Depok Kota Mewah

Semewah apapun sebuah kota, bagi saya biasa-biasa saja tanpa perpustakaan. Ciamis, kota saya punya perpustakaan, bahkan terbaik se-Jawa Barat, maka kota mewah. Sekarang kerja di Depok, bagaimana dengan kota ini? Setengah tahun lamanya, saya tak tahu ini kota mewah.

Hari minggu, 2 Agustus 2015, saya punya janji kepada seorang pembeli, mengantarkan buku dan dia menunggu di komplek balai kota. Tiga buah buku masuk ke kantong keresek, dan bawa menyusuri trotoar. Saya pergi dengan sangat kampungan--jalan kaki.

Berdasarkan keterangan di facebooknya, pembeli ini anggota paskibraka. Dan benar, sampai di sana, tampak sekelompok anak sedang latihan...



Sebelum sampai di sana, mata jelalatan ke kiri. Sebuah gedung megah berdiri...


Halamannya indah tertata


Saya baca relief tulisan di atasnya, menggembirakan, ternyata PERPUSTAKAAN UMUM



Sayang ini Minggu. Saya tanya penjaga, ternyata Minggu tidak buka. Selasa saya sengaja ke sana

Wah fasilitasnya...kursinya saja putar seperti kursi para karyawan di kantor mewah,  empuk seperti punya direktur. 



Itu kursi buat pembaca, tersedia di belakang setiap meja. Empuk, bergoyang-goyang. Sungguh nyaman. Tak mengapa ada bolong pada dudukannya. Kebaikan kursi ini terlalu banyak, kekurangannnya yang sedikit ... saya anggap tak ada...


Pelayanan pengunjung tersedia di lantai dua, melihat ke belakang gedung, motor rapi terbaris...


Dilengkapi tabung oksigen, jadi kalau ada orang pingsan, bisa langsung diberi pertolongan.


"Eh bukan, itu buat kebakaran......apa namanya....." kata seseorang yang rajin sekali mengoreksi.

"Oh tabung gas? Masa sih, kalau kebakaran disemprot gas api malah jadi gede dong?"


"Bukan....itu kalau disemprotkan suka jadi busa. Trus apinya padam."

"Oh kayak pasta begitu?"

"Iya."

"Berarti bagus dong buat cukur kumis?"

Sebuah perbincangan tak jelas, tapi saya tahu ini tabung anti kebakaran.


Lampu atapnya selalu terang


Sayangnya beberapa rak masih kosong, ini perpustakaan masih pengantin...


Buku yang ada masih baru, rata-rata menarik, ini deretan fiksi dan sastra.


Saya tertarik dengan dunia pewayangan, mengambil buku "Atlas Tokoh-Tokoh wayang". Jangan dikira, meski judulnya terkesan formal, tapi isinya sangat memikat. Disebutkan berbagai tokoh wayang, kemudian kisahnya masing-masing. Membacanya seperti membaca dongeng saja.


Pengunjung masih jarang, buat saya sih enak, sunyi....yang datang hanya orang tua, tuh di sana sedang serius membaca...

Punya beranda buat santai, satu set kursi tersedia, ditemani pohon hias dari plastik.


Kebelet? tenang, tidak perlu cari WC Umum, ini ada toiletnya.


Tuh saya juga melakukan sesuatu di sana


Setelah itu, ada cermin, menyempatkan diri selfie


Dan ini pemandangan lorong sepulang dari kamar mandi..


Enak bukan? Dengan kata lain, bagi saya Depok kota mewah, Depok kota kaya. Sebuah kota kaya dengan restaurant, kaya dengan hotel berbintang, tapi itu hanya bisa dinikmati sebagian orang. Sebuah kota kaya dengan perpustakaan, maka orang berbaju lusuh dengan sandal jepit sekalipun bisa ikut menikmatinya.



Related Posts:

0 Response to "Depok Kota Mewah"

Post a Comment