Video: Ketika Wiro Menuturkan Puisi Rumi

Peci kuncung atas itu telah lama Wiro piara. Warnanya merah menyala. Wiro menyayangi peci itu, memakanya saat shalat, saat istirahat, bahkan saat kerja. Khidmat di kamar mandi mencucinya, dan terkadang topi itu dia geletakkan begitu saja di lantai. Tapi di atas segalanya, dia amatlah saya. Begitu sayangnya, sampai-sampai suatu ketika pernah jadi tempat dia curhat, mengungkapkan hasrat besar hatinya, ingin menikah.

Tak sekedar peci, sebenarnya itu perlambang dari jiwanya yang berusaha mencintai Pencipta. Dia ingin mencintai-Nya, meski cinta masih dalam tarap seperti dilukiskan lagu Raihan...

"Sebenarnya, hati ini cinta kepada-Mu. Sebenarnya hati ini, rindu kepadamu. Tapi aku, tidak mengerti kenapa cinta, masih tak hadir. Tapi aku, tidak mengerti, kenapa rindu. belum berbunga..."

"Kucoba mengulurkan, sebuah hadiah kepada-Mu. Tapi mungkin karena isinya, tidak sempurna tidak berseri. Kucoba menyiramnya agar tumbuh dan berbunga, tapi mungkin karena air tidak sesegar telaga kausar..."

Demikianlah lukisan kondisi wiro dalam ibadah, namun bagaimana pun kepada Allah, dia adalah orang yang ingin cinta. Sebagai pemuda yang masa kecilnya pernah mendapatkan asuhan seorang pendeta, Wiro mengerti, hakikat beragama adalah kasih dan cinta. Dan cinta tertinggi adalah cinta kepada Pencipta.



Maka inilah malam-malam, saat suasana telah sunyi, dan sebagian orang berangkat ke ranjang, Wiro masih duduk di meja kerja, beriring musik nan syahdu, penuh nuansa kesufian, penuh penghayatan, puisi Jalaluddin Rumi dia tuturkan.....putarlah jika penasaran, dan nikmatilah keindahannya.


Related Posts:

0 Response to "Video: Ketika Wiro Menuturkan Puisi Rumi"

Post a Comment