Lewat Watshapp, Pak Isa memberitahukan karyawannya, besok jangan makan siang, sebab nasi, akan kirim dari rumah. Nasi kuning. Membaca itu saya gembira. Orang lain juga. Pak Ardian, senior teman Pak Isa yang kini menjadi rekan kerja saya, menjawab, "Alhamdulillah, makasih Pak."
Sedangkan Sudiyan, seorang editor yang juga merangkap jabatan sebagai anak lama, menyahut, "Pak Isa, terima kasih kabar gembiranya."
Saya?
Beberapa kali jari mengetik tulisan, tapi saya urungkan. Alasannya malu, kelihatan sekali gembiranya.
Dibanding teman-teman, rasanya saya paling jago makan. Saat orang lain kerja, saya makan. Nasi di mejikom, seringnya saya yang menghabiskan. Tak seorang pun dari teman kerja di sini saya lihat makan nasi kering seperti saya. Mereka lebih suka ke kantin daripada makan tidak enak. Tapi saya tidak, selama di kantor ada nasi, biarpun kering saya makan. Dimasak dulu dengan merebusnya sampai lunak, kemudian menggorengnya biar punya rasa. Bener-bener rakus. Juga jika di toko ada kue, dan Mas Lili sudah pulang, saya menutup rollingdoor toko, setelah itu duduk santai, sambil makan kue sisa.
Parahnya, kerakusan saya itu tidak berimbang dengan kegemukan badan. Normalnya, orang banyak makan itu gemuk. Saya tidak, kerempeng-kerempeng saja. Padahal kalau makan, saya bisa beberapa kali mengambil, sampai kekenyangan. Rakus luar biasa.
Saya khawatir kerakusan saya itu sudah terdeteksi oleh teman, dan diam-diam, di belakang saya mereka ramai-ramai membicarakan. Itulah sebabnya, saat di Watshapp ini ada berita gembira mau datang makanan dari Pak Isa, sebenarnya hati saya yang paling tinggi meloncat gembira. Ingin saya ekspresikan dengan menjawab, misalnya, terima kasih Pak, atau alhamdulillah seperti yang lainnya, tapi beberapa huruf saya ketik, backspace kembali saya tekan, buat menghapusnya.
Malu!
Hanya dalam hati saya berkata, terima kasih ya Allah, atas nikmat ini, telah diberi atasan yang baik, akrab, dan penuh penghargaan.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 Response to "SAAT PAK ISA MELARANG MAKAN SIANG"
Post a Comment