Makan Sehari Sekali, Benarkah Mengganggu Kesehatan?

Masih banyak orang tidak percaya, makan sehari sekali itu menyehatkan. Malah mereka menentang, ini bisa mengganggu kesehatan. Keyakinan tanpa dasar. Hanya mengandalkan dugaan. Mengandalkan katanya dan katanya. Bisa jadi juga seperti takut kepada pocong, takut pada sesuatu yang, dirinya sendiri belum membuktikan benar atau tidak. Lebih menggelikan ketika sang pembanntah mengaku tahu banyak tentang ilmu kesehatan, atau seorang ahli kedokteran, kemudian dengan semena-mena, tanpa diri sendiri mencobanya berkata, jika sehari itu harus tiga kali sehari makan. Makan sekali saja bahaya. Bisa menimbulkan penyakit magh. 

Dugaan saya, kenapa mereka mengatakan demikian, karena sudah terdoktrin ajaran orang tua masalah makan, atau pelajaran kuno sekolah, tak mau membuka diri terhadap temuan baru, pandangan baru, yang justru, bisa jadi ini solusi besar buat berbagai masalah kesehatan.

Nyatanya banyak orang melakukan ini tak masalah. Beberapa hari lewat, saya membuat postingan di sebuah komunitas kepenulisan, tentang tips sehat, makan sehari sekali saja, dan ternyata beberapa orang di komentar, menyatakan, pola ini cocok buat kesehatan mereka. Sebagian komentator mengaku punya kadar tinggi gula darah, dan pola makan seperti ini buat mereka lebih nyaman. Berbeda dengan ketika saya nyatakan ini di grup toko tempat saya jualan, reaksi orang ya seperti di atas, "Bukannya makan sehari sekali bisa membahayakan buat kesehatan?"

Saya akui memang, ketika orang sukses terdoktrin sebuah keyakinan, buat menerima masukan baru cukup susah. Dia akan berupaya mempertahankan keyakinan awalnya. Jangan orang lain, istri saya pun, ketika saya bicara dengannya via handphone, dan saya ceritakan kebiasaan baru saya sekarang, makan sehari sekali saja, dia teriak, "Apa-apaan sih? nanti pulang tinggal tulang!"

Haha. Memang masuk akal umpatan dia. Badan saya kurusnya gak ketulungan, jika sekarang ditambah lagi program sehari sekali makan, bisa jadi nanti pulang tinggal tulang. Masalahnya saya ini suka dengan pandangan baru yang membuat penasaran. Jika ada hal baru, yang sepertinya menjadi solusi selalu ingin mencobanya. Dan makan sehari sekali ini tetap saya lakukan. 

Bagaimana hasilnya? Benarkah jadi masalah?"

Saya rasakan badan lemas luar biasa. Pagi beranjak dari kursi berjalan lunglai, terlebih jika naik tangga, lesu seperti kehilangan tenaga. 

Tapi tunggu, ini bukan karena kurang makan, tapi karena cape, jam kerja saya sejak dini hari, sejak jam tiga, dan belum istirahat. Saya lelah, saya butuh tiduran, butuh istirahat.  Dan setelah ditidurkan, sekitar jam sepuluh lebih, tengah siang bangun, mandi, dan mulai lagi kerja, saya rasakan segar luar biasa. Dibawa menulis, ide mengalir lancar, dibawa membaca, konsen cukup besar.

Tentu saja ide ini jalankan bukan tanpa dasar. Banyak orang menduga saya meyakini program sekali makan ini, kemudian menjalankannya setelah membaca buku OCD Deddy Corbuzier. Dugaan itu memang benar. Akan tetapi itu hanya titik kulminasi dari sebuah keyakinan. Sebelumnya saya telah banyak membaca orang yang menjalankan makan sehari sekali saja. Di antaranya para bhiksu budha, mengurangi asupan makan dengan makan sehari sekali saja dengan tujuan mendapatkan kejernihann pikiran. Dan memang benar, saya perhatikan jika mereka ceramah penuh dengan kata mutiara. Ya, tanpa malu terus terang di sini saya katakan, saya suka dengan kata mutiara dari mereka, tentu saja yang tidak bertentangan dengan agama saya. Misalnya Bhiksu terkenal Ajahn Brahm, yang menulis buku dengan terjemahan Bahasa Indonesianya berjudul Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya, bercerita dia punya tradisi makan sehari sekali, dan terbukti tulisan-tulisannya cemerlang. Jernih, masuk akal, terkadang jenaka.

Wah berarti manusia kampungan ini sudah terpengaruh orang budha. Kemungkinan begitu umpat sebagian orang.

Tidak juga. Sebab ini pun saya baca dari tradisi para ulama. Banyak dari mereka makan sehari sekali saja. Pernah saya sampaikan di artikel sebelumnya, penulis tafsir terkenal, Ibnu Jarir Ath-Thabari melakukannya. Dalam sehari dia hanya sekali makan. Demikian juga Imam Nawawi dari Mesir yang mendapatkan julukan "Penghidup Agama", dalam sehari, dia pun hanya sekali makan. "Menjelang shalat Shubuh dia meraih roti yang dia simpan dan memakannya sebagai sahur sekaligus sebagai makan siang dan makan malamnya. Dia sudah terbiasa bepuasa dan makan sekali dalam sehari semalam." tulis hidayatullah.com.

Related Posts:

0 Response to "Makan Sehari Sekali, Benarkah Mengganggu Kesehatan?"

Post a Comment