Kalau cuma bikin bad bood, abaikan saja!
Bisa nggak mengabaikan?
Bisa nggak "Mengatakan Tidak"?
Bisa nggak "No Comment!"?--terhadap hal-hal yang, hanya merusak kebahagiaan Anda. Bisa nggak no coment, terhadap perkara yang hanya akan menghambat tercapainya tujuan Anda?
Bisa nggak "Mengatakan Tidak"?
Bisa nggak "No Comment!"?--terhadap hal-hal yang, hanya merusak kebahagiaan Anda. Bisa nggak no coment, terhadap perkara yang hanya akan menghambat tercapainya tujuan Anda?
Kalau saya naik motor, dari Bandung menuju Jakarta, dan setiap hal menarik yang saya lewati saya pedulikan, kapan sampainya?
Ubi Cilembu di puncak, sepertinya enak tuh, singgah dulu ah, pesan, menunggu, makan. Jalan lagi, wah bakso urat tuh, besar-besar, sepertinya enak, singgah, pesan, nunggu, makan. Jalan lagi, wah bazar buku tuh, murah-murah, menarik, singgah, pilih-pilih. Kapan sampainya?
Jelas, jika ingin cepat sampai, banyak hal harus saya abaikan. Hal tidak sepenting jangan pedulikan. Lokus pada hal-hal penting saja, yaitu jalan dan rambu-rambu lalu lintas.
Kenapa saya bicarakan ini?
Buat motivasi diri. Keterampilan ini sedang sangat saya butuhkan: bisa mengabaikan.
Seorang penulis terkenal minta saya mengedit novelnya. Dia minta saya mengedit cepat. Tak hanya cepat, juga harus cermat. Pra Order mulai berdatangan, judul sudah masuk produser, siap naik layar lebar. Kecepatan dan kecermatan sangat saya butuhkan. Dan supaya bisa kerja cepat dan cermat, saya harus bisa mengabaikan. Mengabaikan apa saja penghambat!
Selama kerja, koneksi internet terpasang dan facebook terbuka. Banyak pemberitahuan datang, banyak juga pesan. Sengaja saya buka, buat pereda jenuh, biar sesekali refresh menengok ke sana, sesekali menanggapi komentar, postingan orang, atau menjawab inboks yang datang. Tidak semua saya tanggapi, tidak semua saya jawab. Saya hanya menanggapi stat menyenangkan, itu pun sebagian, sebagian lain terabaikan, apalagi inboks dan postingan bermasalah. Memang saya baca, tapi malas komen, apalagi menjawab, sebab sekali menjawab, buntutnya bisa panjang, terlebih sudah jadi perdebatan, uh maaf tak punya waktu. Itu menguras pikiran dan makan waktu. Setelah komen yang enak-enak, lebih baik kembali kerja. Orang menyebut saya apa, whatever!
Terus terang, saya akui, saya sendiri belum sepenuhnya bisa fokus kerja. Belum sepenuhnya bisa mengabaikan. Dari kilasan cerita di atas Anda bisa menangkap bagaimana saya sebenarnya, saya masih bisa tergoda, masih peduli juga, masih membaca komentar, masih sempat-sempatnya facebookan, dan membaca posting kurang menyenangkan. Sebatas tidak menanggapi, baru itu yang bisa saya lakukan. Itu pun kadang-kadang, kalau sedang lupa, komentar dan postingan kurang menyenangkan itu saya tanggap.
Seperti saat menulis ini, beberapa meter dari meja saya, mengalun lagu Gaza to Night, suaranya keras, lagunya enak, akan tetapi, karena di komuter samping saya pun mengalun lagu dari salon kecil, suaranya jadi gak karuan. Bayangkan, dua lagu mengalun bersamaan, bagaimana telinga bisa menangkap! Terlebih saya sedang menyusun tulisan. Jelas, menghadapi ini saya harus bisa mengabaikan, sebab, saya harus fokus kepada tulisan.
Bisakah? Ternyata susah. Solusinya, saya bawa masalah ini ke dalam tulisan, Merenungkannya, dan jadi ilustrasi tulisan ini, seperti barusan telah Anda baca di atas. Dengan cara itu saya bisa kembali fokus ke tulisan.
Bayangkan, jika setiap yang mengusik pikiran kita harus saya pedulikan, jika setiap komentar orang yang kurang menyenangkan harus saya jawab, jika setiap gangguan harus saya hiraukan, urusan saya sendiri kapan selesai?
Menjadi orang peduli tidak selalu baik. Sebagian sikap peduli justru mengganggu. Tugas bisa terbengkalai, target lama tercapai. Hanya dengan menjadi anak panah, melesat dari busur, lurus ke depan, maka target bisa tercapai lebih cepat.
Menjadi orang peduli tidak selalu baik. Sebagian sikap peduli justru mengganggu. Tugas bisa terbengkalai, target lama tercapai. Hanya dengan menjadi anak panah, melesat dari busur, lurus ke depan, maka target bisa tercapai lebih cepat.
0 Response to "KALAU HANYA MENGGANGGU! ABAIKAN SAJA!"
Post a Comment