Sangat memuaskan. Endingnya mantap. Kurang lebih, begitu kesan saya setelah nonton premiere film "SURGA YANG TAK DIRINDUKAN"
Film ini, masuk ke selera sebagian besar orang insan penikmat perfilman tanah air, saya kira.
Entahlah orang lain, tapi saya, sepanjang nonton terus menebak-nebak endingnya. Oh mungkin begini, sepertinya mau begitu, ah pasti begini, eh tapi tidak ya, ah akan begitu. Dan nyaris, semua tebakan saya meleset.
Setelah Prasetya menikahi Meirose misalnya, saya bertanya-tanya apakah endingnya akan sesuai dengan selera kebanyakan orang, misalnya dengan "membunuh" salah satu tokoh seperti di film AAC atau akan percaya diri membuat ending beda, rumah tangga dengan dua istri dalam satu atap dengan tenang, rukun, damai, subur, berdaulat, adil dan makmur, atau Arini menuntut cerai sampai rumah tangga itu berantakan. Sepanjang tayangan terus menebak.
Ah pasti endingnya akan diakhiri kematian Prasetya. Pras meninggal, kisah poligami habis dan tamatlah kisah. Yaitu saat Pras dibawa ke rumah sakit, setelah komplotan pemerkosa menusuknya sampai berlumuran darah, dia masuk rumah sakit dan tampaknya sangat payah. Ternyata tidak, setelah adegan kunjungan teman dan mertua, serta Arini dan Meiros istri keduanya, scan begitu cepat berpindah ke adegan saat arini mengadakan launching buku terbaru di panti asuhan. Kisah masil berlanjut. Pria ini masih hidup, lalu bagaimana akhirnya.
Dan kembali saya menebak, saat Meirose diangkut bersama anak dan barang-barangnya ke rumah Arini. Mungkin kisah ini akan berakhir dengan tinggalnya duami bersama dua istrinya ini dalam satu atap, dalam kedamaian, dan tebakan saya sepertinya benar ketika melihat Prasetya memimpin shalat berjamaah bersama kedua istrinya, damai berdampingan yang keduanya sehabis shalat sama mencium tangan suaminya kemudian saling berpelukan, dan wah, kalau kisah tamat sampai di sini, sebagian besar orang Indonesia akan gerah. Wah wah wah....wah wah wah,....ini pro polibag
Ternyata tidak. Kisah tidak berhenti sampai di sana. Kisah tidak diselesaikan dengan kedamaian dua istri dalam satu rumah, namun dengan....ah kurang bagus kalau di sini saya sebutkan, yang jelas lidah batin saya mencecap-cecap, sepertinya endingnya sengaja dibuat supaya sesuai selera kebanyakan orang.
BEST SINEMATOGRAFI
Film ini terpuji dari sisi sinematografinya, menurut saya. Menurut siapa lagi, orang filmnya juga belum ikut lomba. Banyak shoot dari atas yang tentunya tidak bisa sembarangan. Itu membutuhkan pesawat. Gambar berjalan dari atas rangkaian besi jembatan, dan tentu saja, tidak mungkin itu dibuat cukup dengan tangkai panjang kamera. Mungkin dengan hallycopter. Gimana sih nulis hallycopter? Bener gak sih begitu?
Kejernihan gambar tak perlu dibahas. Nama MD sudah jaminan. Sebagai rumah produksi yang telah meledakkan banyak film bagus, tentunya malu jika film ini tampil dengan kualitas asal. Gambar dibuat dengan keindahan maksimal yang mereka bisa. Terlebih yang menjadi setting adalah Yogyakarta, yang tentunya orang sudah pada kenak, ini daerah wisata, penuh cahar budaya, lengkap suasana alamnya yang sangat indah. Lihat saja scan rumah di samping sawah, pemandangan luas, dan sebuah rumah asri, dengan di depannya terparkir Honda Jazz merah. Kontras hijau dan merahnya itulah, wah!
0 Response to "Film Surga Yang Tak Dirindukan"
Post a Comment