Tiga tahun lebih, usia anak saya, berlalu tak terasa, sejak kelahirannya, sekarang sudah waktunya sekolah. Ibunya membawanya ke PAUD, jauh dari kampung saya di dataran tinggi menuruni kaki gunung, ke sebuah Taman Pendidikan Masyarakat.
"Hari ini Si Nai mulai sekolah, doakan supaya jangan bandel!" SMS istri dari kampung.
"Amiin, diantar motor siapa?"
"Motor Siti" Siti adalah bibinya, adik istri saya.
Itu siang, dan malamnya saya penasaran, apa saja yang terjadi tadi siang. Lewat SMS, saya tanyakan:
"Tadi siang bagaimana?"
"Si Nai kurang memperhatikan guru. Tapi pulang ke rumah, selagi saya menyetrika pakaian, sambil duduk di kursi, dia nyanyi tepuk nyamuk, bismillah, alhamdulillah. Aku tersenyum."
Begitulah di hari berikutnya, saat saya kangen ingin menanyakan kabarnya, "Bagaimana hari tadi?"
"Sekarang dia mulai bergaul dengan temannya. Ke depan menyanyi, menulis tidak malu-malu."
"Haha, memangnya anak lain bagaimana?"
"Ada yang harus terus bersama ibunya, ada yang main melulu. Dan Si Sansan bersama Si Alfian minggat. "Gue mau pulang, sini itu tas aku!" ucap Si Sansan."
"Oh Si Sansan satu kelas dengan Si Nai?" tanya saya heran, sebab Si Sansan usianya jauh di atas anak saya.
"Iya, harusnya dia masuk TK, tapi tidak mau."
Hari berikutnya, tanpa ditanya, istri memberi kabar.
"A, Si Nai mau apel merah milik anak lain."
Tidak saya jawab. Langsung panggil, saya kira sedang nangis, tapi tidak, adem-adem saja. "Bagaimana sekarang?"
"Sudah main lagi."
"Ya nanti saya pulang, insya Allah bawa." kasihan juga anak saya, jauh dari bapaknya, jauh dari pasar, kurang makan buah-buahan.
Hari berikutnya, saya yang bertanya, "Bagaimana hari tadi?" begitu tanya saya pada istri, setiap kali kangen ingin menanyakan kabar anak saya.
"Mulai belajar angka Nol, dan si Nai selalu harus nabung, jika tidak nabung dia ngambek, karena dipanggil seorang-seorang ke depan kelas, jika tidak menabung tidak terpanggil"
"Biasanya menabung berapa?"
"Sepuluh ribu, dengan jajan lima ribu, jadi lima belas ribu sehari."
"Belum lagi jajan di rumah ya?"
"Iya, tadi habis empat ribu jajan es krim."
"Jangan terlalu banyak makan es krim!"
"Iya, tapi ini anaknya suka menjerit jika tidak diberi."
Saya alihkan, "Sekarang sedang apa?"
"Si Nai tidur, saya sedang latihan kasidah buat lomba Agustusan."
"Saya pulang sabtu besok." kata saya tanpa ditanya.
"Ya. Si Nai kasihan sepatunya paling jelek. Dia mengeluh, kenapa sepatuku begini, orang lain sepatunya hitam?"
"Hahaha, maunya sepatu bagaimana?"
"Ya, nanti saja kalau Aa datang, kalau ada uang mah kita beli, sebab sekarang pengeluaran buat beli buku, ongkos, jajan, menabung, dan iuran."
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 Response to "Anak Saya Mulai Sekolah"
Post a Comment