Arvan Pradiansyah. Saya ingin menyebutnya guru. Saking sukanya pada tulisan dia. Di mana pun saya temukan bukunya tak pernah lewat. Langsung berminat. Dari perpustakaan kota berulang kali meminjam, padahal bukunya itu-itu juga: Cherys Every Moment. Ini buku ringan tapi luar biasa. Isinya meresap, karena judul buku ini sendiri berarti, hargailah setiap saat. Sebagai master of happynes, Mas Arvan mengajarkan tips mendapatkan kebahagiaan. Cara sederhana supaya jauh dari kesedihan.Gaya bahasanya itulah. Tulus, sederhana, memikat, halus, dan yang paling membuat saya suka adalah keberpihakannya kepada kebaikan dan kebenaran. Tentu sebagian besar penulis berpihak pada kebenaran, tapi cara Mas Arvan berani dan terang-terangan. Misalnya, dia berani menyebut Tukul Arwana tidak sopan. Dalam acaranya bukan empat mata, kepada aktris cantik, Tukul memuji mereka habis-habisan, sedangkan apa yang dia lakukan kepada Omas?
"...satu kata-katanya yang membuat saya mengurut dada adalah: ia menyebut Omas sebagai turunan Iblis." tulisnya.
"Bagi saya perilaku Tukul ini keluar dari lingkaran kebaikan. Ia melakukan pelecehan terhadap kemanusiaan. Ia sudah mendegradasi keluhuran kemanusiaan walaupun mungkin saja ia tidak bermaksud sejauh itu. Tapi yang lebih menarik lagi adalah respons penonton yang berada di studio. Mereka semua tertawa terbahak-bahak...."
Tidak membosankan. Dia menulis dengan gaya bermacam. Kadang bercerita, kadang berbagi hikmah, kali lain bernada perintah. Tidak asal tempel, ceritanya efektif tersaji menjadi renungan mendalam. Dari kisah sederhana keseharian, kisah orang-orang bijak, berita-berita kekinian, dia sulam dalam tulisannya menjadi ilustrasi memikat.
Sewaktu kerja di sebuah cabang perguruan tinggi di Tasikmalaya, saya tinggal di sebuah rumah minimalis yang menurut saya sangat indah. Bahagia sekali bisa tinggal di sana. Saking bahagia, mengepelnya setiap pagi menjadi rutinitas. Dari dapur, tengah rumah, beranda, hingga teras depan, sambil mendengarkan sebuah siaran radio tentang betapa hidup ini indah. Asik mendengar, satu jam berlalu tak terasa, begitu setiap acara itu mengudara. Sudah lama rumah minimalis itu saya tinggalkan karena saya dipecat, tapi satu hal yang tersisa kesannya sampai sekarang bukan keindahan rumahnya, tapi acara di radio itu, yang pematerinya adalah Mas Arvan Pradiansyah.
Dari situlah sebenarnya cikal-bakal saya suka kepada Mas Arvan. Di mana pun ada tulisannya, saya baca. Maka sekarang, saat tempat kerja saya di kota, di mana toko buku bersebaran, di mana pun saya temukan bukunya, tak pernah lewat, saya beli dan baca. Bahkan buku Cheris Every Moment saya beli dua. Kalau-kalau ada teman suka, mau beli, dia bisa mudah pesan. Dan karena ini buku cuci gudang--bukan bajakan--saya bisa menjual padanya dengan harga murah. Maaf, cuma membari kabar.
Menemukan Apa Yang Penting, adalah ide menarik lain yang diajarkan Mas Arvan
Terdapat dalam bukunya Life Is Beautifull. Dia menyebutkan "menemukan hal terpenting" sebagai sebagai cara mudah mendapatkan kebahagiaan. Awalnya, saya kurang mengerti, apa hubungannya menemukan terpenting dengan kebahagiaan. Andaipun ada hubungan, pasti itu sangat jauh. Yang saya bayangkan, menemukan hal terpenting adalah berusaha mencari hal yang paling penting buat dikerjalan, dan karena yang dibicarakan adalah kerja, kesannya seperti membicarakan beban.
Akan tetapi setelah saya renungkan, dan mengalami banyak hal dalam keseharian, saya temukan, menemukan hal terpenting ini cara mudah menjadi bahagia.
Dengan mengetahui hal terpenting, hidup menjadi ringan. Banyak masalah datang, tapi semua masalah itu tidak perlu kita pusingkan. Ingat hanya yang terpenting, dan hal kurang penting tidak perlu kita cemaskan.
Hal terpenting bergaul dengan orang adalah akrab dan membangun kenyamanan dengan mereka. Maka perkataan kurang menyenangkan dari mereka, itu masalah sepele yang tidak perlu dipusingkan.
Tujuan terpenting saya facebookan adalah kerja pada perusahaan dan mendapatkan uang. Karenanya, umpatan orang, sindiran, bantahan dan berbagai kata kurang menyenangkan, tidak perlu saya pusingkan. YANG PENTING, PERBULAN SAYA MENDAPATKAN UANG. Memang materialis. Tapi saya rasa ini masih mending, daripada berpikir, YANG TERPENTING ADALAH MEMENANGKAN PERDEBATAN.
Menemukan hal terpenting membantu pikiran dan perasaan menjadi lebih ringan. Ini cara murah menjadi bahagia. Ide sederhana yang mencerahkan. Satu sisi yang saya suka dari buku-buku Mas Arvan Pradiansyah.

0 Response to "Arvan Pradiansyah: Guru Kebahagiaan"
Post a Comment