Hormon HGH adalah hormon pertumbuhan yang fungsinya merangsang sel melakukan perbaikan, sehingga seseorang akan terlihat awet muda, dan hormon ini akan keluar dari kelenjar di bawah otak, diantaranya ketika seseorang merasa bahagia.
Sekarang usia saya sudah tiga puluh tahun lebih, sudah mulai menanjak ke masa tua, harus mulai berpikir bagaimana supaya tidak cepat tua, karena selama ni, seringkali tiap ketemu orang baru, biasanya mereka menebak usia saya lebih tinggi dari yang sebenarnya, artinya saya mungkin menjadi tampak cepat tua karena kurang merangsang keluarnya hormon HGH, sehingga daya awet muda saya tidak ada, karena itu baiklah, demi keluarnya hormon itu, agar badan ini, minimal sedikit awetlah, saya sengaja akan bahagia.
Sekarang saya bahagia, bersyukur, dan merasa senang menjadi orang Sunda, sebab orang Sunda mempunyai kekayaan budaya, yaitu wayang golek, hehe. Norak juga rasanya berbahagia dengan yang beginian, tapi ah ini kebahagiaan yang sebenarnya. Wayang golek itu luar biasa, dan salah satu yang luar biasa dari pertunjukan wayang golek adalah, seni budaya ini nyaman ditonton nyaman juga didengar. Ditonton bisa, didengar juga oke. Tayang di TV bisa, siaran di radio bisa. Sambil menulis ini, saya memutarnya di youtube, ada gambarnya, tapi karena sambil menulis dan melayani pembeli online, saya hanya bisa mendengarnya. Dalangnya Asep Sunandar Sunarya, dalam cerita "Bima Murka", saya dengarkan, dan sungguh indah, di dalamnya banyak sekali nasihat, pepatah-pepatah, perlambang-perlambang, renungan-renungan. Dalam pewayangan dikenal Semar Badranaya, seoang tua yang bersembunyi di tempat yang terang, dalam wujud manusia bungkuk gemuk sekujur tubuh hitam kecuali wajah yang putih, yang jika mengeluarkan kata-kata, isinya selalu bijaksana.
Kata-kata Semar kaya akan nasihat, menginspirasi orang-orang di sekitarnya.
"Harus silaturrahmi di antara sesama kalian, kepada saudara, kepada ibu, kepada bapak, kepada tetangga, kepada teman, kepada siapa saja di sekeliling kalian, tapi yang terutama sillaturrahmi kepada diri kalian, karena diri kalian bukan semata satu diri kalian, terdiri dari beberapa bagian diri kalian. Itu harus kalian kenali, harus kalian sillaturrahmi. Kenalilah tangan, kenalilah kaki, kenalilah mulut, kenalilah mata, kenalilah wajah, kenalilah perut, kenali pikiran, kenali perasaan, kenalilah semuanya, tengoklah bagaimana kabarnya, apa yang mereka lakukan selama ini, tanya, jika salah jangan biarkan salah, jika keliru jangan biarkan keliru, jika benar beri keteguhan agar senantiasa benar, jika baik kuatkanlah supaya terus baik. Kenalilah semuanya, sillaturrahmilah kepada semuanya."
Juga ketika Astrajingga alias Bagong alias Cepot mengeluh kepada Semar-ayahnya ini--akan susahnya hidup, susah mencari pekerjaan tetap, melamar jadi polisi tidak diterima dengan alasan badannya kecil dan giginya hanya punya satu, sebab tidak pantas polisi hanya punya satu gigi--Semar, sang ayah bertanya retoris kepadanya:
"Kamu tidak mau merasakan susahnya hidup?"
"Tidak mau. Pak?"
"Mau tahu caranya?"
"Mau Pak."
"Jangan mencari pekerjaan tetap, tapi kamu harus tetap bekerja, kerjakan apa saja kebaikan. Ada selokan kotor bersihkan, ada sampah musim kemarau berserakan, kumpulkan, bakar, ada benih cabe, silakan tanam. Bangsa ini, negeri ini akan subur makmur bukan dengan bukan karena banyak pekeja tetap, tapi negeri ini akan makmur dengan orang-orang yang tetap bekerja, itulah manusia berkualitas, yang tetap bekerja, tetap mengabdi, tidak membuang-buang waktunya dengan berkeluh kesah, dan terlalu banyak mengkhayal."
"Jadi kuncinya tetap bekerja?" Tanya Cepot.
"Penuh dengan pengabdian. Lihat di Al-Qur'an surat Al-Fatihah, sebelum iyyaka nasta'in ada apa dulu?"
"Iyyaka na'budu"
"Nah, itulah pengabdian. Jadi kamu harus tetap bekerja. Tidak akan susah makan."
Sungguh menyenangkan, mendengarkan cerita wayang sambil menyerap nasihat-nasihat. Dan sungguh menyenangkan, mendengarkan nasihat sambil menikmati cerita wayang.
0 Response to "Menjadi Sehat Dengan Kebahagiaan"
Post a Comment