KENAPA BANYAK ORANG KECANDUAN BUKU ASMA NADIA

Apa kelebihan seorang Asma Nadia? Kenapa tulisannya digemari? Kenapa sekali orang membaca novelnya, selanjutnya dia ketagihan? Kenapa toko onlinenya rame dan sering kebanjiran pemesan.

Setelah sekian bulan menjadi pelayan di toko onlinenya Grup Facebook "Toko Asma Nadia", ini hasil analisa kecil-kecilan saya:

Kelemahlembutan.

Sebagai penulis--maaf, sebagai pencinta nulis, saya biasa menganalisa seseorang, kenapa tulisannya disuka. Barusan saya menyebutkan jawabannya, Asma Nadia disuka karena bahasanya ringan, penuh kelemahlembutan.

Dan pertanyaan berikutnya adalah, kenapa dia sepandai itu? Benarkah bakat? Benarkah mukjizat, benarkah itu terjadi begitu saja secara otomatis langsung bisa tanpa ada usaha? Benarkah itu sebuah kejaiban mendadak?

Ternyata tidak.

Satu hal harus kita camkan, syarat penting kesuksesan, kesuksesan dalam bidang apapun adalah, memegang prinsip pertumbuhan. Begitulah Mbak Asma dengan karyanya hingga menjadi selaris sekarang. Dia sampai seperti ini karena ada usaha, kerja keras, terus berusaha menyempurnakan, dan terus berusaha menyempurnakan. Novel "Surga yang Tak Dirindukan" bukan hasil kerja sebulan. Maaf, enam tahun novel itu baru selesai digarap.

Mengejah dari alif, menghitung dari satu. Jika membangun rumah, mulailah dari pondasinya. Perjalanan seribu kilometer dimulai dengan satu langkah. Kalau jaman sekarang, perjalanan satu kilometer, dimulai dengan kecepatan 0,1 km perjam.

Segalanya membutuhkan langkah pertama. Segalanya membutuhkan usaha.

Sesungguhnya Allah maha kuasa menciptakan bumi dengan sekali kata. Kun, jadilah, maka langsung jadi. Bumi bulat langsung ada sebagaimana adanya sekarang. Tapi tidak, Allah menciptakan bumi dalam enam masa. Menciptakan langit juga dalam enam masa. Menciptakan manusia langsung jadi bayi apa susahnya bagi Dia? Tapi tidak, manusia tercipta dengan tahapan-tahapan. Kalau saja manusia mengerti dan mau mengambil pelajaran, itu pelajaran sangat berharga.

Harus ada usaha. Harus ada langkah-langkah. Harus ada tahap-tahap.

Einstein, terkenal jenius ke seluruh dunia, apakah kejeniusannya terjadi mendadak? Tidak. Dia jenius dalam fisika, karena sejak kecil memang itu yang dipelajarinya. Sampai dia sejenius yang dikenal sekarang, ada tangganya, ada tahapannya, terus-menerus belajar. Begitu juga Go Jek, hingga sekarang terkenal dan digandrungi orang, membernya sampai ribuan, dengan penghasilan menggiurkan, ternyata tidak besar mendadak. Go Jek telah disebut-sebut dalam buku THE EXPLORER, THE WARRIOR, AND THE SAINT, dan buku ini terbit tahun 2011. Berarti setidaknya, Go Jek sudah ada sejak sebelum 2011.

Sekarang sudah 2015, berarti setidaknya membutuhkan waktu lima tahun sampai menjadi perusahaan besar. Yang gampang itu merusak, yang mudah itu menebang. Membangun, menumbuhkan, membutuhkan waktu lama. Di balik setiap kesuksesan ada kerja keras dan masa yang panjang.

Tidak secara otomatis punya kemampuan demikian. Mbak Asma menjadi seperti itu membutuhkan usaha. Dia berusaha, dia bekerja, maka dia bisa.

Kembali ke benang merah, Asma Nadia punya kemampuan menulis dengan kelemahlembutan kata, memang dia mengusahakannya.

Diksi, itulah jurus yang dipakainya. Diksi adalah pilihan kata, dan Mbak Asma memilih kata-kata buat tulisannya. Tidak sembarangan kata-kata, tapi hanya kata yang pantas, layak, lembut, dan sopan.

Saya tahu ini dari Sosok Rania yang digambarkan dalam salah satu novelnya. Takkan saya beritahukan dulu judulnya apa, yang jelas novel ini akan segera terbit dan telah dibeli rumah produksi buat diangkat ke layar lebar. Bagi Anda cukup tahu dulu bahwa dalam novel itu ada sosok bernama Rania. Berdasarkan namanya, Rania ini dekat dengan nama beliau sendiri, Asmarani Rosalba. Sebagaimana beliau senang traveling keliling dunia, sosok Rania pun sama, senang berkunjung ke berbagai negara. Dari dua kesamaan itu saya simpulkan, karakter yang dia bangun dalam diri Rania adalah karakter yang sedikit banyak terdapat dalam dirinya. Dalam novel itu Rania digambarkan sebagai penulis bestseller--nah inipun kesamaan lain dengan Mbak Asma--yang dalam menulis sangat memperhatikan pemilihan kata, begitu juga dalam bicara.

Berusaha, itu yang orang-orang hebat punya. Tidak serta-merta menjadi hebat, mereka punya kerja. Mereka tidak mengandalkan bakat. Mereka paling mengerti, bakat hanya berperan 1 persen dari kesuksesan mereka. 99 persen sisanya adalah kerja keras. Ini fakta basi yang selalu diungkap.

Bukan hanya dalam teks, dalam kontekspun demikian. Lembutnya tulisan Asma Nadia bukan sekedar dalam tampilan luar teks, namun juga dalam konteks. Buku SURGA YANG TAK DIRINDUKAN misalnya--meski konfliknya dahsyat, pertengkaran rumah tanga akibat datangnya orang ketiga, Mbak Asma tidak menampilkan tokoh yang disalahkan. Di hadapan pembaca, Mbak Asma seakan pengacara yang berusaha memberi pemahaman kepada hakim supaya mengerti dan bersikap bijak menghadapi terdakwa, jangan mudah menghakimi, jangan mudah menyalahkan. Begitulah Mbak Asma dalam menampilkan tokoh-tokoh dalam cerita SURGA YANG TAK DIRINDUKAN, kepada pembaca dia berusaha memberikan pemahaman, bahwa si ini berbuat ini, inilah alasannya, dan si itu berbuat itu, begitulah alasannya. Arini begitu marah kepada siaminya, karena memang sepantasnya seorang istri demikian, dan Pras, sang suami, meski seakan antagonis menikah lagi buat kedua kalinya, namun untuk disebut antagonis yang sesungguhnya tidak bisa, karena dia menikah karena punya alasan, dan alasan itu kuat. Ini sisi kelemahlembutannya. Tidak ada tokoh yang dipojokkan.

Itu saya kira satu alasan yang membuat pembaca buku-bukunya cinta, dan kecanduan. Habis membaca satu buku, ketagihan lagi beli dan baca buku lainnya.

Related Posts:

0 Response to "KENAPA BANYAK ORANG KECANDUAN BUKU ASMA NADIA"

Post a Comment