Tukang Facebookan (Cerita Bersambung)

Kampus sempit itu, kantor sempit itu, yang lebih mirip kandang ayam daripada sebuah perguruan tinggi, sudah kita tinggalkan. Bagaimana, sudah kamu dapatkan ijazahnya?

Saya sendiri, tidak mau saya ambil. Selepas dari kampus itu, saya pulang dan tidak tahu harus ke mana. Bingung, tidak punya pekerjaan, harus melamar ke mana, sampai akhirnya, seorang kepala sekolah mengajak saya tinggal di rumahnya, untuk mengurus sebuah sekolah. Dia kepala sekolah Madrasah Tsanawiyah, dan ingin membangun Madrasah Aliyah, di sebuah kampung yang dekat dengan kota, dengan perumahan padat bersampingan dengan sawah. 

Di sanalah saya kerja akhirnya, menjadi guru, sekaligus tata usaha. Menginap sehari semalam di sana, sambil terus memikirkan bagaimana caranya mendapatkan penghasilan besar.

Kuliah dulu, tujuan utama saya adalah mendapatkan gaji besar. Dengan gelar sarjana, saya harap kerja di sebuah lembaga tidak bergaji rendah. Orang memberi harga, dan memberikan upah yang pantas. Namun setelah empat tahun kuliah, sambil kerja di kantornya, ijazah yang dijanjikan gratis buat saya, ternyata tidak, harus ada tebusan. Saya malas, tidak mau saya ambil, dan ya begini akhirnya, gelar sarjana yang saya harapkan bisa mempermudah pencarian kerja, benar-benar tidak berguna. Tanpa ijazah, artinya status saya masih seperti dulu, seperti empat tahun lalu, masih susah cari kerja. Tidak ada bedanya. Tidak ada yang berubah, padahal satu permasalahan besar yang membuat rumah tangga saya terguncang, adalah tidak punya pekerjaan berpenghasilan besar.

Jika sudah duduk sendirian, dan buku bacaan saya tutupkan, saya hanya bisa memandang kosong ke depan, menarik nafas, dan menghembuskannya, membuang kegelisahan. 

(Bersambung)

Related Posts:

0 Response to "Tukang Facebookan (Cerita Bersambung)"

Post a Comment