Pagi ini, saya kembali mendapatkan pelajaran, akan pentingnya ketenangan, dan menikmati semuanya dengan penuh penghayatan. Saya ingin segala hal yang saya lihat bermakna, saya ingin segalanya menjadi pelajaran. Saya ingin semua benda di rungan ini teman terindah. Saya ingin bercerita, semuanya bicara, dan dari hidup keseharian saya di kantor, hingga dari hal paling sederhana sekalipun saya ingin membuat cerita, sehingga, saat nanti menjadi satu buku novel, yang orang baca, bukanlah sesuatu yang jauh dari mereka, namun satu hal yang sangat dekat, sesuatu yang mereka pun sering melakukannya, menemukannya, dan merasakannya, sehingga saat mereka membaca tulisan saya, mereka seakan sedang membaca kehidupan mereka juga dan memaknainya.
Ingin, saya ingin benar-benar menikmati setiap hal, sekarang, detik ini juga, dan menurut buku yang pernah saya baca, jika ingin segalanya terasa, saya harus hidup dengan penuh ketenangan.
Dalam merespon setiap pembeli yang datang, saya harus melayaninya dengan penuh ketenangan. Tertib menanyakan alamatnya di mana, harus tahu persis tinggal di kecamatan apa, harus jelas, sehingga saat menentukan ongkos kirim dan jumlah uang yang harus saya transfer tidak salah. Harus saya nikmati setiap kata sapaan saya kepada mereka, dan harus saya nikmati pula apapun reaksi mereka. Seandainya apa yang saya terima dari mereka ucapan menyenangkan, saya harus berusaha merasakan nikmat dan indahnya berterima kasih kepada mereka, dan ketika sikap yang saya terima dari mereka kurang menyenangkan, saya pun harus berusaha merasakan manisnya kesabaran dan indahnya memaafkan.
Belum tentu berapa hari lagi umur saya, hidup ini, nafas demi nafas, kedip demi kedip, detik demi detik, harus saya nikmati sebaik-baiknya. Ketika kerja, menjawab setiap pertanyaan konsumen, saya berusaha, supaya bisa merasakan setiap ketukan jari pada tuts-tuts keyboar komputer. Ini keajaiban, dan ini semua bukan punya saya. Jari saya sendiri saja bukan punya saya, begitu juga kemampuan mengetiknya. Masih ingat, dulu jika mengetik, saya harus menunduk melihat tuts keyboard. Seringkali bingung saking banyaknya, memijitnya satu persatu, membuat penulisan jadi telat. Menulis puisi beberapa baris saja harus menghabiskan setengah hingga satu jam. Sekarang tidak. Sebab seringnya menulis lewat kumputer, tak perlu lagi mata menunduk melihat tuts-tuts yang harus saya pijit. Tinggal memikirkan saja kata apa yang akan saya tuliskan, mata menatap lurus ke layar, dan tangan terbiarkan mengetik, menyusun huruf menjadi kata-kata, dan menyusun kata menjadi kalimat, sesuai perintah otak. Kemampuan ini bukan punya saya, sebab kalau benar ini punya saya, pasti saya mengerti bagaimana proses menanamkannya, bagaimana sampai jari-jari ini bisa meloncat dari satu tuts ke tuts lainnya, bagaimana dia bisa tahu dengan cepat mana tuts yang harus disentuhnya dan mana yang jangan. Saya sendiri tidak mengerti apa sebabnya, dan Allah pastinya sangat mengetahui sebab hanya Dia yang membuat, dan semua kemampuan ini punya dia.
Saya harap Anda tidak menangkap ini sebagai cara saya berbangga-bangga, karena, tentu saja kemampuan mengetik seperti ini jaman sekarang bukan satu hal yang layak dibangga-banggakan, sebab nyaris setiap orang sudah mengerti komputer, yang karenanya, tentu sangat banyak yang bahkan, mungkin orang lain jauh lebih cepat. Ini hanya cara saya ingin membuat sebuah renungan bahwa selama ini begitu banyak kenikmatan sederhana di dekat kita, bahkan melekat pada diri kita, namun luput dari renungan, yang akibatnya, kita lupakan, kita abaikan, kita sepelekan, yang padahal, jika nikmat ini harus kita yang membuatnya, jangankan membuat ribuan nikmat, satu nikmat saja, kedipan kita, sungguh, kita takkan sanggup membuatnya. Apa yang bisa Anda lakukan jika detik ini juga bibir mata Anda beku tidak bisa berkedip? Jangankan mengobatinya, membayangkannya saja susah.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 Response to "Menikmati Setiap Detik"
Post a Comment