Namanya bagus sekali, indah, mengingatkan saya pada mendiang istri Pak BJ. Habibie. Pertama kali bertemu dengannya di taman perpustakaan kota, sedang membaca, pada sebuah bangku panjang, yang dibuat dari lempengan rel kereta.
"Baca buku apa?"
"Buku "Priangan Si Jelita""
"Oh itu buku puisi."
"Iya."
"Karya Ramadhan KH."
"Benar, tahu banyak sastra?"
"Tidak juga. Hanya suka baca esai. Tapi dari buku itu, saya lebih tertarik priangannya daripada bukunya."
"Maksudnya?"
"Sebagai Orang Sunda, saya tertarik dengan sesuatu yang berhubungan dengan kesundaan. Saya tertarik dan cinta dengan budaya saya."
"Aku juga cinta dengan Budaya Jawa suku saya."
"Oh dari Jawa, ya tentu saja kita cinta dengan kultur asal kita, asal tak sampai membuat kita terjerat Primordialisme."
"Sepertinya pernah mendengar kata itu."
"Ya, itu sejenis gorengan tepung isi tempe."
"Oh iya." ucapnya tenang, pandangannya tetap lurus ke buku.
Saya cuek saja bercerita, "Saya suka dengan Wayang."
Dia tidak menyahut. Mungkin mulai bosan, dan merasa terganggu dengan kehadiran saya. Tapi, saya tak peduli, terus saja bercerita.
"Wayang itu puncak dari segala seni. Di sana, berbagai seni ada. Seni musik, seni rupa, seni ukir, seni sastra, seni tari, seni bela diri, digabungkan menjadi pertunjukkan yang indah."
Dia menutupkan buku, memandang lurus ke depan.
"Di antara semua tokoh wayang, saya suka dengan punakawan bernama Semar. Dalam kisah, dia tampil sebagai orang tua bijak. Sahabat para ksatria yang selalu menolong mereka saat terdesak. Yang membuat saya tertarik adalah asal-usul dia, berasal dari negeri Kahyangan, sebuah negeri entah di mana, di mana saat itu namanya bukan Semar, tapi Bambang Ismaya. Dia adalah seorang pemuda tampan. Tiada pemuda lain mengalahkan ketampanan dia kecuali saudaranya, Wiramantri. Saudaranya itu menjadi rival yang selalu mengajaknya berlomba. Suatu ketika mereka adu kekuatan. Bertarung habis-habisan, dan tak seorang pun dari keduanya kalah. Akhirnya mereka sepakat buat lomba menelan gunung." saya menarik nafas, mengingat kembali uraian ceritanya.
"Tejamantri meminta lebih dahulu mencoba. Dengan sebuah ajian, dia mengerahkan energi buat mengembangkan badan sampai sebesar-besarnya. Setelah besar, dia mencoba menelan gunung, tapi gagal, tinggal bibirnya yang membesar dower seperti jamur telinga. Kini giliran Ismaya, sama pemuda tampan inipun membesarkan dirinya, meraup gunung kemudian menelannya. Berhasil dia telan, tapi setelah di dalam, gunung itu susah dia keluarkan. Sekuat tenaga dia kerahkan, masih juga susah dia keluarkan. Karena menderita, wajahnya berubah buruk, gigi tinggal satu karena dipakai susah payah mengunyah, dan perut Ismaya sangat besar karena mengandung gunung, dengan bentuk pantat juga besar menungging."
Saya kira dia akan tertawa, ternyata tidak. Selepas saya cerita, dia seperti hendak berdiri. Sebelum pergi, buru-buru saya sapa,
"Nama kamu siapa?"
"Ainun."
"Lengkapnya?"
"Asmaul Husna Ainun Bestari."
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 Response to "Asmaul Husna Ainun Bestari"
Post a Comment