Cara Sehat Menghadapi Masalah

Saya pusing sekali dan ingin marah-marah, kenapa resi dari pesanan saya tidak ada, sedangkan yang lain ada. Resi pengiriman sangat dibutuhkan pemesan online, buat memastikan barang mereka sudah dikirimkan atau belum, dan buat melakukan cek, barang mereka sudah berada di mana. Dan saya juga asyik melakukannya, setelah orang meminta resi mereka, moush membuka email, mencari data ini pengiriman tanggal berapa, lalu membuka data resinya, lakukan pencarian sebuah nama, menemukannya, dan di sanalah gembiran ketika nomor resi itu saya temukan. Lebih gembira lagi saat nomor resi itu bisa saya copy dan membawanya ke situs JNE kemudian mempaste atau menempelkannya di sana, dan ketika data terbuka, saya selalu melihat itu keajaiban. Hebat, bisa merancang sistem seperti ini, setelah memasukkan nomor jadi ketahuan barangnya sudah berada di mana. Dan jika ternyata sudah sampai, ketahuan juga di sana.

Akan tetapi, ketika resinya tidak ada. Berkali-kali saya cari tidak ada. Nyaris setiap orang yang pesan pada saya dan menanyakan resinya saya cek tidak ada. Marah, benci, jengkelnya luar biasa.

Ini sebenarnya kenapa? Saya bingung harus bertanya kepada siapa.

Nah, inilah tugas saya sekarang. Kemarahan itulah yang harus saya buang. Kemarahan yang membuat susana kerja jadi kurang nyaman. Saya harus bisa membuang rasa marah itu, menahan diri dari mengeluh, dan tetap diam, meski belum bisa, saya akan berusaha bisa. 

Karena mengumbar amarah berkobar di dalam dada dan membiarkannya tersembur ke dalam perbuatan dan kata, hanya akan merusak kesehatan saya. Akan mengelurkan hormon-hormon berbahaya yang bisa merusak sel-sel tubuh saya. 


Dengan menahan amarah dan tetap diam, saya ingin badan saya awet, saya ingin kerja saya awet, saya ingin hubungan dengan orang awet, dan saya ingin hidup saya awet.

Yang akan saya lakukan hanyalah apa yang mungkin saya lakukan dan bisa saya lakukan, sedangkan yang tidak bisa saya lakukan takkan biarkan merusak pikiran saya dengan kebingungan dan kemarahan tidak akan saya lakukan. Masih banyak pekerjaan lainnya yang harus saya selesaikan. Menulis, menyelesaikan tugas dari Mbak Asma, mengumpulkan tulisan dari  twitternya, membaca, melayani pembeli yang datang, dan masih banyak hal yang bisa saya kerjakan. 

Kerja saya sangat ringan, tidak membutuhkan tenaga besar, hanya tinggal klak-klim sana sini, dan menyentuh-nyentuh tuts-tuts keyboard saja, tanpa memerlukan kerja keras. Saya nyaris setiap setelah menulis dan akan memasukkan data dengan enter, saya menjitaknya dengan keras, mungkin sampai terdengar dari kamar mandi, padahal seharusnya tak usah, biasa saja, sentuh sekedarnya, sekedar tombol itu memberikan pengaruh kepada tulisan yang ingin saya masukkan datanya, atau sekedar kursor itu berpindah paragraf. Jitakan keras itu terkadang berasal dari kemarahan dan kejengkelan, atau bisa juga berasal dari kegembiraan, saking gembira dan ingin merasa puas, biar orang tahu semua, maka saya ekspresikan dengan menekan enter keras-keras.

Padahal seharusnya, tenang saja. Kerja saya tidak membutuhkan banyak tenaga. Kerja saya hanya membutuhkan konsentrasi dan ketenangan.


Saya harus bisa tenang dan luas dalam memandang. Memandang dengan penuh rasa cinta dan kasih sayang. Berbaik sangka kepada segala hal di sekitar saya, karena manusia di samping kiri kanan depan dan belakang saya, dan semua benda-benda di sekeliling saya adalah sama dengan saya, jika semuanya dibelah menjadi bagian terkecil akan sama, bagian itu adalah bagian yang taat pada hukum yang Allah tetapkan, berkekuatan besar pada intinya, dikelilingi proton, netron dan elektron, yang akan berreaksi menjadi baik ketika seseorang berpikir, berkata, dan berbuat kebaikan, dan akan memberikan reaksi buruk ketika seseorang berpikir, berkata, dan berbuat keburukan. Itu sudah merupakan hukum Allah yang tetap, dan tak bisa diganggu-gugat.

Related Posts:

0 Response to "Cara Sehat Menghadapi Masalah"

Post a Comment