Mencuri Pakaian Itu Ringan dan Menyenangkan

Masalah malas mencuci, saya kira tak hanya dirasakan oleh mereka yang tuna mesin cuci, bahkan oleh pemilik mesin cuci pun, saya kira malas itu pasti ada. Sebagai perbandingan, saat saya punya mejikom tempat menanak nasi praktis dan saat tidak punya alat itu, menanak nasi sama malasnya.

Malas mencuci.

Padahal rasa malas itu hanya akan terasa sebelum melakukannya. Setelah deterjen dimasukkan ke ember lalu segayung demi segayung air dimasukkan ke sana, kemudian memasukkan pakaian, rasa malas itu seketika hilang. Berganti kesenangan, karena sambil mengucek pakaian, hidung saya menikmati bau wangi.

Entah kenapa, mencuci itu terasa sungkan, padahal ini pekerjaan ringan. Tugas saya hanya mencuci saja, dan mencuci itu olah raga. Air sudah ada dan tersedia, saya tinggal menggunakannya. Begitu pula selesai mencuci, setelah mendadarkan pakaian pada tali jemuran, sudah, mengeringkan bukan urusan kita, biarlah Allah mengeringkan dengan matahari-Nya.

Tak ada yang berat. Semua menyenangkan. Semua ringan. Semua mengasyikkan, sebetulnya manusia bisa memandang, bahkan kepada kematian sekalipun sebagi sesuatu yang indah dan menyenangkan. Pada tumpahnya darah, pada terpotongnya tangan, pada luka-luka, manusia bisa memandang indah, tapi itu hanya bisa dilakukan oleh orang dengan keimanan dahsyat, seperti dulu di jaman para shahabat, berpereng bagi mereka, menjadi sesuatu yang sangat dirindukan. Demikianlah mencuci pakaian, dari sudut pandang berbeda, itu bisa menjadi aktivitas ringan dan menyenangkan.

Setelah membaca tuntas, tentunya sekarang, Anda tahu maksud sebenarnya dari judul saya. Itu typo. Maksudnya, mencuci pakaian itu ringan dan menyenangkan.

Related Posts:

0 Response to "Mencuri Pakaian Itu Ringan dan Menyenangkan"

Post a Comment