Para ayah tentunya pernah merasakan berat, saat harus meninggalkan anak, buat pergi kerja. Berat mendengar tangisannya.
* * *
Rencananya, saya mau berangkat pagi buta, selagi hari gelap. Jangan sampai Si Nai tahu.
Jika tahu, nangisnya suka bikin tak tega. Tangis itu lama sekali reda. Kasihan ibunya.
Karena itu saya punya rencana, bangun jam empat, mandi dan makan, jadi pas adzan shubuh, saya langsung shalat, kemudian berangkat.
Ini tidak, saya kesiangan dan praktis, saat persiapan pakaian, Si Nai terusik, bangun, buka mata, dan turun dari ranjang.
Ibunya mengeluh, padahal dia berusaha bergerak pelan, supaya tidak mengusik tidurnya. Tapi bagaimana, ini memang jam bangun anak saya.
Dia turun dari ranjang, terus mengikuti, berjalan ke ruang mana saja saya berjalan.
Maka saya berpikir keras, memikirkan cara, bagaimana supaya dia lapang, tak menangis dengan kepergian saya.
"Bapak mau pergi kerja, cari uang, nanti pulang bawa uang buat jajan, membawa anggur, lengkeng, buat Enay!" rayu saya, mengingat dia suka sekali makan lengkeng.
"Ahhhh, mau ikut!"
Susah! Rengekannya tak bisa diredakan.
Selama liburan kemarin di rumah, dia seakan tak mau lepas. Ikut ke mana saja. Ke dapur, ke kamar, ke kamar mandi, ke warung, ke mana saja. Betapa kangennya pada saya, padahal, saya paling tak bisa mengasuh anak. Jika jengkel, masih belum bisa menahan marah. Orang tua bijak menghindari kata "jangan", saya malah mengatakannya. Jangan makan itu, jangan ke sana, jangan pegang itu, kerap kali terlontar. Tapi dia, murni dengan nalurinya tetap saja suka, mau bersama ke mana saja.
Tiada usaha yang bisa saya lakukan. Teringat nasihat seorang bijak, jika sudah kehilangan usaha yang musti dilakukan caranya adalah tidak usah berusaha. Dengan kata lain, terima saja kejadiannya sebagaimana adanya.
Karena itu, ya baiklah saya terima saja. Saya harus pergi dan anak melihat kepergian saya. Jika nanti dia menangis mau, menjerit mau ikut, sudah begitu seharusnya. Semoga itu menjadi pembelajaran baginya. Dia harus kuat, dia harus bisa melihat saya pergi meninggalkannya.
Dia harus mengerti, saya pergi buat kebutuhannya.
Dia harus menerima kenyataan, bahwa ayahnya, bukan seorang yang selalu bisa menyertainya. Dalam sebulan, hanya dua hari saya bisa main di rumah. Hari sisanya habis di tempat kerja. Tak perlu saya berangkat sembunyi-sembunyi, tak usahlah saya berangkat diam-diam. Terang-terangan saja, biar dia melihat.
Kardus bekal itu saya pikul, keluar pintu diikuti oleh dia dalam gendongan ibunya.
Pagi masih remang, ketika saya sodorkan pipi ke dekat wajahnya, "Ini cium dulu Bapak!"
Dia mau, bibirnya berkali-kali mengecup.
Sambil tetap menangis, merengek, dia merajuk-rajuk memanggil nama saya. Tidak mau ditinggalkan.
Berat. Berat nian rasanya melangkah, entah kenapa padahal, ini hanya tangisan seorang anak.
Setelah beberapa meter berjalan, rasanya ingin membalikkan badan, kembali menghampiri dia dan menggendongnya, mengurungkan berangkat.
Tapi saya tahan. Biarlah dia mengerti.
Terus berjalan di samping rumah, menembus kegelapan, kemudian menghilangkan diri di sebuah tikungan, dekat rumah seorang nenek yang dari tadi bengong menyaksikan, yang dari mulutnya keluar gumaman, "Emh kasihan...."
0 Response to "Dia Harus Belajar"
Post a Comment