HB. Jassin abad dua satu, menurut saya Julian Toni layak mendapatkan sebutan itu. HB. Jassin adalah bapak dokumentasi sastra Indonesia. Sebutan itu menjadi layak disandangkan padanya karena ketekunanannya mendokumentasikan sastra karya anak tanah air. Tidak hanya mendokumentasikan, Pak Jassin pun sampai berani mempertaruhkan kehormatan dirinya di pengadilan untuk membela sebuah cerpen. "Langit Semakin Mendung", cerpen karya Ki Pandji Kusmin--nama samaran--Dianggap menghina agama. Karena Pak Jasin mengangkat cerpen itu di majalahnya, banyak agamawan mengecam. HB Jassin mau menghadapi gugatan mereka di pengadilan.
Apakah Julian Toni demikian juga, membela sebuah cerpen sampai berani masuk pengadilan?
Buat jawabannya, ikuti saja tulisan saya.
Jadi sekitar tahun 2014, terposting sebuah cerpen berjudul "Noda Darah di Ranjang Ayah". Ke postingan itu berdatangan komentar protes dan bantahan. Seagian menyebutnya cerpen murahan, sampah, bahkan ada yang terang-terangan menyebutnya cerpen durhaka. Jelas, sebab cerpen itu isinya seputar pelecehan kepada orang tua. Tentang seorang anak yang menyebut segala detail kejadian dan barang di kamar orang tuanya. Sangat tidak sesuai dengan adat ketimuran yang sangat mengedepankan sopan santun dan hormat kepada yang lebih tua. Seteah seratus enam puluh lima komentar, dan semuanya membantah, mencerca, dan menyuruh supaya dihapus, datanglah Julian Toni memberi komentar pembelaan. Julian mengajak orang menelaah dari segi bahasa. Openingnya menarik perhatian, dengan susunan bahasa tidak biasa. Dan dari segi isi, cerpen ini penuh makna. Julian mengajak orang supaya, jangan melihat sesuatu dari lahiriah, tapi masuklah ke wilayah makna, maka kalian akan mendapatkan mutiara.
Tapi orang tetap tak suka. Bahkan kini, ketidaksukaan mereka berpaling kepada Julian. Orang-orang menantang Julian buat menyelesaikan ini di pengadilan. Akhir Desember Julian sengaja datang, dari tanah Andalas, Sumatra Barat, ke Pulau Jawa. Ditemani seorang pengacara, di tengah pengadilan, dia berhadapan dengan sekitar seratus orang penggugat. Tujuh hari lamanya sidang, akhirnya palu hakim terketuk tiga memenangkan pembelaan Julian terhadap cerpen itu. Nah, saudara sekalian, kejadian yang barusan saya ceritakan hanyalah khayalan, tidak pernah terjadi pada Julian. Jadi kesamaan dia dengan HB Jasin bukan dari pembelaannya terhadap cerita pendek sampai berani sidang.
Lalu dari apa?
Dari kecintaannya mengoleksi karya sastra teman-temannya.
Seperti sering diakuinya, banyak karya temannya di facebook yang masuk dokumentasi dia. Tekun karya-karya itu dia kumpulkan, terutama tulisan-tulisan yang menurutnya menarik dan menginspirasi pembaca. Ini bukan pekerjaan sembarangan. Pekerjaan Julian ini tidak boleh diremehkan. Ketekunan mengumpulkan karya teman adalah bukti bahwa dia orang yang penuh penghargaan. Saat orang lain kepada karya temannya lebih banyak mengabaikan, Julian tida. Dia berusaha menyimpan dan mendokumentasikannya. Dari sebab inilah saya kira, Julian berhak mendapatkan sebutan HB Jasin Abad 21 versi saya.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 Response to "JULIAN TONI, HB JASSIN ABAD 21"
Post a Comment