah jam itu diproduksi, dijual kepada seseorang, maka terserah kepada pembeli jam itu mau digunakan buat apa. Pembeli mendapatkan kebebasan sebebas-bebasnya menggunakan barang itu, tanpa ada campur tangan si pembuat jam, dan tidak ada pertanggungjawaban."

Saya tak berkomentar. Masih memikirkan kata-katanya.

"Yang paling kompleks itu Islam, dari mana, untuk apa, dan ke mananya itu jelas. Ada asalnya, untuk apanya jelas, harus bagaimana, dan mau ke mana."

Pengetahuan tersebut Wiro dapatkan semasa kuliah. Semangatnya menyelesaikan pendidikan memang keras, tanpa biaya dari orang tua, dia meminjam kepada kakaknya, dan biaya berikutnya, dia dapatkan dari hasil kerja sebagai pengurus kebersihan kampus, dan pemungut infaq di mesjid.

"Gua harus mengepel setiap kelas, menyapu halamannya, rumputnya dibersihkan, dibakar-bakar, sampai-sampai gue hampir membakar kampus."

Wah hampir membakar kampus? Ada apa? Kenapa? Wiro Emosi ya gajinya telat dibayar?

"Kenapa?" ucap saya akhirnya.

"Gue kan bakar rumput, rumputnya kering, gak gue kira, ternyata di bawahnya banyak bambu kering, terbakar itu, api berkobar besar, nyaris membakar sekolah. Wah, gue habis diomeli orang."

Hahaha

Related Posts:

0 Response to "Wiro Nyaris Membakar Kampus"

Post a Comment