WIRO TAMAT

Wiro akhirnya menikah. Beruntung sekali, istrinya adalah seorang wanita cantik berwajah bulat. Lucu, manis, tembem, bikin sejuk Wiro setiap kali memandang. Subur sekali rahim istrinya. Sebelas tahun menikah, anak Wiro sudahenam. Dari seorang bujangan jomblo terakreditasi, kini Wiro telah jadi seorang bapak. Bapak yang penuh cinta, cinta anak-anak, cinta istri, dan cinta kepada rumahnya. Biarlah pagi istrinya sibuk di dapur dan mengurs anak.

Soal kebersihan rumah dan halaman hingga pinggiran jalan adalah urusan dia. Maka setiap pagi sebeleumn mandi, pekerjaan Wiro adalah, menyapu rumah, halaman, hingga pinggir jalan raya. Sambil menyapu, pikirannya riang. Tak lepas benaknya dari impian-impian bahagia di masa depan. Anak-anak yang cerdas, hidup mapan, dan bayangan dia bersama istri, duduk di kursi berdua, dengan kedua tangan keriput saling bertaut, dan saling mengusap rambut yang sudah beruban.

Sedang asyik melamun begitu, sebuah mobil berhenti. Seorang pria berjas, berdasi, bersepatu mengkilap turun.

Mendekati Wiro yang sedang menyapu, "Permisi!"

Wiro menghentikan aktifitasnya, berdiri tegak, "Iya Mas, ada yang bisa saya bantu?"

"Di sini tempat buang mayat sebelah mana ya?"

"Mm mmaksud Mas?" Wiro sesak.

"Saya mau buang mayat."

"Mmayat s siapa ya?"

"Mayat Bapak."

"Mayatku?"

Cresssssssss!!!

Related Posts:

0 Response to "WIRO TAMAT"

Post a Comment