Ramadhan yang Akan Pergi

Ramadhan yang akan pergi, aku melihatnya sebagai sahabat yang semula tidak saya suka, namun setelah beberapa hari ditemaninya, barulah sadar dan bisa melihat besar baiknya, kesadaran yang begitu sayang, datangnya saat dekat ke detik-detik berpisah.

*   *  *

Masih ingat, kedatangannya sebulan kurang yang lalu, tidak membuat saya bahagia, karena bulan ini, membebani saya dengan lapar, lesu, dan kurang makan. Karnanya saya heran, kepada orang mengucapkan "Marhaban ya Ramadhan", kemudian menyambutnya dengan membuat banner, mengadakan syukuran, dan sedekah. Aslikah dia mengatakan itu, ataukah sekedar basa-basi?Padahal saya sendiri melihat bulan ini, serasa melihat gurun panas, berlika liku dan turun naik, yang harus saya tempuh tanpa setetes pun bekal air. Berat. Sungkan.

Dan sepertinya hati sebagian besar orang juga begitu. Buktinya saat Ramadhan mulai menyapa dan menghimpit orang-orang dengan dahaga, saya masuk plaza, dan melewati gerai makan, masih siang tampak meja-meja penuh makanan, terhidang goreng ayam, yang dicubit dan disuapkan, yang melihat itu, tak terhindarkan batin saya mengumpat, "Si monyet itu muslim apa bukan sih? Kalau muslim, ajaran siapa yang dia pake?" 

Saya mengumpat mereka, sebenarnya mengumpat diri sendiri, karena batin mereka, tak jauh beda dengan batin saya, mereka menghadapi Ramadhan dengan rasa sungkan, dan saya pun melihatnya demikian?

Akan tetapi sekarang, setelah dua puluh tujuh hari bulan berlalu, dan sadar hari tersisa tinggal dua, dua hari saja, air mata mengambang, pandangan berkaca-kaca. Ramadhan ini melaksanakan puasa, sambil saya baca buku tentang manfaat puasa, ya Allah, Engkau Maha Besar.

Bukanlah beban, ternyata shaum ini kebaikan.

Obat termudah, penawar paling aman. Tiada badan segar saya rasakan sebugar sekarang. Sambil shaum ini saya jalankan, perlahan saya baca buku kesehatan, mendengar perbincangan tentang kesehatan, ternyata shaum, manfaatnya luar biasa. Jika dengan makan, sel kita diperbaharui, dengan shaum, sel itu diremajakan.

Maka shaum, sesungguhnya memberi kesempatan tubuh meremajakan dirinya. Begitu banyak orang menginginkan awet muda, begitu banyak orang cemas tubuhnya cepat tua, obat apa apapun dikonsumsi, pengencang semahal apapun mereka beli, bahkan sebagian operasi plastik, karena saking ingin, kemudaaannya kembali, saking ingin kemudaannya abadi, dan hanya sedikit dari mereka yang tahu, shaumlah sebenarnya, yang dengan manjur akan meremajakan tubuh mereka, yang dengan ampuh akan mempertahankan kemudaannya.

Peradaban telah memproduk berbagai makanan, yang menyerang tubuh saya dengan racun, mengotori darah, mengacaukan sel, merusak jaringan kulit, kemudian badan ini, sebentar-sebentar sakit, sebentar-sebentar lemah, kemudian datang Ramadhan membawa berkah puasa, menahan saya dari makan, maka saat itulah, racun akan dikeluarkan, dari urat-urat, dari sel-sel darah, seperti saluran air di sebuah kota yang dibendung sementara, supaya para petugas kebersihan dengan mudah membersihkan lorong-lorongnya, seperti itulah puasa.

Di bagian belakang, sebelah dalam batok kepala, ada bagian otak yang mengeluarkan hormon HGH. Hormon yang dihasilkan hanya manakala seseorang dalam keadaan lapar, hanya saat makan dihentikan, hanya saat seseorang puasa, maka keluarlah HGH, merangsang sel tubuh meremajakan dirinya, jaringan kulit membersihkan kotorannya, membuat rambut bahagia.

Inilah Ramadhan Allah karuniakan kepada saya, kepada Anda, kepada kita semua. Ini anugerah. Setelah menjanjikan pahala besar, Dia pun perlihatkan, shaum ini sungguh penyembuh.

Ini bulah kesehatan.

Allah syariatkan puasa, sesungguhnya Dia ingin memberi kebaikan, sesuatu yang orang beriman telah lama meyakininya, ketika dia ditanya: "Apakah yang Allah turunkan kepadamu?"

Mereka menjawab, "Kebaikan"

Berkali-kali ujung kain sarung saya tarik, menyeka air mata yang berlelehan, mengingat Allah yang penuh kemurahan, mengingat diri yang penuh kebodohan, mengingat waktu yang begitu singkat, melihat ke depan, melihat ke belakang, melihat diri sendiri, melihat Ramadhan, Ya Allah, Bulan indah ini kenapa cepat berlalu? Saat rindu menemukan muaranya, kemudian berlayar ke tengah samudra, menikmati gelombang rahmat yang menggulung dan menenggelamkan batin dalam kebahagiaan dan indahnya berpuasa, tiba-tiba semuanya akan segera selesai.

Tahun berikutnya, belum tentu umur ini akan sampai.

Baru sekarang saya mengerti kenapa  ada sebagian orang mengucapkan "Marhaban ya Ramadhan" dengan penuh cinta. Itu, adalah ucapan tulus orang beriman, yang jujur dengan keimanannya, yang yakinnya kepada Allah bersih dari keraguan, yang cintanya kepada Allah suci dari kedustaan, yang menghambanya kepada Allah bukan pulasan, tapi sepenuhnya, segalanya, mengaliri pembuluh darahnya, merembesi daging dagingnya, menembus tulang-tulangnya, menggetarkan saraf-sarafnya, yang merasakan Ramadhan sebagai angin surga, sumber nafas yang mereka hirup sepenuh hati, untuk merasakan indahnya tempat terbaik itu dari bumi.

Mereka orang-orang beriman, hatinya tidak seperti saya--baru senang menjalani perintah Allah setelah mengerti manfaat, hati mereka--orang beriman itu tidak, mereka cinta kepada perintah Allah mana saja, apakah dalam perintah itu, mereka melihat keindahan atau--seperti--memberi keburukan, orang beriman akan sama cintanya.

Ramadhan yang akan pergi, meninggalkan saya. Semoga atmosfirnya bisa saya simpan: puasa.

Related Posts:

0 Response to "Ramadhan yang Akan Pergi"

Post a Comment