Tulisan ini tidak perlu kamu baca, sebab isinya, hanya penting buat saya. Buat cerita saja, buat dokumentasi saja. Biar sebuah kejadian tidak hilang lalu terlupakan. Ayo, segera buka saja halaman lain. Lewat ini! Ini tidak penting buat Anda.
* * *
Turun di terminal Depok, tidak langsung ke tempat kerja, melainkan menuju Mall. Masuk Ramayana, menanyakan adakah di sini toko peralatan olahraga? Seorang sales menjawab, di lantai bawah. Saya ke bawah, menanyakan kepada orang di sana, adakah peralatan olahraga seperti barbel. Jawaban yang saya dapatkan, tidak ada.
Pindah ke Mall seberang: ITC, ini Plaza lebih luas lagi, sampai saya bingung ke mana harus mencarinya, yang karenanya beberapa kali bertanya kepada orang-orang di sana, adakah di sini peralatan olahraga. Jawaban yang saya dapatkan sama: Di Carrefour.
Carrefour itu di mana?
Di belakang sana, jawab seorang penjual pakaian.
Berjalanlah saya ke sebelah belakang, dan yang saya temukan, adalah supermarket yang menyajikan sebangsa makanan dan peralatan bayi, peralatan dapur, tidak ada peralatan olah raga. Masuk lika-liku rak, ke sana, ke mari, tengok sana, tengok sini, tidak ada peralatan olah raga. Akhirnya bertanya lagi kepada seorang tua, dan dia menyuruh saya naik ke lantai atas. Naik lagi ke lantai atas, dan ternyata banyak buku di sana. Memilih dulu buku, tergoda satu buku, mengambil sebuah buku yang sudah lama saya inginkan dan cari dari dulu tapi tak ada: Eating Animals, buku tentang makanan dan cerita di balik makanan, dan baru mencari peralatan olahraga. Tidak juga saya temukan, bertanya lagi kepada seorang gadis berwajah manis pelayan di sana. Dan dia menunjuk ke sebuah sisi, entah sisi sebelah mana--saya sudah kehilangan orientasi arah--saking luasnya plaza ini. Berjalan ke sisi yang ditunjukkan gadis tadi, banyak sepeda di sana, dan--Nah ini dia, akhirnya saya temukan: DUMBEL, beban buat diangkat-angkat. Saya benci kepada diri saya yang saat membelinya malah mikir-mikir dulu menghabiskan waktu, padahal sudah jelas pergi ke sana itu buat membeli ini. Inilah yang saya cari, tapi ketika benda itu saya temukan malah diam dan memegang-megangnya, padahal seharusnya langsung membeli dan memulai latihan. Dua buah dumbel seberat masing-masing 4 kilogram saya ambil dan beli.
Berat sekali delapan kilogram benda itu saya jinjing dalam keresek. Berjalan sana-sini di dalam plaza besar itu, kehilangan jalan pulang, ke sini tak ada jalan, ke sana tangga naik, ke situ tangganya sedang diperbaiki, akhirnya menemukan tangga biasa. Akhirnya keluar lewat pintu samping dengan badan miring menjinjing peralatan olah raga ini. Semakin lama semakin terasa berat, sesekali saya jinjing, sesekali digendong, dan hingga ke dekat toko malu juga jika benda ini saya bawa ke atas, ke ruang kerja saya, ke lantai tiga, akhirnya saya simpan saja di lantai dasar.
Begitulah ceritanya saya membeli benda yang sudah lama saya inginkan ini. Beberapa hari sebelumnya, sepulang Jumat lewat Depok Mall menanyakan kepada penyedia peralatan fitness, adakah barbel--begitu saya menyebut dumbel, karena tidak tahu. Pelayannya menjawab, tidak ada. Saya cek via online, mencari penyedia benda itu, dan ternyata harganya cukup murah, hanya 7000 rupiah perkilogramnya, tapi saya malas saat mengingat ongkirnya. Harganya memang murah, tapi ini benda berat, pasti ongkirnya bisa berlipat-lipat. Andai saya temukan toko olahraga dekat sini dan bisa membeli langsung, tentu mahal ongkir itu bisa dipangkas. Begitulah saya selalu berpikir hemat. Dan sekarang, akhirnya benda ini saya temukan.
Buat apa sih?
Saya ingin punya otot kuat. Badan ini begitu lemah, otot tangan saya kecil, dan menurut buku yang hanya bisa saya baca jilidnya, karena buku itu bersegel, masih di toko buku, otot lemah mempercepat penuaan. Saya kurus seperti wayang, sampai-sampai, jika memakai baju lengan pendek dan bercermin, rasanya, saya sendiri malu melihat diri saya, betapa kurusnya. Memakai baju berlengan pendek sangat tidak pantas.
Tapi yang terpenting dari itu adalah, ingin menjaga kesehatan. Biar tidak seharian tidak hanya duduk diam, tapi di sela kesibukan kerja, saya bisa sambil melakukan olahraga, karena, seperti saya baca dari artikel-artikel kesehatan, olah raga itu sangat banyak manfaatnya, antara lain, pernah saya baca, olah raga itu bisa merangsang keluarnya dopamin, atau hormon kebahagiaan. Ini jadi jawaban, kenapa setiap saya habis berolah raga dan berlelahan keringat, hati dan pikiran rasanya begitu lapang dan bahagia. Inilah ternyata jawabannya, karena olahraga memang, bisa merangsang keluarnya hormon kebahagiaan.
Dopamin!
Dopamin!
0 Response to "Buat Kesehatan, Saya Membeli Dumbel"
Post a Comment